Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

SERBA EMPAT

 


SERBA EMPAT

Oleh: Ahmad Yani

 Judul             : 4 Poin Dalam 52 Khutbah Jumat

Penulis          :  Drs. H. Ahmad Yani

Tebal              : 374 Halaman

Ukuran           : 14 x 21 Cm

Harga             : Rp 125.000 + ongkir

Penerbit         : Khairu Ummah (WA 0812-9021-953)

            Tahun 2020 dunia dilanda wabah Corona atau Covid-19, termasuk di negeri kita Indonesia. Dampaknya bukan hanya banyak yang sakit dan meninggal dunia, ekonomi yang anjlok, tapi juga pendidikan, renggangnya hubungan sosial,  hingga peribadatan dan dakwah. Masyarakat dianjurkan untuk berada di rumah saja.

            Bagi penulis, saat DRS (Di Rumah Saja) harus tetap produktif. Alhamdulillah, dalam waktu satu bulan pertama buku 2 POIN DALAM 52 KHUTBAH JUMAT berhasil disusun dan diterbitkan. Buku ini sudah tersebar dari Aceh sampai Papua. Setelah buku ini, disusun lagi buku khutbah berikutnya dengan judul 4 POIN DALAM 52 KHUTBAH JUMAT. Buku ini pun sudah terbit, para dai dari berbagai daerah sudah bisa memanfaatkannya. Saya suka mengatakan: “Bisa khutbah dan Ceramah itu seperti pistol, tapi menguasai materi yang banyak dan bervariasi adalah pelurunya.” Buku ini merupakan “peluru” tambahan untuk para dai.

            4 Poin Dalam 52 Khutbah Jumat menjadi judul buku ini karena memang setiap pembahasan khutbah mengulas empat poin saja, jadi serba empat, baik dari Al Quran, Hadits maupun pendapat sahabat Nabi Muhammasd saw. Pembahasan seperti ini membuat materi khutbah menjadi ringkas, padat, sistematis, mudah dipahami dan mudah pula disampaikan lagi. Daftar isinya antara lain:

Kata Pengantar

Daftar Isi

1.         Empat Amal Yang Dicintai Allah 1 (ok)

2.         Empat Amal Yang Dicintai Allah 2 (ok)

3.         Empat Manfaat Musyawarah (ok)

4.         Empat Akibat Sesat (ok)

5.         Empat Bentuk Hijrah (ok)

6.         Empat Sunnah Para Nabi (ok)

7.         Empat Tujuan Al Quran (ok)

8.         Empat Fungsi Al Quran (ok)

9.         Empat Resep Komitmen Kepada Al Quran (OK)

10.       Empat Tuduhan Kepada Al Quran (ok)

11.       Empat Macam Saksi (ok)

12.       Empat Komitmen Muslim (ok)

13.       Empat Sifat Pemimpin Sejati (ok)

14.       Empat Amal Atas Orangtua Yang Wafat (ok)

15.       Empat Amal Yang Amat Buruk (1)

16.       Empat Amal Yang Amat Buruk (2)

17.       Empat Amal Yang Amat Buruk (3)

18.       Empat Kriteria Kesejahteraan Masyarakat (ok)

19.       Empat Tanda Setia Pada Orang Kafir (ok)

20.       Empat Ciri Orang Shaleh (ok)

21.       Empat Hal Mumpung Masih Muda (ok)

22.       Empat Fungsi Rumah (ok)

23.       Empat Syiar Allah swt. (ok)

24.       Empat Wujud Surga Dunia (ok)

25.       Empat Keutamaan Subuh Berjamaah (ok)

26.       Empat Permintaan Dalam Doa (ok)

27.       Empat Keinginan Syaitan (ok)

28.       Empat Adab Sedekah (ok)

29.       Empat Arahan Interaksi Sosial (ok)

30.       Empat Kesadaran Terhadap Allah swt (ok)

31.       Empat Arahan Kebaikan Hidup (ok)

32.       Empat Cara Menjadikan Masjid Sepertri Rumah Sendiri (ok)

33.       Empat Sikap Menjajah Negeri Sendiri (ok)

34.       Empat Istilah Dosa (ok)

35.       Empat Akhlak Muslim (ok)

36.       Empat Bahaya Narkoba (ok)

37.       Empat Tarbiyyah Ramadhan (ok)

38.       Empat Kedudukan Harta (ok)

39.       Empat Perintah Allah swt (ok)

40.       Empat Ketaatan Yang Benar (ok)

41.       Empat Ketaatan Yang Salah 1 (ok)

42.       Empat Ketaatan Yang Salah 2 (ok)

43.       Empat Komitmen Yang Harus Dikuatkan (ok)

44.       Empat Syarat Taubat (ok)

45.       Empat Cahaya Penyempurna (ok)

46.       Empat Ciri Cinta Dunia (ok)

47.       Empat Bukti Mabrur (OK)

48.       Empat Hikmah Haji dan Qurban (ok)

49.       Empat Harapan Nabi Ibrahim (ok)

50.       Empat Pelajaran Haji dan Qurban (ok)

51.       Empat Bentuk Menguasai Diri (ok)

52.       Empat Sikap Muslim (ok)

L1. CONTOH MUQADDIMAH KHUTBAH PERTAMA

L2. CONTOH KHUTBAH KEDUA 1

L3. CONTOH KHUTBAH KEDUA 2

L4. CONTOH DOA

Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang buku ini, berikut salah satu contoh khutbah yang ada di dalamnya.

EMPAT CIRI CINTA DUNIA

Saudaraku Kaum Muslimin Yang Berbahagia.

Dunia tempat kita hidup dan mengabdi kepada Allah swt pada dasarnya bukanlah untuk dibenci. Kita dibolehkan menikmati apa yang ada di dunia ini bila memang halal dan dengan cara-cara yang dibenarkan. Bila tidak, maka kitapun termasuk orang yang terlalu cinta pada dunia. Dalam kehidupan sekarang, salah satu yang amat kita inginkan adalah terwujudnya kekuatan umat sehingga menjadi umat yang disegani dan berpengaruh besar. Namun kenyataan menunjukkan bahwa kaum muslimin masih berada dalam kondisi lemah, bahkan cenderung tidak berdaya dalam menghadapi kekuatan lain. Kelemahan itu sebenarnya bukan karena pihak lain memiliki kekuatan yang besar, tapi lebih kepada persoalan internal umat Islam itu sendiri. Dalam suatu hadits diterangkan sebagai berikut:

يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا. فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ: بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ. فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ 

Dapat diperkirakan bahwa kamu akan diperebutkan oleh bangsa-bangsa lain sebagaimana orang-orang berebut melahap isi mangkok. Para sahabat bertanya: “Apakah saat itu jumlah kami sedikit, ya Rasulallah?”. Beliau menjawab: “Tidak, bahkan saat itu jumlah kalian banyak sekali, tetapi seperti buih air bah dan kalian ditimpa penyakit wahn”. Mereka bertanya lagi: “apakah penyakit wahn itu ya Rasulallah?”. Beliau menjawab: “Terlalu cinta duania dan takut mati.” (HR. Abu Daud dari Tsauban).

Karena hal ini merupakan sesuatu yang amat membahayakan, maka terasa perlu bagi kita untuk mengetahui apakah kita ini termasuk orang yang cinta dunia atau tidak. Ada empat faktor yang disebutkan oleh Allah swt yang apabila ada pada diri kita, maka kita termasuk orang-orang yang terlalu cinta dunia.

Pertama, menghalalkan segala cara dalam mencari rizki. Islam merupakan agama yang amat menekankan kepada umatnya untuk mencari rizki guna memenuhi segala kebutuhannya dalam hidup ini, karena itu, usaha dengan bekerja sendiri merupakan sesuatu yang amat mulia, sedangkan mengemis merupakan sesuatu yang hina. Meskipun demikian, usaha dengan berbagai cara harus dilakukan dengan cara-cara yang halal, bukan menghalalkan segala cara, apalagi dengan memperalat hukum untuk menghalalkan sesuatu yang sebenarnya tidak halal, bila itu yang dilakukan, maka itu berarti kita orang yang terlalu cinta pada dunia dengan mengabaikan kepentingan ukhrawi, Allah swt berfirman:

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebahagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. (QS. Al Baqarah [2]:188).

Oleh karena itu, kita sangat dituntut untuk tidak lupa kepada Allah dalam arti melanggar ketentuan-ketentuan-Nya dalam upaya memperoleh harta, sedangkan bila sudah mendapatkannya, kitapun tidak lupa kepada Allah swt sehingga dapat menggunakan harta itu dengan sebaik-baiknya dan mengeluarkan zakat, infaq dan shadaqahnya, bila tidak demikian, itu berarti terlalu cinta pada dunia, Allah swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُوْنَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS Al Munafiqun [63]:9).

Sidang Jumat Yang Berbahagia.

Kedua, yang merupakan ciri terlalu cinta dunia adalah tamak atau rakus terhadap harta pada diri kita. Sebenarnya memiliki harta dalam jumlah yang banyak tidaklah masalah selama harta itu diperoleh secara halal dan dipergunakan secara baik sebagaimana ketentuan Allah swt. Namun kalau menghalalkan segala cara itu tidak dibenarkan karena itulah yang disebut dengan rakus. Allah swt berfirman:

وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ. وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلًا لَمًّا. وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا

Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampurbaurkan (yang haq dan bathil), dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan”. (QS. Al Fajr [89]:18-20).

Kerakusan terhadap harta membuat seseorang tidak pernah merasa puas dan tidak bersyukur atas harta yang sudah diperolehnya meskipun harta itu jumlahnya banyak, apalagi kalau harta yang diperolehnya masih sedikit. Disamping itu, ekses lain dari rasa tamak terhadap harta adalah iri hati terhadap apa yang dicapai oleh orang lain sehingga dia menjadi tidak suka terhadap kepemilikan harta atau kemajuan yang dicapai orang lain dan ini akan mengarah kepada permusuhan yang tidak dibenarkan. Oleh karena itu, bersyukur merupakan sesuatu yang amat penting agar kita tidak termasuk orang yang terlalu cinta pada dunia ini.

Kaum Muslimin Rahimakumullah.

Ketiga, yang merupakan ciri terlalu cinta dunia adalah sibuk dengan urusan dunia hingga melupakan akhirat. Dunia disebut dengan dunia karena berasal dari kata danaa yang artinya dekat, itu berarti urusan dunia adalah urusan yang kenikmatannya hanya bisa dirasakan di dunia ini saja. Orang yang sibuk dengan urusan dunia berarti orang yang sibuk dengan urusan-urusan yang kenikmatannya hanya bisa diraskan di dunia ini saja, bahkan bisa jadi malah bertentangan dengan usaha pencapaian kenikmatan yang bersifat ukhrawi, bila itu yang terjadi, maka seseorang berarti telah begitu cinta pada kehidupan duniawinya.

Dunia dengan akhirat sebenarnya bukan sesuatu yang harus kita pilah-pilah, karena apa yang kita lakukan di dunia ini sebenarnya bisa kita rasakan manfaatnya dalam kehidupan akhirat kelak, sedangkan kebahagiaan akhirat yang menjadi tujuan kita harus kita gapai dari kehidupan kita di dunia ini. Namun terkadang kita temukan begitu banyak orang yang memilahnya sehingga banyak manusia yang hanya begitu sibuk untuk hal-hal yang bersifat duniawi seperti bermegah-megahan dan mencari kekayaan yang banyak hingga melalaikan dirinya dari makna dan hakikat hidup yang sebenar-benarnya, hal ini merupakan sesuatu yang harus kita waspadai, Allah berfirman:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ.حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ. كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ. ثُمَّ كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Jangan begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu). Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui”. (QS At Takatsur [102]:1-4).

Sidang Jumat Yang Berbahagia.

Keempat, yang merupakan ciri orang yang terlalu cinta dunia adalah tidak memiliki pendirian yang kuat dalam menyikapi kebenaran. Padahal, kebenaran yang datang dari Allah bukan hanya harus dilaksanakan secara pribadi, tapi juga harus ditegakkan dalam kehidupan masyarakat. Untuk itu diperlukan pendirian yang kuat dalam memegang prinsip-prinsip kebenaran. Bagi orang yang terlalu cinta dunia nampaknya sangat sulit untuk memiliki pendirian yang kuat dalam menyikapi kebenaran, karena bila ternyata malah merugikan duniawinya, diapun tidak segan-segan mengabaikan nilai-nilai kebenaran. Tegasnya, orang yang terlalu cinta pada dunia tidak mau menanggung resiko sebagai akibat dari berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran, Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيْعًا. الَّذِيْنَ يَتَرَبَّصُوْنَ بِكُمْ فَإِنْ كَانَ لَكُمْ فَتْحٌ مِنَ اللَّهِ قَالُوا أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ وَإِنْ كَانَ لِلْكَافِرِيْنَ نَصِيْبٌ قَالُوا أَلَمْ نَسْتَحْوِذْ عَلَيْكُمْ وَنَمْنَعْكُمْ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ فَاللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيْلًا

Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang munafik dan orang kafir di dalam jahannam, (yaitu) orang-orang yang menunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang beriman). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata: “Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu?”. Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: “Bukankah kami turut memenangkamu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?” Maka Allah akan memberi keputusan diantara kamu di hari kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang beriman”. (QS An Nisa [4]:140-141).

Akhirnya menjadi jelas bagi kita bahwa kehidupan dunia ini merupakan salah satu fase atau rangkaian dari perjalanan hidup kita yang sesungguhnya, yakni kehidupan akhirat yang bahagia, karenanya kehidupan dan kenikmatan dunia ini dalam kendali tangan kita, bukan malah kita dikuasai dunia.

Demikian khutbah kita yang singkat hari ini, semoga bermanfaat bagi kita bersama, amin.

DUA SEBAB TURUNNYA AYAT AL QURAN

 

DUA SEBAB TURUNYA AYAT Al QURAN

Oleh: Ahmad Yani

Judul Buku   : Asbabun Nuzul Tematik

Penulis          : Drs. H. Ahmad Yani

Tebal Buku   : xxii+692 Halaman

Ukuran           : 16,5 x 24 cm

Harga             : Rp 200.000+ongkir

Penerbit         : Khairu Ummah (HP/WA 0812-9021-953)

Para Nabi mendapatkan mukjizat yang diberikan Allah swt, termasuk Nabi Muhammad saw. Mukjizat para nabi sebelum Nabi Muhammad saw hanya tinggal cerita, tidak bisa kita nikmati lagi. Tapi, mukjizat Nabi Muhammad saw, yakni Al Quran masih bisa kita nikmati hingga berakhirnya kehidupan di dunia ini. Karena itu, setiap kita harus berinteraksi kepada Al Quran dalam bentuk meyakini kebenarannya sebagai wahyu, membaca dengan baik, memahami hingga memiliki kedalaman makna, mengamalkan secara terus menerus hingga mendakwahkannya kepada banyak orang. Ini merupakan kenikmatan yang hanya dirasakan oleh orang yang memenuhi interaksi yang demikian.

Ada banyak pendekatan untuk bisa memahami Al Quran, salah satunya dari memahami asbabun nuzul (sebab turun). Karena itu, dengan memahami asbabun nuzul, kita terhindar dari salah paham, apalagi gagal paham dan terhindar juga dari penyalahgunaan ayat untuk kepentingan yang tidak sesuai. Hal ini sangat penting, karena banyak orang yang sesat karena salah paham terhadap maksud suatu ayat Al Quran atau memang sengaja untuk mencari pembenaran atas kesalahan yang dilakukannya dengan menggunakan ayat.   

Secara harfiyah, Asbabun Nuzul adalah sebab-sebab turun, yakni sebab turunnya ayat-ayat Al Quran. Asbabun Nuzul merupakan peristiwa yang terjadi ketika turunnya suatu ayat. Dalam kajian asbabun nuzul, setidaknya ada dua sebab mengapa ayat itu diturunkan. Pertama, respon Allah swt atas suatu kejadian, dan Kedua, jawaban atas pertanyaan kepada Nabi Muhammad saw. Berikut ini contoh ayat yang turun karena respon Allah swt dan jawaban atas pertanyaan kepada nabi saw.

JANGAN HANYA MEMERINTAH

Ketika kita memerintahkan kebaikan kepada orang lain, maka seharusnya kitapun melaksanakan perintah itu.

Ibnu Abbas menceritakan seperti yang diriwayatkan dari Al Wahidi dan Ats Tsa’labi dari jalur Al Kalbi dari Abu Shaleh: Salah seorang Yahudi Madinah berkata kepada anggota keluarganya seperti menantu, kerabat dan orang-orang yang punya hubungan sesusuan dengannya  yang semuanya sudah menjadi muslim “Tetaplah pada agama kalian dan apa yang diperintahkan oleh orang itu (Muhammad saw) karena apa yang diperintahkannya adalah benar.”

Orang-orang Yahudi memang suka menganjurkan kepada banyak orang untuk melakukan kebaikan, meskipun mereka sendiri tidak melakukannya. Karena itu, Allah swt menurunkan firman-Nya:

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir? (QS Al Baqarah [2]:44)

Dari kisah di atas, pelajaran yang dapat kita ambil adalah:

  1. Nilai-nilai kebaikan seharusnya menjadi karakter yang melekat dalam kepribadian kita.
  2. Memerintahkan kebaikan seharusnya membuat kita semakin memiliki beban moral untuk melaksanakan kebaikan itu, bukan semata-mata menyuruh orang lain berbuat baik, sementara sikap dan prilaku kita justeru bertentangan dengan kebaikan itu.
  3. Dalam konteks pendidikan dan dakwah, tidak melaksanakan apa yang kita perintahkan hanya membuat wibawa kita jatuh, bahkan Allah swt menjadi murka.

Selain respon Allah, ada lagi berupa pertanyaan dari berbagai pihak kepada Nabi Muhammad saw, tidak semua masalah harus dijawab oleh Nabi, karenanya Allah swt turunkan ayat untuk menjawabnya. Diantara contohnya:

ALLAH ITU DEKAT

Merasa dekat dengan Allah membuat manusia selalu merasa diawasi, lalu tidak berani menyimpang dari ketentuan-ketentuan-Nya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim dan lain-lain bahwa suatu ketika seorang Arab Badui mendatangi Nabi saw, lalu berkata: “Allah itu dekat atau jauh. Bila dekat kita cukup berdoa dengan berbisik dan bila jauh kita memohon kepada-Nya dengan berteriak memanggilnya.”

Rasulullah saw terdiam, lalu turunlah firman Allah swt:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS Al Baqarah [2]:186).

Dari kisah di atas, pelajaran yang dapat kita ambil adalah:

  1. Allah swt menyatakan bahwa Dia dekat kepada manusia, persoalannya adalah kita merasa dekat atau tidak. Rasa dekat membuat kita tidak mau menyimpang dari ketentuan-Nya karena kita selalu merasa diawasi.
  2. Doa merupakan inti ibadah. Ketika kita berdoa, setiap kita harus yakin bahwa Allah swt mengabulkannya.
  3. Doa pasti dikabulkan oleh Allah swt apabila kita menunjukkan ketaatan kepada-Nya, mengokohkan keimanan dan selalu berada di jalan yang benar.

Saya bukanlah pakar Al Quran, tidak cukup syarat juga untuk mengajarkan apalagi menafsirkan Al Quran. Tapi dalam khutbah dan ceramah, penjelasan Al Quran harus saya sampaikan, karenanya buku-buku tafsir harus dibaca. Buku ini semula saya susun untuk kebutuhan mengisi pengajian rutin tentang asbabun nuzul. Selama ini, kalau kita membaca dan mempelajari asbabun nuzul, urutannya berdasarkan susunan surat di dalam Al Quran, mulai dari Al Baqarah, Ali Imran, An Nisa dan seterusnya. Dalam pengajian itu, saya coba membahasnya berdasarkan masalah atau tema. Ternyata setelah dibahas, menarik juga dalam upaya mendapatkan pemahaman secara utuh. Sesudah meminta tanggapan kepada beberapa ustadz, apalagi belum ada buku dengan format penulisan seperti ini, maka saya susun buku ini hingga mendapatkan judul Asbabun Nuzul Tematik.

Buku Asbabun Nuzul yang ditulis oleh Imam Suyuti merupakan referensi utama buku ini, ditambah dengan beberapa buku tafsir seperti Tafsir Al Munir yang ditulis oleh Wahbah Zuhaili, Al Quran dan Tafsirnya yang diterbitkan oleh Kementerian Agama, Tafsir Al Mishbah yang ditulis oleh M. Quraish Shihab, dan sebagainya.

Buku ini disebut Asbabun Nuzul Tematik karena memang disusun berdasarkan tema yang dikelompokkan menjadi 20 tema, terdiri dari aqidah, akhlak, akhirat, hukum, shalat, puasa, haji, Al Quran, masjid, kafir dan musyrik, munafik, Yahudi dan Nasrani, nikah dan keluarga, jin dan syaitan, Nabi, yatim, perang, dakwah, wanita, dan harta. Dari 20 tema ini, kisah-kisah dalam asbabun nuzul sebanyak 521 judul. Setiap pembahasan diakhiri dengan hikmah atau pelajaran yang harus kita ambil.

MENGKADER KHATIB DAN MUBALIG

MENGKADER KHATIB DAN MUBALIG

Judul  Buku  : Bekal Menjadi Khatib dan Mubalig

Penulis          : Drs. H. Ahmad Yani

Ukuran           : 12,5 X 18,5 cm

Tebal              : 168 Halaman

Cetakan         : Ketujuh, 2020

Penerbit         : Khairu Ummah & Al Qalam GIP

Harga             : Rp 50.000+ONGKIR

Pesan            : 0812-9021-953

Dakwah merupakan tugas yang mulia, penting dan dibutuhkan. Karena itu, para dai, khatib dan mubalig keberadaannya sangat dibutuhkan. Dalam bidang apapun, pengkaderan dan regenerasi harus dilakukan, termasuk dalam bidang dakwah. Karena itu, pengkaderan khatib dan mubalig harus terus dilakukan. Hal ini karena dakwah harus tersebar luas ke berbagai wilayah, sementara jumlah khatib dan mubalig sudah pasti berkurang disebabkan para dai yang semakin tua, sakit hingga wafat.

Untuk mengkader para khatib dan mubalig, setidaknya melalui pelatihan buku Bekal Menjadi Khatib dan Mubalig ini bisa dijadikan rujukan. Selama ini, buku ini memang menjadi pegangan peserta Pelatihan dan Kursus Dakwah. Buku ini mengingatkan kita bahwa menjadi khatib dan mubalig setidaknya harus memenuhi tiga kriteria, yakni kepribadian yang shaleh, wawasan yang luas dan kemampuan dakwah yang baik. Adabpun tema-tema yang dibahas dalam buku ini antara lain:

  1. Tanggungjawab Dakwah
  2. Objek Dakwah
  3. Akhlak Dai
  4. Retorika Dakwah
  5. Komunikasi Dakwah
  6. Psikologi Dakwah
  7. Pola Perumusan Materi Dakwah
  8. Rileks Dalam Dakwah
  9. Adab Hari Jumat
  10. Kaifiyat (Tata Cara) Khutbah Jumat.
  11. Teknik Menulis Makalah dan Khutbah
  12. Manajemen Pengelolaan Ibadah Jumat
  13. Pilar-Pilar Tablig
  14. Tanya Jawab Seputar Materi Dakwah
  15. Tanya Jawab Seputar Kepribadian Khatib dan Mubalig
  16. Tanya Jawab Seputar Teknis Berdakwah
  17. Lampiran Beberapa Contoh Khutbah.

Dengan memiliki buku ini, anda bisa belajar berdakwah dan bisa juga mengajarkan berdakwah yang baik.

Setengah Resmipun Tidak

 

Kita Butuh Nasihat

Oleh: Ahmad Yani

Judul                : 200 Nasihat Untuk Kita

Penulis             : Drs. H. Ahmad Yani

Ukuran             : 11,5 X 17,5 cm

Tebal               : 390 Halaman

Cover               : Soft Cover

Harga              : Rp 60.000 + ongkir

Penerbit          : Khairu Ummah  (WA 0812-9021-953)

Siapapun orangnya, sebaik apapun dia, nasihat, bimbingan, masukan dan saran merupakan sesuatu yang dibutuhkan. Dengan nasihat, yang tidak tahu jadi tahu, yang lupa jadi ingat, yang salah diperbaiki dan yang baik serta benar bisa dipertahankan dan ditingkatkan.

Melalui ceramah, khutbah, obrolan dan media sosial saya memberikan nasihat. Motivasi, pencerahan, wawasan didapat dan dirasakan banyak orang. Karenanya, buku ini menghimpun nasihat-nasihat pendek untuk kita semua. Sebagai contoh, ada nasihat berikut:

SETENGAH RESMIPUN TIDAK

Ketika seorang lelaki melamar atau meminang wanita, ibarat orang mau naik pesawat, ia sudah pesan tiket dengan status ok. Bagi pihak wanita, konsekuensi hukumnya tidak boleh menerima lamaran orang lain, meski ada lelaki lain yang lebih baik ingin melamarnya.

Karena itu, melamar bukan meresmikan seseorang menjadi suami isteri, setengah resmi juga tidak, tapi baru tahap awal, belum boleh menyentuhnya. Kita prihatin banyak orang sudah seperti suami isteri, padahal bukan hanya belum menikah, tapi juga belum melamar.

JANGAN DIAM-DIAM

Seorang suami dibolehkan menikah lagi, tapi jangan diam diam. Dulu, waktu ia menikah,  orang se kampung, bahkan se kota tahu, kenapa saat nikah lagi tidak ada yang tahu, bahkan isteri dan anaknya juga tidak tahu. Padahal, nikah lagi itu ada konsekuensinya. Setidaknya ada dua:

a.         Nasab, ada hubungan darah dan garis keturunan. Anak yang dihasilkan dari isteri pertama menjadi saudara yang tidak boleh menikah dengan anak dari isteri kedua, apalagi menikah dengan ibu tirinya. Bisa jadi ada anak menikah dengan saudaranya karena ia tidak tahu kalau calon isterinya itu saudaranya, apalagi bila bapak sudah wafat.

b.         Waris, isteri kedua dan anak yang dihasilkannya menjadi ahli waris. Karena itu setelah bapak wafat, mereka harus diberi hak warisnya, meskipun harta itu ada pada isteri pertama. Kira-kira, isteri pertama memberikan apa tidak?. Tidak, karena tidak tahu. Tahu saja nggak dikasih, apalagi tidak tahu.

Maka, setiap keinginan harus dibingkai oleh syariat. Ini membuat kita dapat mewujudkan kebaikan dan terhindar dari kerusakan.

Kata Pengantar

Daftar Isi

1.         Dibanggakan

2.         Rajin Ibadah

3.         Rajin Usaha

4.         Rajin Belajar dan Mengajar

5.         Rajin Silaturahim

6.         Rajin Sedekah

7.         Rajin Mengurus Rumah

8.         Rajin Bergaul

9.         Rajin Mengembangkan Diri

10.       Rajin Berdakwah

11.       Setengah Resmipun Tidak

12.       Komunikasi Keluarga

13.       Jangan Patah Arang

14.       Ada Niat, Ada Harapan

15.       Turut Gembira

16.       Keluarga Yang Berkah

17.       Meraih Berkah

18.       Tanggung Jawab

19.       Jangan Bandingkan

20.       Kerjasama Suami Isteri

21.       Satu Yang Putus

22.       Ketahanan Keluarga 1

23.       Ketahanan Keluarga 2

24.       Ketahanan Keluarga 3

25.       Ketahanan Keluarga 4

26.       Ketahanan Keluarga 5

27.       Jangan Diam-Diam

28.       Mumpung punya harta

29.       Mumpung berkuasa

30.       Mumpung masih muda

31.       Mumpung populer

32.       Mumpung berilmu

33.       Mumpung masih hidup

34.       Mumpung sempat

35.       Mumpung dipercaya

36.       Mumpung sehat

37.       Mumpung jadi pengurus masjid

38.       Kerjasama

39.       Tidak Sekadar Tarawih

40.       Coba Cara Ini

41.       Energi Masjid

42.       Masjid Ramah Anak

43.       Kata Kunci Mengurus Masjid

44.       Konsolidasi Pengurus Masjid

45.       Sambutan Ketua Masjid

46.       Kamera CCTV Masjid

47.       Masjid Bersih

48.       Persepsi Bersih, Suci, Sehat, Indah dan Nyaman

49.       Hikmah Masjid Suci, Bersih dan Sehat

50.       Prinsip Dasar Masjid Suci, Bersih dan Sehat

51.       Penjajah

52.       Istiqamah di lampu merah

53.       Basa-basi soal waktu

54.       Takjil

55.       Nobar dan shobar

56.       Sikap tegas

57.       Al Maidah

58.       Batu

59.       Masalah Pribadi

60.       Disiplin

61.       Mandiri

62.       Berkorban

63.       Banyak Bicara, Banyak Bekerja

64.       Berlebihan

65.       Pencitraan

66.       Sabar

67.       Dusta Dalam Canda

68.       Senang dan Susah

69.       Jangan Hanya Menginginkan

70.       Dianggap Negatif

71.       THR

72.       Bermanfaat

73.       Saling Mempengaruhi

74.       Tidak Sempat Konflik

75.       Gali Lobang Gali Lobang

76.       Menggratiskan

77.       Beda Pendapat

78.       Bayarkan Utang

79.       Tujuan Syariat

80.       Dikit dan banyak

81.       Banyak Zikir

82.       Bagai Orang Dagang

83.       Amal Shaleh

84.       Dekat Allah

85.       Bukalah Hati

86.       Bersihkan Hati

87.       Lembutkan Hati

88.       Sehatkan Hati

89.       Tajamkan Hati

90.       Baik Sangka Kepada Allah

91.       Baik Sangka Pada Diri Sendiri

92.       Baik Sangka Pada Orang Lain

93.       Manfaat Hidup

94.       Kebutuhan Pemimpin

95.       Berbicaralah

96.       Pencemaran Nama baik

97.       Nama

98.       Ridha Kepada Allah

99.       Antisipasi Ada Peluang

100.     Siapa Yang Tahu

101.     Istirahat

102.     Melawan Arus

103.     Uang dan Kepercayaan.

104.     Hilang

105.     Kita Kan Masih Hidup

106.     Harta dan Lalai

107.     Negara dan Maksiat

108.     Bahan Pembicaraan Yang Baik

109.     Seperti Wanita

110.     Pakaian Sempit

111.     Alasan

112.     Keahlian

113.     Bentuk Kasih Sayang 1

114.     Bentuk Kasih Sayang 2

115.     Bentuk Kasih Sayang 3

116.     Bentuk Kasih Sayang 4

117.     Bentuk Kasih Sayang 5

118.     Bentuk Kasih Sayang 6

119.     Segera Bertaubat

120.     Segera Menunaikan Haji

121.     Segera Bayar Utang

122.     Segera Ibadah Jumat

123.     Segera Mengurus Jenazah

124.     Segera Beramal Shaleh

125.     Peningkatan Iman.

126.     Peningkatan Ilmu.

127.     Peningkatan Amal.

128.     Peningkatan Dakwah.

129.     Peningkatan Kesabaran

130.     Menyesal Karena Kekuasaan

131.     Menyesal Karena Ikut-Ikutan Yang Tidak Baik.

132.     Menyesal Dalam Jihad

133.     Menyesal Karena Tidak Sedekah

134.     Menyesal Karena Mensekutukan Allah

135.     Menyesal Karena Membelanjakan Harta Untuk Keburukan.

136.     Menyesal Karena Catatan Kejahatan

137.     Menyesal Karena Tidak Mengikuti Rasul

138.     Menyesal Karena Berkawan Pada Orang yang Tidak Baik

139.     Menyesal Karena Tidak Menambah Kebaikan

140.     Menyesal Karena Tidak Meninggalkan Kejahatan

141.     Manusia Terburuk 1

142.     Manusia Terburuk 2

143.     Manusia Terburuk 3

144.     Manusia Terburuk 4

145.     Manusia Terburuk 5

146.     Manusia Terburuk 6

147.     Manusia Terburuk 7

148.     Manusia Terburuk 8

149.     Manusia Terburuk 9

150.     Manusia Terburuk 10

151.     Lupa Pada Diri Sendiri

152.     Lupa Pada Allah

153.     Lupa Pada Janji Allah

154.     Lupa Pada Hari Akhir

155.     Lupa Pada Ayat Allah

156.     Lupa Pada Larangan Duduk Bersama Orang Zalim

157.     Perubahan

158.     Langkah Perubahan

159.     Sedekah dan Kaya

160.     Tidak Sempat Konflik

161.     Semua Kita Wartawan

162.     Peluang

163.     OTT

164.     Malu

165.     Bahasa Kekuasaan

166.     Ta’aruf Lagi

167.     Selanjutnya Di Kampung Sendiri

168.     Dekat

169.     Tidak Ada Rotan Yang Satu, Ada Lagi Rotan Yang Lain

170.     Celana Robek

171.     Makan

172.     Menugaskan Diri Sendiri

173.     Belajar Kepada Al Marhum

174.     Tanya Dan Cari Sendiri Jawabannya

175.     Mati Yang Ideal

176.     Karena Ada Cahaya

177.     Jangan Sembunyikan Perintah

178.     Jangan Pakai “Kalau Dong”

179.     Nyamuk

180.     Matinya Sama, Nilainya Beda

181.     Islam Itu Nikmat

182.     Antusias

183.     Merasakan Kenikmatan

184.     Ketagihan

185.     Menceritakan Dan Mendakwahkan

186.     Malas

187.     Tidak Menikmati

188.     Tidak Mau Lagi

189.     Bicara Buruk Tentang Islam

190.     Berita Bohong

191.     Marah Karena Berita Bohong

192.     Menggunakan Media Sosial

193.     Memadukan Dunia Dan Akhirat

194.     Waspada Pada Dosa Kecil

195.     Lemah Lembut

196.     Ditinggal Orang Sekitar

197.     Semangat Pengabdian

198.     Semangat Pelayanan

199.     Semangat Pembelaan

200.     Semangat Pemberdayaan