Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

TIGA BENTUK PERBAIKAN
Oleh: Drs. H. Ahmad Yani
Ketua Dept. Dakwah PP DMI, Ketua LPPD Khairu Ummah, Pegurus KODI (Koordinasi Dakwah Islam) DKI Jakarta
اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Kaum Muslimin Yang Berbahagia.

Akhir tahun lalu kita lakukan muhasabah atau introspeksi diri, kita temukan begitu banyak dosa yang kita lakukan dan kekurangan diri yang kita rasakan. Karena itu, memasuki tahun baru, kita bertekad untuk melakukan sejumlah perbaikan agar kualitas hidup kita di tahun ini dan tahun-tahun mendatang menjadi jauh lebih baik dibanding tahun-tahun yang lalu.

Pada kesempatan khutbah yang singkat ini, akan kita bahas paling tidak tiga bentuk perbaikan yang harus kita lakukan pada tahun ini dan seterusnya. Pertama perbaikan diri dari hal-hal yang tidak baik dan tidak benar. Sikap dan sifat buruk yang ada pada kita seharusnya dapat kita perbaiki dan kita ubah menjadi sikap dan sifat yang baik. Diantara hal buruk yang harus kita perbaiki adalah sifat sombong yang membuat kita merasa sudah baik, sudah benar bahkan merasa benar sendiri dan tidak mau menerima saran serta pendapat orang lain yang benar, ini merupakan sifat iblis dan para pengikutnya yang harus kita waspadai. Sifat ini menghambat kita untuk bersatu dan menguatkan persaudaraan, karena kesombongan membuat orang merasa harus diterima orang lain tapi tidak mau menerima orang lain. Efek selanjutnya adalah tidak mau mentaati perintah, jangankan perintah dari sesama manusia, perintah dari Allah swt pun tidak mau ditaatinya, Allah swt berfirman:
وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلا إِبْلِيسَ لَمْ يَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ. قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ. قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ 
Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: "Bersujudlah kamu kepada Adam"; maka mereka pun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis: "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". Allah berfirman: "Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka ke luarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina". (QS Al A’raf [7]:11-13).

Sifat dan sikap buruk lain yang harus kita perbaiki adalah suka berdusta atau tidak jujur, hal ini karena manusia cenderung tidak mau dianggap salah, ketika ia bersalah tapi tidak jujur mengakui kesalahan, maka ia[un akan berdusta yang menyebabkan muncul dosa-dosa baru hingga berusaha mencari pembenaran atas kesalahan yang dilakukannya, karena itu Rasulullah saw amat menekankan kita berlaku jujur dan menjauhi segala bentuk dusta, beliau bersabda:
 عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَاِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى اِلَى الْبِرِّ وَاِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى اِلىَ الْجَنَّةِ اِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَاِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى اِلَى الْفُجُوْرِ وَاِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِى اِلَى النَّارِ
Hendaklah kamu semua bersikap jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan dan kebaikan membawa ke surga. Jauhilah dusta, karena sesungguhnya dusta itu membawa pada kedurhakaan dan sesungguhnya kedurhakaan itu akan menunjuki manusia ke neraka (HR. Bukhari)

Kaum Muslimin Rahimakumullah.

Kedua perbaikan yang harus kita lakukan adalah hubungan kita kepada Allah swt sehingga kita selalu merasa dekat dan diawasi oleh Allah swt. Merasa dekat dan diawasi oleh Allah swt membuat kita tidak akan melakukan penyimpangan meskipun peluang untuk melakukannya sangat besar dan bisa jadi kita akan mendapatkan kepuasan atau kenikmatan duniawi.

Kita tentu masih ingat bagaimana Nabi Yusuf as mendapat kesempatan dan ajakan untuk bermaksiat dengan melakukan perzinahan kepada wanita cantik yang merayunya. Secara pribadi, Yusuf tertarik pada wanita itu, sementara ia jauh dari keluarga karena ia bukan orang Mesir. Tapi, merasa dekat kepada Allah swt membuatnya tidak mau memenuhi ajakan wanita itu, karena itu menjadi sangat penting bagi kita semua memperbaiki perasaan dekat dan selalu merasa diawasi Allah swt, apalagi apapun yang kita lakukan terdata disisi Allah swt yang kelak akan ditunjukkan kepada kita dan harus bisa kita pertanggungjawabkan, Allah swt berfirman:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلاثَةٍ إِلا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلا خَمْسَةٍ إِلا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلا أَكْثَرَ إِلا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.(QS Al Mujadilah [58]:7).

Maasyiral Muslimin Rahimakumullah.

Ketiga adalah perbaikan keluarga dan masyarakat agar menjadi keluarga dan masyarakat Islami. Keluarga yang Islami adalah keluarga yang dapat menunjukkan profil keislaman dalam kehidupan sehari-hari. Dari sinilah masing-masing anggota keluarga mampu memperlakukan dan menjalin hubungan sesama anggota keluarganya dengan sebaik-baiknya. Sebab bagaimana mungkin seseorang bisa berlaku baik kepada orang lain bila ia tidak bisa berlaku baik kepada keluarganya sendiri. Dalam Islam, kehidupan keluarga yang baik merupakan basis penting bagi terwujudnya kehidupan masyarakat yang baik, bahkan dapat berlaku baik kepada keluarga menjadi salah satu dari ukuran kebaikan seseorang dalam kehidupan ini, karena itu Rasulullah saw sangat berlaku baik kepada keluarganya, baik kepada isteri-isterinya maupun anak dan cucu, beliau  bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِى
Sebaik-baik kamu adalah yang yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku (HR. Ibnu Asakir).

Perbaikan masyarakat menjadi bagian tidak terpisah dari perbaikan keluarga. Masyarakat yang baik selalu mengedepankan nilai-nilai moral dan hukum sehingga bukan hanya saling hormat-menghormati, bantu-membantu dan ikut memecahkan persoalan serta memenuhi hak-hak dan kewajiban, tapi juga menegakkan hukum secara adil bahkan siap menerima peraturan dan sanksi bila melakukan kesalahan. Begitulah masyarakat Islami yang dibangun oleh Nabi Muhammad saw di Madinah, masyarakat yang berbasis masjid dengan nilai-nilai Islam yang kokoh sehingga menjadi masyarakat terbaik dengan menunjukkan nilai-nilai kebajikan dimanapun mereka berada, Allah swt berfirman:

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke timur dan ke barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir dan orang yang meminta-minta; dan memerdekakan hamba sahaya; mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji; dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa (QS Al Baqarah [2]:177).
    
        Manakala tiga perbaikan ini dapat kita lakukan, maka kemajuan demi kemajuan akan kita raih. Masyarakat yang beradab dan berakhlak mulia akan dapat kita wujudkan secara bersama-sama.

            Demikian khutbah Jumat kita yang singkat hari ini, semoga bermanfaat bagi kita bersama.
بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِى وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Tentang ahmadyani.masjidasia

Admin adalah orang-orang yang peduli terhadap kemaslahatan umat, terutama dalam menghadapi tantangan zaman berupa hujatan, fitnah, dan upaya-upaya lain yang mendeskriditkan dunia Islam. "Biodata Penulis".
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment