Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

DUA KEHARUSAN ORANG TAQWA


DUA KEHARUSAN ORANG TAQWA
Oleh: Drs. H. Ahmad Yani
Ketua Departemen Dakwah PP DMI, Ketua LPPD Khairu Ummah, Trainer Dai & Manajemen Masjid, Penulis 48 Judul Buku. HP/WA 0812-9021-953 & 0812-9930-6180

MESKIPUN TIDAK ADA IBADAH JUMAT KARENA WABAH VIRUS CORONA, JAMAAH HARUS TETAP DAPAT MATERI KHUTBAH. BAGIKAN TEKS KHUTBAH INI KEPADA KAUM MUSLIMIN. 
اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Saudaraku Kaum Muslimin Yang Berbahagia.

Setiap kita harus terus meningkatkan taqwa kepada Allah swt. Meskipun seseorang sudah termasuk orang taqwa, tetap saja ada yang harus ditekankan dan diperhatikan agar taqwa dapat dipertahankan dan ditingkatkan. Karena itu, ada keharusan yang harus dilakukan oleh orang bertaqwa, Allah swt berfirman:

.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ. وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS Al Hasyr [59]:18-19)

            Dari ayat di atas, setidaknya ada dua keharusan yang harus dilakukan, karenanya menjadi penting bagi kita untuk membahas dan memahaminya. Pertama, introspeksi diri. Salah satu sifat yang harus kita miliki atau aktivitas yang harus kita lakukan sebagai seorang muslim yang berkepribadian terpuji adalah melakukan apa yang disebut dengan Muhasabah atau evaluasi dan introspeksi diri. Perjalanan hidup yang mengikuti perputaran waktu secara rutin seringkali membuat manusia menjalani kehidupan ini secara rutinitas sehingga kehilangan makna hidup yang sesungguhnya, bahkan bisa jadi kesalahan yang dilakukanpun tidak disadarinya, apalagi bila kesalahan itu sudah biasa dilakukan. Sahabat Nabi yang bernama Umar bin Khattab berpesan kepada kita semua tentang keharusan bermuhasabah ini, beliau menyatakan:
حَاسِبُوْا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا
Hitung-hitunglah dirimu sebelum kamu dihitung (oleh Allah).

Muhasabah bisa kita lakukan dengan tiga bentuk. Pertama, muhasabah sebelum berbuat, yakni memikirkan terlebih dahulu; apakah yang hendak dilaksanakan itu sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya atau tidak. Dalam kaitan ini, seorang muslim yang sejati harus melakukan sesuatu sebagaimana ketentuan Allah dan Rasul-Nya sehingga sesuatu itu tidak langsung dilaksanakan tetapi dipikirkannya terlebih dahulu matang-matang. Kalau yang hendak dilaksanakan itu sesuatu yang sesuai dengan ketentuan Islam, maka dia akan terus melaksanakan meskipun hambatan dan tantangannya besar, sedang bila tidak sesuai dengan ketentuan, maka dia akan meninggalkannya meskipun menguntungkan secara duniawi, inilah yang seringkali disebut dengan “berpikir sebelum berbuat”. Bagi orang yang beriman, dia akan menyesuaikan diri saja dengan apa yang Allah kehendaki sebagaimana firman Allah:
وَمَاتَشَآءُوْنَ إِلاَّ أَنْ يَّشَآءَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ
Dan kamu tidak dapat mengfhendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam (QS At Takwir [81]:29).

            Kedua, muhasabah juga bisa dilakukan pada saat melaksanakan sesuatu dengan selalu mengontrol diri agar tidak menyimpang dari apa yang semestinya dikerjakan dan bagaimana melaksanakannya, hal ini karena tidak sedikit orang yang sedang melakukan sesuatu menyimpang dari ketentuan yang semestinya. Dalam kaitan ini, muhasabah dapat mencegah kemungkinan terjadinya penyimpangan pada saat melaksanakan sesuatu atau menghentikannya sama sekali. Dalam soal motivasi, muhasabah sangat penting untuk dilakukan agar niat yang sejak awal sudah betul-betul ikhlas menjadi kotor karena ada pujian dari orang lain sehingga seseorang menjadi tambah semangat dalam melakukan sesuatu karena mendapat pujian itu, begitulah seterusnya dalam persoalan pelaksanaan atas sesuatu. Meskipun seseorang telah beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt, mungkin saja mereka digoda oleh syaitan sehingga ia segera menghentikan penyimpangan yang dilakukan dan bertaubat, Allah swt  berfirman:
إِنَّ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَآئِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوْا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُوْنَ   
Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa, bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya (QS Al A’raf [7]:201).

            Ketiga, muhasabah setelah melakukan sesuatu dengan maksud agar kita dapat menemukan kesalahan yang kita lakukan, lalu menyesali dengan taubat dan tidak melakukannya lagi pada masa-masa mendatang. Muhasabah setelah melakukan sesuatu merupakan sesuatu yang amat penting, karena begitu banyak orang yang melakukan kesalahan tapi tidak memahami dan tidak menyadarinya lalu mengulangi kesalahan itu lagi, apalagi kalau sesuatu yang dilakukan itu telah menyampaikan kesuksesan, padahal bisa jadi meskipun telah mencapai keberhasilan, terdapat kekeliruan dalam mencapainya. Manakala seseorang sudah menemukan kesalahan dirinya lalu bertaubat dengan sesungguh hati, maka Allah swt amat senang kepadanya, melebihi kesenangan seseorang yang menemukan kembali kendaraannya yang hilang di tengah hutan, Rasulullah saw bersabda:
إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ الْمُفْتَتَنَ التَّوَّابَ
Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba mukmin yang terjerumus dosa tetapi bertaubat (HR. Ahmad).
اَللهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيْرِهِ وَقَدْ أَضَلَّهُ فِى أَرْضٍ فَلاَةٍ
Sesungguhnya Allah lebih suka menerima taubat seorang hamba-Nya, melebihi dari kesenangan seseorang yang menemukan kembali dengan tiba-tiba untanya yang hilang daripadanya di tengah hutan (HR. Bukhari dan Muslim).

Sidang Jumat Yang Dimuliakan Allah swt

Keharusan kedua bagi orang taqwa adalah tidak lupa kepada Allah. Salah satu ungkapan yang sering kita dengar atau bisa jadi sering kita ucapkan adalah bahwa manusia tidak luput dari salah dan lupa. Namun ungkapan semacam itu tidak boleh membuat manusia merasa wajar-wajar saja bila melakukan kesalahan dan menjadikan lupa sebagai alasan yang wajar bila tidak melakukan sesuatu yang semestinya dilakukan atau tidak meninggalkan sesuatu yang semestinya ditinggalkan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kenyataan menunjukkan bahwa begitu banyak manusia yang menjadikan kata lupa sebagai alasan bila ia tidak melakukan apa yang semestinya dilakukan dan orang lain yang dirugikanpun tidak bisa mempersoalkannya bahkan terpaksa memakluminya. Dalam konteks inilah seharusnya seseorang berlaku jujur sehingga bila ia memang sebenarnya lalai seharusnya mengakui saja kelalaiannya itu.

Orang yang bertaqwa tentu tidak lupa kepada Allah swt. Yang dimaksud lupa kepada Allah adalah lupa kepada ketentuan Allah swt dalam kehidupan ini sehingga manusia meninggalkan atau mengabaikan ketentuan-ketentuan-Nya dalam kehidupan ini.

Hal yang lebih membahayakan lagi dari keberadaan orang yang lupa kepada Allah swt tidak hanya mengabaikan ketentuan-Nya, tapi mereka juga memerintahkan yang buruk dan mencegah yang baik sehingga ia melakukan keburukan tidak hanya untuk dirinya sendiri tapi juga melibatkan orang lain dalam keburukan itu, Allah swt berfirman:

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik. (QS At Taubah [9]:67).

Orang-orang munafik dinyatakan memerintahkan yang buruk dan mencegah yang baik karena mereka lupa kepada Allah swt, mereka beranggapan bahwa keburukan yang mereka lakukan itu akan luput dari pengawasan dan perhitungan Allah swt, Sayyid Qutb dalam tafsirnya menyatakan bahwa orang-orang munafik tidak memperhitungkan kecuali perhitungan manusia dan perhitungan untung rugi di dunia. Ini semua membuat Allah swt akan melupakan mereka dalam arti tidak akan memberikan perlindungan dan pertolongan kepada siapa saja yang telah lupa kepada Allah swt dalam kehidupan di dunia ini.

            Dengan demikian, lupa kepada Allah swt amat berbahaya bagi kehidupan manusia karena manusia terus dipengaruhi oleh orang yang demikian untuk melakukan kemaksiatan dan kemunkaran. Karena itu, sifat ini tidak mungkin dimiliki oleh oreang yang bertaqwa, maka menjadi orang taqwa jangan sampai malah lupa kepada Alolah swt.

            Demikian khutbah Jumat kita yang singkat hari ini, semoga bermanfaat bagi kita bersama, amin

TIGA BENTUK PERBAIKAN

TIGA BENTUK PERBAIKAN
Oleh: Drs. H. Ahmad Yani
Ketua Dept. Dakwah PP DMI, Ketua LPPD Khairu Ummah, Pegurus KODI (Koordinasi Dakwah Islam) DKI Jakarta
اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Kaum Muslimin Yang Berbahagia.

Akhir tahun lalu kita lakukan muhasabah atau introspeksi diri, kita temukan begitu banyak dosa yang kita lakukan dan kekurangan diri yang kita rasakan. Karena itu, memasuki tahun baru, kita bertekad untuk melakukan sejumlah perbaikan agar kualitas hidup kita di tahun ini dan tahun-tahun mendatang menjadi jauh lebih baik dibanding tahun-tahun yang lalu.

Pada kesempatan khutbah yang singkat ini, akan kita bahas paling tidak tiga bentuk perbaikan yang harus kita lakukan pada tahun ini dan seterusnya. Pertama perbaikan diri dari hal-hal yang tidak baik dan tidak benar. Sikap dan sifat buruk yang ada pada kita seharusnya dapat kita perbaiki dan kita ubah menjadi sikap dan sifat yang baik. Diantara hal buruk yang harus kita perbaiki adalah sifat sombong yang membuat kita merasa sudah baik, sudah benar bahkan merasa benar sendiri dan tidak mau menerima saran serta pendapat orang lain yang benar, ini merupakan sifat iblis dan para pengikutnya yang harus kita waspadai. Sifat ini menghambat kita untuk bersatu dan menguatkan persaudaraan, karena kesombongan membuat orang merasa harus diterima orang lain tapi tidak mau menerima orang lain. Efek selanjutnya adalah tidak mau mentaati perintah, jangankan perintah dari sesama manusia, perintah dari Allah swt pun tidak mau ditaatinya, Allah swt berfirman:
وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلا إِبْلِيسَ لَمْ يَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ. قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ. قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ 
Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: "Bersujudlah kamu kepada Adam"; maka mereka pun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis: "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". Allah berfirman: "Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka ke luarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina". (QS Al A’raf [7]:11-13).

Sifat dan sikap buruk lain yang harus kita perbaiki adalah suka berdusta atau tidak jujur, hal ini karena manusia cenderung tidak mau dianggap salah, ketika ia bersalah tapi tidak jujur mengakui kesalahan, maka ia[un akan berdusta yang menyebabkan muncul dosa-dosa baru hingga berusaha mencari pembenaran atas kesalahan yang dilakukannya, karena itu Rasulullah saw amat menekankan kita berlaku jujur dan menjauhi segala bentuk dusta, beliau bersabda:
 عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَاِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى اِلَى الْبِرِّ وَاِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى اِلىَ الْجَنَّةِ اِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَاِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى اِلَى الْفُجُوْرِ وَاِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِى اِلَى النَّارِ
Hendaklah kamu semua bersikap jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan dan kebaikan membawa ke surga. Jauhilah dusta, karena sesungguhnya dusta itu membawa pada kedurhakaan dan sesungguhnya kedurhakaan itu akan menunjuki manusia ke neraka (HR. Bukhari)

Kaum Muslimin Rahimakumullah.

Kedua perbaikan yang harus kita lakukan adalah hubungan kita kepada Allah swt sehingga kita selalu merasa dekat dan diawasi oleh Allah swt. Merasa dekat dan diawasi oleh Allah swt membuat kita tidak akan melakukan penyimpangan meskipun peluang untuk melakukannya sangat besar dan bisa jadi kita akan mendapatkan kepuasan atau kenikmatan duniawi.

Kita tentu masih ingat bagaimana Nabi Yusuf as mendapat kesempatan dan ajakan untuk bermaksiat dengan melakukan perzinahan kepada wanita cantik yang merayunya. Secara pribadi, Yusuf tertarik pada wanita itu, sementara ia jauh dari keluarga karena ia bukan orang Mesir. Tapi, merasa dekat kepada Allah swt membuatnya tidak mau memenuhi ajakan wanita itu, karena itu menjadi sangat penting bagi kita semua memperbaiki perasaan dekat dan selalu merasa diawasi Allah swt, apalagi apapun yang kita lakukan terdata disisi Allah swt yang kelak akan ditunjukkan kepada kita dan harus bisa kita pertanggungjawabkan, Allah swt berfirman:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلاثَةٍ إِلا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلا خَمْسَةٍ إِلا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلا أَكْثَرَ إِلا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.(QS Al Mujadilah [58]:7).

Maasyiral Muslimin Rahimakumullah.

Ketiga adalah perbaikan keluarga dan masyarakat agar menjadi keluarga dan masyarakat Islami. Keluarga yang Islami adalah keluarga yang dapat menunjukkan profil keislaman dalam kehidupan sehari-hari. Dari sinilah masing-masing anggota keluarga mampu memperlakukan dan menjalin hubungan sesama anggota keluarganya dengan sebaik-baiknya. Sebab bagaimana mungkin seseorang bisa berlaku baik kepada orang lain bila ia tidak bisa berlaku baik kepada keluarganya sendiri. Dalam Islam, kehidupan keluarga yang baik merupakan basis penting bagi terwujudnya kehidupan masyarakat yang baik, bahkan dapat berlaku baik kepada keluarga menjadi salah satu dari ukuran kebaikan seseorang dalam kehidupan ini, karena itu Rasulullah saw sangat berlaku baik kepada keluarganya, baik kepada isteri-isterinya maupun anak dan cucu, beliau  bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِى
Sebaik-baik kamu adalah yang yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku (HR. Ibnu Asakir).

Perbaikan masyarakat menjadi bagian tidak terpisah dari perbaikan keluarga. Masyarakat yang baik selalu mengedepankan nilai-nilai moral dan hukum sehingga bukan hanya saling hormat-menghormati, bantu-membantu dan ikut memecahkan persoalan serta memenuhi hak-hak dan kewajiban, tapi juga menegakkan hukum secara adil bahkan siap menerima peraturan dan sanksi bila melakukan kesalahan. Begitulah masyarakat Islami yang dibangun oleh Nabi Muhammad saw di Madinah, masyarakat yang berbasis masjid dengan nilai-nilai Islam yang kokoh sehingga menjadi masyarakat terbaik dengan menunjukkan nilai-nilai kebajikan dimanapun mereka berada, Allah swt berfirman:

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke timur dan ke barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir dan orang yang meminta-minta; dan memerdekakan hamba sahaya; mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji; dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa (QS Al Baqarah [2]:177).
    
        Manakala tiga perbaikan ini dapat kita lakukan, maka kemajuan demi kemajuan akan kita raih. Masyarakat yang beradab dan berakhlak mulia akan dapat kita wujudkan secara bersama-sama.

            Demikian khutbah Jumat kita yang singkat hari ini, semoga bermanfaat bagi kita bersama.
بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِى وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ