Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

KHUTBAH YANG DIGEMARI

 


Khutbah Yang Digemari

Oleh: Ahmad Yani

Judul              : Materi Khutbah Jumat Setahun

Penulis          : Drs. H. Ahmad Yani

Tebal              : 370 Halaman

Ukuran           : 13 x 21 Cm

Penerbit         : Al Qalam GIP & Khairu Ummah (WA 0812-9021-953)

Khutbah Jumat adalah forum dakwah yang sangat strategis, selain berlangsung rutin dengan jamaah yang banyak, pengurus masjid juga tidak harus melakukan mobilisasi jamaah karena mereka sudah datang dengan sendirinya. Karena itu, salah satu daya dukung yang harus dipersiapkan dengan baik adalah materi khutbah.

Prinsip penyampaian materi khutbah adalah singkat, padat dan sistematis. Masalah-masalah yang berkembang pada masyarakat menjadi ilustrasi pembahasan. Meskipun demikian, dalam setahun ada momentum yang memang harus dibahas dalam khutbah seperti tahun batu, maulid, isra miraj, Ramadhan, Idul Fitri, haji dan qurban. Semua tema yang terkait dengan masalah itu dibahas dalam buku ini. Karenanya, buku ini adalah buku khutbah yang digemari oleh para khatib sehingga sudah 14 kali cetak ulang sejak tahun 1996 yang diterbitkan Khairu Ummah. 

Untuk lebih jelas, berikut daftar isinya:

  1. Langkah Di Tahun Baru
  2. Urgensi Aqidah Islam
  3. Mempertahankan Iman
  4. Karakteristik Muslim Sejati
  5. Selamat Datang Ramadhan
  6. Perbaikan Diri Melalui Ibadah Ramadhan
  7. Hakikat Bulan Ramadhan
  8. Puasa Membentuk Masyarakat Islami
  9. Hidup Bersama Al Quran
  10. Idul Fitri Yang Islami
  11. Kendala-Kendala Ukhuwah Islamiyah
  12. Hidup Sesudah Mati
  13. Komitmen Orang Mukmin
  14. Hubungan Dengan Allah
  15. Madrasah haji
  16. Profil Generasi Ibrahim
  17. Berkorban Di Jalan Dakwah
  18. Prinsip-Prinsip Beramal Shaleh
  19. Iman, Hijrah dan Jihad
  20. Pelajaran Dari Hijrah
  21. Kebangkitan Peradaban Islami
  22. Makna Ujian Bagi Seorang Muslim
  23. Urgensi Taqwa
  24. Petunjuk Meningkatkan Taqwa
  25. Keingkaran Manusia Kepada Allah
  26. Cinta Kepada Allah dan Rasul-Nya
  27. Istiqamah dan Jalan Mencapainya
  28. Waktu Dalam Kehidupan Muslim
  29. Konsekuensi Syahadat Rasul
  30. Tugas Rasulullah saw
  31. Karakteristik Umat Nabi Muhammad saw
  32. Pahala Yang Selalu Mengalir
  33. Profil Umat Pilihan
  34. Urgensi Zikrullah
  35. Komitmen Kepada Islam
  36. Keistimewaan Muslim Sejati
  37. Zikrul Maut
  38. Kewajiban Mendidik Anak
  39. Krisis Moral dan Upaya Mengatasinya
  40. Mewujudkan Generasi Berkualitas Islami
  41. Berjihad di Jalan Allah
  42. Macam-Macam Jihad
  43. Qalbun Salim I (Memenuhi Kebutuhan Hati)
  44. Qalbun Salim II (Ciri Hati Yang Tidak Sehat)
  45. Memperkokoh Iman I
  46. Memperkokoh Iman II
  47. Urgensi Masjid Bagi Kaum Muslimin
  48. Krisis Masjid dan Upaya Menyelematkannya
  49. Al Aqsha dan Umat Islam
  50. Pelajaran Dari Isra Miraj
  51. Konsekuensi Shalat Dalam Kehidupan Muslim
  52. Al Muhasabah

Lampiran Contoh Khutbah Kedua

Lampiran Doa-Doa Dari Al Quran 

PELURU TAMBAHAN

 

PELURU TAMBAHAN

Oleh: Ahmad Yani

 Judul             : 2 Poin Dalam 52 Khutbah Jumat

Penulis          :  Drs. H. Ahmad Yani

Tebal              : 374 Halaman

Ukuran           : 14 x 21 Cm

Harga             : Rp 125.000 + ongkir

Penerbit         : Khairu Ummah (WA 0812-9021-953)

            Tahun 2020 diawali dengan bermacam musibah di negeri kita, bahkan hampir di seluruh dunia. Di negeri kita ada banjir dan longsor, dan yang besar dampaknya setelah itu adalah wabah Corona atau Covid-19. Dampaknya bukan hanya banyak yang sakit dan meninggal dunia, ekonomi yang anjlok, tapi juga pendidikan, renggangnya hubungan sosial,  hingga peribadatan dan dakwah. Masyarakat dianjurkan untuk berada di rumah saja.

            Bagi penulis, saat DRS (Di Rumah Saja) harus tetap produktif. Alhamdulillah, dalam waktu satu bulan, buku ini berhasil disusun. Para dai dari berbagai daerah memang banyak yang menanyakan tentang buku khutbah yang baru. Meskipun lima judul buku khutbah sudah diterbitkan, tetap saja ada banyak yang berharap ada lagi buku khutbah. Saya suka mengatakan: “Bisa khutbah dan Ceramah itu seperti pistol, tapi menguasai materi yang banyak dan bervariasi adalah pelurunya.” Buku ini merupakan “peluru” tambahan untuk para dai.

            Dua Poin Dalam 52 Khutbah Jumat menjadi judul buku ini karena memang setiap pembahasan khutbah mengulas dua poin saja, baik dari Al Quran, Hadits maupun pendapat sahabat Nabi Muhammasd saw. Pembahasan seperti ini membuat materi khutbah menjadi ringkas, padat, sistematis, mudah dipahami dan mudah pula disampaikan lagi. Daftar isinya antara lain:

1.         Dua Musyawarah Yang Berat

2.         Dua Doa Untuk Suami Isteri

3.         Dua Pusaka Nabi saw

4.         Dua Pakaian

5.         Dua Suasana Hidup

6.         Dua Hakikat Hijrah

7.         Dua Tolak Ukur Kecerdasan 1

8.         Dua Tolak Ukur Kecerdasan 2

9.         Dua Keuntungan Rutin Beramal Shaleh

10.       Dua Tujuan Syariat

11.       Dua Jalan Terburuk

12.       Dua Hal Yang Tidak Senangi

13.       Dua Kendala Berkorban

14.       Dua Pilihan Terhadap Pecandu

15.       Dua Aspek Pembuktian Iman

16.       Dua Bukti Pengabdian

17.       Dua Keharusan Orang Taqwa

18.       Dua Larangan

19.       Dua Keutamaan Taubat

20.       Dua Tuntutan Iman

21.       Dua Pengkhianatan

22.       Dua Perdagangan Yang Menjauhkan Neraka

23.       Dua Penegasan

24.       Dua Peringatan

25.       Dua Perintah

26.       Dua Penolong

27.       Dua Ridha Yang Harus Diraih

28.       Dua Pertanggungjawaban Harta

29.       Dua Hikmah Zakat

30.       Dua Keburukan Orang Kikir

31.       Dua Bentuk Ujian Hidup

32.       Dua Hal Yang Jangan Berlebihan

33.       Dua Bentuk Kekufuran

34.       Dua Waspada Pada Usia Tua

35.       Dua Hal Yang Harus Dihindari

36.       Dua Siksa Yang Disegerakan

37.       Dua Akibat Tidak Beriman

38.       Dua Hal Yang Paling Zalim

39.       Dua Keuntungan Iman dan Amal Shaleh

40.       Dua Kedekatan Allah swt

41.       Dua Orang Yang Didekati Allah swt

42.       Dua Jaminan Surga (ok)

43.       Dua Amal Yang Paling Baik

44.       Dua Konsekuensi Dunia

45.       Dua Orang Yang Dikagumi

46.       Dua Akibat Mendustakan Ayat

47.       Dua Tolak Ukur Ukhuwah Islamiyah

48.       Dua Kunci Keberuntungan

49.       Dua Keuntungan Istiqamah

50.       Dua Sifat Yang Amat Buruk

51.       Dua Fitnah Yang Harus Diwaspadai

52.       Dua Posisi Al Quran

Contoh Muqaddimah Khutbah Pertama

Contoh Penutup Khutbah Pertama

Contoh Khutbah Kedua

Berikut ini Contoh Dari Salah Satu Khutbah Dalam Buku Ini

DUA SUASANA HIDUP

Sidang Jumat Rahimakumullah.

Setiap orang pasti ingin perjalanan hidupnya berlangsung menyenangkan. Jasmani yang sehat, jiwa yang tenang, memperoleh sesuatu yang dibutuhkan dengan mudah dan rizki yang cukup, merupakan diantara yang Allah swt sebenarnya telah menyediakannya sebagaimana firman-Nya:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ ذَلُولا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan (QS Al Mulk [67]:15)

            Dalam kehidupan yang silih berganti dari generasi ke generasi, ada dua suasana yang selalu terjadi. Pertama, suasana yang menyenangkan. Bumi tempat manusia bertempat tinggal dan berpijak diciptakan oleh Allah swt untuk kemudahan bagi manusia. Karena itu, Sayyid Quthb dalam tafsirnya menyatakan: bumi ini mudah untuk manusia bertempat tinggal, berjalan, mempergunakan tanahnya, airnya, udaranya, simpanannya, kekuatannya dan rizkinya. Selanjutnya beliau menyatakan: Bumi yang mudah bagi manusia untuk berjalan dengan kaki dan dengan kendaraan di atasnya, serta dengan kapal yang membelah lautan. Bumi yang mudah untuk ditanami, dipetik dan dipanen hasilnya. Mudah untuk hidup di atasnya dengan udaranya, airnya dan tanahnya yang baik untuk tanaman dan tetumbuhan.”

Oleh karena itu, semestinya kita menjadi orang yang pandai bersyukur kepada Allah swt yang telah mengkaruniakannya, sehingga Allah swt akan menambahnya sebagaimana firman-Nya:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS Ibrahim [14]:7).

            Bersyukur kepada Allah swt akan membawa keberuntungan, bila seseorang tidak pandai bersyukur maka hal itu akan merugikan dirinya sendiri, sedangkan Allah swt tidak pernah merasa rugi bila ada manusia yang tidak bersykur kepada-Nya, karenanya Luqman menasihati anaknya sebagaimana firman-Nya:

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (QS Luqman [31]:12).

Kaum Muslimin Rahimakumullah.

Kedua, suasana hidup di muka bumi yang semula tenang dan menyenangkan, ternyata bisa saja secara tiba-tiba menjadi begitu kacau, menakutkan dan mengakibatkan trauma yang sangat dalam serta penderitaan yang berkepanjangan. Semua itu karena kemurkaan Allah swt disebabkan manusia tidak pandai bersyukur bahkan menyombongkan diri, seolah-olah semua kehebatan yang dicapai dalam hidup ini semata-mata karena kehebatan mereka. Untuk memberi pelajaran yang sangat berharga, Allah swt membuat mereka menjadi manusia-manusia yang tidak berdaya, sehebat apapun mereka dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sudah dicapainya selama ini.

Pelajaran dari Allah swt melalui berbagai kejadian yang menakutkan semestinya membuat manusia harus melepaskan egoisme atau kesombongan, baik kesombongan sebagai pribadi, keluarga, kelompok maupun bangsa, Allah swt berfirman:

أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ قَرْنٍ مَكَّنَّاهُمْ فِي الأرْضِ مَا لَمْ نُمَكِّنْ لَكُمْ وَأَرْسَلْنَا السَّمَاءَ عَلَيْهِمْ مِدْرَارًا وَجَعَلْنَا الأنْهَارَ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمْ فَأَهْلَكْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَأَنْشَأْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ قَرْنًا آخَرِينَ

Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain (QS Al An’am [6]:6).

Sejarah menunjukkan bagaimana kehidupan menjadi tidak menyenangkan seperti pada masa Nabi Nuh dengan banjir besar hingga ke puncak gunung dan menenggelamkan orang-orang yang durhaka kepada Allah swt. Fir’aun yang hebat kekuasaannya juga harus tenggelam di tengah lautan karena kesombongan dengan sebab kekuasaan yang dimiliki, begitu pula dengan Qarun yang amblas diri dan hartanya ke dalam bumi karena kesombongan dengan sebab kekayaan yang dimilikinya. Karena itu hingga kini di berbagai belahan bumi ini, Allah swt tunjukkan sebagian kecil bahkan sangat kecil dari kekuasaan-Nya yang Maha Besar dan itu sudah cukup untuk membuat manusia yang kuat menjadi tidak berdaya sehingga seharusnya manusia mengambil pelajaran bahwa kesombongan memang harus dibuang dari sikap hidup sebagai manusia yang terbukti amat lemah.

Berbagai macam teguran, peringatan, musibah dan azab ditimpakan Allah swt kepada manusia hingga kini. Ada gempa bumi, tsunami, banjir bandang, tanah longsor, banjir, angin kencang, badai hingga wabah penyakit yang melanda dunia.

            Kekacauan yang menyebabkan kesedihan yang mendalam terus berlangsung, gempa bumi dengan goncangan yang kuat bisa terjadi dimana-mana. Dahsyatnya berbagai peristiwa yang menghilangkan kebahagiaan dan ketenangan dalam kehidupan di muka bumi ini tidak hanya hari ini dan kemarin, tapi sejarah mencatat bahwa hal itu telah terjadi berkali-kali pada masa lalu. Karena itu, Allah swt berfirman:

أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ. أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ

Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?, atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku?. Dan sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan rasul-rasul-Nya). Maka alangkah hebatnya kemurkaan-Ku (QS Al Mulk [67]:16-18).

Setelah kita ingat kembali betapa Maha Kuasa Allah swt dan betapa lemah diri kita, maka tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali harus tunduk kepada Allah swt dengan segala ketentuan-Nya. Inilah memang konsekuensi sebagai manusia yang telah beriman kepada-Nya. Saatnya kita bertaubat atas segala dosa, perbaiki kehidupan kita sebagaimana yang diinginkan oleh Allah swt, lalu perbanyak amal shaleh sebagai bekal kembali kepada-Nya.

Demikian khutbah kita yang singkat hari ini, semoga bermanfaat bagi kita bersama, amin.

 

EMPAT PRINSIP HIDUP

DARI TIGA SAMPAI LIMA POIN

Judul    : Khutbah Jumat Sistematis

Penulis  : Drs. H. Ahmad Yani

Tebal     : 526 Halaman

Penerbit : Khairu Ummah

Cetakan : Kelima, 2020

Harga     : Rp 120.000+ongkir.

Order      : 0812-9021-953

Ketika persediaan buku hampir apalagi sudah habis, maka cetak ulang harus dilakukan, apalagi buku itu selalu dibutuhkan pembaca. Kalau di Indonesia jumlah masjid hampir satu juta, mestinya buku khutbah dicetak sebanyak itu. Masjid-masjid dan para khatib memilikinya, apalagi isi khutbahnya tidak basi seperti berita. Buku Khutbah Sistematis ini merupakan buku khutbah yang singkat, padat dan sistematis, selalu cocok dibahas untuk berbagai situasi dan kondisi. 

Buku ini disusun dengan pembahasan ayat, hadits hingga perkataan para sahabat Nabi saw. Sebagaimana buku khutbah lain yang ditulis oleh Ust. Ahmad Yani, buku inipun disusun dengan poin-poin yang runtun sehingga mudah dipahami dan mudah pula untuk disampaikan lagi. Poin bahasannya ada yang tiga, empat hingga lima poin. Bisa dibahas untuk khutbah maksimal 20 menit, tapi bisa dijadikan bahan ceramah yang waktunya lebih banyak. Berikut daftar isi dan contoh khutbahnya.

DAFTAR ISI

KHUTBAH JUMAT SISTIMATIS

Kata Pengantar

Contoh Muqaddimah Khutbah Pertama.

Contoh Penutup Khutbah Pertama.

Daftar Isi

1.      Tiga Amal Yang Utama.

2.      Tiga Akhlak Yang Utama.

3.    Tiga Wasiat Malaikat Jibril.

4.    Tiga Kepastian

5.    Tiga Simpanan Terbaik

6.    Tiga Nasihat

7.    Tiga Hal Yang Dibenci

8.    Tiga Sikap Hadapi Musibah

9.    Tiga Orang Yang Dekat Nabi

10. Tiga Bentuk Disiplin

11.  Tiga Bentuk Waspada Pada Usia Tua.

12. Tiga Perkara Agar Hati Tidak Dengki

13. Tiga Amal Di Jalan Allah

14. Tiga Maksud Fitnah Lebih Kejam Dari Pembunuhan

15. Tiga Warisan Nabi

16. Tiga Sumpah Nabi

17. Tiga Tahap Menuju Kehancuran Umat

18. Tiga Kisah Dari Perjalanan Hijrah

19. Tiga Penyesalan Pemimpin

20. Tiga Ciri Manusia Utama

21. Tiga Mengemis Yang Dibolehkan

22. Tiga Orang Yang Dilaknat Allah dan Rasul (1)

23. Tiga Orang Yang Dilaknat Allah dan Rasul (2)

24. Tiga Orang Yang Dilaknat Allah dan Rasul (3)

25. Tiga Orang Yang Dilaknat Allah dan Rasul (4)

26. Tiga Permohonan Berlindung Kepada Allah (1)

27. Tiga Permohonan Berlindung Kepada Allah (2)

28. Tiga Keuntungan Ambisi Akhirat

29.  Empat Akibat Ambisi Dunia

30.  Empat Bentuk Setia Kepada Orang Kafir

31.  Empat Prinsip Hidup

32.  Empat Sikap Terhadap Kesalahan

33.  Empat Pesan Nabi

34.  Empat Keutamaan Menjaga Lisan

35.  Empat Kenikmatan Ibadah

36.  Empat Pengendalian Diri

37.  Empat Faktor Untuk Mendapat Petunjuk

38.  Empat Ciri Umat Terburuk

39.  Empat Keutamaan Haji

40.  Empat Orang Yang Celaka 1

41.  Empat Orang Yang Celaka 2

42.  Empat Orang Yang Celaka 3

43.  Empat Hal Yang Sedikit Terasa Banyak

44.  Empat Keharusan Orang Tua Terhadap Anak

45. Empat Amal Yang Paling Sulit

46.  Empat Wasiat Nabi

47.  Empat Orang Yang Bahagia (1)

48.  Empat Orang Yang Bahagia (2)

49.  Empat Orang Yang Bahagia (3)

50.  Empat Kriteria Generasi Cemerlang

51.  Lima Sebab Manusia Menyesal (1)

52.  Lima Sebab Manusia Menyesal (2)

53.  Khutbah Idul Fitri: Empat Hakikat Taqwa.

54.  Khutbah Idul Adha: Lima Kekuatan Umat

Contoh Khutbah Kedua

Doa.

Daftar Bacaan

CONTOH KHUTBAH

EMPAT PRINSIP HIDUP

 Jamaah Sekalian Yang Dirahmati Allah swt.

     Sebagai orang yang memiliki kedalaman ilmu, Khalifah Ali bin Abi Thalib banyak mengemukakan pendapat-pendapat yang mengandung makna yang amat dalam sehingga kita tidak ragu untuk menjadikannya sebagai panduan kehidupan di dunia ini agar perjalanan hidup kita tidak hanya menyenangkan di dunia ini tapi juga memberi kesenangan dalam kehidupan di akhirat nanti. Diantara pendapat beliau yang amat penting untuk kehidupan kita dikutip oleh Imam Nawawi Al Bantani dalam kitabnya Nashaihul Ibad:

 مَنْ اِشْتَاقَ إِلَى الْجَنَّةِ سَارَعَ إِلَى الْخَيْرَاتِ وَمَنْ أَشْفَقَ مِنَ النَّارِ انْتَهَى عَنْ الشَّهَوَاتِ وَمَنْ تَيَقَّنَ بِالْمَوْتِ انْهَدَمَتْ عَلَيْهِ اللَّذَّاتُ وَمَنْ عَرَفَ الدُّنْيَا هَانَتْ عَلَيْهِ الْمُصِيْبَاتُ

Barangsiapa merindukan surga, maka ia akan bersegera dalam melaksanakan kebaikan. Barangsiapa takut siksa neraka, maka ia akan berhenti dari mengikuti hawa nafsu. Barangsiapa meyakini datangnya kematian, maka ia tidak akan terlena dengan kesenangan duniawi dan barangsiapa mengetahui bahwa dunia adalah negeri cobaan, maka semua musibah yang menimpanya akan terasa ringan 

             Dari ungkapan di atas, ada empat prinsip hidup yang harus kita pegang dan kita jalani dengan sebaik-baiknya. Pertama, merindukan surga. Setiap muslim pasti menginginkan bisa masuk ke dalam surga, tempat kembali di akhirat yang kenikmatannya tiada terkira dan terbayangkan sebagaimana neraka dengan segala kesengsaraan yang tidak terkira dan terbayangkan. Karena itu, surga menjadi sesuatu yang amat dirindukan setiap muslim sejati. Namun kerinduan kepada surga tidak hanya dikhayalkan, surga harus dicapai dan setiap muslim harus berusaha semaksimal mungkin dengan bersegera dalam bertaubat dan beramal shaleh. Hal ini karena surga disediakan untuk siapa saja yang bertaqwa kepada Allah swt, yakni orang yang melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

 وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَاْلأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa (QS Ali Imran [3]:133).

 

            Disamping itu, merindukan surga kita tunjukkan tidak hanya dalam bentuk keshalehan secara pribadi tapi juga berusaha agar orang lain bisa menunjukkan keshalehan, karenanya kitapun akan berjihad memperjuangkan tegaknya nilai-nilai Islam meskipun harus dengan pengorbanan harta dan jiwa, ini merupakan bentuk jual beli kepada Allah swt yang dibayar dengan surga, Allah swt berfirman:

 

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَاْلإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ  

Sesungguhnya Allah Telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu Telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang Telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar. (QS At Taubah [9]:111).

 

            Kedua yang merupakan prinsip hidup seorang muslim adalah takut neraka. Rasa takut juga bisa tumbuh dalam jiwa manakala kita menyadari betapa siksa dan azab Allah di akhirat tidak dapat kita bayangkan dahsyatnya sebagaimana kita juga tidak bisa membayangkan nikmatnya surga, dalam salah satu hadits Qudsi Allah swt berfirman yang disabdakan oleh Rasulullah saw:

 أَعْدَدْتُ لِعِبَادِى الصَّالِحِيْنَ مَالاَ عَيْنٌ رَأَتْ وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبٍ بَشَرٍ

Aku menyiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang shaleh apa-apa yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga dan belum pernah terlintas dalam benak manusia (HR. Bukhari Muslim).

     Salah satu gambaran yang dikemukan Rasullah saw dalam hadits tentang betapa dasyatnya siksa neraka adalah perbandingan panasnya api dunia dengan api di akhirat, beliau bersabda:

نَارُكُمْ هَذِهِ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِيْنَ جُزْأً مِنْ نَارِ جَهَنَّمَ لِكُلِّ جُزْءٍ مِنْهَا حَرُّهَا

Apimu yang kamu semua menyalakannya di dunia ini adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian dari panasnya neraka jahannam. Setiap bagian sama suhu panasnya dengan api di dunia ini (HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi).

 

            Manakala kita sudah memiliki rasa takut terhadap neraka, maka kita tidak ingin memasukinya sehingga segala yang bisa menjadi sebab seseorang dimasukkan ke dalam neraka akan kita hindari dalam kehidupan ini. Inilah yang membuat kita akan terus mengendalikan hawa nafsu agar segala keinginan kita penuhi sesuai dengan ketentuan-ketentuan Allah swt.

Kaum Muslimin Yang Berbahagia.

             Prinsip hidup ketiga yang harus kita pegang adalah meyakini adanya kematian. Namun hakikat meyakini kematian bukan semata-mata kita yakin bahwa kita pasti mati, tapi yang terpenting adalah menyadari bahwa mati bukanlah akhir dari segalanya, tapi mati justeru awal dari kehidupan yang baru, yaitu kehidupan di akhirat yang bahagia atau tidak, sangat tergantung pada apakah kehidupan yang kita jalani sudah sesuai dengan ketentuan Allah swt atau tidak. Karena itu, meyakini kematian membuat kita akan menjalani kehidupan ini selalu dalam ketundukan atau ketaqwaan kepada Allah swt hingga kematian itu menjemput kita, Allah swt memang menghendaki demikian sebagaimana firman-Nya:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS Ali Imran [3]:102).

             Dengan demikian, prinsip hidup yang selalu kita pegang adalah tidak penting kapan dan dimana enaknya kematian itu terjadi, tapi yang terpenting adalah dalam keadaan bagaimana seharusnya kita mati. Karena mati bisa terjadi kapan saja dan ini merupakan rahasia Allah swt, maka dalam berbagai kesempatan kita akan selalu dalam ketaqwaan kepada-Nya, ini pula yang dipesankan oleh Rasulullah saw:

 إِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَاكُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَاوَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Bertaqwalah kamu kepada Allah dimana saja kamu berada dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan, maka ia dapat menghapusnya dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik (HR. Thabrani)

 

            Keempat yang menjadi prinsip hidup yang selalu kita perhatikan adalah menyadari bahwa dunia adalah tempat cobaan, baik cobaan itu menyenangkan atau tidak menyenangkan bila kita tinjau dari sisi duniawi, Allah swt berfirman:

 كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan (QS Al Anbiya [21]:35).

             Semua bentuk ujian dimaksudkan agar kualitas keimanan kita semakin baik, Allah swt berfirman:

 أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “kami beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta (QS Al Ankabut [29]:2-3).

 

            Manakala kita sudah menyadari bahwa kehidupan di dunia memang tempat cobaan, maka bila musibah terjadi pada diri kita yang merupakan salah satu bentuk cobaan, maka kita tidak akan menganggap musibah itu sebagai sesuatu yang amat berat.

            Dengan demikian kita sadari bahwa kehidupan seorang muslim amat berbeda dengan kehidupan orang-orang kafir, umat Islam memiliki prinsip-prinsip dasar hidup yang benar sehingga amat mempengaruhi perjalanan hidupnya yang sangat berbeda dengan perjalanan hidup orang yang tidak berprinsip, meskipun mereka mengaku muslim.

          Demikian khutbah Jumat kita pada hari ini, semoga bermanfaat bagi kita semua, amien.