Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

Khutbah Idul Adha 1441 H TIGA KEINDAHAN KELUARGA MUSLIM

TIGA KEINDAHAN KELUARGA MUSLIM

Oleh: Drs. H. Ahmad Yani

Ketua Departemen Dakwah PP DMI, Ketua LPPD Khairu Ummah, Penulis 50 Buku Manajemen Masjid, Dakwah dan Keislaman. Komunikasi 0812-9021-953.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر 3x

اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

 Allahu Akbar 3x Walillahilhamdu.

Jamaah Shalat Id Yang Dimuliakan Allah swt

Meskipun musibah covid 19 dan berbagai musibah lain yang melanda, rasa syukur kepada Allah swt tetap kita tunjukkan kepada Allah swt, salah satunya adalah dengan melaksanakan shalat Idul Adha pada pagi ini. Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi Muhammad saw beserta keluarga, sahabat dan para penerus perjuangannya.

Sebagaimana Ramadhan dan Idul Fitri yang lalu, Idul Adha tahun ini kita jalani dengan suana yang sangat berbeda dibanding tahun-tahun lalu. Selain masih harus disiplin mencuci tangan, menggunakan masker dan menjaga jarak antara sesama kita, lebih dari 200.000 kaum muslimin dari negeri kita dan jutaan lainnya dari berbagai belahan dunia tidak bisa melaksanakan ibadah haji karena masih mengganasnya penyebaran virus korona.

Kondisi yang membuat kita dianjurkan untuk di rumah saja membuat kita harus mengambil hikmah, termasuk dalam konteks Idul Adha dan ibadah haji. Ini tidak lepas dari keluarga Nabi Ibrahim as yang harus kita teladani, bahkan bukan hanya oleh kita, tapi juga oleh Nabi Muhammad saw. Karena itu, mengambil keteladanan dari Nabi Ibrahim as dan keluarganya, setidaknya ada tiga hal yang membuat keluarga muslim menjadi tampak indah, karenanya harus ada pada keluarga kita. Pertama, berbaik sangka kepada Allah swt. Sebagai suami dan bapak, Nabi Ibrahim berbaik sangka kepada Allah swt yang membuat seberat apapun perintah dilaksanakannya. Karena pasti dibalik perintah ada maslahat atau kebaikan yang hendak diwujudkan. Harus menempatkan isteri dan anaknya di Bakkah (Makkah) merupakan sesuatu yang berat, karena di tempat itu belum ada siapa-siapa, belum ada kehidupan, bahkan air saja tidak tidak ada.

Siti Hajar, isteri dari Nabi Ibrahim juga berbaik sangka kepada Allah swt, sesudah jelas bahwa penempatannya di tempat yang gersang itu atas perintah Allah swt, maka ia menerima dengan hati yang ringan, dia yakin tidak mungkin Allah swt bermaksud buruk. Dijalani hidup dengan baik, mengurus, membesarkan dan mendidik anak hingga memiliki kematangan jiwa dan kematangan berpikir, Allah swt memberi kemudahan kepadanya dengan rizki seperti air yang hingga kini sudah dinikmati begitu banyak orang dari seluruh dunia, yakni air zamzam.  

Dengan baik sangka kepada Allah swt, ketentuan-ketentuan-Nya siap kita jalani, kehidupan kita lanjutkan dengan baik, apapun situasi dan kondisinya. Karenanya, berbagai sangka kepada Allah swt sepanjang kehidupan, jangan sampai kita mencapai kematian kecuali dalam keadaan berbaik sangka-Nya. Dalam satu hadits, Rasulullah saw bersabda:

لاَ يَمُوْتَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ إلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللهِ تَعَالَى

Janganlah salah seorang dari kaliam mati, kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah (HR. Abu Daud dan Muslim).

 Allahu Akbar 3x Walillahilhamdu.

Kaum Muslimin Yang Berbahagia.

Kedua, yang merupakan keindahan keluarga muslim adalah terwujudnya suasana dialogis. Berdialog antara anggota keluarga merupakan sesuatu yang amat penting. Ilmu, pencerahan, dan motivasi bisa disampaikan melalui dialog, bahkan problematika pribadi dan keluarga bisa dicarikan pemecahan atau solusinya. Cobalah kita perhatian, anak bayi belum bisa bicara, tapi bapak dan ibunya, kakek dan neneknya hingga anggota keluarga yang lain mengajaknya berbicara, bahkan sang bayi nampaknya senang diajak bicara hingga ia tersenyum dan tertawa. Sekarang, bayi itu sudah besar, remaja dan dewasa, mengapa tidak diajak berdialog, seandainya diajak dialog, mengapa pula sang anak tampak tidak suka. Akibatnya, banyak orang kehilangan motivasi, berpikir sempit hingga tidak mampu memecahkan persoalan yang semakin banyak dan yang sangat dikhawatirkan adalah ketaqwaan kepada Allah swt yang semakin rendah.

Nabi Ibrahim sudah mencontohkan kepada kita bagaimana beliau berdialog dan meminta pendapat dengan anaknya, Ismail as. Nabi Ibrahim sudah yakin bahwa ia diperintah untuk menyembelih Ismail, perintah yang sangat berat untuk dilaksanakan. Tapi, Nabi Ibrahim tidak menyembunyikan perintah Allah itu, ia dialogkan dengan Ismail, dan ternyata Ismail memberikan jawaban yang luar biasa, bahkan ia mendorong ayahnya untuk melaksanakan perintah itu. Nabi Ibrahim dan Ismail menjadi contoh buat kita bagaimana seharusnya kita memiliki ketajaman hati, sehingga perintah tidak selalu harus disampaikan dengan kalimat perintah. Orang yang hatinya tajam sudah menangkap suatu perintah meskipun dengan isyarat. Nabi Ibrahim diberi isyarat mimpi, sedangkan Ismail cukup diceritakan mimpi itu. Allah swt menceritakan dialog ayah dan anak itu dalam firman-Nya:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (QS Ash Shaffat [37]:102).

Allahu Akbar 3x Walillahilhamdu.

Jamaah Sekalian Yang Kami Hormati.

Keindahan keluarga yang Ketiga adalah terwujudnya anak-anak menjadi pribadi yang shaleh. Nabi Ibrahim memang mendambakan memiliki anak, tapi bukan sekadar anak. Maka Ismail as menjelma menjadi anak yang shaleh hingga ditetapkan oleh Allah swt menjadi Nabi. Dalam ayat di atas, Ismail ternyata bukan hanya siap melaksanakan apa yang diperintahkan Allah swt kepada bapaknya untuk menyembelih dirinya, tapi ia mendorong ayahnya untuk melaksanakan perintah itu, meskipun ayahnya tidak mengatakan bahwa itu perintah. Yang amat menarik, keshalehan Ismail sebagai anak datang dari dalam dirinya, ini tercermin pada kalimat: "Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".

Kalimat ini menggambarkan Ismail memahami sejarah bahwa dulu sudah banyak orang yang sabar, karenanya ia memiliki kesadaran sejarah yang membuatnya berakhlak mulia, tidak mengkalim dirinya sebagai anak yang paling sabar, apalagi sampai mengatakan satu-satunya anak yang sabar. Tapi ia justeru menyatakan sebagai bagian dari orang-orang yang sabar.

Karena Ismail telah menjelma menjadi orang shaleh, bahkan ditetapkan sebagai salah seorang Nabi, maka saat ia sudah berumah tangga dan memiliki keturunan, maka iapun berusaha memiliki akhlak yang mulia seperti memenuhi janji dan mendidik keluarganya agar menjadi shaleh sehingga iapun diridhai, Allah swt berfirman:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولا نَبِيًّا. وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا

Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Qur'an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh ahlinya untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridai di sisi Tuhannya. (QS Maryam [19]:54-55)

            Dengan demikian, banyak sekali pelajaran yang dapat kita ambil dari keluarga Nabi Ibrahim as dan para Nabi lainnya yang harus kita pelajari. Keluarga Nabi Ibrahim sudah menunjukkan pengorbanan yang luar biasa, kini saatnya kita yang berkorban untuk mengatasi berbagai persoalan yang ada di masyarakat dan bangsa.

            Demikian khutbah kita yang singkat hari ini, semoga dapat kita perkuat ketahanan keluarga agar mampu menghadapi tantangan dan kendala kehidupan pada masa sekarang dan yang akan datang. Marilah kita berdoa:

 اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلاَءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَباَءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ

Ya Allah, hindarkanlah dari kami kekurangan pangan, cobaan hidup, penyakit-penyakit, wabah, perbuatan-perbuatan keji dan munkar, ancaman-ancaman yang beraneka ragam, paceklik-paceklik dan segala ujian, yang lahir maupun batin dari negeri kami ini pada khususnya dan dari seluruh negeri kaum muslimin pada umumnya, karena sesungguhnya engkau atas segala sesuatu adalah kuasa.

 اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّباَعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

Ya Allah, tampakkanlah kepada kami yang benar itu sebuah kebenaran dan berikan rizki kepada kami untuk mengikutinya. Tampakkanlah kepada kami yang batil itu sebuah kebatilan dan berikan rizki kepada kami agar menjauhinya.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.

Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a.

 رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka.

     

PEMIMPIN SEJATI


Pemimpin Sejati

Judul              : Bekal Menjadi Pemimpin

Penulis          : Drs. H. Ahmad Yani

Tebal              : 97 Halaman

Ukuran           : 11 x 17 cm

Harga             : Rp 25.000+ongkir

Penerbit         : Khairu Ummah (HP/WA 0812-9021-953)

Siapapun dan dimanapun bahkan kapanpun, keberadaan pemimpin kita butuhkan. Sebagai sebuah contoh, meskipun orang sudah penuh di masjid, tidak bisa shalat berjamaah dilakukan kalau tidak ada yang menjadi imam, bahkan safar (perjalanan jauh) tiga orang harus mengangkat salah seorang diantara mereka sebagai pemimpin perjalanan.

Namun, yang amat kita sayangkan adalah begitu banyak pemimpin yang mengecewakan karena kezaliman hingga memperkaya diri dengan memanfaatkan jabatan kepemimpinannya. Karena itu, para pemimpin dan orang yang mau menjadi pemimpin amat penting membaca buku Bekal Menjadi Pemimpin.  Buku setebal 97 Halaman ini sudah dua kali cetak ulang, diberi kata pengantar oleh DR. HM. Hidayat Nur Wahid, Anggota DPR RI.

Tulisannya mudah dipahami, ditulis secara sistematis, lengkap dengan dalil ayat dan hadis. Diantara yang diingatkan dalam buku ini adalah tentang hakikat kepemimpinan, yakni kepemimpinan adalah tanggungjawab, pengorbanan, kerja keras, melayani, keteladanan dan kepeloporan.

Untuk lebih jelas tentang buku ini, bisa dilihat pada daftar isinya:

Kata Pengantar

Kata Pengantar DR. HM. Hidayat Nur Wahid

  1. Kepemimpinan Dalam Islam
  2. Hakikat Kepemimpinan
  3. Kriteria Pemimpin Dalam Al-Qur’an
  4. Menjadi Pemimpin Sejati
  5. Akhlak Seorang Pemimpin
  6. Pemimpin Yang Baik Dan Buruk
  7. Mencari Pemimpin Sejati, Belajar Dari Kisah Zulkarnain
  8. Menjadi Teladan
  9. Keadilan Sejahtera
  10. Musyawarah Dalam Memimpin

JANGAN DIAM-DIAM

Kita Butuh Nasihat

Oleh: Ahmad Yani

Judul                : 200 Nasihat Untuk Kita

Penulis             : Drs. H. Ahmad Yani

Ukuran             : 11,5 X 17,5 cm

Tebal               : 390 Halaman

Cover               : Soft Cover

Harga              : Rp 60.000 + ongkir

Penerbit          : Khairu Ummah  (WA 0812-9021-953)

Siapapun orangnya, sebaik apapun dia, nasihat, bimbingan, masukan dan saran merupakan sesuatu yang dibutuhkan. Dengan nasihat, yang tidak tahu jadi tahu, yang lupa jadi ingat, yang salah diperbaiki dan yang baik serta benar bisa dipertahankan dan ditingkatkan.

Melalui ceramah, khutbah, obrolan dan media sosial saya memberikan nasihat. Motivasi, pencerahan, wawasan didapat dan dirasakan banyak orang. Karenanya, buku ini menghimpun nasihat-nasihat pendek untuk kita semua. Sebagai contoh, ada nasihat berikut:

SETENGAH RESMIPUN TIDAK

Ketika seorang lelaki melamar atau meminang wanita, ibarat orang mau naik pesawat, ia sudah pesan tiket dengan status ok. Bagi pihak wanita, konsekuensi hukumnya tidak boleh menerima lamaran orang lain, meski ada lelaki lain yang lebih baik ingin melamarnya.

Karena itu, melamar bukan meresmikan seseorang menjadi suami isteri, setengah resmi juga tidak, tapi baru tahap awal, belum boleh menyentuhnya. Kita prihatin banyak orang sudah seperti suami isteri, padahal bukan hanya belum menikah, tapi juga belum melamar.

JANGAN DIAM-DIAM

Seorang suami dibolehkan menikah lagi, tapi jangan diam diam. Dulu, waktu ia menikah,  orang se kampung, bahkan se kota tahu, kenapa saat nikah lagi tidak ada yang tahu, bahkan isteri dan anaknya juga tidak tahu. Padahal, nikah lagi itu ada konsekuensinya. Setidaknya ada dua:

a.         Nasab, ada hubungan darah dan garis keturunan. Anak yang dihasilkan dari isteri pertama menjadi saudara yang tidak boleh menikah dengan anak dari isteri kedua, apalagi menikah dengan ibu tirinya. Bisa jadi ada anak menikah dengan saudaranya karena ia tidak tahu kalau calon isterinya itu saudaranya, apalagi bila bapak sudah wafat.

b.         Waris, isteri kedua dan anak yang dihasilkannya menjadi ahli waris. Karena itu setelah bapak wafat, mereka harus diberi hak warisnya, meskipun harta itu ada pada isteri pertama. Kira-kira, isteri pertama memberikan apa tidak?. Tidak, karena tidak tahu. Tahu saja nggak dikasih, apalagi tidak tahu.

Maka, setiap keinginan harus dibingkai oleh syariat. Ini membuat kita dapat mewujudkan kebaikan dan terhindar dari kerusakan.

Kata Pengantar

Daftar Isi

1.         Dibanggakan

2.         Rajin Ibadah

3.         Rajin Usaha

4.         Rajin Belajar dan Mengajar

5.         Rajin Silaturahim

6.         Rajin Sedekah

7.         Rajin Mengurus Rumah

8.         Rajin Bergaul

9.         Rajin Mengembangkan Diri

10.       Rajin Berdakwah

11.       Setengah Resmipun Tidak

12.       Komunikasi Keluarga

13.       Jangan Patah Arang

14.       Ada Niat, Ada Harapan

15.       Turut Gembira

16.       Keluarga Yang Berkah

17.       Meraih Berkah

18.       Tanggung Jawab

19.       Jangan Bandingkan

20.       Kerjasama Suami Isteri

21.       Satu Yang Putus

22.       Ketahanan Keluarga 1

23.       Ketahanan Keluarga 2

24.       Ketahanan Keluarga 3

25.       Ketahanan Keluarga 4

26.       Ketahanan Keluarga 5

27.       Jangan Diam-Diam

28.       Mumpung punya harta

29.       Mumpung berkuasa

30.       Mumpung masih muda

31.       Mumpung populer

32.       Mumpung berilmu

33.       Mumpung masih hidup

34.       Mumpung sempat

35.       Mumpung dipercaya

36.       Mumpung sehat

37.       Mumpung jadi pengurus masjid

38.       Kerjasama

39.       Tidak Sekadar Tarawih

40.       Coba Cara Ini

41.       Energi Masjid

42.       Masjid Ramah Anak

43.       Kata Kunci Mengurus Masjid

44.       Konsolidasi Pengurus Masjid

45.       Sambutan Ketua Masjid

46.       Kamera CCTV Masjid

47.       Masjid Bersih

48.       Persepsi Bersih, Suci, Sehat, Indah dan Nyaman

49.       Hikmah Masjid Suci, Bersih dan Sehat

50.       Prinsip Dasar Masjid Suci, Bersih dan Sehat

51.       Penjajah

52.       Istiqamah di lampu merah

53.       Basa-basi soal waktu

54.       Takjil

55.       Nobar dan shobar

56.       Sikap tegas

57.       Al Maidah

58.       Batu

59.       Masalah Pribadi

60.       Disiplin

61.       Mandiri

62.       Berkorban

63.       Banyak Bicara, Banyak Bekerja

64.       Berlebihan

65.       Pencitraan

66.       Sabar

67.       Dusta Dalam Canda

68.       Senang dan Susah

69.       Jangan Hanya Menginginkan

70.       Dianggap Negatif

71.       THR

72.       Bermanfaat

73.       Saling Mempengaruhi

74.       Tidak Sempat Konflik

75.       Gali Lobang Gali Lobang

76.       Menggratiskan

77.       Beda Pendapat

78.       Bayarkan Utang

79.       Tujuan Syariat

80.       Dikit dan banyak

81.       Banyak Zikir

82.       Bagai Orang Dagang

83.       Amal Shaleh

84.       Dekat Allah

85.       Bukalah Hati

86.       Bersihkan Hati

87.       Lembutkan Hati

88.       Sehatkan Hati

89.       Tajamkan Hati

90.       Baik Sangka Kepada Allah

91.       Baik Sangka Pada Diri Sendiri

92.       Baik Sangka Pada Orang Lain

93.       Manfaat Hidup

94.       Kebutuhan Pemimpin

95.       Berbicaralah

96.       Pencemaran Nama baik

97.       Nama

98.       Ridha Kepada Allah

99.       Antisipasi Ada Peluang

100.     Siapa Yang Tahu

101.     Istirahat

102.     Melawan Arus

103.     Uang dan Kepercayaan.

104.     Hilang

105.     Kita Kan Masih Hidup

106.     Harta dan Lalai

107.     Negara dan Maksiat

108.     Bahan Pembicaraan Yang Baik

109.     Seperti Wanita

110.     Pakaian Sempit

111.     Alasan

112.     Keahlian

113.     Bentuk Kasih Sayang 1

114.     Bentuk Kasih Sayang 2

115.     Bentuk Kasih Sayang 3

116.     Bentuk Kasih Sayang 4

117.     Bentuk Kasih Sayang 5

118.     Bentuk Kasih Sayang 6

119.     Segera Bertaubat

120.     Segera Menunaikan Haji

121.     Segera Bayar Utang

122.     Segera Ibadah Jumat

123.     Segera Mengurus Jenazah

124.     Segera Beramal Shaleh

125.     Peningkatan Iman.

126.     Peningkatan Ilmu.

127.     Peningkatan Amal.

128.     Peningkatan Dakwah.

129.     Peningkatan Kesabaran

130.     Menyesal Karena Kekuasaan

131.     Menyesal Karena Ikut-Ikutan Yang Tidak Baik.

132.     Menyesal Dalam Jihad

133.     Menyesal Karena Tidak Sedekah

134.     Menyesal Karena Mensekutukan Allah

135.     Menyesal Karena Membelanjakan Harta Untuk Keburukan.

136.     Menyesal Karena Catatan Kejahatan

137.     Menyesal Karena Tidak Mengikuti Rasul

138.     Menyesal Karena Berkawan Pada Orang yang Tidak Baik

139.     Menyesal Karena Tidak Menambah Kebaikan

140.     Menyesal Karena Tidak Meninggalkan Kejahatan

141.     Manusia Terburuk 1

142.     Manusia Terburuk 2

143.     Manusia Terburuk 3

144.     Manusia Terburuk 4

145.     Manusia Terburuk 5

146.     Manusia Terburuk 6

147.     Manusia Terburuk 7

148.     Manusia Terburuk 8

149.     Manusia Terburuk 9

150.     Manusia Terburuk 10

151.     Lupa Pada Diri Sendiri

152.     Lupa Pada Allah

153.     Lupa Pada Janji Allah

154.     Lupa Pada Hari Akhir

155.     Lupa Pada Ayat Allah

156.     Lupa Pada Larangan Duduk Bersama Orang Zalim

157.     Perubahan

158.     Langkah Perubahan

159.     Sedekah dan Kaya

160.     Tidak Sempat Konflik

161.     Semua Kita Wartawan

162.     Peluang

163.     OTT

164.     Malu

165.     Bahasa Kekuasaan

166.     Ta’aruf Lagi

167.     Selanjutnya Di Kampung Sendiri

168.     Dekat

169.     Tidak Ada Rotan Yang Satu, Ada Lagi Rotan Yang Lain

170.     Celana Robek

171.     Makan

172.     Menugaskan Diri Sendiri

173.     Belajar Kepada Al Marhum

174.     Tanya Dan Cari Sendiri Jawabannya

175.     Mati Yang Ideal

176.     Karena Ada Cahaya

177.     Jangan Sembunyikan Perintah

178.     Jangan Pakai “Kalau Dong”

179.     Nyamuk

180.     Matinya Sama, Nilainya Beda

181.     Islam Itu Nikmat

182.     Antusias

183.     Merasakan Kenikmatan

184.     Ketagihan

185.     Menceritakan Dan Mendakwahkan

186.     Malas

187.     Tidak Menikmati

188.     Tidak Mau Lagi

189.     Bicara Buruk Tentang Islam

190.     Berita Bohong

191.     Marah Karena Berita Bohong

192.     Menggunakan Media Sosial

193.     Memadukan Dunia Dan Akhirat

194.     Waspada Pada Dosa Kecil

195.     Lemah Lembut

196.     Ditinggal Orang Sekitar

197.     Semangat Pengabdian

198.     Semangat Pelayanan

199.     Semangat Pembelaan

200.     Semangat Pemberdayaan


Sedekah Isteri


SEDEKAH ISTERI
Oleh: Ahmad Yani

Judul              : 100 Kisah Seputar Keluarga
Penulis          : Drs. H. Ahmad Yani
Tebal              : 327 Halaman
Ukuran           : 11 x 17 cm
Harga             : Rp 40.000+ongkir
Penerbit         : Khairu Ummah (HP/WA 0812-9021-953)

Kisah-kisah menarik dari kehidupan Nabi dan para sahabat sangat penting untuk kita kaji, salah satunya  dari sisi keluarga. Banyak pelajaran yang akan kita peroleh untuk menjalani kehidupan keluarga pada masa sekarang dan yang akan datang.

Belajar dari Kisah-Kisah Nyata yang tertuang dalam sejarah Nabi, para sahabat serta pengikutnya memberi makna bahwa antara ajaran dengan kenyataan hidup bukanlah sesuatu yang berseberangan, termasuk dalam konteks kehidupan keluarga. 

Oleh karena itu, ketika kita membaca kisah-kisah yang mengagumkan dari berbagai sisi kehidupan Nabi dan para sahabat serta pengikutnya yang setia membuktikan bahwa ajaran Islam memang bisa diamalkan meskipun terasa berat, dibutuhkan keikhlasan dan kesungguhan. Keikhlasan membuat sesuatu yang berat akan terasa menjadi ringan dan kesungguhan membuat sesuatu yang dianggap tidak mungkin menjadi mungkin untuk diwujudkan.

Buku ini mengungkapkan kejadian-kejadian menarik, menggugah, mengharukan sekaligus lucu yang ada hubungannya dengan kehidupan keluarga. Pelajaran yang berharga dalam membangun kehidupan yang Islami, amat baik menjadi ilustrasi dalam dakwah yang biasa penulis lakukan dalam menyampaikan ceramah dan khutbah serta memotivasi kita untuk menata kehidupan yang ideal dalam konteks kekinian.

Daftar Isi
Kata Pengantar.
  1. Mencari Jodoh (1).
  2. Keharusan Menikah (3).
  3. Menjodohkan Pembantu (4).
  4. Memilih Taqwa Ketimbang Harta (7).
  5. Faktor Keshalehan (9).
  6. Mas Kawin (11).
  7. Mas Kawinnya Masuk Islam (13)
  8. Resepsi Pernikahan (15).
  9. Isteri yang disenangi (16).
  10. Mitra Perjuangan (18).
  11. Isteri Yang Panjang Tangan (20).
  12. Calon Penghuni Surga (21).
  13. Saling Memaafkan (22).
  14. Berhias Untuk Istri (24).
  15. Kunci Penyelesaian Masalah (25).
  16. Menghadapi Rasa Cemburu (27).
  17. Berpisah Dengan Suami Demi Iman (28).
  18. Sedekah Isteri (30).
  19. Kerjasama Suami Isteri (31).
  20. Suami Yang Kikir (33).
  21. Duka Isteri Yang Tergantikan (34).
  22. Tugas Ibu Rumah Tangga (36).
  23. Taat Pada Suami (38).
  24. Pulang Mendadak (40).
  25. Lama Meninggalkan Isteri (41).
  26. Cerita Hubungan Seks (42).
  27. Menutupi Duka (43).
  28. Berkeluarga Sampai di Medan Perang (46).
  29. Nafkah Batin (48).
  30. Sedekahkan Harta Suami (49).
  31. Mengutamakan Orang Lain (50).
  32. Sibuk Tanpa Pembantu (52).
  33. Kehangatan Suami Isteri (53).
  34. Menyiapkan Mental Keluarga (54).
  35. Konsultasi Keluarga (56).
  36. Teguran Kasih Sayang (59).
  37. Keadilan Suami (61).
  38. Tidak Emosional (62).
  39. Hak Isteri (63).
  40. Fitnah Keluarga (65).
  41. Tidak Mengganggu Isteri (68).
  42. Ketaatan Isteri Pada Suami (70).
  43. Tetap Gembira Meski Lapar (73).
  44. Calon penghuni Surga (74).
  45. Duka Cita (76).
  46. Sayang Anak (77).
  47. Dialog Orang Tua Dengan Anak (78).
  48. Menghukum Anak Sendiri (79).
  49. Menerima Kritik Anak (80).
  50. Menyayangi Anak Angkat (82).
  51. Durhaka Pada Orang Tua (84).
  52. Menyayangi Anak (86).
  53. Momong Cucu (87).
  54. Mencintai Anak Dan Orang Tua (88).
  55. Bermain Dan Bercanda (90).
  56. Anak Dan Majelis Ilmu (91).
  57. Dakwah Kepada Orang Tua (92).
  58. Utamakan Orang Tua Daripada Perang (94).
  59. Berbakti Pada Orang Tua (95).
  60. Menyenangkan Anak (96).
  61. Teladan Ibadah (98).
  62. Tidak Mencela Keluarga (99).
  63. Keluarga Dermawan (100).
  64. Mempersiapkan Generasi Pejuang (103)
  65. Tidak Berdusta (104).
  66. Adil Terhadap Anak (105).
  67. Mengakui Anggota Keluarga (106).
  68. Anak Pejuang (107).
  69. Kebahagiaan Orang Tua (109).
  70. Orang Tua Yang Sakit Hati (111).
  71. Anak Yang Dibanggakan (113).
  72. Ayah dan Anak Jadi Mujahid (116).
  73. Canda Anak Kecil (118).
  74. Bukan Tidak Mau Taat (119).
  75. Membenahi Keluarga (121).
  76. Menyampaikan Pesan Dakwah (124).
  77. Memperebutkan Anak (125).
  78. Tidak Taat Dalam kebohongan (126).
  79. Balas Budi (128).
  80. Mendorong Anak Berjihad (130).
  81. Istiqamah Penyebab Keluarga Masuk Islam (133).
  82. Adik Membebaskan Kakak (135).
  83. Keluarga Pejuang (137).
  84. Tidak Menganiaya Pembantu (139).
  85. Sederhana Tapi Dermawan (140).
  86. Berdakwah Kepada Keluarga (142).
  87. Menghias Diri Dengan Kedermawanan (144).
  88. Bahagia Setelah Istiqamah (146).
  89. Gembira Setelah Menderita (148).
  90. Berjuang Bersama Anak-Anak (150).
  91. Pelopor Kedermawanan (152).
  92. Tabah Meskipun Mendapat Dua Musibah (154).
  93. Keluarga Tahan Menderita (156).
  94. Menjaga Rahasia (158).
  95. Senang Didoa’kan (159).
  96. Menghormati Tamu (160).
  97. Mengutamakan Tamu (163).
  98. Membantu Kesulitan Keluarga (164).
  99. Suka Memberi (165).
  100. Bayar Utang (166).
Salah satu kisah yang ada di buku ini berjudul: SEDEKAH ISTERI, silahkan dibaca.

SEDEKAH ISTERI

Salah satu persoalan keluarga yang sering terjadi adalah kesulitan ekonomi. Abdullah bin Mas’ud mengalami hal itu.

Suatu ketika, Zainab, isteri Abdullah bin Mas’ud mendengarkan ceramah Rasulullah saw sehabis shalat subuh berjamaah dihadapan jamaah wanita. Diantara isi ceramahnya adalah bahwa banyak ahli neraka yang terdiri dari wanita, karenanya para wanita harus terus mendekatkan diri kepada Allah swt sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Setelah mendengarkan ceramah, Zainab langsung pulang ke rumah dan mengambil perhiasan emasnya untuk disedekahkan. Ibnu Mas’ud kemudian bertanya: “Mau kemana engkau membawa pperhiasan itu?”.

Zainab menjawab bahwa ia mau mensedekahkannya sebagaimana pesan yang baru saja disampaikan oleh Rasulullah saw dalam ceramahnya.

“Sudah, sedekahkan saja untuk saya dan anak-anak”, pinta sang suami.

“Tidak, aku harus menemui Rasulullah saw terlebih dahulu”, tegas Zainab.

Kepada Rasul, Zainab mengatakan: Ya Rasul, tadi aku dengar tausiyah darimu, saya langsung pulang dan mengambil perhiasan ini untuk saya sedekahkan sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah swt, namun suami saya justeru ingin agar sedekah ini diberikan saja kepadanya dan anak-anak kami, karena ini juga tempatnya bersedekah”.

Mendengar hal itu, Rasulullah saw menjawab: “sedekahkan saja untuknya dan untuk anak-anak kalian, bahkan kamu akan memperoleh dua pahala, yakni pehala sedekah dan memperkokoh hubungan kekeluargaan.

Dari cerita di atas, pelajaran yang harus kita ambil adalah:

1. Suami isteri idealnya bisa saling bahu membahu untuk bisa mengatasi persoalan.
    2. Menafkahi keluarga termasuk sedekah yang harus diutamakan.