Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

Setiap tempat punya ceritanya tersendiri, begitu pun Aceh. Sejarah Aceh sangat identik dengan sejarah religi sebagaimana propinsi ini dikenal dengan julukan Serambi Mekkah. Oleh karenanya siapa pun yang datang ke Aceh tentunya perlu tahu wisata sejarah dan wisata religi selain mengunjungi tempat-tempat wisata lainnya. Berikut ini salah satu situs peninggalan sejarah Aceh pada masa penjajahan Belanda, yakni sebuah Masjid yang dibangun diatas pertapakan bekas candi, dan masjid tersebut menjadi saksi sejarah sejumlah peristiwa penting pada masa Kerajaan Aceh Darussalam.  


Mesjid itu tidak lain adalah Masjid Indrapuri atau disebut juga dengan nama “Masjid Jami’ Indrapuri”. Beberapa literature menyebutkan bahwa awal mulanya masjid tersebut merupakan sebuah bangunan candi yang dibangun pada abad ke 12 M di kerajaan indrapuri. Ini bisa dilihat dari adanya bekas tapak candi disekeliling masjid yang masih jelas terlihat hingga hari ini. Prof. H. Ali Hasjmy mengatakan keseluruhan tapak/bekas candi tersebut hampir sama besarnya dengan Candi Borobudur di Jawa Tengah, yakni seluas 15.129 m2. Beliau juga menambahkan bila bangunan tersebut digali diperkirakan patung-patung hindu banyak terdapat didalamnya.


Menurut riwayat, dulunya Indrapuri adalah sebuah kerajaan yang pernah didirikan oleh orang-orang hindu di Aceh, dimana kerajaan tersebut berawal dari kedatangan seorang adik perempuan Putra Harsha dari India yang suaminya terbunuh dalam suatu peperangan yang dilancarkan oleh bangsa Huna pada tahun 604 M, lalu ia melarikan diri dari kerajaannya menuju Aceh. Dialah yang telah mendirikan kerajaan Hindu, atau disebut juga dengan kerajaan Indrapuri yang artinya “Kuta Ratu”. Hal ini dibuktikan dengan adanya perkampungan orang Hindu dekat Indrapuri, yaitu kampong Tanoh Abee (sekarang), serta banyak juga terdapat kuburan-kuburan orang hindu. Ia juga mendirikan kerajaan Indrapatra yang terdapat di Ladong, jalan menuju pelabuhan malahayati sekarang.

Jauh sebelum berdirinya kesultanan/Kerajaan Aceh Darussalam di abad ke 15 M, telah ada berita asing yang menyebutkan nama maupun tempat yang dikaitkan dengan Indrapuri. Claudius Ptolomeus dalam salah satu bukunya menyebutkan nama-nama negeri yang terletak pada jalur pelayaran India-Cina. Dari catatan yang tercantum dalam buku Ying-Yai-Sheng-lan oleh Ma-Huan, disebutkan bahwa Lamri terletak "Tiga hari berlayar dari Samudera pada waktu angin baik." Negeri itu bersebelahan dengan sisi Timur Litai, bagian Utara dan Barat berbatasan dengan laut Lamri (Laut Hinndia), dan ke Selatan berbatasan dengan pegunungan. Berdasarkan berita cina itu, Groenevelt (seorang peneliti) mengambil kesimpulan bahwa letak Lamri di Sumatera bagian Utara, tepatnya di Aceh Besar. Berita dari Cina itu juga mengatakan bahwa Lamri terletak di tepi laut.

Dari buku "Aceh di Mata Sejarawan" oleh Mulyadi Kurdi disebutkan bahwa Aceh Besar (Aceh segi tiga) kala itu, laut (pantai lautanya) Indrapuri dan Tanoh Abee (Tanah pasir halus) tempat kediaman orang Hindu. Jadi Blang Bintang, Ulee Kareng, Lambaro, Lam Ateuk, Lam Nyong, Tungkop, Lam Nga, Tibang dan lain-lain masih laut besar. Karenanya sampai abad ke 8 M, pantai atau tepi laut di Aceh besar sampai dekat Indrapuri dan Tanoh Abee di kaki bukit barisan (Aneuk Glee) dan bangunan lautan itu merupakan satu teluk yang elok panoramanya.

Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa Kerajaan Aceh Darussalam merupakan kelanjutan dari kerajaan Lamri. Dimana pada abad ke 15 M peranan kerajaan Lamri hilang dari pangung sejarah. Bekas kerajaan Lamri terpecah atas beberapa negeri yang masing-masing berdiri sendiri. Negeri-negeri itu ialah Darul Kamal, Makuta Alam, Aceh (Darussalam), Darul Dunia, Pedir dan Daya. Di antara negeri-negeri tersebut sering terjadi pertentangan politik dan bentrokan senjata. Namun pada permulaan abad ke 16 M, Ali Mughayat Syah yang merupakan putera dari Sultan Syamsu Syah mampu mempersatukan kembali wilayah Lamuri tersebut. Sultan Ali Mughayat Syah inilah yang kemudiain dianggap sebagai Sultan pertama Kerajaan Aceh Darussalam. Beliau dinobatkan pada hari ahad, 1 Jumadil Awal 913 H atau tanggal 8 September 1507 M. Berkat ekspansi yang beliau lakukan pengaruh kerajaan Aceh menyebar ke seluruh Sumatera hingga ke wilayah semenanjung Malaya. Dan pada saat Islam masuk ke wilayah Indarpuri, maka peradaban disana pun mengalami perubahan menjadi peradaban Islam, fungsi candi Indrapuri beubah menjadi Masjid Indrapuri. Konon, perubahan itu terjadi pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda berkuasa di Kerajaan Aceh Darussalam, yakni pada tahun 1607 M. Beliau juga lah yang membangun Masjid Indrapuri menggantikan candi di lokasi tersebut.

Peristiwa penting terakhir yang berlangsung di Masjid Indrapuri adalah pelantikan Muhammad Daud Syah sebagai Sultan Aceh ke 35 pada akhir tahun 1874 M. Pelantikan tersebut juga sekaligus menjadikan Indrapuri sebagai ibu kota Kesultanan Aceh, namun hal itu tidak berlangsung lama dikarenakan Sultan Muhammad Daud Syah menjadi Sultan Aceh terakhir setelah beliau ditangkap oleh Belanda pada tanggal 10 Januari 1903. Kemudian diasingkan ke Ambon, lalu dipindahkan ke Batavia sampai tutup usia pada tanggal 6 Februari 1939.

Di dalam buku “Tawarich Raja-raja Kerajaan Aceh”, karangan Yunus Djamil menyebutkan, Indrapuri merupakan bagian dari kerajaan Hindu Indrapurwa dan salah satunya termasuk benteng Indrapatra. Itu sebabnya bila kita melihat bangunan Masjid Indrapuri tersebut layaknya benteng, dimana disekelilingi masjid berdiri tembok undakan yang kokoh setinggi ± 1.5m.

Masjid ini berjarak 25 km dari kota Banda Aceh, lokasinya di poros jalan Banda Aceh-Medan, Ds. Pasar Indrapuri, Kec. Indarapuri, Kab. Aceh Besar dengan area tanah seluas 33.875 m. Masjid tersebut berkonstruksi kayu, didirikan di atas rerentuhan bangunan berkonstruksi batu berspesi kapur dan tanah liat yang difungsikan sebagai benteng pertahanan pada saat pendudukan oleh Portogis dan Belanda di Aceh.

Dinding benteng juga berfungsi sebagai pondasi masjid berbentuk persegi empat, berdiri di atas tanah seluas 4.447 m. Bangunan ini berundak empat dan pada setiap undakan memiliki dinding keliling sekaligus jadi pembatas halaman. Kaki dan puncak sisi benteng dilengkapi oyif, yaitu bidang sisi genta.

Masjid ini berbentuk segi empat (bujursangkar) berukuran 18.80 m x 18.80 m dengan tinggi bangunan 11.65 m. Untuk memasuki masjid harus menaiki tangga terlebih dahulu. kemudian kita akan melihat pelantaran masjid yang luas, yang merupakan halaman kedua (lantai dua).


Di halaman kedua terdapat bak penampungan air hujan, yang juga berfungsi untuk berwudhu. Namun sekarang ini bak tersebut hanya berfungsi sebagai bak penampung air untuk mencuci kaki sebelum memasuki masjid. Sedangkan tempat wudhu terletak jauh diluar masjid (halaman pertama sebelum menaiki anak tangga).


Ketika memasuki masjid kita bisa merasakan kesejukan dan kenyamanan dalam beribadah, walau usia mesjid ini sudah ratusan tahun namun bangunannya masih terlihat kokoh. Kayu-kayu besar kekar menopang atap mesjid, atap masjid ini terdiri dari atap limas bersusun tiga, menggunakan seng sebagai penutup. 


Secara keseluruhan Masjid Jami’ Indrapuri ditopang oleh 36 tiang kayu, masing-masing 6 tiang dalam 6 jejeran. Jarak antara tiang kira-kira 2 shaf shalat. Tidak ada dinding, yang ada adalah tembok setinggi 1,5 m yang mengelilingi Masjid. Tembok tersebut tidak langsung menempel di kayu sebelah luar masjid. Mesjid benar-benar sebuah bangunan tersendiri di atas lantai yang tidak memiliki dinding.


Bila kita menuju pintu samping masjid terus ke halaman belakang, maka akan kita temukan halaman yang dipenuhi rerumputan hijau dan pohon kelapa. Kita juga akan disuguhkan pemandangan indah, yaitu panorama gunung dan aliran sungai krung Aceh, karenanya tidak mengherankan jika masjid ini juga sering digunakan sebagai tempat foto prewedding oleh para pasangan muda.


Pak Nadi, pengelola Masjid
Dalam artikel lain juga disebutkan, pengelola pertama masjid ini adalah Teungku Syiah Kuala, sekitar tahun 1.600 Masehi, kemudian masjid ini diurus oleh Teungku Chik Eumpe Trieng pada masa Panglima Polem dan selanjutnya diwariskan kepada cucu Panglima Polem, Teungku Wahab. Terakhir, masjid tua penuh sejarah ini diurus oleh Abu Indrapuri. Sepeninggal Abu Indrapuri lalu beralih kepada Teungku Harun dan Teungku Nasrudin yang mendirikan sekolah di pekarangan masjid tersebut.


Imam Masjid Jami’ Indrapuri saat ini adalah Tengku Syafi’i, saya menjumpai beliau secara terpisah dirumahnya. Dari hasil diskusi dengan Imam masjid serta pak Nadi yang merupakan pengelola masjid sekarang ini, saya mendapat informasi bahwa masjid Jami’ Indrapuri ini sering dikunjungi oleh turis asing selain dari turis lokal (seperti Bali dan beberapa daerah Aceh lainnya). Dari buku tamu, saya melihat bahwa kebanyakan turis asing tersebut berasal dari Malaysia dan Brunei, dan pengunjung terakhir datang dari the United States. Jika para turis asing sudah melirik tempat ini, bukankah Masjid Jami' Indrapuri ini memiliki pesona sejarah yang luar biasa dan pantas mendapat perhatian ekstra? :)[hwtf]

Tentang admin

Admin adalah orang-orang yang peduli terhadap kemaslahatan umat, terutama dalam menghadapi tantangan zaman berupa hujatan, fitnah, dan upaya-upaya lain yang mendeskriditkan dunia Islam. "Biodata Penulis".
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment