Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

Masjid Agung Al Buruj Di Pulau Buru

Menyebut nama Pulau Buru akan membuat ingatan melayang pada salah satu peristiwa bersejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia. Pulau yang termasuk dalam gugusan Kepulauan Maluku tersebut dahulu terkenal sebagai tempat pengasingan ribuan tahanan politik.


Pulau Buru, yang menjadi kabupaten setelah proses pemekaran pada tahun 1999, kini keluar dari citranya yang penuh misteri cenderung kelam. Pulau penghasil minyak kayu putih tersebut telah berbenah dan menjelma sebagai pulau eksotik yang banyak dituju oleh wisatawan, baik lokal maupun internasional.
Salah satu hal nyata dari pembenahan tersebut adalah dibangunnya sebuah masjid megah nan indah yang diberi nama Masjid Agung Al-Buruuj. Nama ini diambil dari surat ke-85 Al-Quran yang berarti gugusan bintang dan dipilih karena penyebutannya hampir sama dengan Kabupaten Buru.
masjid al buruj depanArea masjid yang luas dan bangunan yang berukuran besar membuat Masjid Agung Al-Buruuj terlihat sangat megah. Kubah besar yang dilapisi keramik biru dengan aksen hias diagonal saling melintang berwarna kuning tampak sangat menyita perhatian. Selain kubah, gerbang besar di halaman masjid yang mengingatkan pada model gerbang Eropa Klasik juga terkesan megah.
Memasuki gerbang, pengunjung akan disambut taman yang cukup luas dengan dua kolam. Kolam pertama berbentuk persegi panjang dengan jejeran lampu taman di tengahnya. Kolam kedua terletak di bagian samping, berbentuk bulat dengan aksen pola bintang segi delapan di tengah. Kedua kolam tersebut jika dilihat pada sudut tertentu akan memancarkan refleksi bangunan masjid yang menciptakan nuansa keindahan tersendiri.
Setelah melalui taman, tampak selasar segi empat yang mengelilingi pekarangan masjid. Pola selasar ini mirip dengan yang ada di Masjid Agung Jawa Tengah dan Masjid Kubah Emas Dian Al-Mahri. Pekarangan tersebut dapat menampung hingga sekitar enam ribu jamaah. Pada saat pelaksanaan ibadah shalat Idul Fitri dan Idul Adha, pekarangan ini disesaki oleh jamaah.
masjid al buruj depanMelangkah ke bagian dalam, akan tampak ruang utama ibadah yang terasa lega. Pemandangan yang cukup unik di ruangan ini adalah adanya empat tiang yang terbuat dari plat kuningan dan besi stainless bermotif ukiran geometris dan bintang. Di dalam tiang terdapat lampu hias hijau dan kuning yang jika dinyalakan akan’menjadi aksen hias yang sangat indah.
Bagian atap plafon kubah utama dikelilingi oleh kaligrafi bertuliskan 99
Asma’ul Husna atau nama-nama baik Allah Swt. Seluruh kaligrafi di masjid tersebut dibuat oleh seorang kaligrafer yang merupakan juara satu lomba kaligrafi tingkat nasional.
Selain untuk kegiatan ibadah shalat berjamaah lima waktu, Masjid Agung Al-Buruuj juga disemarakkan dengan aneka aktivitas kerohanian seperti peringatan hari besar Islam, tabligh akbar, dan sebagainya. Masjid dilengkapi fasilitas sekretariat, baik untuk yayasan internal masjid maupun organisasi keagamaan di sana.[duniamasjid]

Video Membedah Buku Pelajar Jakarta Berkarakter

Buku berjudul Program Pelajar Jakarta Berkarakter menuai kontroversi dari masyarakat menyusul adanya tulisan yang menyudutkan agama Islam.

Dalam buku tersebut penulis mengatakan bahwa agama hanya buah pada keputusasaan jiwa yang membawa manusia pada penderitaan hidup yang menjadi penyebab terjadinya peperangan.

Tak sekedar itu penulis juga menyebut bahwa fenomena alam sekedar hasil makanisme natural terlepas dari campur tangan tuhan. Dalam hal ini penulis mengutip pernyataan dari ilmuan barat tentang ketetapan alam.

Dalam sebuah dialog interaktif di salah tv nasional dan juga diunggah di youtube Sabtu (5/9), KH Ali Mustafa Yakub berang dengan diterbitkannya buku tersebut.

“Sekilas saya baca ada yang baik, tetapi melihat yang lain itu sangat buruk karena membawa pada atheisme. Didalam buku itu disebutkan tuhan adalah hasil ilusi manusia akibat ketertekanan jiwa. Ini biasanya disampaikan oleh orang-orang komunis” ujarnya.

Ketika barang itu buruk tidak dikatakan buruk maka seolah akan menjadi baik ini yang menjadi persoalan.

KH Ali Mustafa juga berpesan kepada masyarakat bahwa, “Jangan membaca buku ini sebelum direvisi”

Sementara itu Samsul Maarif selaku pembina Yayasan Al Kahfi terlihat tidak memahami dan terkesan menutupi kekurangannya dengan mengalihkan bahan diskusi.

Ia juga mengatakan buku ini bukan kontroversi karena media hanya mengambil sepotong-potong.

Bahkan Samsul juga tidak mengetahui dihalaman berapa atas argumentasinya malah mengatakan bahwa itu merupakan kasalahan taruh (layout).

Namun Samsul Maarif dalam diskusi tersebut juga menyatakan penyesalan dan mengakui bahwa buku tersebut perlu adanya penyempurnaan.

Buku yang diterbitkan oleh Yayasan Al Kahfi dan Dinas Pendidikan DKI itu sendiri berisi tentang pendidikan karakter dan pendidikan mental yang digunakan oleh trainer (pengajar) kepada siswa pelajar.

Sementara itu Ibnu Hamad selaku pengamat pendidikan yang hadir dalam dialog itu menjelaskan buku ini mengandung beberapa kesalahan diantaranya masalah komunikasi dan subtansinya yang perlu dibenarkan.

“Implikasinya buku ini kalau tidak direvisi kedepan akan menjadi persoalan terus. Harusnya Dinas Pendidikan DKI lebih teliti dalam menerbitkan sebuah buku.”
a

Masjid Teungku Andjong

Sejarah mencatat, agama Islam masuk ke wilayah Aceh antara lain melalui pedagang-pedagang Arab. Sambil berniaga mereka mengem¬bangkan agama Islam yang ternyata diterima oleh penduduk setempat. Bahkan di kemudian hari, perkembangan Islam di daerah ini tercatat paling cepat berkembang. Ini tentu saja tidak terlepas dari sikap para pedagang yang arif lagi bijaksana.
Tersebutlah seorang Raja Aceh yang cukup terkenal dengan nama Sultan Alaidin Mahmud Syah. Ia hidup di abad ke-12 Hijriah (abad 18 M). Oleh masyarakat Banda Aceh, ia dikenal sebagai raja yang arif dan berpengetahuan tinggi terutama dalam hal-hal yang menyangkut hukum Islam.
Kedatangan ulama ke suatu daerah ibarat seberkas sinar yang menyinari sekelilingnya. Sehingga, yang redup akan menjadi cerah, yang gelap akan menjadi benderang, bahkan akan menjadi tuntunan bagi masyarakat dalam mengatur tata hidup untuk mencapai kesejahteraan lahir batin, baik dunia maupun akhirat.
Sebelum Islam datang ke Tanah Air ini, kebudayaan daerah se¬tempat telah berabad-abad lamanya dipengaruhi oleh budaya Hindu dan Budha. Tetapi, dengan masuknya ulama ke suatu daerah, satu per satu daerah itu mengalami peleburan kepercayaan dan keyakinan baru, yaitu agama Islam.
Begitu pula kondisi agama di Kelurahan Peulanggahan, Banda Aceh, belum sempurna sebagaimana hukum dan akidah yang hakiki. Namun, setelah Peulanggahan kedatangan Syekh Abubakar bin Husin Bafaqih yang datang dari Arab Saudi (Hadhramaut) masyarakatnya mulai mengubah sikap negatif ke sikap positif, dinamis, dan agamis.
Hal itu dapat terjadi karena tidak saja pendatang tersebut lebih pandai, tetapi dia juga bijaksana, terbuka dalam memimpin dan mau memahami sifat-sifat pengikutnya, ditambah lagi dia mau bersedia mengorbankan harta, tenaga, pikiran, bahkan dia sendiri yang langsung menjadi gurunya.
Dia bukan saja sebagai ulama yang zuhud, tetapi ia juga seorang ulama modern. Dalam mengembangkan ajaran Islam, dialah yang menyediakan sarananya. Rumahnya yang terbuat dari pelepah daun, dijadikan asrama untuk bermalam para muridnya dalam memperdalam agama Islam. Kian hari rumahnya kian sempit dan akhirnya dia tidak sanggup menampungnya.

Mendirikan Masjid

Melihat perkembangan yang cukup menggembirakan itu maka Syekh Abubakar pun tergerak hatinya untuk membangun masjid. Masjid tersebut bukan saja digunakan untuk tempat melakukan shalat rawatib (lima waktu), tetapi juga digunakan untuk bermusyawarah yang langsung dipimpinnya.
Karena itu, wajar jika kemudian pengikutnya amat menyayangi dan hormat kepadanya. Begitu hormatnya masyarakat Peulanggahan kepada Syekh Abubakar, sampai-sampai dia tidak dipanggil berdasar¬kan namanya, tetapi dengan panggilan “Teungku Andjong” yang berarti ‘disanjung’ atau ‘dimuliakan’. Ini sudah menjadi tradisi masyarakat Aceh jika menemui orang mulia atau terhormat langsung tidak lagi dipanggil namanya. Seperti Teungku Haji Saman, yang akhirnya lebih dikenal dengan nama Teungku Cik Di Tiro.
Dalam catatan sejarah, Syekh Abubakar, yang meninggal tahun 1782 M, adalah seorang ulama besar yang banyak sekali jasanya dalam mengembangkan agama Islam di wilayah Banda Aceh, khususnya di daerah Peulanggahan. Bahkan, menurut cerita orang-orang Aceh, banyak peninggalan Syekh Abubakar yang masih dapat dimanfaatkan oleh masyarakat muslim Aceh hingga sekarang. Peninggalannya antara lain sebuah rumah besar dan sebuah Masjid “Teungku Andjong” yang terletak di Peulanggahan, Banda Aceh. Bahkan, ada pula peninggalan berupa tanah waqaf seperti yang terdapat di kelurahan Merduati, Lampaseh, dan Kabupaten Pidie.
Menurut catatan Departemen Agama, semua sarana fisik yang dibina Teungku Andjong mempunyai memberi semangat juang yang tangguh. Di zaman mempertahankan kemerdekaan, Masjid Teungku Andjong dijadikan markas oleh laskar pejuang kemerdekaan Indonesia sebagai markas pertahanan dalam menghadapi penjajah Belanda.
Teungku Andjong, di samping sebagai seorang ulama, juga dikenal sebagai seorang arsitek. Karenanya, masjid dan rumahnya pun bergaya Timur Tengah, sesuai dengan daerah asalnya. Karena begitu terkesannya masyarakat Peulanggahan dengan kearifan Syekh Abubakar bin Husin Bafaqih, ia pun diberi predikat ‘Teungku Andjong”. Masyarakat Peulanggahan juga memandang begitu berperannya Syekh Abubakar dalam penyebaran agama Islam maka sebutan yang diberikan masya-rakat Aceh kepadanya kemudian diabadikan untuk menamai sebuah masjid yang berhasil ia dirikan.[Duniamasjid]

Stracie Angie : Hari Terindah Adalah Saat Masuk Islam (Video)

Seorang penyanyi Pop Malaysia Stracie Angie Anam jatuh cinta kepada Islam.
 "Ya, saya telah masuk Islam secara resmi kemarin. Hari itu adalah hari terindah dalam hidup saya, "penyanyi lokal Stracie Angie Anam atau Stacy AF dikutip dari News Straits Times Online, Rabu (26/8).

Awalnya, Anam tidak ingin menghebohkan para penggemar seputar perpindahan agamanya. Hanya saja rumor dirinya memeluk Islam terus berkembang. Apalagi, publik melihatnya dalam sebuah video ia terlihat sedang mengenakan jilbab dan melakukan syahadat.
"Jika Anda merasa rasa hormat untuk seseorang, silakan berhenti berbagi dan menghapus video yang direkam tanpa izin," tulis penyanyi menulis di Twitter.

Ia merasa privasinya telah dilanggar dengan penyebaran video tersebut. Meski demikian, kejadian dalam rekaman video tersebut merupakan masa terindah dalam hidupnya dan ingin dinikmatinya khusus antara dirinya dan Allah.

"Saya adalah seorang Kristen sebelum dan saya bangga akan hal itu. Tapi ini adalah masalah hati, dan saya telah jatuh cinta dengan Islam dan saya siap untuk menerimanya dengan sepenuh hati,"kata bintang berusia 25 tahun.

Setelah resmi memeluk Islam di kantor agama Johor Baru, Stacy mengganti namanya menjadi Ummu Syaikhah Stacy binti Anam. Ia berharap dengan keputusannya memeluk Islam dapat dihormati oleh semua orang, termasuk para penggemarnya.[rep]

Masjid Bersejarah, Masjid Jami Indrapuri Aceh Besar

Setiap tempat punya ceritanya tersendiri, begitu pun Aceh. Sejarah Aceh sangat identik dengan sejarah religi sebagaimana propinsi ini dikenal dengan julukan Serambi Mekkah. Oleh karenanya siapa pun yang datang ke Aceh tentunya perlu tahu wisata sejarah dan wisata religi selain mengunjungi tempat-tempat wisata lainnya. Berikut ini salah satu situs peninggalan sejarah Aceh pada masa penjajahan Belanda, yakni sebuah Masjid yang dibangun diatas pertapakan bekas candi, dan masjid tersebut menjadi saksi sejarah sejumlah peristiwa penting pada masa Kerajaan Aceh Darussalam.  


Mesjid itu tidak lain adalah Masjid Indrapuri atau disebut juga dengan nama “Masjid Jami’ Indrapuri”. Beberapa literature menyebutkan bahwa awal mulanya masjid tersebut merupakan sebuah bangunan candi yang dibangun pada abad ke 12 M di kerajaan indrapuri. Ini bisa dilihat dari adanya bekas tapak candi disekeliling masjid yang masih jelas terlihat hingga hari ini. Prof. H. Ali Hasjmy mengatakan keseluruhan tapak/bekas candi tersebut hampir sama besarnya dengan Candi Borobudur di Jawa Tengah, yakni seluas 15.129 m2. Beliau juga menambahkan bila bangunan tersebut digali diperkirakan patung-patung hindu banyak terdapat didalamnya.


Menurut riwayat, dulunya Indrapuri adalah sebuah kerajaan yang pernah didirikan oleh orang-orang hindu di Aceh, dimana kerajaan tersebut berawal dari kedatangan seorang adik perempuan Putra Harsha dari India yang suaminya terbunuh dalam suatu peperangan yang dilancarkan oleh bangsa Huna pada tahun 604 M, lalu ia melarikan diri dari kerajaannya menuju Aceh. Dialah yang telah mendirikan kerajaan Hindu, atau disebut juga dengan kerajaan Indrapuri yang artinya “Kuta Ratu”. Hal ini dibuktikan dengan adanya perkampungan orang Hindu dekat Indrapuri, yaitu kampong Tanoh Abee (sekarang), serta banyak juga terdapat kuburan-kuburan orang hindu. Ia juga mendirikan kerajaan Indrapatra yang terdapat di Ladong, jalan menuju pelabuhan malahayati sekarang.

Jauh sebelum berdirinya kesultanan/Kerajaan Aceh Darussalam di abad ke 15 M, telah ada berita asing yang menyebutkan nama maupun tempat yang dikaitkan dengan Indrapuri. Claudius Ptolomeus dalam salah satu bukunya menyebutkan nama-nama negeri yang terletak pada jalur pelayaran India-Cina. Dari catatan yang tercantum dalam buku Ying-Yai-Sheng-lan oleh Ma-Huan, disebutkan bahwa Lamri terletak "Tiga hari berlayar dari Samudera pada waktu angin baik." Negeri itu bersebelahan dengan sisi Timur Litai, bagian Utara dan Barat berbatasan dengan laut Lamri (Laut Hinndia), dan ke Selatan berbatasan dengan pegunungan. Berdasarkan berita cina itu, Groenevelt (seorang peneliti) mengambil kesimpulan bahwa letak Lamri di Sumatera bagian Utara, tepatnya di Aceh Besar. Berita dari Cina itu juga mengatakan bahwa Lamri terletak di tepi laut.

Dari buku "Aceh di Mata Sejarawan" oleh Mulyadi Kurdi disebutkan bahwa Aceh Besar (Aceh segi tiga) kala itu, laut (pantai lautanya) Indrapuri dan Tanoh Abee (Tanah pasir halus) tempat kediaman orang Hindu. Jadi Blang Bintang, Ulee Kareng, Lambaro, Lam Ateuk, Lam Nyong, Tungkop, Lam Nga, Tibang dan lain-lain masih laut besar. Karenanya sampai abad ke 8 M, pantai atau tepi laut di Aceh besar sampai dekat Indrapuri dan Tanoh Abee di kaki bukit barisan (Aneuk Glee) dan bangunan lautan itu merupakan satu teluk yang elok panoramanya.

Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa Kerajaan Aceh Darussalam merupakan kelanjutan dari kerajaan Lamri. Dimana pada abad ke 15 M peranan kerajaan Lamri hilang dari pangung sejarah. Bekas kerajaan Lamri terpecah atas beberapa negeri yang masing-masing berdiri sendiri. Negeri-negeri itu ialah Darul Kamal, Makuta Alam, Aceh (Darussalam), Darul Dunia, Pedir dan Daya. Di antara negeri-negeri tersebut sering terjadi pertentangan politik dan bentrokan senjata. Namun pada permulaan abad ke 16 M, Ali Mughayat Syah yang merupakan putera dari Sultan Syamsu Syah mampu mempersatukan kembali wilayah Lamuri tersebut. Sultan Ali Mughayat Syah inilah yang kemudiain dianggap sebagai Sultan pertama Kerajaan Aceh Darussalam. Beliau dinobatkan pada hari ahad, 1 Jumadil Awal 913 H atau tanggal 8 September 1507 M. Berkat ekspansi yang beliau lakukan pengaruh kerajaan Aceh menyebar ke seluruh Sumatera hingga ke wilayah semenanjung Malaya. Dan pada saat Islam masuk ke wilayah Indarpuri, maka peradaban disana pun mengalami perubahan menjadi peradaban Islam, fungsi candi Indrapuri beubah menjadi Masjid Indrapuri. Konon, perubahan itu terjadi pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda berkuasa di Kerajaan Aceh Darussalam, yakni pada tahun 1607 M. Beliau juga lah yang membangun Masjid Indrapuri menggantikan candi di lokasi tersebut.

Peristiwa penting terakhir yang berlangsung di Masjid Indrapuri adalah pelantikan Muhammad Daud Syah sebagai Sultan Aceh ke 35 pada akhir tahun 1874 M. Pelantikan tersebut juga sekaligus menjadikan Indrapuri sebagai ibu kota Kesultanan Aceh, namun hal itu tidak berlangsung lama dikarenakan Sultan Muhammad Daud Syah menjadi Sultan Aceh terakhir setelah beliau ditangkap oleh Belanda pada tanggal 10 Januari 1903. Kemudian diasingkan ke Ambon, lalu dipindahkan ke Batavia sampai tutup usia pada tanggal 6 Februari 1939.

Di dalam buku “Tawarich Raja-raja Kerajaan Aceh”, karangan Yunus Djamil menyebutkan, Indrapuri merupakan bagian dari kerajaan Hindu Indrapurwa dan salah satunya termasuk benteng Indrapatra. Itu sebabnya bila kita melihat bangunan Masjid Indrapuri tersebut layaknya benteng, dimana disekelilingi masjid berdiri tembok undakan yang kokoh setinggi ± 1.5m.

Masjid ini berjarak 25 km dari kota Banda Aceh, lokasinya di poros jalan Banda Aceh-Medan, Ds. Pasar Indrapuri, Kec. Indarapuri, Kab. Aceh Besar dengan area tanah seluas 33.875 m. Masjid tersebut berkonstruksi kayu, didirikan di atas rerentuhan bangunan berkonstruksi batu berspesi kapur dan tanah liat yang difungsikan sebagai benteng pertahanan pada saat pendudukan oleh Portogis dan Belanda di Aceh.

Dinding benteng juga berfungsi sebagai pondasi masjid berbentuk persegi empat, berdiri di atas tanah seluas 4.447 m. Bangunan ini berundak empat dan pada setiap undakan memiliki dinding keliling sekaligus jadi pembatas halaman. Kaki dan puncak sisi benteng dilengkapi oyif, yaitu bidang sisi genta.

Masjid ini berbentuk segi empat (bujursangkar) berukuran 18.80 m x 18.80 m dengan tinggi bangunan 11.65 m. Untuk memasuki masjid harus menaiki tangga terlebih dahulu. kemudian kita akan melihat pelantaran masjid yang luas, yang merupakan halaman kedua (lantai dua).


Di halaman kedua terdapat bak penampungan air hujan, yang juga berfungsi untuk berwudhu. Namun sekarang ini bak tersebut hanya berfungsi sebagai bak penampung air untuk mencuci kaki sebelum memasuki masjid. Sedangkan tempat wudhu terletak jauh diluar masjid (halaman pertama sebelum menaiki anak tangga).


Ketika memasuki masjid kita bisa merasakan kesejukan dan kenyamanan dalam beribadah, walau usia mesjid ini sudah ratusan tahun namun bangunannya masih terlihat kokoh. Kayu-kayu besar kekar menopang atap mesjid, atap masjid ini terdiri dari atap limas bersusun tiga, menggunakan seng sebagai penutup. 


Secara keseluruhan Masjid Jami’ Indrapuri ditopang oleh 36 tiang kayu, masing-masing 6 tiang dalam 6 jejeran. Jarak antara tiang kira-kira 2 shaf shalat. Tidak ada dinding, yang ada adalah tembok setinggi 1,5 m yang mengelilingi Masjid. Tembok tersebut tidak langsung menempel di kayu sebelah luar masjid. Mesjid benar-benar sebuah bangunan tersendiri di atas lantai yang tidak memiliki dinding.


Bila kita menuju pintu samping masjid terus ke halaman belakang, maka akan kita temukan halaman yang dipenuhi rerumputan hijau dan pohon kelapa. Kita juga akan disuguhkan pemandangan indah, yaitu panorama gunung dan aliran sungai krung Aceh, karenanya tidak mengherankan jika masjid ini juga sering digunakan sebagai tempat foto prewedding oleh para pasangan muda.


Pak Nadi, pengelola Masjid
Dalam artikel lain juga disebutkan, pengelola pertama masjid ini adalah Teungku Syiah Kuala, sekitar tahun 1.600 Masehi, kemudian masjid ini diurus oleh Teungku Chik Eumpe Trieng pada masa Panglima Polem dan selanjutnya diwariskan kepada cucu Panglima Polem, Teungku Wahab. Terakhir, masjid tua penuh sejarah ini diurus oleh Abu Indrapuri. Sepeninggal Abu Indrapuri lalu beralih kepada Teungku Harun dan Teungku Nasrudin yang mendirikan sekolah di pekarangan masjid tersebut.


Imam Masjid Jami’ Indrapuri saat ini adalah Tengku Syafi’i, saya menjumpai beliau secara terpisah dirumahnya. Dari hasil diskusi dengan Imam masjid serta pak Nadi yang merupakan pengelola masjid sekarang ini, saya mendapat informasi bahwa masjid Jami’ Indrapuri ini sering dikunjungi oleh turis asing selain dari turis lokal (seperti Bali dan beberapa daerah Aceh lainnya). Dari buku tamu, saya melihat bahwa kebanyakan turis asing tersebut berasal dari Malaysia dan Brunei, dan pengunjung terakhir datang dari the United States. Jika para turis asing sudah melirik tempat ini, bukankah Masjid Jami' Indrapuri ini memiliki pesona sejarah yang luar biasa dan pantas mendapat perhatian ekstra? :)[hwtf]

Masjid Al-Kautsar Polda Metro Jaya

Bangunan masjid di Indonesia kebanyakan tidak sepenuhnya mengadopsi bangunan masjid - masjid yang ada di Timur Tengah atau Arab.

Dengan keanekaragaman budaya bangsa Indonesia maka bangunan masjid di masing - masing daerah menampilkan arsitektur masjid yang beraneka ragam pula, namun demikian image bangunan masjid masih tetap ada.

Terbukti masjid di Indonesia ada yang berbentuk joglo seperti Masjid Demak dan bentuk bawangan Masjid di Aceh.
Keberadaan masjid di suatu lingkungan perkantoran biasanya terbatas pada fungsinya sebagai tempat beribadah. Hanya sedikit perkantoran, khususnya di DKI Jakarta, yang membangun sebuah masjid yang tergolong megah dan indah. Markas Polisi Daerah Metro DKI Jakarta (Polda Metro Jaya) adalah salah satunya.
Di bagian selatan kompleks Polda Metro Jaya, tepatnya di samping Gedung Artha Graha dan di seberang mal mewah Pacific Place yang terletak di area Sudirman Center Business District (SCBD), terdapat masjid yang sangat menonjol secara visualisasi arstistik.
Masjid tersebut bernama Al Kautsar, dibangun dan dikelola oleh Polda Metro Jaya. Nama Al Kautsar ini diambil dari salah satu surat dalam kitab suci Al-Quran, berarti nikmat yang melimpah.
Dirancang dengan nuansa islami yang kental, bangunan yang kokoh dengan kombinasi taman ini terkesan sangat religius, indah, sejuk, dan ramah. Kesan yang sangat tepat mengingat letaknya yang berada di area pusat kesibukan ibukota.

Masjid Polda Metro Jaya yang dibangun di atas tanah seluas + 4.278 m2 dengan luas bangunan + 2.300 m2 dirancang sedemikian rupa dengan nuansa Islami yang kental dan kokoh serta memasukkan unsur - unsur taman yang merupakan bagian dari pembangunan masjid itu sendiri, sehingga menimbulkan kesan sebagai tempat suci / religius yang indah, sejuk dan ramah.

Adapun Filosofi Islaminya dapat digambarkan dari bangunan masjid yaitu :

1. Nama Masjid AL' KAUTSAR yang berarti: Nikmat yang banyak / telaga AI Kautsar yang sejuk dan indah yang ada di surga.
2. Tiga beda ketinggian level dari masjid itu sendiri yaitu a. Level pertama door lop / selasar melambangkan Iman.
b. Level kedua serambi melambangkan Islam
c. Level ketiga atap bangunan melambangkan Ikhsan.

3. Kubah Utama yang dibungkus dengan tembaga didampingi

4 (empat) kubah yang menempel di dinding bawah melambangkan ajaran Islam yang satu dan tetap utuh dipandu oleh 4 (empat) mazhab, serta diperkuat dengan jumlah pintu akses masuk masjid 4 (empat) buah melambangkan jalan masuk dan berkumpulnya empat mahzab yang dikenal oleh umat Islam Indonesia yaitu: Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam Syafi'i dan Imam Hambali.

4. Dua Tower Utama yang mengapit pintu masuk masjid menggambarkan bilangan dua kalimat syahadat.

5. Lima kubah besar yang menggambarkan Lima Rukun Islam masing-masing

2 di atas tempat wudlu,
2 di atas tower tangga dan
1 Kubah Utama berlapis tembaga.

6. Menara masjid yang. berjumlah 6 buah melambangkan Rukun Iman yaitu :

menara yang terletak di tempat wudlu 4 buah dan
2 buah di serambi masjid.

7. Pilar Utama masjid sebanyak 9 buah melambangkan Tokoh penyebaran agama Islam di Indonesia khususnya di Pulau Jawa yaitu Wali Songo.

8. Jumlah Tiang Bulat masjid secara keseluruhan berjumlah 99 yang melambangkan Asmaul Husna.

9. Jumlah kubah dan menara secara keseluruhan berjumlah 25 yang melambangkan 25 rasul yang diimani.

10. Tinggi dua Menara Utama masing-masing 33 m yang menggambarkan jumlah tasbih sebanyak 33 kali.

11. Tinggi 4 menara di sebelah kiri dan kanan masjid masing-masing 17 m dan tiang pagar yang berjumlah 7 buah melambangkan jumlah rakaat dalam shalat 5 waktu.

Dari filosofi Islam bangunan masjid ini diharapkan dapat mendorong Umat Islam Keluarga Besar Polda Metro Jaya dalam meningkatkan Iman dan Taqwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Amiin.

Buku Progam Pelajar Jakarta Berkarakter Bikin Heboh Dunia Pendidikan

Hari ini jagad pendidikan dihebohkan dengan beredarnya foto buku yang memuat nilai atheis di dalamnya. Dikabarkan buku itu sudah beredar di 34 sekolah di DKI Jakarta

 Buku itu memuat sejumlah teori-teori ilmiah yang menentang keyakinan adanya Tuhan. Isinya menjadi gempar lantaran potongan gambar dari halaman tujuh dan 10 buku dikatakan melecehkan agama dan mengajarkan pandangan atheisme.

Potongan gambar pertama menampilkan penjelasan "Semua kejadian di atas hanyalah mekanisme alam biasa (peristiwa natural) dan manusia dapat turut campur di dalamnya. Hal ini mebuktikan tidak ada campur tangan Tuhan."

Sedangkan potongan gambar kedua terdiri dari dua bagian. "Agama adalah ekspresi keputusasaan jiwa manusia saat tidak biasa menghadapi kerasnya kehidupan dan Tuhan adalah hasil ilusi manusia akibat ketertekanan jiwa manusia" dan "Agama hanya membawa manusia kepada penderitaan hidup karena agama senantiasa mengakibatkan munculnya peperangan dan menjadikan penganutnya yang taat sebagai teroris."

Keterangan Kepala Sekolah SMA 28 Jakarta

 Salah satu sekolah yang memakai buku tersebut adalah SMA Negeri 28 Jakarta. Namun, Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMA Negeri 28 Jakarta, Bahari Lubis membantah tuduhan itu. Menurutnya, dalam satu bab buku itu memang membahas contoh pemikiran atheis.

"Itu hanya contoh dari uraian penjelasan sub bab yang berjudul Teori-Teori Ilmiah yang Menentang Keyakinan Akan Adannya Tuhan, judul itu tidak difoto," katanya ketika ditemui, Selasa (2/9).

Dia menjelaskan, buku yang berjudul Progam Pelajar Jakarta Berkarakter yang diterbitkan Dinas Pendidikan DKI Jakarta bekerja sama dengan Yayasan Al-Kahfi Jakarta itu tidak dibaca secara utuh oleh yang foto buku. Karena itu, buku itu menjadi korban fitnah. "Jadi kalau baca buku itu jangan sepengal. Jadi infomarsi itu fitnah."

Justru, Bahari menjelaskan, di dalam buku menawarkan salah satu programn pembentukan karakter. Bagaimana bertoleransi agama dan menyodorkan bahwa setiap agama mengakui adannya tuhan. Di buku itu juga terdapat motifasi untuk meraih cita-cita, agar tidak terjerumus pada tawuran.

Penjelasan Peerbit buku

 Penerbit buku modul pendidikan karakter yang berjudul 'Pelajar Jakarta Berkarakter', Yayasan Al Kahfi menegaskan isu tentang buku tersebut mengajarkan atheisme hanyalah fitnah yang disebarkan oleh kompetitor mereka. Menurut dia, orang yang menyebarkan hanya memperlihatkan potongan isi buku yang tak lengkap dengan penjelasannya.

"Dalam potongan gambar yang beredar di sejumlah media sosial, memang terlihat beberapa sub bagian. Sayangnya, potongan gambar yang beredar di media sosial tidak menjelaskan kalau teori-teori tersebut berada di bagian apa dan bertujuan untuk apa," kata Ketua Program Pelajar Jakarta Berkarakter, Dody Wijaya ketika ditemui pada Rabu (2/9), malam. 
 Padahal, kata Dody, jika dilihat dari buku aslinya, tiga teori di atas merupakan sub bagian dari 'Teori-teori Ilmiah Yang Menentang Keyakinan Akan Adanya Tuhan'. "Jadi, bagian itu memang menghadirkan sejumlah teori dari para ilmuwan barat, yang menentang adanya Tuhan SWT," ujar Dody.

Dua sub bagian itu merupakan bagian dari Bab pertama, yang berjudul Pembuktian Ilmiah Keimanan Terhadap Tuhan, yang terdiri dari Pengantar, Teori Ilmiah yang Menentang Keyakinan Adanya Tuhan dan Pembuktian Ilmiah Adanya Tuhan dan Kritik Terhadap Atheisme. Jadi, bagian kedua memang menghadirkan teori ilmuwan barat yang menentang adanya Tuhan, lalu dijelaskan di bagian ketiga kalau adanya Tuhan sebenarnya bisa dijelaskan secara ilmiah.

Dody menegaskan, pihaknya akan menunggu perkembangan ke depan, dan akan melaporkan kepada pihak Kepolisian untuk mencari bukti dan otak provokasi yang menyebarkan potongan gambar tersebut. "Ini jelas-jelas fitnah dan provokasi, kami menunggu perkembangan dan akan melaporkan tindakan ini ke pihak Kepolisian," tegas Dody.


Tokoh LSM Afrika Selatan Serukan Dunia Islam Bantu Pengungsi Rohingya

Selasa pagi, hari pertama bulan September 2015, Kantor Integrated Community Shelter (ICS) Blang Adoe, Kuta Makmur kedatangan tamu dari Imdaad Foundation (IF). Usai kunjungan, pihak Al-Imdaad Foundation menyampaikan seruan agar semua individu dan negara-negara muslim turut serta mencari solusi tuntas atas permasalahan yang menimpa muslim Rohingya. 
 
Lembaga nirlaba nonpemerintah yang berbasis di Afrika Selatan itu, berkunjung ke komplek ICS untuk menyapa para pengungsi Rohingya dan meninjau infrastruktur ICS yang dibangun ACT, yang sebagian biayanya berasal dari Al-Imdaad yang disalurkan melalui mitra insan Hak ve Hurriyatleri Yardim Vakvi (IHH), sebuah NGO yang berbasis di Istanbul, Turki.
 
Moulana Muhammed Motala, Head of Volunteer Wing of Al-Imdaad menyatakan pihaknya ingin membantu Aksi Cepat Tanggap (ACT) untuk program-program kemanusiaan bagi pengungsi Rohingya. Dalam kesempatan kunjungan, Moulana menyatakan puas dengan kinerja ACT yang telah memfasilitasi pengungsi Rohingya dengan membangun ICS dengan fasilitas yang sangat memadai.
 
“ Kami telah berkeliling ICS dan berdialog dengan berbagai macam orang pengungsi Rohingya, dari anak-anak sampai orang dewasa, mereka menyatakan senang tinggal disini (ICS),” ujar Moulana, Selasa (1/9). 
 
Dibandingkan dengan tempat tinggal mereka di Myanmar atau kamp di Bangladesh, menurut Moulana komplek ICS lebih lengkap. “Kebutuhan makanan terpenuhi dengan baik, tempat shalat, tempat belajar, klinik, dan instalasi air bersih, taman,” ujarnya.
 
Moulana menyerukan agar dunia tidak menutup mata dengan tragedi kemanusiaan yang terjadi atas manusia Rohingya. 
 
“ Kita seharusnya membantu orang-orang Rohingya, baik individu muslim maupun negara-negara muslim, bahu membahu mencari solusi untuk Rohingya. Kita harus bergandeng tangan atas persoalan muslim Rohingya,” tegasnya lagi.