Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

Masjid luar biasa ini bernama Baitul Makmur di Denpasar Bali

Masjid luar biasa ini bernama Baitul Makmur. Masjid yang terletak di Monang Maning, Denpasar Bali ini memiliki jamaah sholat subuh lebih dari 700 orang jamaah setiap harinya.

Di Masjid ini Shalat Jamaah selalu dipadati, mulai Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan yang sangat menakjubkan adalah jammah  Shalat Shubuhnya yang lebih padat dari waktu lain. Jika Shalat lain jamaahnya seperdua Masjid, maka Shalat Subuhnya hampir penuh, dipadati sekitar kurang lebih 700 Jamaah, dan Khusus hari Ahad Subuh, Jamaahnya bahkan lebih banyak lagi hingga ke pelataran Masjid.

Setiap Ahad, Pengurus Masjid menggelar pengajian dengan mendatangkan ustadz-ustadz  dari Luar Pulau Bali, Ustadz Muh.Ikhwan Abd.Jalil, Lc dan Ustadz Harman Tajang, Lc, Ustadz Wahdah dari Makassar yang sudah pernah mengisi pengajian Ahad Subuh di Masjid ini.

Taklim dan pembelajaran Al-Qur’an di Masjid ini juga lancar dan rutin dilaksanakan lepas Magrib dan Subuh.


Masjid yang berlokasi di Jl. Gunung Merbuk Monang Maning Denpasar ini terletak di satu kompleks halaman dengan tiga sekolah, yaitu TK Aisyiah, SD Muhammadiyah 3 dan SMP Muhammadiyah 3. Menurut Ir. H. Sentot Surenggrono selaku Ketua Yayasan Baitul Makmur, masjid ini cukup berkontribusi terhadap pendidikan karena berada ditengah-tengah lingkungan pendidikan. Sehingga berperan aktif dalam memberikan fasilitas pendidikan keagamaan bagi sekolah yang berada disekitarnya. Pembangunan Masjid Baitul Makmur pertama kali digagas pada tahun 1982. Pada 5 Agustus 1983, warga Perumnas Monang Maning didukung Dewan Masjid Indonesia membentuk sebuah panitia pembangunan masjid. Alhasil pemerintah menyediakan lahan untuk mendirikan masjid di daerah tersebut. Selanjutnya pembangunan benarbenar dilaksanakan pada tahun 1987, setelah ada bantuan dari MUI Bali dan Yayasan Amal Bakri Muslim. Peresmian pendirian masjid Baitul Makmur sendiri diketuai oleh Presiden Soeharto dan Menteri Ir. Dr. H. Ginanjar Kartasasmita sekitar tahun 1988.

Tidak lama berselang Yayasan Muhammadiyah membangun tiga sekolah dalam satu komplek, yaitu TK Aisyah, SD Muhammadiyah 3, dan SMP Muhammadiyah 3. Keberadaan tiga sekolah tersebut membuat masjid Baitul Makmur lebih dikenal dengan masjid bernuansa pendidikan. Selanjutnya untuk mempermudah pengelolaan masjid, pada tahun 1992 didirikanlah Yayasan Baitul Makmur yang menaungi Masjid Baitul Makmur. Kuantitas jamaah yang terus meningkat mendorong Yayasan Baitul Makmur untuk merenovasi masjid. Pada tahun 2009, dilakukan renovasi masjid yang masih berjalan hingga sekarang. Proses renovasi masjid yang berdiri di atas lahan 12, 89 are ini diperkirakan akan menghabiskan dana ± 9 M, dan sampai sejauh ini telah menghabiskan dana ± 4,5 M. Yayasan Baitul Makmur memiliki beberapa bidang dalam struktur organisasinya guna menjalankan aktivitas masjid, diantaranya adalah bidang Ketakmiran yang berfungsi mengatur solat 5 waktu, sholat Jum’at, pengajian, tafsir Al-Qur’an dan hadits tiap dua minggu sekali, bedah buku, infaq, sodaqoh dan menyediakan fasilitas ketika dilaksanakan kegiatan. Masjid tiga lantai ini juga dilengkapi fasilitas perpustakaan. Bidang Pendidikan rutin menyelenggarakan pendidikan Islam non formal, bekerjasama dengan sekolah Muhammadiyah yang berdiri disekitarnya dalam bidang pendidikan Agama Islam. Kegiatan tersebut adalah membaca Al-Qur’an bagi siswa-siswi sekolah yang dilaksanakan setiap hari Senin–Sabtu pagi. Dilanjutkan malam hari kursus baca tulis Al-Qur’an dengan peserta jamaah umum. Untuk pengajian Ibu-ibu, rutin diadakan sebulan sekali dan mengadakan kegiatan sosial kemasyarakatan.

Bidang Amil Zakat berfungsi memberikan bantuan SPP bagi siswa kurang mampu, beasiswa dan membantu kaum Dhuafa. Prestasi yang diraih Masjid Baitul Makmur sendiri pernah menjadi pemenang lomba Semarak Muharram 1426 Hijriyah dalam kategori kegiatan masjid. Perlombaan tersebut diadakan oleh Departemen Agama, MUI dan DSM Bali pada tahun 2005. Dan pada tanggal 19 Februari 2013, Masjid ini dipergunakan sebagai tempat pelantikan dan pengukuhan Dewan Masjid Indonesia untuk wilayah Provinsi Bali. Pelantikan itu dihadiri oleh Bapak Jusuf Kalla selaku ketua Dewan Masjid Indonesia Pusat.

Sesuai dengan namanya, Baitul Makmur, masjid ini berhasil menjadi lingkungan basis islam yang menunjukan kemakmuran masjidnya.

Semoga semakin banyak masjid seperti ini dibelahan bumi Indonesia, karena salah satu tanda kebangkitan Islam bisa dilihat dari shaff jamaah shalat subuh. wallahualam

Masjid Raya Ukhuwah Denpasar Bali

Masjid Raya Ukhuwwah beralamat Jl. P. Kalimantan No. 19, Dusun Titih Kelod, Dauh Puri Kangin, Denpasar Barat. Kode Pos 80112. Masjid ini tepat terletak di pusat kota. Pusat pertokoan dan diapit oleh tiga jalan yaitu jalan Raya Hasanuddin, jalan Sulawesi dan jalan Kalimantan. Lokasinya dekat Pasar Kumbasari dan pusat pertokoan di Gajah Mada.

Berbagi Subsidi
Masjid Raya Ukhuwah Denpasar, Bali, memiliki sumber penghasilan selain dari amal jamaah. Mereka menyewakan toko di lantai bawah masjid.
Masjid Raya Ukhuwwah Denpasar“Persis di bawah ruang mimbar dan tempat imam memimpin shalat,” kata Taufik Muhammad Hamedan, bendahara masjid.
Tak sulit mendapatkan penyewa. Sebab, masjid berlokasi di tempat menguntungkan. Posisinya di bagian barat Kota Denpasar yang menjadi salah satu pusat bisnis di ibu kota Bali tersebut. “Sebulan kami memiliki pendapatan Rp 125 juta dari sewa toko,” ujar Taufik.

Pemasukan kian besar jumlahnya dengan adanya tambahan dari unit taman kanak-kanak yang mereka kembangkan. Dari sekolah ini, pengurus mampu menghimpun dana Rp 8 juta. Ia menuturkan, dana masjid ini tak hanya digunakan sendiri.[balimuslim/republika]
Masjid Raya Ukhuwwah DenpasarYayasan Ukhuwah yang mengurusi masjid juga memberikan subsidi ke masjid-masjid lain yang membutuhkan biaya pembangunan. “Kami mengambilnya dari dana hasil usaha dan kotak amal,” kata Taufik menegaskan.

Menurut Taufik, Masjid Ukhuwah mempunyai tanah wakaf seluas 4.000 meter persegi. Lantaran letaknya kurang strategis dan tidak dapat difungsikan, tanah itu dijual dan hasil penjualannya yang mencapai Rp 6 miliar untuk sementara disimpan.

Dana itu, jelas Taufik, tidak boleh digunakan untuk keperluan lain  kecuali untuk pengadaan aset tanah. "Dulu, yang mewakafkannya berikrar seperti itu.” Ia mengungkapkan, pengurus sempat memiliki usaha koperasi, toko buku, dan toko busana Muslim.

Namun, menurut Taufik, akhirnya usaha-usaha itu dihentikan dan tempat usahanya disewakan kepada pihak ketiga. Dengan menyewakan tempat, pengurus menilai, lebih menguntungkan daripada membuka unit usaha sendiri
. sebagaimana yang dilansir oleh Republika


Masjid Raya Ukhuwwah Denpasar