Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

Masjid Raya Nur Alam, Pekan Baru RIAU

Oleh : Drs. H. Ahmad Supardi Hasibuan, MA
Tahun 1762 Sultan Abdul Jalil Amaludin Syah memindahkan pusat kerajaan Siak Indrapura dari Mempura Besar ke Bukit Senapelan disebut Kampung Bukit. Pemindahan pusat kerajaan diikuti dengan pembangunan Istana Raja, Balai Kerapan Adat dan Mesjid. Persebatian unsur Pemerintah, adat dan ulama disebut, `Tali Berpilin Tiga`(Tungku Tiga Sejarangan). Mesjid yang dibangun diberi nama Mesjid Alam yang mengambil nama kecil Sultan Amaludin yakni Raja Alam Upacara menaiki bangunan dilakukan pada shalat Jum`at dengan imam Sayid Oesman Syahabuddin, menantu Sultan Amaluddin, ulama besar kerajaan Siak. Sultan Amaluddinsyah digantikan putranya Tengku Muhammad Ali yang bergelar Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Mua`zzamsyah (1766-1779) pada masa pemerintahan beliau Bukit Senapelan berkembang pesat. Sultan Muhammad Ali membangun `pekan` (pasar yang baru dari nama `Pekan Baharoe` lahirlah nama Pekanbaru sekarang ini (23 Juni 1784)).
Dengan bertambahnya jumlah penduduk Bukit Senapelan (Pekanbaru) menyebabkan Mesjid Alam tak mampu menampung jamaah untuk shalat di sana. Musyawarah dilakukan Sultan Muhammad Ali dengan Yasid Oesman, Datuk Empat suku disepakti untuk memperbesar Masjid Alam. Upacara menaiki masjid yang baru selesai dilakukan petang megang bulan puasa itu juga. Ke empat Tiang Seri nya disedikan oleh Datuk Empat Suku (lima puluh, tanah datar, pesisir dan Kampar, Tiang Tuanya disediakan Sayid Oesman, pekerjaan ini dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat. Kubah disediakan oleh Sultan Muhammad Ali, cara ini melambangkan terwujudnya persahabatan antara Pemerintah , ulama, adat dan rakyatnya.

Pada masa kerajaan Sultan Tengku Udo Sayid yang dibergelarkan Assyaidinsyarif, Ali Abdul Jalil Saifuddin (1784-1810) pusat kerajaan Siak dipindahkan dari Mampura kecil ke kota tinggi (kota Siak sekarang ini) dimasa pemerintahannya, mesjid ini diberi Selasar yang dipergunakan sebagai tempat penziarah untuk beristrirahat. Sementara pada pemerintahan sultan terakhir kerajaan Siak Sultan Syarif Kasim Sani (Sultan Kasim II) pada tahun 1946 beliau sempat memperluas bangunana Masjid Raya tersebut.

Setelah bangunan siap, dilakukan upacara Menaikinya maka diumumkan bahwa nama mesjid boleh mempergunakan nama lama atau nama baru yakni Mesjid Anur`Alam atau Mesjid Sultan atau Mesjid Besar atau Mesjid Raya. Namun nama yang dikokohkan hingga sekarang adalah Mesjid Raya Anur`Alam Kota Pekanbaru. Walau musim berganti pemimpin datang silih berganti, namun Mesjid Raya Nur` Alam tetap berdiri kokoh dan megah. Setiap harinya mesjid tua ini tidak pernah sepi dari kunjungan masyarakat, tidak hanya dari dalam Kota Pekanbaru. Mereka juga datang dari berbagai daerah lain di Riau, selain beribadah mereka juga datang untuk mendapatkan Tuah mesjid Sultan tersebut. Mesjid ini dikenal selain mesjid kota pekanbaru, juga dikenal sebagai mesjid bersejarah (Ash/kemenag).

Masjid Raya Al-Huda Tembilahan, RIAU

Oleh : Drs. H. Ahmad Supardi Hasibuan, MA.
Dari masjid inilah setiap waktu dikumandangkan gema adzan sebagai pertanda waktu shalat telah masuk dan di Masjid ini pula dipusatkan kegiatan atau Perayaan Hari Besar Islam seperti Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Perintah Israk dan Mikraj Nabi Muhammad SAW, Peringatan Nudzul Quran, Peringatan Tahun Baru Islam dan kegiatan lainnya.

Masjid ini dibangun dengan biaya yang berasal dari sumbangan waqaf, infaq, dan shadaqah dari kaum muslimin dan muslimat yang berada di Kota Tembilahan dan sekitarnya.

Sesuai dengan perkembangan, kemajuan, dan pertumbuhan penduduk Tembilahan, maka Masjid Al-Huda juga mengalami beberapa kali renovasi dan perombakan yang dilakukan sebanyak tiga kali yaitu :
1. Pada tahun 1935 diadakan perbaikan dan pelebaran luas bangunan, sehingga daya tampung jamaah lebih banyak, disebabkan perumbuhan penduduk kota Tembilahan saat itu, dimana perombakan hanya memperluas bangunan sedangkan konstruksi bangunannya tetap seperti semula, pondasi terdiri tingkat ulin, dinding papan dan atap sirap
2. Pada tahun 1968 dengan perlebaran luas banguan dan perombakan konstruksi bangunan pada pondasi semula terdiri dari tongkat kayu ulin diganti dengan tombak pasir semen, dinding papan diganti dengan semen pelesteran, dan atapa sirap diganti dengan atap seng, disamping itu perubahan yang besar adalah bangunan terdiri dari lantai 1 dan 2. Kontsruksi bangunannya semi permanent dengan kapasitas daya tampung 2 kali lipat, karena lantai 1 dan 2 dipergunakan untuk shalat. Pada waktu perobakan kedua ini, kota Tembilahan berubah status menjadi Ibu Kota Indragiri Hilir.
3. Pada tahun 1994 Masjid Raya Al-Huda Tembilahan mengalami perombakan total bangunan Masjid di perluas, pondasi bangunan tetap berlantai 2(bertingat) dengan memiliki 4 buah menara. Konstruksi bangunan permanent, lantai dan dinding Masjid terbuat dari keramik, ruangan bagian depan sebelah kanan Masjid Al-Huda dijadikan tempat kantor Yayasan Al-Huda dan kantor Pengurus Masjid Al-Huda, sedangkan pada ruangan bagian depan sebelah kiri digunakan untuk kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Indragiri Hilir dan ruang perpustakaan MUI dan MAsjid Al-Huda, lantai atas Masjid Al-Huda dipergunakan untuk kegiatan Tahfizil Quran, Taman Pengajian Al-Quran dan kegiatan Remaja Masjid Al-Huda.

Peresmian pemakaian Masjid Al-Huda Tembilahan telah dapat melaksanakan kegiatan-kegiatan antara lain :
1. Ibadah shalat wajib 5 waktu, shalat jumat, shalat sunnat rawatib, shalat Idul Fitri dan shalat Idul Adha dan lain-lain.
2. Peringatan hari-hari besar Islam.
3. Pembinaan Umat Islam dalam bentuk dakwah, ceramah Agama Islam secara rutin (bada shalat shubuh, qobla shalat zuhur dan bada magrib).
4. Pembinaan generasi muda Islam melalui kegiatan Remaja Masjid Raya Al-Huda Tembilahan.
5. Pelaksanaan Ibadah social seperti ibadah qurban, zalat fitrah/maal, bantuan kepada anak-anak yatim dan fair miskin, buka bersama (khataman Al-Quran pada setiap bulan Ramadhan).
6. Kegiatan Taman Pengajian Al-Quran (TPA).
7. Kegiatan Tahfizil Quran bagi anak-anak dan dewasa.

Disamping itu, untuk pemeliharaan dan memakmurkan serta mengelola Masjid Raya Al-Huda Tembilahan memerlukan petugas (marbot) seperti tenaga kebersihan bagian ruangan dalam, kebersihan tempat wudhu dan MCK, kebersihan bagian halaman Masjid, kebersihan lantai 2, Imam Besar, Imam Rawatib, bilal, penceramah tetap, Pembina TPA, pembina Tahfizil Quran, penjaga perpustakaan Masjid, petugas sound system, pengurus remaja Masjid membantu dalam upaya memakmurkan Masjid dan Pembina generasi muda Islam dan sebagainya. (an/dinamis).

DATA MASJID RAYA AL-HUDA TEMBILAHAN :

1. Nama : Masjid Raya Al-Huda Tembilahan
2. Alamat :
a. Desa/Kelurahan : Tembilahan
b. Kecamatan : Tembilahan Kota
c. Kabupaten : Indragiri Hilir
d. Propinsi : Riau
e. Nomor Telephon : (0768)22726
f. Kepemilikan Tanah :
- Status tanah : Hak Milik Masjid Al-Huda Tembilahan
- Luas Tanah : 4.362 m 2
g. Luas Bangunan : 34 m x 36 m
h. Tahun Pembanguan : 1994
i. Sumber Dana : Sumbangan Masyarakat Islam Kab. Inhil
j. Jumlah Biaya : Rp. 2.345.000.000,-
k. Kapasitas : 3.100 orang
l. Peruntukkan :
- Lantai 1 : a. Ruangan Shalat
b. Kantor Pengurus Masjid Al-Huda Tembilahan
c. Kantor MUI dan Perpustakaan
d. Tempat Wudhu dan MCK
- Lantai 2 : a. Ruang Shalat
b. TPA
- Jumlah Menara : 4 buah

Pengurus :
Ketua Umum : H. Kursanie
Sekretaris Umum : H. Jarkani Samad
Bendahara : H. Abdul Latief.

Sumber : Kemenag.go.id

Masjid Raya Andalas di Sumatera Barat

Masjid Raya Andalas (atau Andaleh dalam bahasa Minang) adalah sebuah masjid yang terletak di Jalan Andaleh Nomor 56, Kelurahan Andaleh, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, Sumatera Barat, Indonesia. Masjid berlantai dua ini berdiri di atas tanah seluas 1.200 meter persegi dengan warna hijau yang mendominasi dilengkapi satu menara di tenggara dan satu pintu gerbang di selatan

Masjid ini merupakan salah satu dari 608 unit tempat ibadah di Sumatera Barat yang rusak berat akibat gempa bumi berkekuatan 7,9 SR pada tahun 2009. Mengingat kondisi bangunan yang mengkhawatirkan, masjid ini kemudian dibongkar. Dengan demikian, aktivitas ibadah di masjid ini sempat terganggu selama sementara waktu, bahkan kegiatan Pesantren Ramadhan yang setiap tahunnya digelar terpaksa ditiadakan pada tahun 2010 dan 2011.

Pembangunan kembali masjid ini dilakukan tak lama kemudian, yang biayanya diperoleh dari bantuan masyarakat yang dikirimkan melalui Yayasan Satu Untuk Negeri tvOne.[4] Pembangunan kembali tersebut dimulai dengan peletakan batu pertama pada 29 April 2010, dan dapat diselesaikan dengan biaya sebesar Rp3,25 miliar pada tahun 2012 dengan diresmikan langsung oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring pada 9 Maret 2012.[wikipedia]

Daftar Alamat Masjid Masjid Di Provinsi Sumatera Barat

Berikut ini Daftar alamat masjid masjid di Provinsi Sumatera Barat yang sudah kami himpun, semoga di masa akan datang kami bisa terus memperbarui dan memperkaya data data yang bisa kami dokumentasikan :


  1. Masjid Agung Nurul Iman , Jl. Imam Bonjol dan Jl. Muhammad Thamrin, Kota Padang, Sumatera Barat.
  2. Masjid Agung Jabal Rahmah,JL. Raya Padang Indarung, Kec.Lubuk Kilangan, Kota Padang, Prov.Sumatera Barat
  3. Masjid Raya Sumatera Barat, Jalan Khatib Sulaiman Kota Padang, Sumatera Barat
  4. Masjid Raya Bayur,Jl. Jorong Kapalo, Koto Nagari Bayur, Kec. Tanjung Raya, Kab. Agam Sumatera barat
  5. Masjid Raya Andalas,Jalan Andaleh Nomor 56, Kelurahan Andaleh, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang
  6. Masjid Nurul Falah,Kec.Koto Tangah-Kota Padang, Sumatera Barat
  7. Masjid Al-Furqon ,Kel.Sungai Sapih, Kec.Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat
  8. Masjid Raya Ganting,Jalan Ganting Nomor 10, Kelurahan Ganting, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, Sumatera Barat

Masjid Raya Bayur , Sumatera Barat

Masjid Raya Bayur adalah salah satu masjid di Sumatera Barat yang terletak di Nagari Bayur, kecamatan Tanjung Raya, kabupaten Agam. Letak masjid yang dibangun pada awal abad ke-20 ini tidak begitu jauh dari jalan raya yang menghubungkan Lubuk Basung (Ibu kota kabupaten Agam) dengan kota Bukittinggi.
Melihat kondisi bangunan dan lingkungan masjid yang kian tidak tertata dengan baik, pada awal tahun 2000 masyarakat setempat berupaya merenovasi Masjid Raya Bayur secara menyeluruh. Gagasan-gagasan tersebut timbul dari Datuak Hakim Tantawi Pengusaha di Jakarta (Sumando orang Bayur) dan didukung oleh Bachtiar Chamsyah selaku Perantau Bayur di Jakarta yang sekaligus menjabat sebagai Menteri Sosial di masa pemerintahan Megawati Soekarnoputri. Selain Bachtiar, para perantau yang berasal dari Nagari Bayur juga ikut mengirimkan bantuan. Sehingga, dalam jangka waktu yang tidak begitu lama renovasi masjid dapat diselesaikan.

Renovasi yang dilakukan meliputi perbaikan bangunan masjid dan penataan lingkungan masjid, seperti penataan ruang terbuka, area parkir, dan taman masjid. Untuk menyukseskan renovasi tersebut, masyarakat terpaksa membongkar dua buah banguan permanen, yaitu gedung balerong (kantor pemerintahan Nagari Bayur) dan gedung sekolah dasar, yang kemudian dipindahkan ke tempat lain.

Arsitektur Masjid Raya Bayur
Arsitektur masjid ini memadukan bentuk pagoda yang ada di Thailand dan bentuk atap gonjong yang ada pada rumah adat Minangkabau (Rumah Gadang) Perpaduan tersebut dapat dilihat pada menara kecil yang terletak pada empat sudut atap bangunan utama. Sementara struktur atap dirancang mengikuti pola bangunan rumah panggung dengan atap bersusun tiga.

Pada ruang dalam masjid terpampang ornamen yang menarik. Pada bagian dinding masjid, misalnya, dilapisi dengan papan berukir yang dicat dengan komposisi warna bernuansa gelap. Begitu juga dengan tiang-tiang penyangga masjid. Tiang-tiang yang terbuat dari tembok tersebut dihiasi dengan warna lembut yang serasi dengan dinding masjid.

Pada bagian depan masjid, terdapat ruang terbuka yang dilengkapi dengan air mancur. Sementara pada bagian belakang ruangan masjid terdapat kolam ikan, dan di samping kiri dan kanan kolam ikan tersebut terdapat tempat wudu.

Masjid ini dilengkapi beberapa fasilitas pendukung, seperti tempat penitipan sandal dan sepatu, tempat wudu laki-laki dan perempuan, serta area parkir. Bagi jamaah perempuan yang ingin menunaikan ibadah salat, namun tidak membawa kelengkapannya, di dalam masjid sudah tersedia beberapa sarung dan mukena.

Masjid Raya Padang, Sumatera Barat

Masjid Raya Sumatera Barat atau juga dikenal sebagai Masjid Mahligai Minang adalah salah satu masjid terbesar di Indonesia yang terletak di Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, Sumatera Barat. Masjid yang pembangunannya masih dalam tahap pengerjaan ini merupakan masjid terbesar di Sumatera Barat.
Pembangunan masjid ini dimulai dengan peletakan batu pertama pada 21 Desember 2007 oleh Gubernur Sumatera Barat saat itu, Gamawan Fauzi. Pengerjaannya dilakukan dalam beberapa tahap yang terkendala karena hanya mengandalkan dana APBD Sumatera Barat.
Peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan masjid ini dilakukan pada 21 Desember 2007 oleh Gubernur Sumatera Barat saat itu, Gamawan Fauzi. Menurut rencana masjid ini akan memiliki tiga lantai yang diperkirakan dapat menampung sekitar 20.000 jamaah, yakni sekitar 15.000 jamaah di lantai dasar dan selebihnya di lantai dua dan tiga. Masjid ini dibangun di lahan seluas sekitar 40.000 meter persegi dengan luas bangunan utama kurang dari setengah luas lahan tersebut, yakni sekitar 18.000 meter persegi, sehingga menyisakan halaman yang luas. Di halaman tersebut akan dibuat pelataran, tempat parkir, taman, dan tempat evakuasi bila terjadi tsunami (shelter )

Pengerjaan pembangunan masjid ini dilakukan oleh PT Total Bangun Persada dalam beberapa tahap. Tiga tahap pertama telah selesai dikerjakan, mulai dari pekerjaan persiapan, pengurukan tanah, dan pemasangan struktur bangunan, kemudian dilanjutkan dengan pengerjaan ruang salat dan tempat wudu, hingga pemasangan keramik pada lantai dan ukiran sekaligus kaligrafi pada dinding bagian luar (fasad). Tiga tahap pembangunan tersebut masing-masing menghabiskan biaya sebesar Rp.103,871 miliar (2008 dan 2009), Rp.15,288 miliar (2010), dan Rp. 31 miliar (2011).
Sejak tahun 2012 pelaksanaan pembangunan masjid ini dilakukan dengan sistem tahun jamak.Pada pertengahan tahun 2012, pengerjaan pembangunan telah memasuki tahap keempat. Pada tahap tersebut telah dikucurkan anggaran sebesar Rp. 25,5 miliar untuk menyelesaikan pengerjaan shelter dan tempat parkir, yang ditargetkan selesai pada akhir tahun 2012. Selanjutnya pada tahun 2013 dilanjutkan dengan pembangunan lanskap dan pemasangan kubah. Setelah itu, pada tahun 2014 juga akan dibangun empat menara masing-masing setinggi 100 meter.
Sementara itu, biaya pengerjaan pembangunan masjid yang diperkirakan membutuhkan biaya mencapai Rp. 500 miliar lebih ini hingga saat ini seluruhnya diambil dari APBD provinsi Sumatera Barat, sedangkan bantuan dari pihak lain belum mengalir; Kerajaan Arab Saudi pernah mengirim bantuan sebesar Rp.500 miliar, namun karena terjadi gempa bumi pada tahun 2009 bantuan itu kemudian dipergunakan untuk keperluan rehabilitasi dan rekonstruksi di Sumatera Barat. 

Arsitektur masjid ini merupakan hasil rancangan Rizal Muslimin, pemenang sayembara desain Masjid Raya Sumatera Barat yang diikuti oleh 323 arsitek dari berbagai negara pada tahun 2007. Secara umum, arsitektur masjid ini mengikutitipologi arsitektur Minangkabau dengan ciri bangunan berbentuk gonjong, hingga penggunaan ukiran Minang sekaligus kaligrafi pada dinding bagian luar. Selain itu, arsitektur masjid ini juga menggambarkan kejadian peletakan batu Hajar Aswad dengan menggunakan kain yang dibawa oleh empat orang perwakilan suku di Mekkah pada setiap sudutnya 

Daftar Alamat Masjid Masjid di Sumatera Utara

Berikut ini daftar sementara alamat masjid masjid di wilayah Provinsi yang berhasil kami himpun, dan untuk memperkaya data yang ada ,maka kami akan berusaha memperbarui dengan terus menghimpun data data baru,dan kami juga berharap partisipasi umat islam untuk menyampaikan data data masjid yang belum masuk
  1. Masjid Ad-Dakwah , Alamat Jl.Silimbat-Parsoburan Kec: Silaen kab : Toba samosir
  2. Masjid Al-Hidayah, Alamat Jl.Prof.Dr. Midian Sirait Kec : Porsea, Kab : Toba Samosir
  3. Masjid Al Hadonah, Alamatjl.Masjid 01 Napitupulu Bagasan, Kec Balige, Kab Toba Samosir
  4. Masjid Raya Sultan Ahmadsyah, Alamat Jl. Masjid Kel. Indra Sakti Kec. Tanjung Balai Selatan. Kab: Kota Tanjung Balai
  5. Masjid Al-Mashum, Alamat Jl Sisingamangaraja, Kel. Mesjid, Kec. Medan Maimun, Kota Medan
  6. Masjid Al-Abror,Alamat Jl. Mesjid Raya Baru WEK IV Kec: Padangsidimpuan Utara Kab : Padang Sidimpuan
  7. Masjid Al-Ikhlash, Alamat Dusun I Desa Bulan-Bulan Kec : Lima Puluh, Kab : Batu bara
  8. Masjid Besar Lima Puluh, Alamat kelurahan Lima puluh Kota, kec : Sei Suka, Kab : Batu Bara

Daftar Alamat Masjid di Provinsi Aceh

Berikut ini Daftar Alamat Masjid Masjid di Provinsi Aceh

1. Masjid Raya Al-Waliyyah, Alamat : Jln. Ceumpeudak Pucok Alue. Ceumpeudak Cot Girek
2. Masjid Raya Al-Munawwarah, Alamat : Gampong Alur Mas Kabupaten Aceh selatan kabupaten Kluet Utara
3. Masjid Raya Baiturahman, Alamat : Jln.Muhammad Jam no.1, Kota Banda Aceh
4. Masjid Agung Tamiang Aceh, Alamat : Jln. Medan B.Aceh Km. 225
5. Masjid Baitul Makmur, Alamat : Jln. Imam Bonjol No. 100 Meulaboh
6. Masjid Ruhama, Alamat Jl. Lebe Kader No. 2 Takengon
7. Masjid Al-Falah, Jl. Tgk. Chik Ditiro
8. Masjid Islamic Centre, Alamat Jln. T. Hamzah Bendahara - Simpang IV Lhokseumawe
9. Masjid Al-Makmur Lampriet, Alamat Jl. Taman Ratu Syafaruddin / Muhammad Daud Beureuh, Lampriet, Banda Aceh 24452
10. Masjid Agung, Alamat Jln Bireuen - Takengon Km.1 Bireuen
11. Masjid Ash-Shalihin, Alamat Jl.Kuta Panjang Kelurahan Kota Blangkejeren
12. Masjid Istiqomah Tapak Tuan, Alamat Jl. Jend. Sudirman No. Gampong. Padang
13. Masjid Darus Shalihin, Alaat Jl. Medan - Banda Aceh Gampong Jawa Kecamatan Idi Rayeuk Kab. Aceh Timur 14. Masjid Darul Falah, Alamat Jl. Jalan Jenderal Ahmad Yani Gampong Peukan Langsa
15. Masjdi Al-Huda, Alamat Gampong Paloh Kecamatan Tanah Pasir Kabupaten Aceh Utara
16. Masjid Al-Munawaroh, Alamat Gampong Suak Timah Kec : Sama Tiga Kab : Aceh Barat
17.