Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

Masjid At-Tin Taman Mini Jakarta

Masjid At-Tin adalah satu di antara dua masjid megah di kawasan TMII. Masjid lainnya adalah Masjid Diponegoro. Masjid yang mulai dibangun pada April 1997 ini menempati area tanah seluas 70.000 meter persegi dengan kapasitas sekitar 9.000 orang di dalam masjid dan 1.850 orang di selasar tertutup dan plaza. Pembangunan Masjid At-Tin selesai pada tahun 1999 dan dibuka secara umum pada tanggal 26 November 1999. Alamat Lengkapnya Ada Di Jalan Raya Taman Mini Pintu 1 Taman Mini Kelurahan Pinang Ranti, Makasar, Jakarta Timur 13560

MASJID AT-TIN
Nama At-Tin diambil dari salah satu surah dalam Al-Quran yang merupakan wahyu ke-27 yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW, atau surah ke-95 dalam urutan penulisan Al-Qur‘an. Nama surah itu adalah At-Tin yang berarti sejenis buah yang sangat manis, lezat, dan penuh gizi. Buah ini dipercayai mempunyai manfaat yang banyak, baik sebelum matang maupun sesudahnya.

Selain diinspirasi dari surah Al-Qur‘an, pemberian nama At-Tin sebenarnya juga merupakan upaya untuk mengenang jasa-jasa istri mantan Presiden Soeharto yang bernama Ibu Tien atau lengkapnya Hj. Fatimah Siti Hartinah Soeharto. Memang, pendirian Masjid At-Tin sejak awal merupakan usaha anak-cucu Presiden Soeharto untuk mengenang ibu/nenek mereka. Pendirian masjid ini terlaksana berkat bantuan Yayasan Ibu Tien Soeharto yang merupakan yayasan milik anak-keturunan Ibu Tien Soeharto. Oleh karenanya, nama At-Tin tentu dimaksudkan sebagai doa dan perwujudan rasa cinta yang tulus dari anak/cucu kepada ibu/nenek mereka
Arsitektur
Arsitektur Masjid At-Tin mempunyai keunikan dan kekhasan tersendiri, baik dari segi arsitektur bangunan, hiasan ornamen, maupun desain dalam dan luar ruangannya. Arsitek masjid ini adalah Fauzan Noe'man dan Ahmad Noe'man. Fauzan Noe'man merupakan anak dari Ahmad Noe'man.
Gaya arsitektur masjid ini berusaha menonjolkan lekukan bentuk anak panah pada dinding di hampir semua sudut dan ornamen yang menghiasinya. Lekukan anak panah ini terlihat secara jelas pada bagian muka masjid dari arah pintu masuk. Dengan begitu, wisatawan yang berkunjung ke masjid ini akan dapat melihat dengan leluasa lekukan-lekukan panah yang ditampilkan, sebelum memasuki ruang dalam masjid.

Eksterior
Pada bagian muka (sisi timur) masjid, terdapat taman luas dengan pepohonan rindang yang mengitari plaza berbentuk lingkaran yang terbuat dari marmer berwarna krem. Dari plaza menuju arah muka masjid, terdapat jalan yang terletak di kanan dan kiri plaza. Bagian muka masjid tersebut secara terinci menampilkan tiga lekukan anak panah yang bagian tengahnya didominasi dengan warna abu-abu. Motif yang ditampilkan pada lekukan berbentuk anak panah ini sepintas menyerupai tebaran bunga, karena dihiasi oleh sejumlah gambar bermotif bunga di tengahnya. Selain tiga lekukan berbentuk anak panah tersebut, juga terdapat dua lekukan anak panah lagi (ukurannya lebih kecil) pada sisi kanan dan kiri dinding masjid.
Selain itu juga tampak dari bagian muka masjid sebuah kubah utama yang diapit oleh empat kubah kecil. Pada bangunan kubah-kubah kecil ini juga dipenuhi lekukan berbentuk anak panah yang lebih tinggi dan runcing.

Mencoloknya lekukan, konstruksi, dan ornamen yang berbentuk anak panah pada tiap bagian masjid ini memberikan gambaran bahwa rancang bangun masjid At-Tin didesain se-minimal mungkin untuk mengekspos elemen estetis terputus dengan mengedepankan gerakan geometris yang terus bersambung seperti yang tergambar dalam sudut masing-masing anak panah yang saling berhubungan. Bentuk anak panah ini memiliki makna agar umat manusia tidak pernah berhenti mensyukuri nikmat Allah—seperti terlukis dalam bentuk anak panah—mulai dari titik awal hingga titik akhir.

Interior
Kekhasan lain yang terdapat pada masjid ini adalah pintu masuk utama masjid yang terdiri dari dua dinding tanpa daun pintu. Pintu masuk ini juga berbentuk seperti anak panah. Setelah melewati pintu utama, pengunjung akan disuguhi kolam air mancur yang pada bagian pinggirnya dapat berfungsi sebagai tempat duduk para pengunjung. Kolam air mancur dengan keramik warna hijau muda ini juga berbentuk seperti anak panah. Dari arah pintu utama, pengunjung dengan mudah dapat menuju ke arah lantai dasar yang digunakan untuk ruang serbaguna, tempat wudu (pria/wanita), ruang mushaf, ruang rapat kecil, perpustakaan, ruang audiovisual, dan ruang internet. Selain ruang-ruang tertutup ini, area lantai dasar masjid ini dikelilingi teras terbuka di mana para pengunjung dapat dengan leluasa melihat ke arah taman.
Lantai dasar masjid ini dikelilingi oleh tangga-tangga sebagai jalan menuju ke arah lantai satu. Melalui pintu utama, para pengunjung dapat menggunakan dua tangga utama dan sebuah eskalator pada sisi kanan menuju lantai satu. Alternatif lainnya, pengunjung juga dapat menggunakan empat tangga lain yang terdapat di sudut kanan kiri masjid serta satu tangga di bagian belakang masjid.
Ruang utama untuk salat terletak di lantai satu. Di ruang ini tampak tujuh lekukan berbentuk anak panah dari keramik warna hijau tua pada bagian dindingnya. Bagian tengahnya difungsikan sebagai mihrab dan mimbar. Pada bagian sisi kanan dan kiri ruangan yang berhubungan dengan ruang teras samping ini dibatasi oleh penyekat kayu ukir yang setiap saat bisa dibongkar-pasang. Pengunjung yang berada di ruangan ini dapat melihat kerangka kubah dari dalam. Saat pengunjung mengamati bagian dalam kubah akan tampak lempengan baja tipis pada ketinggian tertentu dengan warna dasar hijau yang dikelilingi oleh kaca patri berwarna hijau-merah-kuning dan biru. Sehingga, saat matahari bersinar, cahaya yang masuk akan dipantulkan dan membentuk kombinasi warna yang mengagumkan.

Kaligrafi
Berbeda dengan masjid pada umumnya, penggunaan ornamen kaligrafi dalam masjid ini sangat minim. Ornamen kaligrafi hanya nampak pada dinding bagian atas ruang salat utama (lantai satu) dan sepanjang dinding pada lekukan anak panah di area mihrab dan mimbar. Dengan menggunakan cat warna hijau muda, tampak tulisan ayat-ayat Al-Qur‘an mengitari dinding ruang salat utama yang juga bisa dilihat dari arah mezanin.
Secara umum, masjid At-Tin dikelilingi oleh koridor-koridor dengan atap yang dibentuk seperti anak panah. Koridor ini merupakan sarana bagi para pengunjung berjalan kaki menuju gedung utama masjid. Selain itu, koridor ini juga sering digunakan untuk salat, saat jemaah tidak lagi tertampung di dalam masjid. Mungkin, tujuan lain dari pembuatan koridor ini juga untuk menghindari rusaknya taman akibat diinjak oleh pengunjung. Taman ini memang banyak ditumbuhi oleh berbagai jenis tanaman, seperti palm, tanaman merambat, dan rerumputan. Sekilas taman ini nampak seperti padang rumput yang terpetak-petak karena diberi jalur setapak bagi pejalan kaki. Di area rerumputan ini juga terdapat empat kolam air mancur berbentuk bunga mekar yang pada bagian dindingnya bisa difungsikan sebagai kran tempat wudu.

Fasilitas Pendukung
Masjid At-Tin memiliki berbagai fasilitas pendukung seperti warung makan, ruang rekreasi/TV, ruang internet, perpustakaan, rumah dinas Imam Besar, mess muazin, rumah penjaga, ruang kegiatan, ruang kelas, dan lahan parkir yang dapat menampung 100 sepeda motor, 8 bus, dan 350 mobil. Di samping fasilitas-fasilitas pendukung, masjid ini juga sering menyelenggarakan kegiatan seperti diskusi tema khutbah sebelum salat jumat, kuliah Ahad Duha berbentuk cermah dan diskusi, pengajian tafsir Al-qur‘an (Tafsir Jalalain) setiap Minggu pagi (08.00—11.00 WIB), pengajian karyawan, seminar keagaman, tablig akbar, dan peringatan hari besar Islam

Masjid Agung Natuna Kepulauan Riau

Masjid Natuna Tampak Depan
Masjid Agung Natuna merupakan sebuah masjid yang terletak di Kabupaten Natuna, Indonesia. Masjid ini dibangun pada tahun 2007 dan selesai pada tahun 2009. Masjid ini merupakan bagian dari kompleks Gerbang Utaraku, kawasan yang dipersiapkan sebagai pusat pemerintahan dan bisnis Natuna di wilayah Ranai yang menjadi ibukota Kabupaten Natuna, tidak hanya itu, masjid juga menjadi titik pusat kawasan tersebut

Sejarah
Proses pembangunan ini telah direncanakan sejak tanggal 13 Agustus 2006, atau sejak bupati kabupaten Natuna Drs. H. Daeng Rusnadi, M.Si menduduki jabatannya sebagai bupati Kabupaten Natuna. Setelah melalui beberapa proses perencanaan yang disesuaikan dengan arti filosofi dari pembangunan Masjid Raya dan Komplek Gerbang Utaraku, proses pembangunan fisik dimulai dengan peletakan batu pertama pada tanggal 04 Mei 2007.

Masjid Raya Natuna merupakan titik utama komplek Gerbang Utaraku. Kemudian dilanjutkan pada proses pembangunan lanjutan tahap I B, pembangunan fasilitas lain akan dilaksanakan, diantaranya pembangunan Masjid Laut, Pusat perekonomian, pasar, terminal, Asrama STAI, Gedung Olah raga, dan lain sebagainya. Komplek gerbang utaraku merupakan implementasi pembangunan 5 (lima) pilar utama, yaitu Keimanan, Kesehatan, Pendidikan, Perekonomian dan hukum. Tahapan Tahap I A. Diresmikan penggunaan fasilitasnya oleh Bupati Kabupaten Natuna Drs.H Daeng Rusnadi,M.S pada hari Jum’at 4 April 2009.

Arsitektur
Tampak Dalam Masjid Natuna
Ornamen Masjid Agung Natuna mengambil insfirasi dari Al’quran, karena Alطquran merupakan sumber dari segala hukum. Dengan bentuk kubah mirip kubah Taj Mahal di India dan menjadi masjid terbesar dan dan termegah di Propinsi Kepulauan Riau. Masjid yang cukup megah dan luas. Satu barisan shaf di dalam masjid ini cukup untuk memuat hingga 180 jemaah.
Masjid Natuna, telah jelas-jelas bahwa lambang dan makna dekoratif yang muncul menunjukkan bahwa gedung tersebut adalah bangunan Islami. Masjid Raya Natuna memiliki ruang dalam yang sangat luas. Bagian tengahnya diterangi oleh cahaya alami yang bersumber dari kubah masjid. Bagian tepi pada lantai satu yang terteduhi lantai dua cukup gelap. Untuk meneranginya dibuat bukaan berupa karawang yang terletak di atas pintu masuk yang memilliki dimensi cukup besar. Terasa bahwa ruang remang pada bagian ini diterangi oleh sedikit cahaya dari atas layaknya ruang-ruang gotik. Dari segi bentuk, pintu masuk ini memiliki geometrika lengkung yang bagian atasnya lancip. Dua pintu utama yang terletak di sisi kiri dan kanan gedung menghadap ke kiblat juga mengarahkan nuansa ruang menjadi terfokus pada sumber cahaya Ilahi.
Latar belakang mihrab Masjid Raya di Natuna dibuat dari bahan kayu dengan bentuk yang cukup besar. Geometrika nya juga terbentuk dari lengkung atau busur dengan pertemuan lancip di bagian tengah/atasnya. Latar mihrab tersebut juga didesain dengan labirin busur lancip hingga semakin memperkuat kesan gotik-nya

Masjid Raya Al-Amanah Kavling Polri Jelambar

       
Masjid Raya Al-Amanah yang beralamat Jl. Amanah no 1 RW 10, Kelurahan Wijaya Kusuma Kecamatan Grogol Petamburan yang di halaman depan terdapat TK Al-Amanah Mathlaul Anwar, sedangkan di bagian belakang berdiri gedung Universitas Mathlaul Anwar Jakarta, Masjid yang berdiri di lahan tanah yang secara keseluruhannya ada 3500 meter persegi, Dengan luas bangunan masjid 15 M X 15 M ditambah teras menjadi 20 M X 20 M, sehingga bisa menampung sekitar 700 jamaah.
        Sejarah berdirinya berdasarkan buku petunjuk administrasi Masjid Al-Amanah yang ditulis oleh Drs H.Amanat Nuryosudarmo, bermula dari tahun 1975 sesudah Hari raya Idul Fitri ,Ketua Team Kerja urusan Tanah Mabak(Mabes Polri) Brigadir Jendral A.Wiranto puspo atmojo, SH, setelah mengadakan rapat pada tanggal 30 Oktober 1975 tentang rencana pelaksanaan pembangunan tempat Ibadah (Masjid) yang terletak di Komplek Kav Polri Jelambar atas permohonan umat Islam jelambar, maka Polri mengeluarkan keputusan [No Pol :UTK/168/XI/1975], mengangkat Brigadir Jend polisi Amanat Nuryosudarmo sebagai ketua dan Bp Soechaemi sebagai sekretaris panitia pembangunan masjid jelambar, untuk memudahkan gerak usaha panitia pembangunan masjid maka dengan segera dibentuk badan hukum yaitu “YAYASAN AL AMANAH” dengan akte notaries : Muhammad Said tajudin, Jl Kerajinan 19 Jakarta no 100 pada tanggal 1978. Dan tanah yang disediakan secara cuma-Cuma oleh team tanah  Polri dan telah ditunjuk KAV POLRI di Blok D (yang kini berdiri SMA Swasta Dharma Jaya), namun setelah panitia pembangunan mempelajari gambar Rencana Tata Kota Jelambar dan situasinya, maka panitia mengajukan permohonan kepada team polri agar tanah masjid  di Blok D ditukar dengan tanah yang lebih strategis letaknya dan lebih luas, maka disetujui oleh kedua belah pihak,yaitu Tanah tempat Masjid Raya Al-Amanah sekarang ini. 
         Pada rencana pelaksaaan pembangunan masjid, panitia menganggarkan dengan perkiraan  anggaran Rp.180.000.000,_(seratus delapan puluh juta rupiah), namun rupanya panitia kesulitan untuk merealisasikan adanya dana sebanyak itu,paling mampu hanya 15%,yaitu 12.000.000,_(dua belas juta rupiah), oleh karena itu panitia memohon bantuan Pemerintah DKI Jaya, Alhamdulillah gayung bersambut Pemerintah DKI Jaya siap membantu dengan syarat gambar bangunan mengikuti model yang ditentukan oleh pemerintah DKI pada saat itu. Dan akhirnya disetujui oleh kedua belah pihak, dana pembangunan Masjid akhirnya dimasukan dalam anggaran pemerintah DKI jaya tahun 1981/1982.
       Beberapa kegiatan masjid diluar untuk pelaksanaan sholat rawatib, adalah pengajian Al-Qur’an (membaca dan setor hafalan Al-Quran yang diikuti oleh bapak bapak pada setiap hari rabu malam ba’da sholat Isya’ yang dibimbing langsung oleh Ketua Masjid raya Al-Amanah,yaitu H Uding Rafiudin, Kuliah Subuh yang dilaksanakan pada setiap Ahad setelah melaksanakan sholat shubuh berjamaah dengan penceramah dari Korps Mubaligh Jakarta, pengajian ibu ibu yang dilaksanakan pada setiap hari Sabtu dan Ahad dengan pembimbing Ustadzah Suryati SPdi, dan pengajian anak anak yang dilaksanakan pada setiap hari senin hingga hari jum’at, ba’da Sholat Maghrib hingga pukul 20.00WIB, dengan peserta kurang lebih sekitar 50 anak dan dibimbing oleh 6 guru. Demikianlah, sekilas tentang profil Masjid Raya Al Amanah yang bersumber dari Makalah ust Tamami yang merupakan Ketua Seksi Dakwah Masjid Raya Al-Amanah semoga apa yang kami sampaikan ini bermanfaat 

Masjid Agung An-Nur Riau

Masjid Agung An Nur merupakan sebuah masjid yang terletak di Pekanbaru, Indonesia. Masjid ini dibangun pada tahun 1963 dan selesai pada tahun 1968. Masjid yang di ibukota Provinsi Riau, Pekanbaru tersebut saat ini merupakan salah satu yang termegah di Indonesia. Dilihat dari sisi bangunannya, masjid banyak mendapat pengaruh dari gaya arsitektur Melayu, Turki, Arab dan India.

Sejarah
Mesjid Agung An Nur berdiri tanggal 27 Rajab 1388 H atau bertepatan dengan tanggal 19 Oktober 1968, Masjid Agung An-Nur diresmikan oleh Arifin Ahmad, Gubernur Riau waktu itu dan tahun 2000 pada masa gubernur Saleh Djasit mesjid ini direnovasi secara besar-besaran.
Masjid Agung An-Nur Riau yang kita saksikan begitu megah saat ini bukanlah bangunan asli hasil pembangunan tahun 1966 dan diresmikan tahun 1968. Tapi merupakan bangunan hasil renovasi total dan pembangunan kembali dari masjid Agung An-Nur yang lama. Di pergantian milenium tahun 2000 lalu, pada saat Riau dibawah kepemimpinan gubernur Shaleh Djasit, Masjid Agung An-Nur yang lama di rombak total ke bentuknya saat ini.
Dari pembangunan tahun 2000 tersebut luas lahan masjid ini bertambah tiga kali lipat dari sebelumnya yang hanya seluas 4 hektar menjadi 12.6 hektar. Luasnya lahan masjid baru ini memberikan keleluasaan bagi penyediakan lahan terbuka untuk publik Pekanbaru termasuk di dalamnya kawasan taman nan hijau dan lahan parkir yang begitu luas.
Dalam sejarahnya Masjid Agung An-Nur pernah menjadi kampus bagi Fakultas Ushuluddin Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Syarif Kasim Pekabaru di awal pendiriannya hingga tahun 1973. IAIN Sultan Syarif Kasim kini Menjadi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN SUSKA) Pekanbaru

Arsitektur
Masjid Agung An-Nur Riau di Pekanbaru ini disebut disebut sebagai Taj Mahalnya propinsi Riau. Bila kita amati arsitektural masjid Agung An-Nur memang memiliki beberapa kesamaan dengan Taj Mahal. Arsitektur Masjid ini dirancang oleh Ir. Roseno dengan ukuran 50 X 50 m yang terletak dalam satu pekarangan yang luasnya 400 X 200 m. Kapasitas masjid dapat menampung sekitar 4.500 orang jamaah. Bangunan masjid terdiri dari tiga tingkat. Tingkat atas digunakan untuk sholat, dan tingkat bawah untuk kantor dan ruang pertemuan.
Masjid ini mempunyai tiga buah tangga, 1 buah tangga di bagian muka dan 2 buah tangga di bagian samping. Di bagian atas terdiri dari 13 buah pintu dan bagian bawah terdiri dari 4 buah pintu dan mempunyai kamar-kamar yang besar dan sebuah aula. Sedangkan tulisan kaligrafi yang terdapat dalam ruangan masjid ini ditulis oleh seorang kaligrafer bernama Azhari Nur dari Jakarta yang ditulis pada tahun 1970.
Lantai bawah masjid merupakan sekretariat pengurus masjid, manajemen, remaja masjid serta ruang ruang kelas tempat pelaksanaan pendidikan Islam. Masjid Agung An-Nur Riau juga dilengkapi dengan eskalator penghubung antara lantai satu dan dua. Di halaman masjid Agung An-Nur Riau merupakan lapangan luas
Masjid Agung An Nur juga dilengkapi oleh bermacam fasilitas seperti pendidikan mulai dari playgrup, TK, SD, SMP & SMA, perpustakaan yang lengkap dan fasiltas lain seperti aula dan ruang pertemuan, ruand kelas dan ruang ruang kantor.[wikipedia]

Masjid Baitul Izzah Bengkulu

Masjid yang di bangun tahun 1977 pada masa pemerintahan Drs. A. Chalik (Gubernur Pop. Bengkulu) menempati lahan seluas 1225 m2. Pembangunan Masjid selesai tahun 1979 dan diresmikan oleh wakil presiden H. Adam Malik. Tahun 1995 dilakukan pemugaran oleh Gubernur Drs. Aziz Ahmad dengan memeperluas menjadi 1600 m2. dan Sekaligus merubah nama dari Masdjid Raya Bengkulu menjadi masdjid Baitul Izzah. Arsitektur masjid mempunyai tiang bulat dan persegi empat serta pagar setinggi 1 M dari kaca dengan corak perpaduan Timurtengah dan Indonesia. Masjid ini berlokasi di Bengkulu dan menjadi masjid Propinsi.

Masjid Agung Al-Falah Jambi, Masjid Seribu Tiang

Masjid Agung Al-Falah merupakan masjid terbesar di JambiIndonesia. Masjid ini juga dikenal sebagai Masjid 1000 Tiang, meskipun jumlah tiangnya hanya 256 buah. Lokasi di mana Masjid Agung ini berdiri, dulunya merupakan pusat kerajaan Melayu Jambi. Namun pada tahun 1885 dikuasai penjajah Belanda dan dijadikan pusat pemerintahan dan benteng Belanda. Hal tersebut sejalan dengan penjelasan sejarawan Jambi, Junaidi T Nur, bahwa Mesjid Agung Al falah ini berdiri di lahan bekas Istana Tanah Pilih dari Sultan Thaha Syaifudin.
Pada tahun 1858, Saat terpilih menjadi sultan di kesultanan Jambi, Sultan Thaha Syaifudin membatalkan semua perjanjian yang dibuat Belanda dengan mendiang ayahandanya, karena perjanjian tersebut sangat merugikan kesultanan Jambi. Saat itu, Balanda sangat marah dan mengancam akan menyerang Istana.
Namun Sultan Thaha justru lebih dulu menyerang pos Belanda di daerah Kumpe. Pasukan Belanda melakukan serangan balasan dan membumi hanguskan komplek Istana Tanah Pilih. Tahun 1906 lokasi bekas istana sultan tersebut dijadikan asrama tentara Belanda yang digunakan sebagai tempat pemerintahan Keresidenan. Di era kemerdekaan sampai tahun 1970an lokasi tersebut masih difungsikan sebagai asrama TNI di Jambi.
Pada awalnya gagasan pembangunan Masjid Agung sudah mengemuka tahun 1960-an oleh pemerintah Jambi, beserta tokoh tokoh Islam Jambi. Namun, proses pembangunan masjid baru dimulai tahun 1971. Para alim ulama dan tokoh tokoh Jambi diantaranya M.O. Bafaddal, H Hanafi, Nurdin Hamzah, dan gubernur saat itu (Tambunan atau Nur Admadibrata ) Sepakat untuk membangun masjid agung di lokasi tersebut dan dan merelokasi asrama TNI. Salah satu alasan kenapa masjid yang dibangun di lokasi bersejarah tersebut adalah mengacu pada lambang Jambi yang terdapat gambar Masjid. Masjid Agung Al-falah kota Jambi diresmikan penggunaannya oleh presiden Soeharto pada tanggal 29 September 1980.
Masjid kebanggaan warga Jambi ini berdiri diatas lahan seluas lebih dari 26.890 M2 atau lebih dari 2,7 Hektar, sedangkan luas bangunan masjid adalah 6.400 M2 dengan ukuran 80m x 80m, dan mampu menampung 10 ribu jamaah sekaligus. Sedari awal bangunan Masjid Agung hingga sekarang tetap dipertahankan sesuai bentuk awalnya. Kalaupun ada renovasi hanya penambahan ukiran pada mihrab imam, tanpa merombak bentuk awal Masjid. dan mengganti pembungkus tiang di tahun 2008.
Masjid agung Al-Falah kota Jambi dibangun lengkap dengan kubah besar dan menara yang menjulang. Keseluruhan bangunan masjid menggunakan material beton bertulang. Bila dipandang sepintas lalu, jejeran tiang tiang masjid berwarna putih yang ramping di masjid ini memiliki kemiripan dengan tiang tiang masjid agung kota Roma, Italia yang dibangun jauh lebih belakangan dibanding dengan masjid Al-Falah di Jambi ini.
Jejeran ratusan tiang di masjid Al-Falah ini terbagi dua bentuk. Bentuk pertama merupakan tiang tiang lansing bewarna putih dengan tiga sulur ke atas menyanggah sekeliling atap masjid sebelah luar. Dan bentuk tiang kedua berupa tiang tiang silinder berbalut tembaga menopang struktur kubah di area tengah bangunan masjid. penggunaan material tembaga untuk menutup tiang tiang silinder ini memberikan kesan antik namun megah pada interior masjid Al-Falah.
Di rancang sebagai bangunan terbuka tanpa pintu dan jendela, benar benar sejalan dengan nama masjid ini. Al-Falah dalam bahasa arab bila di Indonesiakan menjadi Kemenangan, menang bermakna memiliki kebebasan tanpa kungkungan, mungkin filosofi itu juga yang menjadi dasar dibangunnya masjid ini dengan konsep terbuka. Agar muslim manapun bebas masuk dan melaksanakan ibadah di masjid ini.
Sementara bagian dalam kubah di hias dengan ornamen garis garis simetris mirip dengan garis garis lintang dan garis bujur bola bumi. Ring besar di bawah kubah di hias dengan lukisan kaligrafi Al-Qur’an bewarna emas. Sebuah lampu gantung berukuran sangat besar berbahan tembaga memperindah tampilan ruang di bawah kubah.

Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjung Binai Sumatera Utara

Indonesia memiliki banyak masjid-masjid tua bersejarah peninggalan kesultanan-kesultanan Islam yang pernah menguasai Nusantara. Salah satu warisan bersejarah itu adalah Masjid Raya Sultan Ahmadsyah di Kota Tanjung Binai, Sumatera Utara. Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjung Balai didirikan mulai pada tahun 1884 dan selesai dibangun pada tahun 1886. Penggagas berdirinya Masjid Raya Sultan Ahmadsyah adalah Sultan Ahmadsyah yang bergelar Marhum Maharaja Indrasakti yang memerintah Kesultanan Asahan mulai tahun 1854 hingga 1888.

Ciri utama dari masjid ini adalah bangunan Melayu. Hal ini terlihat dari bentuk bangunannya yang berbentuk persegi panjang seperti kebanyakan bangunan Melayu. Pada pinggir atapnya juga terdapat ciri khas bangunan Melayu yaitu ukiran pucuk rebung.
Keunikan masjid ini adalah tidak terdapat pilar di bagian dalam masjid yang bermakna Allah tidak memerlukan penyangga untuk berdiri. Padahal bangunan dasar dari masjid ini hampir tidak memakai semen melainkan pasir dan tanah liat serta batu bata. Keunikan lainnya yaitu kubah masjid tidak terletak di tengah bangunan melainkan di bagian depan masjid sehingga jika dilihat dari depan, masjid ini terkesan biasa namun menyembunyikan keunikannya.
 Di dalam masjid terdapat mimbar yang berornamen Cina. Mimbar ini didatangkan langsung oleh Sultan dari Cina. selain itu juga ada tangga putar untuk naik ke menara masjid yang terletak tepat di belakang mimbar.
Bangunan utama Masjid Raya Sultan Ahmadsyah belum pernah direnovasi. Namun bangunan pendukungnya banyak yang diganti maupun ditambah. Seperti tempat wudhu’ yang berbentuk qullah dan dapur masjid diganti dengan pendopo. Sedangkan gerbang dan menara utamanya dibangun kemudian sehingga masjid ini memiliki dua menara. Di depan masjid juga terdapat kuburan massal korban revolusi sosial maret 1946. Sedangkan di belakang masjid terdapat kuburan keluarga imam dan nazir masjid. Saat ini di pendopo masjid juga terdapat tiga buah meriam peninggalan Kesultanan Asahan.
Fungsi didirikannya Masjid Raya Sultan Ahmadsyah bukan hanya sebagai sebuah tempat ibadah, tetapi juga merupakan tempat strategis bagi pengembangan masyarakat, Selain sebagai tempat ritual, masjid juga sebagai pusat tumbuh dan perkembangnya kebudayaan Islam.  Di dalamnya dilakukan penyusunan strategi, perencanaan dan aksi di dalam kerangka penyebaran Islam di tengah kehidupan masyarakat. Selain sebagai kepentingan ritual ibadah keagamaan, juga memiliki kepentingan politis untuk melawan hegemoni penjajah.

Fungsi Masjid Raya Ahmadsyah saat ini adalah sebagai tempat ibadah masyarakat muslim Tanjung Balai. Selain itu, di Masjid Raya Ahmadsyah juga dilakukan pengajian-pengajian mingguan, pengajian bulan ramadhan, pengajian remaja masjid dan pengajian anak-anak. Masjid Raya Ahmadsyah juga berfungsi sebagai tempat latihan manasiq haji serta tempat sosial kemasyarakatan seperti pemotongan hewan kurban dan khitanan massal serta penyolatan jenazah .
Sayangnya kini tak banyak yang mengetahui sejarah besar yang dimiliki oleh masjid ini. bahkan termasuk masyarakat Tanjung Balai sendiri. Apalagi saksi-saksi hidup masjid ini semakin berkurang. Padahal masjid ini lebih dahulu ada dari pada Masjid Raya Al-Mahsun di Medan maupun Masjid Raya Sulaimaniyah di Serdang. Oleh karena itu sudah seharusnya remaja-remaja Tanjung Balai melestarikan sejarah negerinya agar tak hilang di tengah arus jaman.

Masjid Agung Al-Munawaroh Kota Jantho Aceh Besar

BILA Anda berkunjung ke Kota Jantho, ibu kota Kabupaten Aceh Besar, rasanya belum sempurna jika tak menyempatkan diri shalat di Masjid Agung Al-Munawwarah yang berada di tengah Kota Jantho. Pembangunan masjid itu dimulai pada Jumat, 17 Agustus 1984 yang ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Gubernur Aceh saat itu, Hadi Thayeb, Bupati Aceh Besar Drs HM Zein Hasjmy, Ketua DPRD Aceh Besar Zakaria R Alwy, dan Tgk Abd Djalil Ibrahim selaku ketua panitia pembangunan masjid tersebut.


Luas Masjid Agung Al-Munawwarah adalah 40x42 meter persegi. Pada awalnya, dana yang dianggarkan untuk pembangunan masjid itu Rp 450 juta. Berkat dukungan berbagai pihak, pada Jumat, 22 April 1988, masjid ini diresmikan pemakaiannya oleh Bupati Aceh Besar Drs HM Zein Hasjmy,” jelas Imam Besar Masjid Agung Al-Munawwarah, Tgk Zaini SH MH, kepada Serambi, beberapa hari lalu.



Menurutnya, rasa suka cita menyelimuti prosesi peresmian masjid itu yang ikut dihadiri pejabat jajaran Pemkab Aceh Besar, ulama, tokoh masyarakat dan warga Kota Jantho sekitar sekitarnya. Kehadiran Masjid Al-Munawarah semakin melengkapi semaraknya pelaksanaan syiar Islam di Kota Jantho.



Dalam perkembangannya, kata Tgk Zaini, Masjid Al-Munawarah terus dibenahi. Masjid tersebut kini mampu menampung sekitar empat ribu jamaah shalat. Masjid ini memiliki pekarangan yang luas. Karena itu, di kompleks masjid ini sering dilaksanakan peringatan hari-hari besar Islam seperti Maulid Nabi Muhammad SAW, Israk Mikraj, serta shalat Idul Fitri dan shalat Idul Adha. 



Pelepasan calon jamaah haji Aceh Besar terkadang juga dipusatkan di masjid ini. Di sini pula, lanjut Tgk Zaini, telah tercatat sejumlah warga nonmuslim yang menyatakan ikrarnya untuk masuk Islam. Bahkan beberapa kali pelaksanaan uqubat cambuk bagi pelanggar Qanun Syariat Islam juga digelar di halaman Al-Munawwarah yang dilakukan usai shalat Jumat. 



“Kegiatan lain yang juga rutin dilaksanakan di masjid Ini adalah pengajian seni baca Alqur’an dan tajwid (Selasa dan Jumat usai shalat Ashar), dalail khairat (Selasa malam), pengajian kitab yang dipimpin Tgk Hamzah (Rabu malam), dan tadarus tilawah oleh remaja masjid (Kamis malam),” jelas Tgk Zaini.



Masjid Al-Munawarah yang berdiri megah di pusat Kota Jantho dan dikelilingi oleh perbukitan Bukit Barisan yang indah dan elok. Hembusan angin yang bertiup sepoi-sepoi akan semakin memberi kekhusyukan dan kesegaran bagi jamaah. Tatkala waktu azan tiba, panggilan Ilahi akan menyeruak ke segenap sudut ibu kota Aceh Besar tersebut. 



Ya, dari Al-Munawarah, syiar Islam itu semakin menggema dan mengisi relung-relung keimanan warganya. Begitu hendak berwudhuk, nuansa kesejukan dan kesegaran bakal semakin memotivasi kaum muslimin untuk senantiasa khusyuk tatkala menunaikan shalat lima waktu secara berjamaah di masjid itu.(jamaluddin)

Visi Misi Al Munawwarah
- Visi: Mewujudkan pelaksanaan kemakmuran masjid
- Misi: Berperan dalam memberikan bimbingan dan sosialisasi syariat Islam, meningkatkan sumber daya melalui pengajian Alquran dan kitab-kitab, berperan sebagai media penangkal ajaran-ajaran yang bertentangan dengan syariat Islam, menjadikan masjid sebagai wahana mengimplementasikan dari berbagai aspek kehidupan masyarakat, dan mengoptimalkan fungsi masjid dalam pembinaan umat

Masjid Hidayatullah Jakarta

Masjid Hidayatullah yang beralamat Hidayatullah (Karet Depan) RT 007 RW 04 Karet Semanggi, Setiabudi, Jakarta Selatan merupakan salah satu masjid yang arsitektur bangunannnya terdapat sentuhan budaya Thionghoa. Salah stu sumber sejarah menyebut masjid ini dibangun pada tahun 1747 di atas lahan wakaf pengusaha Batik Mohamad Yusuf yang tinggal di daerah Karet.

Di sekitar masjid Hidayatullah terdapat makam orang muslim yang dirawat begitu apik, di antara rimbunan pepohonan rindang yang meneduhi kawasan ini. Sudah tiga kali masjid ini direnovasi, yaitu tahun 1921, 1948, dan 1996. Namun renovasi sama sekali tidak mengubah wajah asli masjid.

Jika melihat dari luar, masjid yang sempat akan digusur ini terlihat seperti bangunan khas Thionghoa, dengan atap bersusun tiga melengkung. Sementara kehadiran dua menara yang simetris adalah ciri budaya Hindu yang banyak terdapat di daerah Jawa Tengah. Namun saat memasuki lingkungan masjid, jamaah dapat merasakan budaya lain. Pintu-pintu dan jendela yang ada menunjukan gaya Betawi.

Masjid ini menjadi saksi bisu perjuangan umat Islam saat melawan penjajah. Saat penjajahan dulu sering dipakai sebagai tempat mengatur strategi. Dua menara menjulang tinggi di kanan dan kiri pintu masuk masjid dulunya juga dipakai untuk mengintai musuh. Melalui masjid inilah pengiriman senjata ke daerah Karawang dan Cikampek dilakukan.

Menurut A Heuken SJ dalam buku 'Masjid-Masjid Tua Jakarta', kemungkinan masjid ini berawal dari sebuah bangunan mushola/surau atau masjid kecil. Dua menara kembar yang terdapat di bagian muka masjid bisa jadi merupakan gaya arsitektur yang sedang digandrungi di Jakarta ketika itu.

Masjid Al-Musyawarah Kelapa Gading Jakarta

Sejarah Masjid

Merupakan tanda rahmat Allah S.W.T. yang wajib disyukuri dimana Masjid Raya Al-Musyawarah telah dapat berdiri dikawasan kota satelit Kelapa Gading. Hal itu berangkat dari idealisme yang kuat, berkat perjuangan dan pengorbanan yang dimotori Oleh Bapak Zaelani Zein dan Bapak H. Sjamhudi selaku Direksi PT Sumarecon Agung, maka pada tahun 1991 dibangunlah Masjid Raya Al-Musyawarah diatas tanah fasos seluas 2,2 Ha yang dicanangkan pengembang sebagai kewajiban Developer. Luas bangunan Masjid dan plaza, kantor sekretariat seluas 16.915 m2, lapangan parkir dan taman seluas 5.200 m2.


Tepat pada tanggal 24 Sya’ban 1412 H. / 27 Februari 1992 M. syukur Alhamdulillah Masjid Raya Al-Musyawarah diresmikan olah Bapak Wiyogo Atmodarminto selaku Gubernur DKI Jakarta dan dihadiri oleh sejumlah tokoh masyarakat dan pemuka agama Jakarta Utara.



A. PERIODE KEPENGURUSAN

Setelah diresmikan hingga saat ini Masjid Raya Al-Musyawarah sudah melewati perjalanan lebih dari satu dasawarsa. Dimana Pengurus Masjid yang terbentuk sesuai SK Walikotamadya Jakarta Utara, dari periode kepengurusan ke periode berikutnya senantiasa menunjukkan perkembangan yang berkelanjutan.

Sebagai sebuah Masjid yang ingin mencontoh standar Masjid Ideal yang dibangun oleh Rasulullah SAW. atas dasar Taqwa, maka Masjid Raya Al-Musyawarah telah menempuh tahapan-tahapan sebagai ciri sebuah dinamika, yang sampai saat ini setidaknya ada 3 tahapan.

Pada kepengurusan periode pertama adalah Marhalah Ta’sis atau periode perintisan. Dalam periode ini secara alamiah Masjid mulai dikenal oleh Masyarakat dan Jama’ah. Eksistensinya telah memberikan keteduhan ditengah hausnya suasana religius. Kegiatan ritualnya telah menjadi penyeimbang antara tingginya kesibukan untuk mencari karunia Allah didunia dan semangat cinta kebahagiaan akhirat.





Periode kedua adalah “Marhalah An-Nasy’ah” (periode pertumbuhan) (Pengurus masa bhakti 1997-2002). Pada tahapan ini kepengurusan mulai menemukan model kecintaannya secara fithrah yang akhirnya dapat bersinergi untuk mulai manggali potensi Masjid untuk kelangsungan rutinitas Masjid. Pada tahapan ini pengurus dalam programnya menitik beratkan pada penyediaan fasilitas dan kelengkapan lainnya, seperti:
- Perbaikan Taman Masjid
- Pembangunan Atapisasi Plaza Masjid sehingga menjadi Aula Serbaguna Masjid
- Pembenahan dan peningkatan personalia karyawan Masjid.

Tahapan ketiga adalah Marhalah An-Nama’ (periode pengembangan). Ini adalah tahapan yang dihadapi Pengurus masa bhakti 2002 – 2007. Dimana tantangan Masjid bukan hanya sekedar masalah rutinitas ritual, terlebih lagi setelah diikrarkannya status Masjid Raya Al-Musyawarah sebagai Al-Markaz Al-Islami atau Islamic Centre di wilayah Jakarta Utara, dimana Masjid juga dituntut perannya lebih optimal




B. PERIODE YAYASAN

Pembentukan Yayasan Masjid Raya Al-Musyawarah atas arahan dari Bapak Walikotamadya Jakarta Utara Bapak Drs. H. Efendi Anas, MA. Saat berkunjung di Masjid Raya Al-Musyawarah sekaligus menyampaikan khutbah Jum’at pada tanggal 16 April 2004 agar segera dibuat Yayasan Masjid Raya Al-Musyawarah sebagai pelaksana fungsi Idarah, Imarah dan Ri’ayah sebagai pengganti Pengurus Masjid Raya Al-Musyawarah yang diangkat melalui Surat Keputusan Walikota.
Sesuai dengan hal itu didirikanlah Yayasan Masjid Raya Al-Musyawarah sesuai akte Notaris No: 12 tanggal 07 Juli 2006 yang dibuat dihadapan Notaris Kartono, SH dan telah mendapatkan pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, sesuai dengan suratnya No: 1930.HT.01.02.TH 2006 tanggal 30 Agustus 2006. Pada tanggal 17 November 2006 Pengurus melaporkan telah berdirinya yayasan tersebut kepada Bapak Walikotamadya Jakarta Utara. Selanjutnya pada tanggal 01 Mei 2007 menerbitkan surat bahwa Yayasan Masjid Raya Al-Musyawarah secara langsung bertanggung jawab dalam rangka pengembangan menejemen kegiatan Masjid Raya Al-Musyawarah.



PROGRAM KEGIATAN

Masjid Raya Al-Musyawarah semakin hari semakin dirasakan manfaatnya dikalangan Masyarakat dan jama’ah. Hal itu, karena adanya sajian program kegiatan yang senantiasa berhubungan dari periode ke periode. Keberadaan dan kelangsungan yang mencerminkan kesinambungan inilah yang akhirnya menimbulkan kepercayaan masyarakat, sehingga dengan sukarela turut serta bersama Pengurus Masjid dalam mensukseskan program.
Adapun bidang program yang dimaksud meliputi: Bidang Ibadah, Bidang Ekonomi, Bidang Pendidikan dan Pengembangan, Bidang Sarana dan Prasarana, Bidang Kewanitaan dan Bidang Sosial Pemuda.



A. Bidang Peribadatan Dan Dakwah

Tolak ukur yang paling sederhana apakah sebuah masjid makmur atau tidak, dapat dilihat dari penyelenggaraan Ibadah Shalat lima waktu secara berjama’ah. Pengurus Masjid Raya Al-Musyawarah dalam hal ini sangat menaruh perhatian, hal itu dapat dilihat dari penyelenggaraan Shalat Rawatib secara berjama’ah serta berjalannya evaluasi dan seleksi baik secara terencana atau alamiah tentang kelayakan seseorang untuk mengemban tugas mulia sebagai Imam tetap Shalat Rawatib atau Jum’at. Dimulai dari periode kepengurusan yang lalu (1997 – 2002) jumlah Imam Shalat Rawatib menjadi 2 (dua) orang, yaitu: Ustadz Nur Kholis,Lc Al-Hafidz dan Ustadz Mangun Pujono, Lc. serta Mu’adzin 1 (satu) orang, yaitu: Sdr Ahmad Jaelani.





Begitu juga Ibadah yang sangat diminati Masyarakat Kelapa Gading dan sekitarnya, yaitu Ibadah shalat Jum’at. Kegiatan ritual sekali dalam sepekan ini, menampilkan para khotib dan juru dakwah Ibu kota, tidak sedikit dari orang-orang tersebut yang sudah tingkat Nasional, seperti: Dr. Daud Rasyid, MA., Dr.Omar Shahab, MA., H. Husein Umar (Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia), H. Ahmad Soemargono, SE., dan lain-lain. Bahkan ibadah yang mayoritas dihadiri para karyawan perkantoran ini pernah dihadiri oleh tamu kehormatan yaitu Presiden RI ke-IV KH. Abdurrahman Wahid pada shalat Jum’at, 14 September tahun 2000.



Sedangkan pada Ibadah tahunan yaitu Bulan Suci Ramadhan, diselenggarakan Ibadah Shalat tarawih sebulan penuh dengan menghadirkan para Imam baik Imam lokal selain Imam tetap juga pernah dihadiri oleh Imam Tamu dari Saudi Arabia, seperti Syeikh Muhammad Abdul Aziz Al-Luhaidan (Imam besar Masjid Jami’ Madinatul Hujjaj – Riyadh)

Jumlah jama’ah semakin bertambah serta demi syiar sesuai yang sunnahkan, maka pelaksanaan Shalat Hari Raya baik Idul Fitri maupun Idul Adha selalu dilaksanakan di Bundaran Jalan Raya Boulevard, kecuali bila terdapat halangan seperti hujan. Dan pada Idul Adha 1423 H. tahun 2002 telah berkenan sebagai Khatib Bapak DR. H.M. Amien Rais, Ketua MPR-RI.



B. Bidang Ekonomi

Memenuhi tuntutan peran dan fungsi Masjid serta kebutuhan operasional Masjid, maka selain sebagai basis pelaksanaan ritual keagamaan, Masjid juga harus dapat memberikan perannya dibidang selain Ibadah, seperti bidang ekonomi ddengan memanfaatkan potensi yang berguna untuk pelayanan masyarakat juga memberikan hasil yang bernilai ekonomi. Hal ini diperlukan mengingat kelangsungan program kegiatan dengan berbagai skala, dari yang bersifat harian, pekanan, bulanan, sampai yang bersifat tahunan, perawatan fisik serta pengembangannya dimasa yang akan datang, semua itu tidak bisa terlepas dari kebutuhan pembiayaan. Oleh karenanya pengurus mengupayakan sumber-sumber penghasilan dengan macam-macam pola.





B.1. Layanan Akad dan Walimah
B.2. Parkir Mobil dan Motor
B.3. Penitipan Alas Kaki
B.4. Infaq Kotak Jum’at
B.5. Infaq KIS – Kajian Islam Sabtu





Memenuhi tuntutan peran dan fungsi Masjid selain sebagai basis pelaksanaan ritual keagamaan, Masjid juga diharapkan dapat memberikan perannya dibidang selain Ibadah, seperti bidang ekonomi. Maka dalam susunan kepengurusan sudah disiapkan wadah untuk mengambil peran tersebut yaitu Seksi Koperasi. Peran yang sama namun dalam seksi yang lain juga menjadi bagian dari Program Bidang Ekonomi adalah Pengelolaan Ziswaf (Zakat, Infaq, Shadaqah dan Wakaf) dimana bermodalkan ketulusan serta kegigihan pengurus yang diimbangi dengan kepercayaan masyarakat tak kurang diantara 300 sampai 500 jama’ah telah berpartisipasi dalam ibadah sosial ini, sehingga setiap tahun paling tidak sebanyak 600 jiwa dari kaum du’afa telah mendapatkan santunan.





Operasional masjid yang mencakup masalah personalia karyawan, Ibadah Rawatib dan Jum’ah, pemeliharaan serta Pengembangan menuntut Pengurus untuk tidak semata-mata menggantungkan perolehan dana dari Infaq serta sumbangan jama’ah saja. Melalui Bidang Ekonomi pengurus telah merintis pemberdayaan potensi masjid untuk pelayanan jama’ah secara optimal seperti menyelenggarakan Layanan Akad Nikah dan Walimah (Resepsi Tasyakuran) terutama setelah dibangunnya Aula Serba Guna Masjid Raya Al-Musyawarah. Pengelolaan parkir kendaraan juga telah menjadi salah satu bagian dari bidang ekonomi, sehingga dengan system dan penataan personel yang diterapkan dapat memberikan keberdayaan Masjid yang menuju mandiri. Begitu juga dengan program kemitraan dengan beberapa pengelola pelayanan masyarakat seperti catering, rias dan alat-alat pesta telah memberi dampak yang sangat baik.



Bidang Pengembangan dan Bidang Sarana & Prasarana.

Sesuai letak Masjid yang berada di sentra wilayah perkantoran dan bisnis, disamping posisinya yang bersebelahan dengan pusat perbelanjaan SOGO dan Mal Kelapa Gading, keberadaan Masjid dituntut untuk lebih dinamis. Masalah peningkatan fasilitas jama’ah serta pemeliharaannya menjadi sesuatu yang tidak boleh diabaikan. Oleh karena itu, Pengurus masjid serta jama’ah dan masyarakat setelah mendapat persetujuan dari Bapak Walikotamadya Jakarta Utara bertekad untuk mengerjakan “Atapisasi Plaza Masjid” , karena bangunan utama Masjid sudah tidak dapat menampung jama’ah shalat jum’at. Pada tanggal 18 Juni 2000 dikukuhkan dengan surat Ketum Panitia Pelaksana pembangunan perluasan + 784 m2 dengan harga Rp 850.000,- / m2. Panitia pelaksana yang diketuai Bapak H. Djoko Soetojo Rijadi, Bapak H. Dede Darmawan sebagai sekretaris dan Bapak Indri Firdianto sebagi Bendahara telah dapat merampungkan pekerjaannya. Sehingga pada hari Jum’at, 10 Agustus 2001 pukul 10 pagi bangunan yang kemudian disebut “Aula Serba Guna Masjid Raya Al-Musyawarah” yang salah satu fungsinya adalah untuk melayani Walimah, gedung ini diresmikan oleh Walikotamadya Jakarta Utara Bapak Drs. H. Subagio, MM.



Para khatib ataupun penceramah yang dijadwalkan adalah bagian yang juga diperhatikan pengurus untuk mendapat kemudahan. Karena tidak sedikit dari mereka yang memerlukan penjemputan, maka pada tanggal 06 Juni 2002 sebuah mobil kijang LX 2002, telah dibeli sebagai fasilitas kendaraan milik Masjid. Alat tranportasi yang dibeli dari baru itu seharga Rp 110.000.000,- (Seratus Sepuluh Juta Rupiah) dan dibayar secara angsuran, dengan cicilan tiap bulan Rp 2.554.100,- (Dua Juta Lima Ratus Lima Puluh Empat Ribu seratus Rupiah).

Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1424 H. Pengurus telah bersiap-siap untuk melayani jama’ah yang akan melaksanakan ibadah Ramadhan. Persiapan yang dimaksud seperti Mengganti tower dan tangki penampungan air untuk wudlu dan bersuci, dari semula yang berkapasitas 500 liter menjadi 2000 liter, dimana dana sepenuhnya ditanggung salah satu jama’ah aktif Masjid Bapak Asep Aryadi. Selain penggantian penampungan air juga dilakukan pengecatan serta perbaikan kamar mandi dan fasilitas wudlu jama’ah.





Untuk pengembangan, Pengurus dalam Rapat Dewan Pimpinan pada hari Kamis, 18 Juli 2003 telah merekomendasikan Bagian Pengembangan / Bagian Sarana dan Prasarana untuk menindak lanjuti perkembangan rencana pembangunan ruang perkantoran Masjid, rumah tinggal Imam, mess karyawan dan ruang kajian yang lebih representative berlokasi di pinggir lapangan parkir sebelah timur berbatasan dengan pagar Masjid / Lapangan Tenis.



Selain pengembangan penyediaan sarana serta prasarana Masjid jangka pendek juga telah terpikirkan pengembangan jangka panjang. Dimana, penambahan bangunan Atapisasi Plaza, yang diantaranya bertujuan agar dapat menampung jama’ah terutama saat pelaksanaan Shalat jum’ah, dan itu telah terlaksana. Namun sampai dalam hitungan tahun ke tiga setelah perluasan pembangunan, realitas jumlah jama’ah Shalat Jum’at sudah tidak dapat tertampung lagi. Sehingga saat ini banyak diantara jama’ah harus dengan sabar menempati kanan kiri Bangunan Utama Masjid dan Aula Serbaguna Masjid, bahkan sampai dibelakang gedung perkantoran Pengurus dan Sekretariat.



Bidang Kewanitaan

Istilah Jama’ah dan Pengurus, sebenarnya didalamnya sudah termasuk jenis pria dan wanita. Namun untuk lebih memberikan penegasan tentang perhatian terhadap wanita dengan segala kekhususannya maka dalam pembidangan kepengurusan terdapat Bidang Kewanitaan. Bidang melingkupi Seksi Majlis Ta’lim, Seksi Pengajian, Seksi PHBI dan Ketrampilan.



Selama ini bidang kewanitaan telah rutin menyelenggarakan berbagai kegiatan seperti Masjlis Taklim dan peringatan hari-hari besar Islam dan semacamnya. Majlis Taklim yang sudah lama dirintis dan terus berjalan hingga saat ini diantaranya adalah Pengajian Ibu-Ibu yang dilaksanakan setiap hari Rabu dan Jum’at pukul 14.00 Wib. Dalam Majlis ini dikaji beberapa pokok-pokok ilmu dalam Agama Islam, seperti Fiqh, Tauhid, Tajwid. Dalam pelaksanaannya diasuh oleh Ust. H. Juwaini mahmud, Ust. Drs. Sugeng Supriyadi, Ustdzh Hj. Lily Mulyati, Ust. Drs. H. Nur Hasyim Lubis dan Ust. Drs. H. Zulva Mustafa.



Disamping kegiatan Pengajian Rutin, Bagian Kewanitaan juga mengadakan Peringatan Hari-Hari Besar Islam, seperti: Tahun Baru 1 Muharram, Maulid Nabi dan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad S.A.W. dan hal ini dilaksanakan secara rutin dan disamping untuk penyegaran Iman, peningkatan ukhuwah juga dimaksudkan demi Syi’ar Islam. Dan salah satu kegiatan tersebut bahkan diadakan dengan bekerja sama dengan pihak lain, seperti kerjasama dengan BKMT (Badan Kontak Majlis Ta’lim) Wilayah Jakarta Utara yang pada hari Senin, 15 April 2002 telah menyelenggarakan tabligh Akbar dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad S.A.W. dan dihadiri Da’I muda KH. Abdullah Gymnastiar sebagi penceramah, yang akrab dipanggil Aa Gym dengan Managemen Qalbu.



Bidang Sosial

E.1. Layanan Pengobatan Gratis
E.2. Santunan Fakir Miskin
E.3. Santunan Yatim Piatu
E.4. Santunan Beasiswa



Bidang Pembinaan Remaja

Pengelolaan ZISWAF – Zakat, Infaq, Shadaqah dan Wakaf
E.1.
Eksistensi masjid yang memang sebagai tempat kembalinya masyarakat dan jama’ah untuk mendapatkan keteduhan dan ketentraman batin, memang tidak terlepas dari kiprahnya dibidang sosial. Dan, sejak awal didirikannya Masjid Raya Al-Musyawarah secara bertahap dan pasti telah melakukan hal ini. Kegiatan yang menitik beratkan pada menebarkan rasa gembira kepada yang memerlukan tidak luput dari bagian program Bidang ini, sebagai contoh saat Idul Adha yang paling tidak dapat melaksanakan pemotongan hewan qurban baik sapi maupun kambing. Sehingga dari kegiatan seperti ini tidak kurang dari 1700 kantong berisi daging @ kg telah dibagikan kepada yang berhak menerima.



Masih dalam lingkup Bidang sosial, yang terus berupaya menampilkan kiprah Masjid agar dapat memberi manfaat diberbagai kegiatan termasuk Bazar. Kegiatan seperti ini dutujukan untuk menyalurkan potensi yang ada, supaya dapat dinikmati oleh bagian Masyarakat dengan kemampuan daya beli tertentu. Seperti yang pernah dikordinir oleh Ibu-Ibu Majlis Taklim pada 15 April 2002 dan dihadiri Ibu Hj. Nani Hamzah Haz istri Wakil Presiden RI. Pada kesempatan tersebut juga diadakan Khitanan Massal gratis, keberhasilannya didukung oleh para medis dan beberapa sponsor, diikuti oleh puluhan anak keluarga kurang mampu dari beberapa wilayah di Jakarta Utara.



Donor darah juga termasuk kegiatan rutin yang sering diadakan, dengan peserta para jama’ah yang didaftar secara tiba-tiba dan bukan anggota pendonor tetap. Acara ini, terakhir diadakan pada Jum’at 30 Mei 2003 M. / 28 Rabiul Awwal 1424 H. Selain mendapat ucapan terimakasih dari Palang Merah Indonesia, bahkan karena respon jama’ah yang cukup tinggi untuk andil mendonorkan darah, maka para petugas serta persediaan tehnis memastikan tidak dapat melayani semua yang ingin mendaftar.



Kegiatan Masjid baik yang rutin maupun yang insidentil secara umum tidak dapat terpisah dengan keterbilatan pihak jama’ah, terutama para pemuda sebagai generasi penerus. Maka dalam kepengurusanpun terdapat Bidang Sosial Dan Pemuda. Bidang ini telah mengadakan penyegaran pengurus Ikatan Remaja Muslim Al-Musyawarah (IRMAS) pada Ramadhan 1423 H. yang dengan tindakan ini diharapkan dapat lebih menggairahkan aktifitas remaja atau pemuda. Dan sejak bulan itu pula mereka sudah dapat melaksanakan beberapa kegiatan seperti Pesantren Ramadhan, disusul dengan keikut sertaannya dalam pelaksanaan Tarawih Super Berkah yang bekerjasama dengan Harian Umum Republika dan Indofood, yang pada acara tersebut telah dibagikan 2000 paket produk Supermi.



PENUTUP

Demikian gambaran umum tentang Masjid Raya Al-Musyawarah, yang dicanangkan sebagai Islamic Centre untuk wilayah Jakarta Utara. Sekapur sirih sejarah awal berdirinya semoga menjadi landasan semangat tumbuh dan berkembang untuk masa-masa selanjutnya. Demikian juga Program-Program kegiatan yang telah dilaksanakan diharapkan dapat memberikan data kepada semua pihak perihal prestasi yang senentiasa perlu dilestarikan dan ditingkatkan. Adapun kegiatan yang ideal terlaksana namun sampai saat ini belum terealisasi dalam kurun periode tertentu semoga menjadi tantangan untuk dapat dilaksanakan sebagi mata rantai program yang berkesinambungan.






Kepada Allah, semua harapan terkaitkan. Dengan kerja keras, tulus dan berkesinambungan jalan panjang akan berujung kejayaan. Dan dengan melaksanakan amanah serta dukungan semua pihak, perjuangan dapat dilaksanakan dan dirampungkan.
Sumber : Peta Satelit