Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

Masjid luar biasa ini bernama Baitul Makmur di Denpasar Bali

Masjid luar biasa ini bernama Baitul Makmur. Masjid yang terletak di Monang Maning, Denpasar Bali ini memiliki jamaah sholat subuh lebih dari 700 orang jamaah setiap harinya.

Di Masjid ini Shalat Jamaah selalu dipadati, mulai Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan yang sangat menakjubkan adalah jammah  Shalat Shubuhnya yang lebih padat dari waktu lain. Jika Shalat lain jamaahnya seperdua Masjid, maka Shalat Subuhnya hampir penuh, dipadati sekitar kurang lebih 700 Jamaah, dan Khusus hari Ahad Subuh, Jamaahnya bahkan lebih banyak lagi hingga ke pelataran Masjid.

Setiap Ahad, Pengurus Masjid menggelar pengajian dengan mendatangkan ustadz-ustadz  dari Luar Pulau Bali, Ustadz Muh.Ikhwan Abd.Jalil, Lc dan Ustadz Harman Tajang, Lc, Ustadz Wahdah dari Makassar yang sudah pernah mengisi pengajian Ahad Subuh di Masjid ini.

Taklim dan pembelajaran Al-Qur’an di Masjid ini juga lancar dan rutin dilaksanakan lepas Magrib dan Subuh.


Masjid yang berlokasi di Jl. Gunung Merbuk Monang Maning Denpasar ini terletak di satu kompleks halaman dengan tiga sekolah, yaitu TK Aisyiah, SD Muhammadiyah 3 dan SMP Muhammadiyah 3. Menurut Ir. H. Sentot Surenggrono selaku Ketua Yayasan Baitul Makmur, masjid ini cukup berkontribusi terhadap pendidikan karena berada ditengah-tengah lingkungan pendidikan. Sehingga berperan aktif dalam memberikan fasilitas pendidikan keagamaan bagi sekolah yang berada disekitarnya. Pembangunan Masjid Baitul Makmur pertama kali digagas pada tahun 1982. Pada 5 Agustus 1983, warga Perumnas Monang Maning didukung Dewan Masjid Indonesia membentuk sebuah panitia pembangunan masjid. Alhasil pemerintah menyediakan lahan untuk mendirikan masjid di daerah tersebut. Selanjutnya pembangunan benarbenar dilaksanakan pada tahun 1987, setelah ada bantuan dari MUI Bali dan Yayasan Amal Bakri Muslim. Peresmian pendirian masjid Baitul Makmur sendiri diketuai oleh Presiden Soeharto dan Menteri Ir. Dr. H. Ginanjar Kartasasmita sekitar tahun 1988.

Tidak lama berselang Yayasan Muhammadiyah membangun tiga sekolah dalam satu komplek, yaitu TK Aisyah, SD Muhammadiyah 3, dan SMP Muhammadiyah 3. Keberadaan tiga sekolah tersebut membuat masjid Baitul Makmur lebih dikenal dengan masjid bernuansa pendidikan. Selanjutnya untuk mempermudah pengelolaan masjid, pada tahun 1992 didirikanlah Yayasan Baitul Makmur yang menaungi Masjid Baitul Makmur. Kuantitas jamaah yang terus meningkat mendorong Yayasan Baitul Makmur untuk merenovasi masjid. Pada tahun 2009, dilakukan renovasi masjid yang masih berjalan hingga sekarang. Proses renovasi masjid yang berdiri di atas lahan 12, 89 are ini diperkirakan akan menghabiskan dana ± 9 M, dan sampai sejauh ini telah menghabiskan dana ± 4,5 M. Yayasan Baitul Makmur memiliki beberapa bidang dalam struktur organisasinya guna menjalankan aktivitas masjid, diantaranya adalah bidang Ketakmiran yang berfungsi mengatur solat 5 waktu, sholat Jum’at, pengajian, tafsir Al-Qur’an dan hadits tiap dua minggu sekali, bedah buku, infaq, sodaqoh dan menyediakan fasilitas ketika dilaksanakan kegiatan. Masjid tiga lantai ini juga dilengkapi fasilitas perpustakaan. Bidang Pendidikan rutin menyelenggarakan pendidikan Islam non formal, bekerjasama dengan sekolah Muhammadiyah yang berdiri disekitarnya dalam bidang pendidikan Agama Islam. Kegiatan tersebut adalah membaca Al-Qur’an bagi siswa-siswi sekolah yang dilaksanakan setiap hari Senin–Sabtu pagi. Dilanjutkan malam hari kursus baca tulis Al-Qur’an dengan peserta jamaah umum. Untuk pengajian Ibu-ibu, rutin diadakan sebulan sekali dan mengadakan kegiatan sosial kemasyarakatan.

Bidang Amil Zakat berfungsi memberikan bantuan SPP bagi siswa kurang mampu, beasiswa dan membantu kaum Dhuafa. Prestasi yang diraih Masjid Baitul Makmur sendiri pernah menjadi pemenang lomba Semarak Muharram 1426 Hijriyah dalam kategori kegiatan masjid. Perlombaan tersebut diadakan oleh Departemen Agama, MUI dan DSM Bali pada tahun 2005. Dan pada tanggal 19 Februari 2013, Masjid ini dipergunakan sebagai tempat pelantikan dan pengukuhan Dewan Masjid Indonesia untuk wilayah Provinsi Bali. Pelantikan itu dihadiri oleh Bapak Jusuf Kalla selaku ketua Dewan Masjid Indonesia Pusat.

Sesuai dengan namanya, Baitul Makmur, masjid ini berhasil menjadi lingkungan basis islam yang menunjukan kemakmuran masjidnya.

Semoga semakin banyak masjid seperti ini dibelahan bumi Indonesia, karena salah satu tanda kebangkitan Islam bisa dilihat dari shaff jamaah shalat subuh. wallahualam

Masjid Raya Ukhuwah Denpasar Bali

Masjid Raya Ukhuwwah beralamat Jl. P. Kalimantan No. 19, Dusun Titih Kelod, Dauh Puri Kangin, Denpasar Barat. Kode Pos 80112. Masjid ini tepat terletak di pusat kota. Pusat pertokoan dan diapit oleh tiga jalan yaitu jalan Raya Hasanuddin, jalan Sulawesi dan jalan Kalimantan. Lokasinya dekat Pasar Kumbasari dan pusat pertokoan di Gajah Mada.

Berbagi Subsidi
Masjid Raya Ukhuwah Denpasar, Bali, memiliki sumber penghasilan selain dari amal jamaah. Mereka menyewakan toko di lantai bawah masjid.
Masjid Raya Ukhuwwah Denpasar“Persis di bawah ruang mimbar dan tempat imam memimpin shalat,” kata Taufik Muhammad Hamedan, bendahara masjid.
Tak sulit mendapatkan penyewa. Sebab, masjid berlokasi di tempat menguntungkan. Posisinya di bagian barat Kota Denpasar yang menjadi salah satu pusat bisnis di ibu kota Bali tersebut. “Sebulan kami memiliki pendapatan Rp 125 juta dari sewa toko,” ujar Taufik.

Pemasukan kian besar jumlahnya dengan adanya tambahan dari unit taman kanak-kanak yang mereka kembangkan. Dari sekolah ini, pengurus mampu menghimpun dana Rp 8 juta. Ia menuturkan, dana masjid ini tak hanya digunakan sendiri.[balimuslim/republika]
Masjid Raya Ukhuwwah DenpasarYayasan Ukhuwah yang mengurusi masjid juga memberikan subsidi ke masjid-masjid lain yang membutuhkan biaya pembangunan. “Kami mengambilnya dari dana hasil usaha dan kotak amal,” kata Taufik menegaskan.

Menurut Taufik, Masjid Ukhuwah mempunyai tanah wakaf seluas 4.000 meter persegi. Lantaran letaknya kurang strategis dan tidak dapat difungsikan, tanah itu dijual dan hasil penjualannya yang mencapai Rp 6 miliar untuk sementara disimpan.

Dana itu, jelas Taufik, tidak boleh digunakan untuk keperluan lain  kecuali untuk pengadaan aset tanah. "Dulu, yang mewakafkannya berikrar seperti itu.” Ia mengungkapkan, pengurus sempat memiliki usaha koperasi, toko buku, dan toko busana Muslim.

Namun, menurut Taufik, akhirnya usaha-usaha itu dihentikan dan tempat usahanya disewakan kepada pihak ketiga. Dengan menyewakan tempat, pengurus menilai, lebih menguntungkan daripada membuka unit usaha sendiri
. sebagaimana yang dilansir oleh Republika


Masjid Raya Ukhuwwah Denpasar










Live Streaming Dari Masjidil Haram

Masjid Raya Nur Alam, Pekan Baru RIAU

Oleh : Drs. H. Ahmad Supardi Hasibuan, MA
Tahun 1762 Sultan Abdul Jalil Amaludin Syah memindahkan pusat kerajaan Siak Indrapura dari Mempura Besar ke Bukit Senapelan disebut Kampung Bukit. Pemindahan pusat kerajaan diikuti dengan pembangunan Istana Raja, Balai Kerapan Adat dan Mesjid. Persebatian unsur Pemerintah, adat dan ulama disebut, `Tali Berpilin Tiga`(Tungku Tiga Sejarangan). Mesjid yang dibangun diberi nama Mesjid Alam yang mengambil nama kecil Sultan Amaludin yakni Raja Alam Upacara menaiki bangunan dilakukan pada shalat Jum`at dengan imam Sayid Oesman Syahabuddin, menantu Sultan Amaluddin, ulama besar kerajaan Siak. Sultan Amaluddinsyah digantikan putranya Tengku Muhammad Ali yang bergelar Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Mua`zzamsyah (1766-1779) pada masa pemerintahan beliau Bukit Senapelan berkembang pesat. Sultan Muhammad Ali membangun `pekan` (pasar yang baru dari nama `Pekan Baharoe` lahirlah nama Pekanbaru sekarang ini (23 Juni 1784)).
Dengan bertambahnya jumlah penduduk Bukit Senapelan (Pekanbaru) menyebabkan Mesjid Alam tak mampu menampung jamaah untuk shalat di sana. Musyawarah dilakukan Sultan Muhammad Ali dengan Yasid Oesman, Datuk Empat suku disepakti untuk memperbesar Masjid Alam. Upacara menaiki masjid yang baru selesai dilakukan petang megang bulan puasa itu juga. Ke empat Tiang Seri nya disedikan oleh Datuk Empat Suku (lima puluh, tanah datar, pesisir dan Kampar, Tiang Tuanya disediakan Sayid Oesman, pekerjaan ini dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat. Kubah disediakan oleh Sultan Muhammad Ali, cara ini melambangkan terwujudnya persahabatan antara Pemerintah , ulama, adat dan rakyatnya.

Pada masa kerajaan Sultan Tengku Udo Sayid yang dibergelarkan Assyaidinsyarif, Ali Abdul Jalil Saifuddin (1784-1810) pusat kerajaan Siak dipindahkan dari Mampura kecil ke kota tinggi (kota Siak sekarang ini) dimasa pemerintahannya, mesjid ini diberi Selasar yang dipergunakan sebagai tempat penziarah untuk beristrirahat. Sementara pada pemerintahan sultan terakhir kerajaan Siak Sultan Syarif Kasim Sani (Sultan Kasim II) pada tahun 1946 beliau sempat memperluas bangunana Masjid Raya tersebut.

Setelah bangunan siap, dilakukan upacara Menaikinya maka diumumkan bahwa nama mesjid boleh mempergunakan nama lama atau nama baru yakni Mesjid Anur`Alam atau Mesjid Sultan atau Mesjid Besar atau Mesjid Raya. Namun nama yang dikokohkan hingga sekarang adalah Mesjid Raya Anur`Alam Kota Pekanbaru. Walau musim berganti pemimpin datang silih berganti, namun Mesjid Raya Nur` Alam tetap berdiri kokoh dan megah. Setiap harinya mesjid tua ini tidak pernah sepi dari kunjungan masyarakat, tidak hanya dari dalam Kota Pekanbaru. Mereka juga datang dari berbagai daerah lain di Riau, selain beribadah mereka juga datang untuk mendapatkan Tuah mesjid Sultan tersebut. Mesjid ini dikenal selain mesjid kota pekanbaru, juga dikenal sebagai mesjid bersejarah (Ash/kemenag).

Masjid Raya Al-Huda Tembilahan, RIAU

Oleh : Drs. H. Ahmad Supardi Hasibuan, MA.
Dari masjid inilah setiap waktu dikumandangkan gema adzan sebagai pertanda waktu shalat telah masuk dan di Masjid ini pula dipusatkan kegiatan atau Perayaan Hari Besar Islam seperti Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Perintah Israk dan Mikraj Nabi Muhammad SAW, Peringatan Nudzul Quran, Peringatan Tahun Baru Islam dan kegiatan lainnya.

Masjid ini dibangun dengan biaya yang berasal dari sumbangan waqaf, infaq, dan shadaqah dari kaum muslimin dan muslimat yang berada di Kota Tembilahan dan sekitarnya.

Sesuai dengan perkembangan, kemajuan, dan pertumbuhan penduduk Tembilahan, maka Masjid Al-Huda juga mengalami beberapa kali renovasi dan perombakan yang dilakukan sebanyak tiga kali yaitu :
1. Pada tahun 1935 diadakan perbaikan dan pelebaran luas bangunan, sehingga daya tampung jamaah lebih banyak, disebabkan perumbuhan penduduk kota Tembilahan saat itu, dimana perombakan hanya memperluas bangunan sedangkan konstruksi bangunannya tetap seperti semula, pondasi terdiri tingkat ulin, dinding papan dan atap sirap
2. Pada tahun 1968 dengan perlebaran luas banguan dan perombakan konstruksi bangunan pada pondasi semula terdiri dari tongkat kayu ulin diganti dengan tombak pasir semen, dinding papan diganti dengan semen pelesteran, dan atapa sirap diganti dengan atap seng, disamping itu perubahan yang besar adalah bangunan terdiri dari lantai 1 dan 2. Kontsruksi bangunannya semi permanent dengan kapasitas daya tampung 2 kali lipat, karena lantai 1 dan 2 dipergunakan untuk shalat. Pada waktu perobakan kedua ini, kota Tembilahan berubah status menjadi Ibu Kota Indragiri Hilir.
3. Pada tahun 1994 Masjid Raya Al-Huda Tembilahan mengalami perombakan total bangunan Masjid di perluas, pondasi bangunan tetap berlantai 2(bertingat) dengan memiliki 4 buah menara. Konstruksi bangunan permanent, lantai dan dinding Masjid terbuat dari keramik, ruangan bagian depan sebelah kanan Masjid Al-Huda dijadikan tempat kantor Yayasan Al-Huda dan kantor Pengurus Masjid Al-Huda, sedangkan pada ruangan bagian depan sebelah kiri digunakan untuk kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Indragiri Hilir dan ruang perpustakaan MUI dan MAsjid Al-Huda, lantai atas Masjid Al-Huda dipergunakan untuk kegiatan Tahfizil Quran, Taman Pengajian Al-Quran dan kegiatan Remaja Masjid Al-Huda.

Peresmian pemakaian Masjid Al-Huda Tembilahan telah dapat melaksanakan kegiatan-kegiatan antara lain :
1. Ibadah shalat wajib 5 waktu, shalat jumat, shalat sunnat rawatib, shalat Idul Fitri dan shalat Idul Adha dan lain-lain.
2. Peringatan hari-hari besar Islam.
3. Pembinaan Umat Islam dalam bentuk dakwah, ceramah Agama Islam secara rutin (bada shalat shubuh, qobla shalat zuhur dan bada magrib).
4. Pembinaan generasi muda Islam melalui kegiatan Remaja Masjid Raya Al-Huda Tembilahan.
5. Pelaksanaan Ibadah social seperti ibadah qurban, zalat fitrah/maal, bantuan kepada anak-anak yatim dan fair miskin, buka bersama (khataman Al-Quran pada setiap bulan Ramadhan).
6. Kegiatan Taman Pengajian Al-Quran (TPA).
7. Kegiatan Tahfizil Quran bagi anak-anak dan dewasa.

Disamping itu, untuk pemeliharaan dan memakmurkan serta mengelola Masjid Raya Al-Huda Tembilahan memerlukan petugas (marbot) seperti tenaga kebersihan bagian ruangan dalam, kebersihan tempat wudhu dan MCK, kebersihan bagian halaman Masjid, kebersihan lantai 2, Imam Besar, Imam Rawatib, bilal, penceramah tetap, Pembina TPA, pembina Tahfizil Quran, penjaga perpustakaan Masjid, petugas sound system, pengurus remaja Masjid membantu dalam upaya memakmurkan Masjid dan Pembina generasi muda Islam dan sebagainya. (an/dinamis).

DATA MASJID RAYA AL-HUDA TEMBILAHAN :

1. Nama : Masjid Raya Al-Huda Tembilahan
2. Alamat :
a. Desa/Kelurahan : Tembilahan
b. Kecamatan : Tembilahan Kota
c. Kabupaten : Indragiri Hilir
d. Propinsi : Riau
e. Nomor Telephon : (0768)22726
f. Kepemilikan Tanah :
- Status tanah : Hak Milik Masjid Al-Huda Tembilahan
- Luas Tanah : 4.362 m 2
g. Luas Bangunan : 34 m x 36 m
h. Tahun Pembanguan : 1994
i. Sumber Dana : Sumbangan Masyarakat Islam Kab. Inhil
j. Jumlah Biaya : Rp. 2.345.000.000,-
k. Kapasitas : 3.100 orang
l. Peruntukkan :
- Lantai 1 : a. Ruangan Shalat
b. Kantor Pengurus Masjid Al-Huda Tembilahan
c. Kantor MUI dan Perpustakaan
d. Tempat Wudhu dan MCK
- Lantai 2 : a. Ruang Shalat
b. TPA
- Jumlah Menara : 4 buah

Pengurus :
Ketua Umum : H. Kursanie
Sekretaris Umum : H. Jarkani Samad
Bendahara : H. Abdul Latief.

Sumber : Kemenag.go.id

Masjid Raya Andalas di Sumatera Barat

Masjid Raya Andalas (atau Andaleh dalam bahasa Minang) adalah sebuah masjid yang terletak di Jalan Andaleh Nomor 56, Kelurahan Andaleh, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, Sumatera Barat, Indonesia. Masjid berlantai dua ini berdiri di atas tanah seluas 1.200 meter persegi dengan warna hijau yang mendominasi dilengkapi satu menara di tenggara dan satu pintu gerbang di selatan

Masjid ini merupakan salah satu dari 608 unit tempat ibadah di Sumatera Barat yang rusak berat akibat gempa bumi berkekuatan 7,9 SR pada tahun 2009. Mengingat kondisi bangunan yang mengkhawatirkan, masjid ini kemudian dibongkar. Dengan demikian, aktivitas ibadah di masjid ini sempat terganggu selama sementara waktu, bahkan kegiatan Pesantren Ramadhan yang setiap tahunnya digelar terpaksa ditiadakan pada tahun 2010 dan 2011.

Pembangunan kembali masjid ini dilakukan tak lama kemudian, yang biayanya diperoleh dari bantuan masyarakat yang dikirimkan melalui Yayasan Satu Untuk Negeri tvOne.[4] Pembangunan kembali tersebut dimulai dengan peletakan batu pertama pada 29 April 2010, dan dapat diselesaikan dengan biaya sebesar Rp3,25 miliar pada tahun 2012 dengan diresmikan langsung oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring pada 9 Maret 2012.[wikipedia]

Daftar Alamat Masjid Masjid Di Provinsi Sumatera Barat

Berikut ini Daftar alamat masjid masjid di Provinsi Sumatera Barat yang sudah kami himpun, semoga di masa akan datang kami bisa terus memperbarui dan memperkaya data data yang bisa kami dokumentasikan :


  1. Masjid Agung Nurul Iman , Jl. Imam Bonjol dan Jl. Muhammad Thamrin, Kota Padang, Sumatera Barat.
  2. Masjid Agung Jabal Rahmah,JL. Raya Padang Indarung, Kec.Lubuk Kilangan, Kota Padang, Prov.Sumatera Barat
  3. Masjid Raya Sumatera Barat, Jalan Khatib Sulaiman Kota Padang, Sumatera Barat
  4. Masjid Raya Bayur,Jl. Jorong Kapalo, Koto Nagari Bayur, Kec. Tanjung Raya, Kab. Agam Sumatera barat
  5. Masjid Raya Andalas,Jalan Andaleh Nomor 56, Kelurahan Andaleh, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang
  6. Masjid Nurul Falah,Kec.Koto Tangah-Kota Padang, Sumatera Barat
  7. Masjid Al-Furqon ,Kel.Sungai Sapih, Kec.Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat
  8. Masjid Raya Ganting,Jalan Ganting Nomor 10, Kelurahan Ganting, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, Sumatera Barat

Masjid Raya Bayur , Sumatera Barat

Masjid Raya Bayur adalah salah satu masjid di Sumatera Barat yang terletak di Nagari Bayur, kecamatan Tanjung Raya, kabupaten Agam. Letak masjid yang dibangun pada awal abad ke-20 ini tidak begitu jauh dari jalan raya yang menghubungkan Lubuk Basung (Ibu kota kabupaten Agam) dengan kota Bukittinggi.
Melihat kondisi bangunan dan lingkungan masjid yang kian tidak tertata dengan baik, pada awal tahun 2000 masyarakat setempat berupaya merenovasi Masjid Raya Bayur secara menyeluruh. Gagasan-gagasan tersebut timbul dari Datuak Hakim Tantawi Pengusaha di Jakarta (Sumando orang Bayur) dan didukung oleh Bachtiar Chamsyah selaku Perantau Bayur di Jakarta yang sekaligus menjabat sebagai Menteri Sosial di masa pemerintahan Megawati Soekarnoputri. Selain Bachtiar, para perantau yang berasal dari Nagari Bayur juga ikut mengirimkan bantuan. Sehingga, dalam jangka waktu yang tidak begitu lama renovasi masjid dapat diselesaikan.

Renovasi yang dilakukan meliputi perbaikan bangunan masjid dan penataan lingkungan masjid, seperti penataan ruang terbuka, area parkir, dan taman masjid. Untuk menyukseskan renovasi tersebut, masyarakat terpaksa membongkar dua buah banguan permanen, yaitu gedung balerong (kantor pemerintahan Nagari Bayur) dan gedung sekolah dasar, yang kemudian dipindahkan ke tempat lain.

Arsitektur Masjid Raya Bayur
Arsitektur masjid ini memadukan bentuk pagoda yang ada di Thailand dan bentuk atap gonjong yang ada pada rumah adat Minangkabau (Rumah Gadang) Perpaduan tersebut dapat dilihat pada menara kecil yang terletak pada empat sudut atap bangunan utama. Sementara struktur atap dirancang mengikuti pola bangunan rumah panggung dengan atap bersusun tiga.

Pada ruang dalam masjid terpampang ornamen yang menarik. Pada bagian dinding masjid, misalnya, dilapisi dengan papan berukir yang dicat dengan komposisi warna bernuansa gelap. Begitu juga dengan tiang-tiang penyangga masjid. Tiang-tiang yang terbuat dari tembok tersebut dihiasi dengan warna lembut yang serasi dengan dinding masjid.

Pada bagian depan masjid, terdapat ruang terbuka yang dilengkapi dengan air mancur. Sementara pada bagian belakang ruangan masjid terdapat kolam ikan, dan di samping kiri dan kanan kolam ikan tersebut terdapat tempat wudu.

Masjid ini dilengkapi beberapa fasilitas pendukung, seperti tempat penitipan sandal dan sepatu, tempat wudu laki-laki dan perempuan, serta area parkir. Bagi jamaah perempuan yang ingin menunaikan ibadah salat, namun tidak membawa kelengkapannya, di dalam masjid sudah tersedia beberapa sarung dan mukena.

Masjid Raya Padang, Sumatera Barat

Masjid Raya Sumatera Barat atau juga dikenal sebagai Masjid Mahligai Minang adalah salah satu masjid terbesar di Indonesia yang terletak di Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, Sumatera Barat. Masjid yang pembangunannya masih dalam tahap pengerjaan ini merupakan masjid terbesar di Sumatera Barat.
Pembangunan masjid ini dimulai dengan peletakan batu pertama pada 21 Desember 2007 oleh Gubernur Sumatera Barat saat itu, Gamawan Fauzi. Pengerjaannya dilakukan dalam beberapa tahap yang terkendala karena hanya mengandalkan dana APBD Sumatera Barat.
Peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan masjid ini dilakukan pada 21 Desember 2007 oleh Gubernur Sumatera Barat saat itu, Gamawan Fauzi. Menurut rencana masjid ini akan memiliki tiga lantai yang diperkirakan dapat menampung sekitar 20.000 jamaah, yakni sekitar 15.000 jamaah di lantai dasar dan selebihnya di lantai dua dan tiga. Masjid ini dibangun di lahan seluas sekitar 40.000 meter persegi dengan luas bangunan utama kurang dari setengah luas lahan tersebut, yakni sekitar 18.000 meter persegi, sehingga menyisakan halaman yang luas. Di halaman tersebut akan dibuat pelataran, tempat parkir, taman, dan tempat evakuasi bila terjadi tsunami (shelter )

Pengerjaan pembangunan masjid ini dilakukan oleh PT Total Bangun Persada dalam beberapa tahap. Tiga tahap pertama telah selesai dikerjakan, mulai dari pekerjaan persiapan, pengurukan tanah, dan pemasangan struktur bangunan, kemudian dilanjutkan dengan pengerjaan ruang salat dan tempat wudu, hingga pemasangan keramik pada lantai dan ukiran sekaligus kaligrafi pada dinding bagian luar (fasad). Tiga tahap pembangunan tersebut masing-masing menghabiskan biaya sebesar Rp.103,871 miliar (2008 dan 2009), Rp.15,288 miliar (2010), dan Rp. 31 miliar (2011).
Sejak tahun 2012 pelaksanaan pembangunan masjid ini dilakukan dengan sistem tahun jamak.Pada pertengahan tahun 2012, pengerjaan pembangunan telah memasuki tahap keempat. Pada tahap tersebut telah dikucurkan anggaran sebesar Rp. 25,5 miliar untuk menyelesaikan pengerjaan shelter dan tempat parkir, yang ditargetkan selesai pada akhir tahun 2012. Selanjutnya pada tahun 2013 dilanjutkan dengan pembangunan lanskap dan pemasangan kubah. Setelah itu, pada tahun 2014 juga akan dibangun empat menara masing-masing setinggi 100 meter.
Sementara itu, biaya pengerjaan pembangunan masjid yang diperkirakan membutuhkan biaya mencapai Rp. 500 miliar lebih ini hingga saat ini seluruhnya diambil dari APBD provinsi Sumatera Barat, sedangkan bantuan dari pihak lain belum mengalir; Kerajaan Arab Saudi pernah mengirim bantuan sebesar Rp.500 miliar, namun karena terjadi gempa bumi pada tahun 2009 bantuan itu kemudian dipergunakan untuk keperluan rehabilitasi dan rekonstruksi di Sumatera Barat. 

Arsitektur masjid ini merupakan hasil rancangan Rizal Muslimin, pemenang sayembara desain Masjid Raya Sumatera Barat yang diikuti oleh 323 arsitek dari berbagai negara pada tahun 2007. Secara umum, arsitektur masjid ini mengikutitipologi arsitektur Minangkabau dengan ciri bangunan berbentuk gonjong, hingga penggunaan ukiran Minang sekaligus kaligrafi pada dinding bagian luar. Selain itu, arsitektur masjid ini juga menggambarkan kejadian peletakan batu Hajar Aswad dengan menggunakan kain yang dibawa oleh empat orang perwakilan suku di Mekkah pada setiap sudutnya 

Daftar Alamat Masjid Masjid di Sumatera Utara

Berikut ini daftar sementara alamat masjid masjid di wilayah Provinsi yang berhasil kami himpun, dan untuk memperkaya data yang ada ,maka kami akan berusaha memperbarui dengan terus menghimpun data data baru,dan kami juga berharap partisipasi umat islam untuk menyampaikan data data masjid yang belum masuk
  1. Masjid Ad-Dakwah , Alamat Jl.Silimbat-Parsoburan Kec: Silaen kab : Toba samosir
  2. Masjid Al-Hidayah, Alamat Jl.Prof.Dr. Midian Sirait Kec : Porsea, Kab : Toba Samosir
  3. Masjid Al Hadonah, Alamatjl.Masjid 01 Napitupulu Bagasan, Kec Balige, Kab Toba Samosir
  4. Masjid Raya Sultan Ahmadsyah, Alamat Jl. Masjid Kel. Indra Sakti Kec. Tanjung Balai Selatan. Kab: Kota Tanjung Balai
  5. Masjid Al-Mashum, Alamat Jl Sisingamangaraja, Kel. Mesjid, Kec. Medan Maimun, Kota Medan
  6. Masjid Al-Abror,Alamat Jl. Mesjid Raya Baru WEK IV Kec: Padangsidimpuan Utara Kab : Padang Sidimpuan
  7. Masjid Al-Ikhlash, Alamat Dusun I Desa Bulan-Bulan Kec : Lima Puluh, Kab : Batu bara
  8. Masjid Besar Lima Puluh, Alamat kelurahan Lima puluh Kota, kec : Sei Suka, Kab : Batu Bara

Daftar Alamat Masjid di Provinsi Aceh

Berikut ini Daftar Alamat Masjid Masjid di Provinsi Aceh

1. Masjid Raya Al-Waliyyah, Alamat : Jln. Ceumpeudak Pucok Alue. Ceumpeudak Cot Girek
2. Masjid Raya Al-Munawwarah, Alamat : Gampong Alur Mas Kabupaten Aceh selatan kabupaten Kluet Utara
3. Masjid Raya Baiturahman, Alamat : Jln.Muhammad Jam no.1, Kota Banda Aceh
4. Masjid Agung Tamiang Aceh, Alamat : Jln. Medan B.Aceh Km. 225
5. Masjid Baitul Makmur, Alamat : Jln. Imam Bonjol No. 100 Meulaboh
6. Masjid Ruhama, Alamat Jl. Lebe Kader No. 2 Takengon
7. Masjid Al-Falah, Jl. Tgk. Chik Ditiro
8. Masjid Islamic Centre, Alamat Jln. T. Hamzah Bendahara - Simpang IV Lhokseumawe
9. Masjid Al-Makmur Lampriet, Alamat Jl. Taman Ratu Syafaruddin / Muhammad Daud Beureuh, Lampriet, Banda Aceh 24452
10. Masjid Agung, Alamat Jln Bireuen - Takengon Km.1 Bireuen
11. Masjid Ash-Shalihin, Alamat Jl.Kuta Panjang Kelurahan Kota Blangkejeren
12. Masjid Istiqomah Tapak Tuan, Alamat Jl. Jend. Sudirman No. Gampong. Padang
13. Masjid Darus Shalihin, Alaat Jl. Medan - Banda Aceh Gampong Jawa Kecamatan Idi Rayeuk Kab. Aceh Timur 14. Masjid Darul Falah, Alamat Jl. Jalan Jenderal Ahmad Yani Gampong Peukan Langsa
15. Masjdi Al-Huda, Alamat Gampong Paloh Kecamatan Tanah Pasir Kabupaten Aceh Utara
16. Masjid Al-Munawaroh, Alamat Gampong Suak Timah Kec : Sama Tiga Kab : Aceh Barat
17.

Masjid At-Tin Taman Mini Jakarta

Masjid At-Tin adalah satu di antara dua masjid megah di kawasan TMII. Masjid lainnya adalah Masjid Diponegoro. Masjid yang mulai dibangun pada April 1997 ini menempati area tanah seluas 70.000 meter persegi dengan kapasitas sekitar 9.000 orang di dalam masjid dan 1.850 orang di selasar tertutup dan plaza. Pembangunan Masjid At-Tin selesai pada tahun 1999 dan dibuka secara umum pada tanggal 26 November 1999. Alamat Lengkapnya Ada Di Jalan Raya Taman Mini Pintu 1 Taman Mini Kelurahan Pinang Ranti, Makasar, Jakarta Timur 13560

MASJID AT-TIN
Nama At-Tin diambil dari salah satu surah dalam Al-Quran yang merupakan wahyu ke-27 yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW, atau surah ke-95 dalam urutan penulisan Al-Qur‘an. Nama surah itu adalah At-Tin yang berarti sejenis buah yang sangat manis, lezat, dan penuh gizi. Buah ini dipercayai mempunyai manfaat yang banyak, baik sebelum matang maupun sesudahnya.

Selain diinspirasi dari surah Al-Qur‘an, pemberian nama At-Tin sebenarnya juga merupakan upaya untuk mengenang jasa-jasa istri mantan Presiden Soeharto yang bernama Ibu Tien atau lengkapnya Hj. Fatimah Siti Hartinah Soeharto. Memang, pendirian Masjid At-Tin sejak awal merupakan usaha anak-cucu Presiden Soeharto untuk mengenang ibu/nenek mereka. Pendirian masjid ini terlaksana berkat bantuan Yayasan Ibu Tien Soeharto yang merupakan yayasan milik anak-keturunan Ibu Tien Soeharto. Oleh karenanya, nama At-Tin tentu dimaksudkan sebagai doa dan perwujudan rasa cinta yang tulus dari anak/cucu kepada ibu/nenek mereka
Arsitektur
Arsitektur Masjid At-Tin mempunyai keunikan dan kekhasan tersendiri, baik dari segi arsitektur bangunan, hiasan ornamen, maupun desain dalam dan luar ruangannya. Arsitek masjid ini adalah Fauzan Noe'man dan Ahmad Noe'man. Fauzan Noe'man merupakan anak dari Ahmad Noe'man.
Gaya arsitektur masjid ini berusaha menonjolkan lekukan bentuk anak panah pada dinding di hampir semua sudut dan ornamen yang menghiasinya. Lekukan anak panah ini terlihat secara jelas pada bagian muka masjid dari arah pintu masuk. Dengan begitu, wisatawan yang berkunjung ke masjid ini akan dapat melihat dengan leluasa lekukan-lekukan panah yang ditampilkan, sebelum memasuki ruang dalam masjid.

Eksterior
Pada bagian muka (sisi timur) masjid, terdapat taman luas dengan pepohonan rindang yang mengitari plaza berbentuk lingkaran yang terbuat dari marmer berwarna krem. Dari plaza menuju arah muka masjid, terdapat jalan yang terletak di kanan dan kiri plaza. Bagian muka masjid tersebut secara terinci menampilkan tiga lekukan anak panah yang bagian tengahnya didominasi dengan warna abu-abu. Motif yang ditampilkan pada lekukan berbentuk anak panah ini sepintas menyerupai tebaran bunga, karena dihiasi oleh sejumlah gambar bermotif bunga di tengahnya. Selain tiga lekukan berbentuk anak panah tersebut, juga terdapat dua lekukan anak panah lagi (ukurannya lebih kecil) pada sisi kanan dan kiri dinding masjid.
Selain itu juga tampak dari bagian muka masjid sebuah kubah utama yang diapit oleh empat kubah kecil. Pada bangunan kubah-kubah kecil ini juga dipenuhi lekukan berbentuk anak panah yang lebih tinggi dan runcing.

Mencoloknya lekukan, konstruksi, dan ornamen yang berbentuk anak panah pada tiap bagian masjid ini memberikan gambaran bahwa rancang bangun masjid At-Tin didesain se-minimal mungkin untuk mengekspos elemen estetis terputus dengan mengedepankan gerakan geometris yang terus bersambung seperti yang tergambar dalam sudut masing-masing anak panah yang saling berhubungan. Bentuk anak panah ini memiliki makna agar umat manusia tidak pernah berhenti mensyukuri nikmat Allah—seperti terlukis dalam bentuk anak panah—mulai dari titik awal hingga titik akhir.

Interior
Kekhasan lain yang terdapat pada masjid ini adalah pintu masuk utama masjid yang terdiri dari dua dinding tanpa daun pintu. Pintu masuk ini juga berbentuk seperti anak panah. Setelah melewati pintu utama, pengunjung akan disuguhi kolam air mancur yang pada bagian pinggirnya dapat berfungsi sebagai tempat duduk para pengunjung. Kolam air mancur dengan keramik warna hijau muda ini juga berbentuk seperti anak panah. Dari arah pintu utama, pengunjung dengan mudah dapat menuju ke arah lantai dasar yang digunakan untuk ruang serbaguna, tempat wudu (pria/wanita), ruang mushaf, ruang rapat kecil, perpustakaan, ruang audiovisual, dan ruang internet. Selain ruang-ruang tertutup ini, area lantai dasar masjid ini dikelilingi teras terbuka di mana para pengunjung dapat dengan leluasa melihat ke arah taman.
Lantai dasar masjid ini dikelilingi oleh tangga-tangga sebagai jalan menuju ke arah lantai satu. Melalui pintu utama, para pengunjung dapat menggunakan dua tangga utama dan sebuah eskalator pada sisi kanan menuju lantai satu. Alternatif lainnya, pengunjung juga dapat menggunakan empat tangga lain yang terdapat di sudut kanan kiri masjid serta satu tangga di bagian belakang masjid.
Ruang utama untuk salat terletak di lantai satu. Di ruang ini tampak tujuh lekukan berbentuk anak panah dari keramik warna hijau tua pada bagian dindingnya. Bagian tengahnya difungsikan sebagai mihrab dan mimbar. Pada bagian sisi kanan dan kiri ruangan yang berhubungan dengan ruang teras samping ini dibatasi oleh penyekat kayu ukir yang setiap saat bisa dibongkar-pasang. Pengunjung yang berada di ruangan ini dapat melihat kerangka kubah dari dalam. Saat pengunjung mengamati bagian dalam kubah akan tampak lempengan baja tipis pada ketinggian tertentu dengan warna dasar hijau yang dikelilingi oleh kaca patri berwarna hijau-merah-kuning dan biru. Sehingga, saat matahari bersinar, cahaya yang masuk akan dipantulkan dan membentuk kombinasi warna yang mengagumkan.

Kaligrafi
Berbeda dengan masjid pada umumnya, penggunaan ornamen kaligrafi dalam masjid ini sangat minim. Ornamen kaligrafi hanya nampak pada dinding bagian atas ruang salat utama (lantai satu) dan sepanjang dinding pada lekukan anak panah di area mihrab dan mimbar. Dengan menggunakan cat warna hijau muda, tampak tulisan ayat-ayat Al-Qur‘an mengitari dinding ruang salat utama yang juga bisa dilihat dari arah mezanin.
Secara umum, masjid At-Tin dikelilingi oleh koridor-koridor dengan atap yang dibentuk seperti anak panah. Koridor ini merupakan sarana bagi para pengunjung berjalan kaki menuju gedung utama masjid. Selain itu, koridor ini juga sering digunakan untuk salat, saat jemaah tidak lagi tertampung di dalam masjid. Mungkin, tujuan lain dari pembuatan koridor ini juga untuk menghindari rusaknya taman akibat diinjak oleh pengunjung. Taman ini memang banyak ditumbuhi oleh berbagai jenis tanaman, seperti palm, tanaman merambat, dan rerumputan. Sekilas taman ini nampak seperti padang rumput yang terpetak-petak karena diberi jalur setapak bagi pejalan kaki. Di area rerumputan ini juga terdapat empat kolam air mancur berbentuk bunga mekar yang pada bagian dindingnya bisa difungsikan sebagai kran tempat wudu.

Fasilitas Pendukung
Masjid At-Tin memiliki berbagai fasilitas pendukung seperti warung makan, ruang rekreasi/TV, ruang internet, perpustakaan, rumah dinas Imam Besar, mess muazin, rumah penjaga, ruang kegiatan, ruang kelas, dan lahan parkir yang dapat menampung 100 sepeda motor, 8 bus, dan 350 mobil. Di samping fasilitas-fasilitas pendukung, masjid ini juga sering menyelenggarakan kegiatan seperti diskusi tema khutbah sebelum salat jumat, kuliah Ahad Duha berbentuk cermah dan diskusi, pengajian tafsir Al-qur‘an (Tafsir Jalalain) setiap Minggu pagi (08.00—11.00 WIB), pengajian karyawan, seminar keagaman, tablig akbar, dan peringatan hari besar Islam

Masjid Agung Natuna Kepulauan Riau

Masjid Natuna Tampak Depan
Masjid Agung Natuna merupakan sebuah masjid yang terletak di Kabupaten Natuna, Indonesia. Masjid ini dibangun pada tahun 2007 dan selesai pada tahun 2009. Masjid ini merupakan bagian dari kompleks Gerbang Utaraku, kawasan yang dipersiapkan sebagai pusat pemerintahan dan bisnis Natuna di wilayah Ranai yang menjadi ibukota Kabupaten Natuna, tidak hanya itu, masjid juga menjadi titik pusat kawasan tersebut

Sejarah
Proses pembangunan ini telah direncanakan sejak tanggal 13 Agustus 2006, atau sejak bupati kabupaten Natuna Drs. H. Daeng Rusnadi, M.Si menduduki jabatannya sebagai bupati Kabupaten Natuna. Setelah melalui beberapa proses perencanaan yang disesuaikan dengan arti filosofi dari pembangunan Masjid Raya dan Komplek Gerbang Utaraku, proses pembangunan fisik dimulai dengan peletakan batu pertama pada tanggal 04 Mei 2007.

Masjid Raya Natuna merupakan titik utama komplek Gerbang Utaraku. Kemudian dilanjutkan pada proses pembangunan lanjutan tahap I B, pembangunan fasilitas lain akan dilaksanakan, diantaranya pembangunan Masjid Laut, Pusat perekonomian, pasar, terminal, Asrama STAI, Gedung Olah raga, dan lain sebagainya. Komplek gerbang utaraku merupakan implementasi pembangunan 5 (lima) pilar utama, yaitu Keimanan, Kesehatan, Pendidikan, Perekonomian dan hukum. Tahapan Tahap I A. Diresmikan penggunaan fasilitasnya oleh Bupati Kabupaten Natuna Drs.H Daeng Rusnadi,M.S pada hari Jum’at 4 April 2009.

Arsitektur
Tampak Dalam Masjid Natuna
Ornamen Masjid Agung Natuna mengambil insfirasi dari Al’quran, karena Alطquran merupakan sumber dari segala hukum. Dengan bentuk kubah mirip kubah Taj Mahal di India dan menjadi masjid terbesar dan dan termegah di Propinsi Kepulauan Riau. Masjid yang cukup megah dan luas. Satu barisan shaf di dalam masjid ini cukup untuk memuat hingga 180 jemaah.
Masjid Natuna, telah jelas-jelas bahwa lambang dan makna dekoratif yang muncul menunjukkan bahwa gedung tersebut adalah bangunan Islami. Masjid Raya Natuna memiliki ruang dalam yang sangat luas. Bagian tengahnya diterangi oleh cahaya alami yang bersumber dari kubah masjid. Bagian tepi pada lantai satu yang terteduhi lantai dua cukup gelap. Untuk meneranginya dibuat bukaan berupa karawang yang terletak di atas pintu masuk yang memilliki dimensi cukup besar. Terasa bahwa ruang remang pada bagian ini diterangi oleh sedikit cahaya dari atas layaknya ruang-ruang gotik. Dari segi bentuk, pintu masuk ini memiliki geometrika lengkung yang bagian atasnya lancip. Dua pintu utama yang terletak di sisi kiri dan kanan gedung menghadap ke kiblat juga mengarahkan nuansa ruang menjadi terfokus pada sumber cahaya Ilahi.
Latar belakang mihrab Masjid Raya di Natuna dibuat dari bahan kayu dengan bentuk yang cukup besar. Geometrika nya juga terbentuk dari lengkung atau busur dengan pertemuan lancip di bagian tengah/atasnya. Latar mihrab tersebut juga didesain dengan labirin busur lancip hingga semakin memperkuat kesan gotik-nya

Masjid Raya Al-Amanah Kavling Polri Jelambar

       
Masjid Raya Al-Amanah yang beralamat Jl. Amanah no 1 RW 10, Kelurahan Wijaya Kusuma Kecamatan Grogol Petamburan yang di halaman depan terdapat TK Al-Amanah Mathlaul Anwar, sedangkan di bagian belakang berdiri gedung Universitas Mathlaul Anwar Jakarta, Masjid yang berdiri di lahan tanah yang secara keseluruhannya ada 3500 meter persegi, Dengan luas bangunan masjid 15 M X 15 M ditambah teras menjadi 20 M X 20 M, sehingga bisa menampung sekitar 700 jamaah.
        Sejarah berdirinya berdasarkan buku petunjuk administrasi Masjid Al-Amanah yang ditulis oleh Drs H.Amanat Nuryosudarmo, bermula dari tahun 1975 sesudah Hari raya Idul Fitri ,Ketua Team Kerja urusan Tanah Mabak(Mabes Polri) Brigadir Jendral A.Wiranto puspo atmojo, SH, setelah mengadakan rapat pada tanggal 30 Oktober 1975 tentang rencana pelaksanaan pembangunan tempat Ibadah (Masjid) yang terletak di Komplek Kav Polri Jelambar atas permohonan umat Islam jelambar, maka Polri mengeluarkan keputusan [No Pol :UTK/168/XI/1975], mengangkat Brigadir Jend polisi Amanat Nuryosudarmo sebagai ketua dan Bp Soechaemi sebagai sekretaris panitia pembangunan masjid jelambar, untuk memudahkan gerak usaha panitia pembangunan masjid maka dengan segera dibentuk badan hukum yaitu “YAYASAN AL AMANAH” dengan akte notaries : Muhammad Said tajudin, Jl Kerajinan 19 Jakarta no 100 pada tanggal 1978. Dan tanah yang disediakan secara cuma-Cuma oleh team tanah  Polri dan telah ditunjuk KAV POLRI di Blok D (yang kini berdiri SMA Swasta Dharma Jaya), namun setelah panitia pembangunan mempelajari gambar Rencana Tata Kota Jelambar dan situasinya, maka panitia mengajukan permohonan kepada team polri agar tanah masjid  di Blok D ditukar dengan tanah yang lebih strategis letaknya dan lebih luas, maka disetujui oleh kedua belah pihak,yaitu Tanah tempat Masjid Raya Al-Amanah sekarang ini. 
         Pada rencana pelaksaaan pembangunan masjid, panitia menganggarkan dengan perkiraan  anggaran Rp.180.000.000,_(seratus delapan puluh juta rupiah), namun rupanya panitia kesulitan untuk merealisasikan adanya dana sebanyak itu,paling mampu hanya 15%,yaitu 12.000.000,_(dua belas juta rupiah), oleh karena itu panitia memohon bantuan Pemerintah DKI Jaya, Alhamdulillah gayung bersambut Pemerintah DKI Jaya siap membantu dengan syarat gambar bangunan mengikuti model yang ditentukan oleh pemerintah DKI pada saat itu. Dan akhirnya disetujui oleh kedua belah pihak, dana pembangunan Masjid akhirnya dimasukan dalam anggaran pemerintah DKI jaya tahun 1981/1982.
       Beberapa kegiatan masjid diluar untuk pelaksanaan sholat rawatib, adalah pengajian Al-Qur’an (membaca dan setor hafalan Al-Quran yang diikuti oleh bapak bapak pada setiap hari rabu malam ba’da sholat Isya’ yang dibimbing langsung oleh Ketua Masjid raya Al-Amanah,yaitu H Uding Rafiudin, Kuliah Subuh yang dilaksanakan pada setiap Ahad setelah melaksanakan sholat shubuh berjamaah dengan penceramah dari Korps Mubaligh Jakarta, pengajian ibu ibu yang dilaksanakan pada setiap hari Sabtu dan Ahad dengan pembimbing Ustadzah Suryati SPdi, dan pengajian anak anak yang dilaksanakan pada setiap hari senin hingga hari jum’at, ba’da Sholat Maghrib hingga pukul 20.00WIB, dengan peserta kurang lebih sekitar 50 anak dan dibimbing oleh 6 guru. Demikianlah, sekilas tentang profil Masjid Raya Al Amanah yang bersumber dari Makalah ust Tamami yang merupakan Ketua Seksi Dakwah Masjid Raya Al-Amanah semoga apa yang kami sampaikan ini bermanfaat 

Masjid Agung An-Nur Riau

Masjid Agung An Nur merupakan sebuah masjid yang terletak di Pekanbaru, Indonesia. Masjid ini dibangun pada tahun 1963 dan selesai pada tahun 1968. Masjid yang di ibukota Provinsi Riau, Pekanbaru tersebut saat ini merupakan salah satu yang termegah di Indonesia. Dilihat dari sisi bangunannya, masjid banyak mendapat pengaruh dari gaya arsitektur Melayu, Turki, Arab dan India.

Sejarah
Mesjid Agung An Nur berdiri tanggal 27 Rajab 1388 H atau bertepatan dengan tanggal 19 Oktober 1968, Masjid Agung An-Nur diresmikan oleh Arifin Ahmad, Gubernur Riau waktu itu dan tahun 2000 pada masa gubernur Saleh Djasit mesjid ini direnovasi secara besar-besaran.
Masjid Agung An-Nur Riau yang kita saksikan begitu megah saat ini bukanlah bangunan asli hasil pembangunan tahun 1966 dan diresmikan tahun 1968. Tapi merupakan bangunan hasil renovasi total dan pembangunan kembali dari masjid Agung An-Nur yang lama. Di pergantian milenium tahun 2000 lalu, pada saat Riau dibawah kepemimpinan gubernur Shaleh Djasit, Masjid Agung An-Nur yang lama di rombak total ke bentuknya saat ini.
Dari pembangunan tahun 2000 tersebut luas lahan masjid ini bertambah tiga kali lipat dari sebelumnya yang hanya seluas 4 hektar menjadi 12.6 hektar. Luasnya lahan masjid baru ini memberikan keleluasaan bagi penyediakan lahan terbuka untuk publik Pekanbaru termasuk di dalamnya kawasan taman nan hijau dan lahan parkir yang begitu luas.
Dalam sejarahnya Masjid Agung An-Nur pernah menjadi kampus bagi Fakultas Ushuluddin Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Syarif Kasim Pekabaru di awal pendiriannya hingga tahun 1973. IAIN Sultan Syarif Kasim kini Menjadi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN SUSKA) Pekanbaru

Arsitektur
Masjid Agung An-Nur Riau di Pekanbaru ini disebut disebut sebagai Taj Mahalnya propinsi Riau. Bila kita amati arsitektural masjid Agung An-Nur memang memiliki beberapa kesamaan dengan Taj Mahal. Arsitektur Masjid ini dirancang oleh Ir. Roseno dengan ukuran 50 X 50 m yang terletak dalam satu pekarangan yang luasnya 400 X 200 m. Kapasitas masjid dapat menampung sekitar 4.500 orang jamaah. Bangunan masjid terdiri dari tiga tingkat. Tingkat atas digunakan untuk sholat, dan tingkat bawah untuk kantor dan ruang pertemuan.
Masjid ini mempunyai tiga buah tangga, 1 buah tangga di bagian muka dan 2 buah tangga di bagian samping. Di bagian atas terdiri dari 13 buah pintu dan bagian bawah terdiri dari 4 buah pintu dan mempunyai kamar-kamar yang besar dan sebuah aula. Sedangkan tulisan kaligrafi yang terdapat dalam ruangan masjid ini ditulis oleh seorang kaligrafer bernama Azhari Nur dari Jakarta yang ditulis pada tahun 1970.
Lantai bawah masjid merupakan sekretariat pengurus masjid, manajemen, remaja masjid serta ruang ruang kelas tempat pelaksanaan pendidikan Islam. Masjid Agung An-Nur Riau juga dilengkapi dengan eskalator penghubung antara lantai satu dan dua. Di halaman masjid Agung An-Nur Riau merupakan lapangan luas
Masjid Agung An Nur juga dilengkapi oleh bermacam fasilitas seperti pendidikan mulai dari playgrup, TK, SD, SMP & SMA, perpustakaan yang lengkap dan fasiltas lain seperti aula dan ruang pertemuan, ruand kelas dan ruang ruang kantor.[wikipedia]

Masjid Baitul Izzah Bengkulu

Masjid yang di bangun tahun 1977 pada masa pemerintahan Drs. A. Chalik (Gubernur Pop. Bengkulu) menempati lahan seluas 1225 m2. Pembangunan Masjid selesai tahun 1979 dan diresmikan oleh wakil presiden H. Adam Malik. Tahun 1995 dilakukan pemugaran oleh Gubernur Drs. Aziz Ahmad dengan memeperluas menjadi 1600 m2. dan Sekaligus merubah nama dari Masdjid Raya Bengkulu menjadi masdjid Baitul Izzah. Arsitektur masjid mempunyai tiang bulat dan persegi empat serta pagar setinggi 1 M dari kaca dengan corak perpaduan Timurtengah dan Indonesia. Masjid ini berlokasi di Bengkulu dan menjadi masjid Propinsi.

Masjid Agung Al-Falah Jambi, Masjid Seribu Tiang

Masjid Agung Al-Falah merupakan masjid terbesar di JambiIndonesia. Masjid ini juga dikenal sebagai Masjid 1000 Tiang, meskipun jumlah tiangnya hanya 256 buah. Lokasi di mana Masjid Agung ini berdiri, dulunya merupakan pusat kerajaan Melayu Jambi. Namun pada tahun 1885 dikuasai penjajah Belanda dan dijadikan pusat pemerintahan dan benteng Belanda. Hal tersebut sejalan dengan penjelasan sejarawan Jambi, Junaidi T Nur, bahwa Mesjid Agung Al falah ini berdiri di lahan bekas Istana Tanah Pilih dari Sultan Thaha Syaifudin.
Pada tahun 1858, Saat terpilih menjadi sultan di kesultanan Jambi, Sultan Thaha Syaifudin membatalkan semua perjanjian yang dibuat Belanda dengan mendiang ayahandanya, karena perjanjian tersebut sangat merugikan kesultanan Jambi. Saat itu, Balanda sangat marah dan mengancam akan menyerang Istana.
Namun Sultan Thaha justru lebih dulu menyerang pos Belanda di daerah Kumpe. Pasukan Belanda melakukan serangan balasan dan membumi hanguskan komplek Istana Tanah Pilih. Tahun 1906 lokasi bekas istana sultan tersebut dijadikan asrama tentara Belanda yang digunakan sebagai tempat pemerintahan Keresidenan. Di era kemerdekaan sampai tahun 1970an lokasi tersebut masih difungsikan sebagai asrama TNI di Jambi.
Pada awalnya gagasan pembangunan Masjid Agung sudah mengemuka tahun 1960-an oleh pemerintah Jambi, beserta tokoh tokoh Islam Jambi. Namun, proses pembangunan masjid baru dimulai tahun 1971. Para alim ulama dan tokoh tokoh Jambi diantaranya M.O. Bafaddal, H Hanafi, Nurdin Hamzah, dan gubernur saat itu (Tambunan atau Nur Admadibrata ) Sepakat untuk membangun masjid agung di lokasi tersebut dan dan merelokasi asrama TNI. Salah satu alasan kenapa masjid yang dibangun di lokasi bersejarah tersebut adalah mengacu pada lambang Jambi yang terdapat gambar Masjid. Masjid Agung Al-falah kota Jambi diresmikan penggunaannya oleh presiden Soeharto pada tanggal 29 September 1980.
Masjid kebanggaan warga Jambi ini berdiri diatas lahan seluas lebih dari 26.890 M2 atau lebih dari 2,7 Hektar, sedangkan luas bangunan masjid adalah 6.400 M2 dengan ukuran 80m x 80m, dan mampu menampung 10 ribu jamaah sekaligus. Sedari awal bangunan Masjid Agung hingga sekarang tetap dipertahankan sesuai bentuk awalnya. Kalaupun ada renovasi hanya penambahan ukiran pada mihrab imam, tanpa merombak bentuk awal Masjid. dan mengganti pembungkus tiang di tahun 2008.
Masjid agung Al-Falah kota Jambi dibangun lengkap dengan kubah besar dan menara yang menjulang. Keseluruhan bangunan masjid menggunakan material beton bertulang. Bila dipandang sepintas lalu, jejeran tiang tiang masjid berwarna putih yang ramping di masjid ini memiliki kemiripan dengan tiang tiang masjid agung kota Roma, Italia yang dibangun jauh lebih belakangan dibanding dengan masjid Al-Falah di Jambi ini.
Jejeran ratusan tiang di masjid Al-Falah ini terbagi dua bentuk. Bentuk pertama merupakan tiang tiang lansing bewarna putih dengan tiga sulur ke atas menyanggah sekeliling atap masjid sebelah luar. Dan bentuk tiang kedua berupa tiang tiang silinder berbalut tembaga menopang struktur kubah di area tengah bangunan masjid. penggunaan material tembaga untuk menutup tiang tiang silinder ini memberikan kesan antik namun megah pada interior masjid Al-Falah.
Di rancang sebagai bangunan terbuka tanpa pintu dan jendela, benar benar sejalan dengan nama masjid ini. Al-Falah dalam bahasa arab bila di Indonesiakan menjadi Kemenangan, menang bermakna memiliki kebebasan tanpa kungkungan, mungkin filosofi itu juga yang menjadi dasar dibangunnya masjid ini dengan konsep terbuka. Agar muslim manapun bebas masuk dan melaksanakan ibadah di masjid ini.
Sementara bagian dalam kubah di hias dengan ornamen garis garis simetris mirip dengan garis garis lintang dan garis bujur bola bumi. Ring besar di bawah kubah di hias dengan lukisan kaligrafi Al-Qur’an bewarna emas. Sebuah lampu gantung berukuran sangat besar berbahan tembaga memperindah tampilan ruang di bawah kubah.

Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjung Binai Sumatera Utara

Indonesia memiliki banyak masjid-masjid tua bersejarah peninggalan kesultanan-kesultanan Islam yang pernah menguasai Nusantara. Salah satu warisan bersejarah itu adalah Masjid Raya Sultan Ahmadsyah di Kota Tanjung Binai, Sumatera Utara. Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjung Balai didirikan mulai pada tahun 1884 dan selesai dibangun pada tahun 1886. Penggagas berdirinya Masjid Raya Sultan Ahmadsyah adalah Sultan Ahmadsyah yang bergelar Marhum Maharaja Indrasakti yang memerintah Kesultanan Asahan mulai tahun 1854 hingga 1888.

Ciri utama dari masjid ini adalah bangunan Melayu. Hal ini terlihat dari bentuk bangunannya yang berbentuk persegi panjang seperti kebanyakan bangunan Melayu. Pada pinggir atapnya juga terdapat ciri khas bangunan Melayu yaitu ukiran pucuk rebung.
Keunikan masjid ini adalah tidak terdapat pilar di bagian dalam masjid yang bermakna Allah tidak memerlukan penyangga untuk berdiri. Padahal bangunan dasar dari masjid ini hampir tidak memakai semen melainkan pasir dan tanah liat serta batu bata. Keunikan lainnya yaitu kubah masjid tidak terletak di tengah bangunan melainkan di bagian depan masjid sehingga jika dilihat dari depan, masjid ini terkesan biasa namun menyembunyikan keunikannya.
 Di dalam masjid terdapat mimbar yang berornamen Cina. Mimbar ini didatangkan langsung oleh Sultan dari Cina. selain itu juga ada tangga putar untuk naik ke menara masjid yang terletak tepat di belakang mimbar.
Bangunan utama Masjid Raya Sultan Ahmadsyah belum pernah direnovasi. Namun bangunan pendukungnya banyak yang diganti maupun ditambah. Seperti tempat wudhu’ yang berbentuk qullah dan dapur masjid diganti dengan pendopo. Sedangkan gerbang dan menara utamanya dibangun kemudian sehingga masjid ini memiliki dua menara. Di depan masjid juga terdapat kuburan massal korban revolusi sosial maret 1946. Sedangkan di belakang masjid terdapat kuburan keluarga imam dan nazir masjid. Saat ini di pendopo masjid juga terdapat tiga buah meriam peninggalan Kesultanan Asahan.
Fungsi didirikannya Masjid Raya Sultan Ahmadsyah bukan hanya sebagai sebuah tempat ibadah, tetapi juga merupakan tempat strategis bagi pengembangan masyarakat, Selain sebagai tempat ritual, masjid juga sebagai pusat tumbuh dan perkembangnya kebudayaan Islam.  Di dalamnya dilakukan penyusunan strategi, perencanaan dan aksi di dalam kerangka penyebaran Islam di tengah kehidupan masyarakat. Selain sebagai kepentingan ritual ibadah keagamaan, juga memiliki kepentingan politis untuk melawan hegemoni penjajah.

Fungsi Masjid Raya Ahmadsyah saat ini adalah sebagai tempat ibadah masyarakat muslim Tanjung Balai. Selain itu, di Masjid Raya Ahmadsyah juga dilakukan pengajian-pengajian mingguan, pengajian bulan ramadhan, pengajian remaja masjid dan pengajian anak-anak. Masjid Raya Ahmadsyah juga berfungsi sebagai tempat latihan manasiq haji serta tempat sosial kemasyarakatan seperti pemotongan hewan kurban dan khitanan massal serta penyolatan jenazah .
Sayangnya kini tak banyak yang mengetahui sejarah besar yang dimiliki oleh masjid ini. bahkan termasuk masyarakat Tanjung Balai sendiri. Apalagi saksi-saksi hidup masjid ini semakin berkurang. Padahal masjid ini lebih dahulu ada dari pada Masjid Raya Al-Mahsun di Medan maupun Masjid Raya Sulaimaniyah di Serdang. Oleh karena itu sudah seharusnya remaja-remaja Tanjung Balai melestarikan sejarah negerinya agar tak hilang di tengah arus jaman.

Masjid Agung Al-Munawaroh Kota Jantho Aceh Besar

BILA Anda berkunjung ke Kota Jantho, ibu kota Kabupaten Aceh Besar, rasanya belum sempurna jika tak menyempatkan diri shalat di Masjid Agung Al-Munawwarah yang berada di tengah Kota Jantho. Pembangunan masjid itu dimulai pada Jumat, 17 Agustus 1984 yang ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Gubernur Aceh saat itu, Hadi Thayeb, Bupati Aceh Besar Drs HM Zein Hasjmy, Ketua DPRD Aceh Besar Zakaria R Alwy, dan Tgk Abd Djalil Ibrahim selaku ketua panitia pembangunan masjid tersebut.


Luas Masjid Agung Al-Munawwarah adalah 40x42 meter persegi. Pada awalnya, dana yang dianggarkan untuk pembangunan masjid itu Rp 450 juta. Berkat dukungan berbagai pihak, pada Jumat, 22 April 1988, masjid ini diresmikan pemakaiannya oleh Bupati Aceh Besar Drs HM Zein Hasjmy,” jelas Imam Besar Masjid Agung Al-Munawwarah, Tgk Zaini SH MH, kepada Serambi, beberapa hari lalu.



Menurutnya, rasa suka cita menyelimuti prosesi peresmian masjid itu yang ikut dihadiri pejabat jajaran Pemkab Aceh Besar, ulama, tokoh masyarakat dan warga Kota Jantho sekitar sekitarnya. Kehadiran Masjid Al-Munawarah semakin melengkapi semaraknya pelaksanaan syiar Islam di Kota Jantho.



Dalam perkembangannya, kata Tgk Zaini, Masjid Al-Munawarah terus dibenahi. Masjid tersebut kini mampu menampung sekitar empat ribu jamaah shalat. Masjid ini memiliki pekarangan yang luas. Karena itu, di kompleks masjid ini sering dilaksanakan peringatan hari-hari besar Islam seperti Maulid Nabi Muhammad SAW, Israk Mikraj, serta shalat Idul Fitri dan shalat Idul Adha. 



Pelepasan calon jamaah haji Aceh Besar terkadang juga dipusatkan di masjid ini. Di sini pula, lanjut Tgk Zaini, telah tercatat sejumlah warga nonmuslim yang menyatakan ikrarnya untuk masuk Islam. Bahkan beberapa kali pelaksanaan uqubat cambuk bagi pelanggar Qanun Syariat Islam juga digelar di halaman Al-Munawwarah yang dilakukan usai shalat Jumat. 



“Kegiatan lain yang juga rutin dilaksanakan di masjid Ini adalah pengajian seni baca Alqur’an dan tajwid (Selasa dan Jumat usai shalat Ashar), dalail khairat (Selasa malam), pengajian kitab yang dipimpin Tgk Hamzah (Rabu malam), dan tadarus tilawah oleh remaja masjid (Kamis malam),” jelas Tgk Zaini.



Masjid Al-Munawarah yang berdiri megah di pusat Kota Jantho dan dikelilingi oleh perbukitan Bukit Barisan yang indah dan elok. Hembusan angin yang bertiup sepoi-sepoi akan semakin memberi kekhusyukan dan kesegaran bagi jamaah. Tatkala waktu azan tiba, panggilan Ilahi akan menyeruak ke segenap sudut ibu kota Aceh Besar tersebut. 



Ya, dari Al-Munawarah, syiar Islam itu semakin menggema dan mengisi relung-relung keimanan warganya. Begitu hendak berwudhuk, nuansa kesejukan dan kesegaran bakal semakin memotivasi kaum muslimin untuk senantiasa khusyuk tatkala menunaikan shalat lima waktu secara berjamaah di masjid itu.(jamaluddin)

Visi Misi Al Munawwarah
- Visi: Mewujudkan pelaksanaan kemakmuran masjid
- Misi: Berperan dalam memberikan bimbingan dan sosialisasi syariat Islam, meningkatkan sumber daya melalui pengajian Alquran dan kitab-kitab, berperan sebagai media penangkal ajaran-ajaran yang bertentangan dengan syariat Islam, menjadikan masjid sebagai wahana mengimplementasikan dari berbagai aspek kehidupan masyarakat, dan mengoptimalkan fungsi masjid dalam pembinaan umat