Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

 Jika ingin menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan dan peradaban Islamiyah, maka perlu dilakukan penataan kembali terhadap pengelolaan masjid, termasuk kegiatan mencerdaskan umat dengan memperhatikan hal-hal yang telah dicontohkan Rasulullah SAW dalam mengelola masjid.

Dalam mengelola masjid, Rasulullah SAW menggunakan prinsip-prinsip manajemen yang sangat sederhana dan simpel, transparan, tidak bertele-tele, serta secara “built-in” mengatasi problematika umat. Memang tugas pengurus masjid tidaklah ringan. Karena itu, setiap individu yang terlibat dalam kepengurusan masjid dituntut untuk memiliki sikap dan kemampuan manajerial yang tinggi serta keikhlasan untuk rela mengorbankan waktu dan tenaganya.

Sebagai orang yang dipilih dan dipercaya oleh jamaah, pengurus masjid diharapkan dapat menunaikan tugasnya dengan baik dan bertanggung jawab, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW dalam mengelola masjid dan perlakuan terhadap jamaah masjid.

Contoh yang diberikan Rasulullah SAW itu, antara lain, ketika akan menunaikan shalat, Nabi selalu berbalik, mengecek dulu jamaahnya. Pada suatu ketika, salah seorang jamaah tetapnya tidak hadir dalam shalat berjamaah itu.

    Nabi bertanya: “Mana si Fulan.” Lalu seorang jamaah menyampaikan bahwa Fulan sedang sakit. Setelah selesai shalat, Nabi mengunjungi Fulan di rumahnya. Hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW sangat memperhatikan jamaahnya.

Contoh lainnya, setelah shalat Jumat, dari atas mimbar Rasulullah SAW selalu menanyai jamaahnya: “Siapa yang hari ini ada kesulitan atau kekurangan.” Apabila ada yang mengangkat tangan, bahwa dia sedang dalam kesulitan atau kekurangan, maka Nabi bertanya lagi, apakah dari jamaah yang hadir, yang telah diberi rezeki oleh Allah dan punya kelebihan, dapat membantu jamaah yang sedang kesulitan dan kekurangan itu.

Dengan cara ini, maka setelah shalat Jumat ditunaikan, problematika umat dapat langsung diselesaikan. Dalam peristiwa lain, suatu ketika, setelah menunaikan shalat, Nabi bergegas pergi ke rumah. Para sahabat heran atas tingkah laku Nabi ini. Mereka mengira Nabi mendapatkan wahyu. Tak lama setelah itu, Nabi keluar dari rumah dan membawa dirham, yang kemudian dibagikan (disedekahkan) kepada masyarakat.

Sahabat bertanya, mengapa Nabi tadi bergegas keluar masjid. Nabi menjawab, ketika shalat selesai, dia teringat masih punya uang di rumah. Sudah menjadi kebiasaan Nabi tidak pernah menginapkan uang di rumah. Uang yang diperolehnya selalu diinfakkan pada hari itu juga.

Nabi begitu peduli dan mengenal baik setiap jamaah masjid. Nabi juga mengetahui kehadiran setiap jamaah dengan cara mengecek jamaahnya. Kemudian Nabi mengetahui keadaan masing-masing jamaahnya, baik kesehatan, ekonomi, maupun kesulitan yang dihadapi jamaah.

    Bahkan Nabi menggunakan masjid sebagai tempat untuk saling mengenal keadaan setiap jamaah dan berbagi antara yang mampu dengan yang tidak mampu secara transparan.

Contoh-contoh Nabi ini memiliki kandungan manajemen sangat tinggi dan bermakna dalam. Karena itu, sungguh sangat relevan bila contoh-contoh yang diberikan oleh Rasulullah SAW itu direalisasikan dalam pengelolaan masjid pada saat ini. Tentu hal ini diawali dengan menunjukkan kecintaan kepada masjid, sejalan dengan hadis berikut ini: “Barangsiapa yang mencintai masjid, maka Allah mencintainya.” (H.R. Thabrani).

Tentu mencintai masjid ini tidak hanya ditunjukkan hanya dengan selalu pergi ke masjid untuk menunaikan shalat, melainkan juga menjaga wibawa masjid. Masjid harus lebih bagus dari rumah tempat tinggal jamaah. Namun bukan berarti berlomba-lomba memperbagus masjid, sedangkan upaya memakmurkannya sangat kurang. Tidak sedikit masjid yang dengan susah payah dibangun, tapi akhirnya sepi dari jamaah dan kegiatan umat.

Masjid harus menunjukkan semangat dan kecintaan jamaahnya, karena Allah SWT juga menyatakan bahwa tempat yang paling disukai-Nya adalah masjid dan yang paling tidak disukai-Nya adalah pasar. Hal ini tercermin dalam hadits: “Bagian bumi yang dicintai Allah ialah masjid dan bagian yang paling dibenci Allah adalah pasar.” (H.R. Muslim).

Dari kecintaan pada masjid itu, akan lahir keikhlasan untuk mengurus dan mengelolanya dengan baik. Kemudian mengajak dengan cara-cara yang baik pula agar orang yang belum berjamaah di masjid akhirnya tertarik untuk ikut berjamaah.

Setelah itu, insya Allah, kegiatan di masjid akan semakin semarak dan gaung syiarnya akan menggetarkan jiwa orang-orang untuk selalu terpaut hati dan pikirannya pada masjid, sehingga terhindar dari perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT.[Infomasjidkita]

Tentang admin

Admin adalah orang-orang yang peduli terhadap kemaslahatan umat, terutama dalam menghadapi tantangan zaman berupa hujatan, fitnah, dan upaya-upaya lain yang mendeskriditkan dunia Islam. "Biodata Penulis".
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment