Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

Masjid Raya Bogor

Masjid Raya Bogor dibangun pada tahun 1970 selesai tahun 1979 dengan arsitek FX. Silaban dilengkapi dengan gedung Pusat pengembangan dan Pengkajian Islam Bogor dilengkapi dengan sarana perpustakaan umum.
Masjid ini berlokasi di Jl. Raya Pajajaran. Untuk mencapainya cukup mudah yaitu dengan berjalan kaki atau menggunakan angkutan kota dari terminal Baranang Siang.
Masjid ini adalah masjid yang terbesar di kota Bogor. Saat ini pemkot kota Bogor sedang merencanakan untuk melakukan renovasi masjid ini. Renovasi yang sudah selesai adalah pembangunan menara masjid yang jadi satu dengan gedung BAZIZ kota Bogor. Sementara untuk masjidnya sendiri belum tampak ada tanda-tanda pelaksanaan renovasinya.
Di manapun salah satu fungsi sampingan masjid adalah sebagai tempat beristirahat sejenak bagi para musafir. Di masjid ini pun demikian. Pun demikian dengan diriku yang sudah kelelalah dan ingin sejenak me-recharge tenaga.
Daya tampung masjid ini lebih luas dari Masjid Agung Bogor. Namun, masjid ini halamannya tidak memiliki pohon-pohon yang rimbu seperti Masjid Agung. Mungkin masih dalam perencanaan bersamaan dengan rencana renovasi masjid ini.
Bagi yang suka membaca, sambil beristirahat kita bisa membaca buku-buku yang disediakan di perpustakaan masjid ini. Berbagai macam buku agama ditata pada rak-rak yang rapi. Dan meja bacapun telah disediakan untuk memudahkan para pembaca. Lokasi perpustakaan ini berada di serambi masjid.
Berikut sekilas photo-photo tampilan dari masjid ini.
Tampilan Eksterior Dan Interior
 

====================================================
Tampilan Menara Masjid dan Halaman Masjid
====================================================

Maket Rencana Renovasi Masjid

photo by : deddy

Lokasi Masjid Raya Bogor dalam peta satelit

Inilah Masjid Penyelenggara I'tikaf di Jakarta dan Sekitarnya

JAKARTA - Tak terasa bulan Ramadhan telah memasuki 10 hari terakhir. Kaum Muslimin seharusnya  lebih meningkatkan ibadah dan amal saleh demi mendapatkan ekstra kebaikan di penghujung Ramadhan seperti ini. Terlebih pada 10 malam terakhir ada Lailatul Qadr, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Salah satu cara yang diperintahkan kepada kita agar memperoleh Lailatul Qadr ini ialah dengan melakukan i’tikaf. Rasulullah SAW sendiri telah memberi teladan dalam hal ini, sebagaimana yang tertuang dalam hadits:
“Abdullah bin Umar r.a. berkata: Rasulullah SAW biasa beri’tikaf pada malam-malam sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan” (HR Bukhari dan Muslim)
Berikut adalah daftar masjid yang biasa menyelenggarakan i’tikaf pada 10 malam terakhir Ramadhan di Jakarta dan sekitarnya.
Jakarta Pusat
1. Masjid Istiqlal: Jl. Taman Wijaya Kusuma
2. Masjid Baitul Ihsan, Kompleks Bank Indonesia (BI): Jl. Budi Kemulyaan No. 23
3. Masjid Agung Sunda Kelapa: Jl. Taman Sunda Kelapa No. 16, Menteng
4. Masjid ARH (Arief Rahman Hakim) UI: Jl. Salemba Raya
5. Masjid Bimantara, Gedung MNC: Jl. Kebon Sirih
6. Masjid Al-Hakim: Jl. Menteng
7. Masjid At-Taufiq: Jl. Guntur
8. Masjid YARSI: Cempaka Putih
Jakarta Selatan
1. Masjid Raya Pondok Indah: Jl. Sultan Iskandar Mudal
2. Masjid Baitul Hikmah Elnusa: Jl. TB  Simatupang Kav. 1B, Cilandak
3. Masjid Agung Al Azhar: Jl. Sisingamangaraja
4. Masjid Al Hikmah: Jl. Bangka, Pela Mampang, Mampang Prapatan
5. Masjid An-Nur: Kompleks Perdatam, Pancoran
6. Masjid Jami’ Al-Insan: Patal Senayan
7. Masjid As-Shofa: Jl. Raya Lenteng Agung, Jagakarsa
8. Masjid Raya Al-Ittihad: Tebet
9. Masjid Asy-Syukur: Jl. Kebayoran Lama dekat RS Medika, Permata Hijau, Kebayoran Lama
10.Masjid At-Taqwa: Pejaten, Pasar Minggu
Jakarta Timur
1. Masjid Agung At-Tin: Taman Mini Indonesia Indah (TMII)
2. Masjid Bea Cukai: Jl. Ahmad Yani
3. Masjid Mudzakaroh: Jl. H. Baing, Kp. Tengah
4. Masjid Baabus Salam: Rawamangun
5. Pesantren Husnayain: Pasar Rebo
6. Masjid Al-Qolam: Iqro Islamic Center, Pondok Gede (Bekasi)
Jakarta Utara
1. Masjid Raya Jakarta Islamic Center: Jl. Kramat RW 19, Kel. Tugu Utara
2. Masjid Astra: Jl. Gaya Motor, Sunter
3. Masjid Raya Kelapa Gading: samping Kelapa Gading Mall
Jakarta Barat dan Sekitarnya
1. Masjid Indosat: Jl. Daan Mogot, Jakbar
2. Masjid Agung Al-Muchlisin Jl Muwardi 1 Grogol Petamburan
2. Masjid Baitul Hikmah: Duta Bintaro, Tangerang
3. Masjid Al-Adzom, Tangerang
Depok
1. Masjid Nurul Fikri: Kelapa Dua
2. Masjid Kubah Mas: Limo
3. Masjid Ukhuwwah Islamiyah: Kampus UI
Bogor
1. Masjid Al-Hurriyyah: IPB kampus Dramaga
2. Masjid Az-Zikra Islamic Center: Perumahan Az-Zikra Sentul
3. Masjid Andalusia Islamic Center: STEI Tazkia, Sentul City
Terakhir, kami menghimbau agar pembaca melakukan survei lapangan sebelum memutuskan tempat i’tikaf. Ini penting mengingat perubahan kebijakan terkait program Ramadhan bisa saja terjadi kapan pun. Semoga bermanfaat. Selamat melaksanakan ibadah i’tikaf.

Sumber :Eramadina

Masjid Al-Rayah Wijaya Kusuma

Masjid Al-Rayah berada di wilayah kelurahan Wijaya kusuma, kecamatan Grogol Petamburan. tepatnya di daerah Komplek Prima Indah, yang berseberangan dengan SDN Wijaya Kusuma 5-8

Sejarah berdirinya Masjid Al-Rayah

Tahun 1977 : Alm Kol Purnawirawan  Muhadi mewakafkan sebidang tanah seluas kurang lebih 636M2 kepada tokoh masyarakat, penyerahan ini dilakukan secara informil oleh pihak yang bersangkutan kepada tokoh masyarakat setempat, dalam bentuk Musholla yang selanjutnya dibangun menjadi Masjid.

Tahun 1994 : Hampir kurang lebih 15 tahun, keberadaan Musholla tersebut dirasakan manfaatnya, baik oleh pengurus maupun masyarakat sekitar. Maka selanjutnya kami selaku generasi pengurus diberi amanat oleh Tokoh Masyarakat setempat untuk mengelola dan mengoperasikan Musholla tersebut agar dapat dirasakan fungsinya untuk kepentingan umum, atas dasar amanat dan rasa kepedulian kami, maka kamipun mencoba merealisasikannya.

Tahun 1995 : Maka pada tahun 1995, kami membentuk suatu lembaga/ Yayasan yang diberi nama Yayasan pendidikan Islam Al-Muhadi, guna untuk merealisasikan keberadaan tanah wakaf ini diatas kertas secara tertulis dan syah di mata hukum, serah terima ini dilaksanakan di kantor KUA Grogol Petamburan Jakarta barat, dari keluarga Alm Purn Muhadi diserahkan kepada Yayasan Pendidikan Islam Al-Muhadi.

Tahun 1998 : Setelah semua prosedural atas tanah wakaf ini dilaksanakan, barulah para pengurus Masjid berani bergerak untuk mencari suatu donatur/Lembaga/Instansi yang mau mendanai atas rencana pembangunan Masjid Al-Rayah. Alhamdulillah atas izin Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Pengurus mendapatkan Donatur yang bersedia menanggung semua biaya pembangunan Masjid Al-Rayah yakni donatur dari Arab Saudi yang bernama Syech Nami, beliau bersedia menanggung semua biaya pembangunan Masjid Al-Rayah. Pada tahun 2000 akhirnya Masjid Al-Rayah selesai dibangun dan langsung dapat difungsikan keberadaannya sebagai tempat ibadah dan tempat pendidikan umat Islam di lingkungan setempat.

Visi dan Misi

Misi
Mewadahi aktifitas keagamaan dan ibadah umat Islam, serta menampung aspirasi umat Islam dalam menuju kemaslatan dan kesejahteraan, sehingga dakwah di kalangan masyarakat InsyaAllah menjadi lebih berkembang sesuai perkembangan zaman.

Visi
Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang 'buta huruf' seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,(Qs Al Jumu'ah 2) . Mengacu ayat tersebut, Masjid Al-Rayah memiliki komitmen untuk turut serta dalam upaya mencerdasarkan dan memperdayakan potensi umat Islam melalui pengembangan Metoda Da'wah Islam.

Kegiatan Rutin

  • Pengajian ibu-ibu dan bapak-bapak
  • Diskusi Agama Islam
  • Konsultasi Agama Islam
  • Penyelenggaraan Sholat Jum'at
  • Penyelenggaraan Hari-hari besar umat Islam
  • dll


Susunan Kepengurusan Masjid Al-Rayah

Dewan Penasehat                          : Ust MA. Syaifudin
                                                        : Brigjen Pol (purn) Drs H Karyono
                                                        : Drs Yusuf Badarudin

Ketua                                              : KH Drs Abdul Muis HMS
Wakil Ketua I                                 : Sugiono
Wakil Ketua II                               : Siyono SE
Wakil Ketua III                              : Ust Arie Himawan
Sekretaris I                                     : Suharyanto SE
Sekretaris II                                   : Yuli Indrawan SMi
Bendahara I                                    : Bambang Sudarmanto
Bendahara II                                  : Deni Suryana Amd

Seksi Seksi

Humas                                              : Yuli Indrawan SMi
Peribadatan                                      : Suwondo, Suyadi
Sosial Kemasyarakatan                    : Sunarya
Peranan Pemuda dan Remaja           : Deni Suryana Amd
Fisik dan Saran                                : Sainan Nalim
Pekerjaan Umum                             : Suwondo
Peranan Wanita                                : Nuriatik
Ketua Majelis Taklim Bapak-bapak  : Sunarya
Ketua Majelis taklim Ibu-Ibu             : Hj Nani Roesyamsi

Masjid Attaqwa Komplek Pajak Kemanggisan

 Sejarah singkat keberadaan Masjid At-Taqwa

Perumahan Komplek Pajak dibangun sekitar tahun 1963. Jumlah rumah yang dibangun pada saat itu, kurang dari 100 unit. Mayoritas penduduknya beragama Islam.
Ketika awal dibangun komplek Pajak ini, belum dilengkapi dengan sarana ibadah. Karena itulah warganya, mengalami kesulitan melaksanakan kegiatan ibadah seperti sholat rawatib berjamaah, apalagi sholat jum’at dan belajar agama bagi putra putri mereka, dan lebih sulit lagi bila bulan Ramadhan tiba, karena tidak ada tempat yang layak untuk kegiatan sholat tarawih, dan kegiatan ibadah ramadhan lainnya. Beruntung ada aula TK Bhakti yang diset khusus untuk menjadi sarana ibadah, terutama untuk sholat tarawih berjama’ah dan belajar mengaji bagi putra-putri penghuni komplek Pajak.

 Setelah 10 tahun Komplek Pajak Kemanggisan dibangun ( 1973 ), maka dibuka Sekolah Agama / Madrasah Diniyah Cabang Al-Azhar Kebayoran Baru Jakarta Selatan, yaitu Pendidikan Islam Al-Azhar ( PIA ) milik Yayasan Al-Azhar dibawah Pimpinan  Buya Hamka Ulama karismatik pada saat itu. Adanya Cabang PIA di Kemanggisan ini adalah hasil inisiatif, pendekatan dan permintaan langsung H.Imran Hasyim kepada Buya Hamka. Buya Hamka menyetujui membuka Cabang PIA di Kemanggisan dengan syarat pihak PIA hanya menyediakan Kurikulum dan tenaga Pendidik, sedangkan sarana dan gaji para Pendidiknya ditanggung oleh penghuni Komplek Pajak Kemanggisan. Saat pertama dibuka, banyak calon santri yang ingin belajar di PIA tersebut, tapi aula TK Bhakti tidak mampu menampung santri yang melebihi kapasitas, bahkan untuk praktek sholat setelah mengaji hampir tidak mungkin dilakukan.  Keadaan seperti itu, sampai bertahun tahun.

Tiga belas tahun kemudian (1976), atau tiga tahun setelah Cabang PIA dibuka ( 1973 ), pembangunan perumahan komplek Pajak diperluas sampai ke jalan Bhakti. Akibatnya, penghuni komplek Pajak makin bertambah, sehingga sarana belajar Agama Islam (Qur’an dan sholat) dan kegiatan ibadah Ramadhan di Aula TK Bhakti tidak memenuhi syarat lagi, karena tidak mampu lagi menampung jama’ah, sedangkan Masjid/mushola disekitar komplek Pajak saat itu, masih sulit dijangkau, maka lahirlah ide untuk membangun sebuah Masjid di Komplek Pajak ini dari H.Imran Hasyim, dan disambut dengan sangat positif oleh H.Eddy Mangkuprawira. Lalu dua hari kemudian diadakan musyawarah dan  pendekatan dengan Ketua Komplek yaitu H.Dja’far Mahfud, dan Ketua Komplek menyambut dengan baik ide itu, dan berjanji  akan menyampaikan aspirasi penghuni Komplek Pajak itu pada Dirjen Pajak yaitu H.Sutadi Sutarya. Beberapa hari kemudian, H.Dja’far Mahfud didampingi oleh H.Imran Hasyim menghadap Dirjen Pajak untuk menyampaikan maksud penghuni Komplek untuk membangun sebuah Masjid sebagai sarana ibadah. Ternyata Dirjen Pajak sangat setuju dengan pembangunan sarana ibadah itu, dan pada saat itu juga Dirjen menginstruksikan kepada Sekertarisnya yaitu H.Husein Kartasasmita, untuk mentutaskan berbagai hal yang diperlukan, lalu Dirjen Pajak memberikan lahan sekitar 3750 meter yang terletak di Jalan Sakti IV.

Setelah lahan dimiliki, maka Penghuni Komplek Pajak segera membentuk Panitia Pembangunan masjid. Akhirnya disepakati untuk ketua panitia adalah H. Sudibyo. Ketua pelaksana pembangunan adalah H.Hasanuddin, sekaligus diberi mandat mencari dan bernegosiasi dengan  pemborong. Desain gambar dirancang  oleh H.Eddy Mangkuprawira, dengan ruang utama Masjid bersegi enam, makna filosofisnya adalah  rukun iman yang wajib diyakini oleh setiap mukmin / mukminat.

Dengan rahmat Allah dan kerja keras panitia, akhirnya dalam waktu kurang dari satu tahun, maka berdirilah sebuah Masjid, diberi nama “At Taqwa” dengan daya tampung kurang lebih 300 orang. Nama “At Taqwa” diberikan langsung oleh Dirjen Pajak sendiri ( H.Sutadi Sutarya ). Lalu diresmikan penggunaannya oleh Dirjen Pajak, pada hari Jum’at tanggal 27 Mei 1977. Pelaksanaan sholat Jum’at pertama hari itu juga. Bertindak sebagai khotib dan imam pada saat itu adalah Drs. H. Dahlan AS, salah seorang Pejabat Tinggi dari Departemen Agama RI.

Selanjutnya orang orang yang datang beribadah di Masjid At-Taqwa makin bertambah, terutama  sholat jum’at. Ruangan utama Masjid tidak mampu lagi menampung jama’ah, lalu setelah 4 tahun kemudian (1981) Pengurus memutuskan sisi kiri dan kanan serta belakang diperluas lebih kurang 10 meter dengan beratap auning. Setelah 3 tahun, atap auningnya sering bocor, dan paling banyak di komplain jamaah adalah bunyi berisik atap bila terjadi hujan, sehingga mengganggu jama’ah, terutama hari Jum’at, suara khotib dan imam kadang tidak jelas didengar. Kebetulan ada seorang Pejabat Pajak ( H.Syaiful Hamid ) sholat Jum’at di Masjid At-Taqwa, hari itu hujan lebat, beliau komplain karena tidak dapat mendengar khotib berkhutbah, atap auning berisik sekali. Beliau menemui Pengurus, lalu mengusulkan agar Masjid ini direhab total. Usul itu dimusyawarahkan oleh Pengurus dan usul itu diterima, dan akhirnya pada tahun 1985, Masjid At Taqwa dibongkar total untuk dibangun sebuah Masjid permanent  berlantai dua. Untuk kelancaran pembangunan, maka dibentuklah panitia pembangunan Masjid At Taqwa.

Panitia dibentuk berdasarkan keputusan Dirjen Pajak : No.66/PJ.12-1985 tanggal 21 Mei 1985 dengan susunan panitia sbb :

1. Ketua Umum                 : Haryono Sosrosugondo
2. Ketua Harian                : H.Moedjiono K.
3. Sekertaris                     : H.A.Anshari Ritonga
4. Bendahara I                  : H.Supawi Achmadi
5. Bendahara II                : H.Imran Hasyim
6. Pembantu Umum         : H.Syaiful Hamid

Berkat rahmat Allah dan kerja keras panitia, maka hanya dalam waktu kurang dari 13 bulan, pembangunan Masjid At Taqwa selesai 100%. Kemudian diresmikan oleh Dirjen Pajak  ( Salamun AT ) pada tanggal 27 April 1987. Luas tanah masjid adalah 80 X 37,5 meter dan luas bangunannya ialah 45 X 30 meter. Dibangun dengan biaya Rp 420.000.000,- dan sumber biaya  berasal dari swadaya masyarakat. Daya tampung jama’ah setelah direhab lebih kurang 3000 orang.

Kemudian jama’ah semakin banyak, terutama pada pelaksanaan Sholat Jum’at dan Sholat Tarawih pada bulan Ramadhan. Jama’ah yang melaksanakan Sholat Jum’at dan sholat tarawih bukan hanya warga Komplek Pajak saja, tapi juga warga diluar Komplek Pajak. Demikian juga kepercayaan jama’ah untuk menyalurkan Zakat, Infak dan Shodaqohnya  serta ibadah qurban melalui Pengurus Masjid At-taqwa semakin meningkat pada setiap tahunnya. Untuk itu, Pengurus Masjid memandang perlu untuk membentuk sebuah Yayasan, agar Masjid At-taqwa yang sudah permanen itu dikelola secara profesional. Maka pada tanggal 11 Juni 1990 terbentuklah sebuah Yayasan yang diberi nama Yayasan Taqwa Bhakti, didepan akta notaris MUDOFIR HADI SH.

Para pendiri Yayasan sekaligus pengurus Yayasan terdiri dari :
Ketua Umum         : Drs.H.K.Djanget Santoso             
Ketua I             : Drs.H.Moedjiono Kartoprandjono         
Ketua II         : Drs.H.M.Oemar                                                
Ketua III         : Drs.H.Supawi Achmadi                                    
Sekretaris Umum     : Drs.H.A.Anshari Ritonga
Sekretaris         : Drs. H. M. Ridwan
Bendahara Umum     : Drs. H. Imran Hasyim
Bendahara         : Drs. H.M. Adam Anang
Pembantu         : H. Umarsih, SH

        Bersamaan dengan pembentukan Yayasan, dibuat juga Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Yayasan oleh H.A.Anshari Ritonga sebagai Sekertaris Umum Yayasan. Berdasarkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Yayasan, bahwa Ketua III dalam Kepengurusan Yayasan bertugas dan bertanggung jawab untuk mengelola dan mengurus Masjid, maka Drs.H.Supawi Achmadi, otomatis  menjadi Ketua Umum Masjid At-Taqwa menggantikan Drs.H.M. Oemar sebagai Pengurus lama.

Kemudian dengan pindahnya Ketua Umum Yayasan (H.Djanget Santoso) ke Malang Jawa Timur, maka seluruh Pengurus Yayasan yang ada, meminta kesediaan  Dr.H.Muslih Muhsin untuk menjadi Ketua Umum Yayasan menggantikan H.Djanget Santoso. Dan alhamdulillah beliau bersedia, kemudian pada tanggal 30 September 1999, dilaksanakanlah serah terima Ketua Yayasan dari H.Djanget Santoso kepada Dr.H.Muslih Muhsin. Acara serah terim dihadiri oleh Dirjen Pajak ( H.A.Anshari Ritonga ) dan Direktur PBB ( H.Hasan Rachmany ) serta undangan lainnya.

       Mengingat tugas pokok Yayasan adalah mengelola Masjid lebih profesional dan Masjid At-Taqwa ini adalah milik masyarakat, maka diharapkan banyak orang yang  melibatkan dirinya untuk mengurus Masjid At-Taqwa, lalu Kepengurusan Masjid di era H.Supawi Achmadi, mengalami perubahan. Maka pada tanggal 24 Mei 2001, dilantiklah Pengurus Baru Masjid At-Taqwa Komplek Pajak Kemanggisan dengan Ketua Umumnya : Dr.H.Muslih Muhsin.

      Setelah Dr.H.Muslih Muchsin meninggal dunia pada tahun 2003, maka Pengurus memilh H.Maryanto untuk menggantikannya. Pada saat yang sama H.Hasan Rachmany diangkat menjadi Ketua Umum Yayasan, menggantikan Dr.H.Muslih Muhsin.Setelah 8 tahun berjalan, ketua Masjid mengalami pergantian. Drs.H.Maryanto menjadi Sekertaris Umum Yayasan, lalu di ganti H.Darwi menjadi Ketua Masjid sampai sekarang.

   Ketua Masjid At-Taqwa dari masa ke masa :
1.    Tahun 1977 sampai tahun 1980 : H.Sumahar Paisan
2.    Tahun 1981 sampai tahun 1985 : H Moedjiono Kartoprandjono
3.    Tahun 1986 sampai tahun 1991 : H.M.Oemar
4.    Tahun 1992 sampai tahun 2001 : H.Supawi Achmadi
5.    Tahun 2001 sampai tahun 2003 : H.Muslih Muhsin
6.    Tahun 2003 sampai tahun 2011 :  H.Maryanto
7.    Tahun 2012 sampai sekarang    :  H.Darwin

      Banyak orang yang berjasa dalam membangun, mengelola dan memelihara Masjid ini, dan orang-orang yang terlibat langsung pada awal Masjid di bangun adalah : H.Imran Hasyim, H.Eddy Mangkuprawira, H.Sutadi Sutarya, H.Dja’far Mahfudz, H.Husein Kartasasmita, H.Sudibyo, dan H.Hasanuddin dan H.A.Anshari Ritonga

      Setelah Masjid dibangun permanen, ada beberapa orang lagi yang mengabdikan dirinya mengelola dan mengurus Masjid ini, baik sebagai Pengurus maupun sebagai Panitia Ramadhan dan kegiatan lainnya, diantaranya : H.I.Arifin, H.Bahri Bratakusuma, H.Usman Nitikusumah, H.Sudibya Ahmadi,dll.
Keberadaan Masjid At-Taqwa ini, sangat bermanfaat bagi masyarakat di sekitarnya, baik manfaat yang bersifat materil maupun non materil.

PRESTASI YANG DIRAIH MASJID AT-TAQWA

1.    Juara I Lomba Kebersihan Masjid Tingkat Kecamatan Palmerah, tahun 1994
2.    Juara I Lomba Kebersihan Masjid Tingkat Kodya Jakarta Barat tahun 1995
3.    Juara II Lomba Bina’ul Masajid Tingkat DKI Jakarta dalam Bidang Imaroh dan Ri’ayah serta Juara III dalam Bidang Idaroh, tahun 1995
4.    Juara Harapan I, Lomba Bina’ul’ Masajid Tingkat DKI Jakarta dalam Bidang Imaroh, Ri’ayah dan Idaroh, tahun 2001
5.    Juara II Lomba Bina’ul Masjid Tingkat Jakarta Barat, tahun  2012
Alamat            : Jl. Sakti IV/8 Komp. Pajak Kemanggisan Palmerah Jakarta Barat Kode Pos : 11480 Telp. (021)-5356966 Fax :

Masjid Attaqwa dalam peta satelit :

Siapakah Yang Hatinya Terpaut Dengan Masjid?

Dalam hadits shohih dari Nabi saw yang diriwayatkan oleh syaikhoni; Imam Bukhori dan Imam Muslim, disebutkan bahwa ada 7 golongan manusia yang nantinya di hari akhir akan mendapatkan perlindungan Allah swt dimana tiada lag perlindungan ketika itu selain perlindangan-Nya.

Salah satu dari 7 golongn itu ialah "orang yang hatinya terpaut pada masjid". Ialah yang mempunyai hati yang selalu terikat kepada masjid. Kedekatan batinnya kepada masjid sangat erat dan sulir dipisahkan.

Namun siapakah yang dimaksud dengan "hati yang terpaut pada masjid" dalam hadits ini? Apakah ia seorang merbot masjid, yang bukan saja hatinya bahkan badannya pun selalu terikat pada masjid sehingga hari-harinya hanya dihabiskan dalam masjid.

Atau ia seorang ustadz yang sudah pasti selalu beranjak ke masjid guna mengajar. Atau ia seorang hartawan yang kaya raya yang selalu menginfakkan uangnya untuk membangun masjid.

Atau siapa?

Imam Nawawi menerangkan dalam kitabnya syarhun-nawawi lil-muslim tentang sabda Nabi: “seseorang yang hatinya terpaut kepada masjid” : yaitu orang yang sangat cinta masjid dan selalu sholat berjamaah di dalamnya, bukan siapa-siapa yang hanya sering duduk atau berdiam di masjid.

Itulah jawabannya. Yaitu orang yang selalu berusaha untuk bisa sholat berjamaah dimasjid. Siapapun itu, dimanapun ia berada, jika azan memanggil ia langsung bergegas ke masjid guna melaksanakan sholat berjamaah di masjid.

Dalam pengertian lain ialah bahwa seseorang yang selalu rutin/rajin melaksanakan sholat berjamaah di masjid ialah termasuk dar golongan orang yang mendapat naungan Allah swt di hari akhir kelak.

Jadi tidak mesti ia itu ustadz, merbot, atau hartawan, santri atau juga kiyai. Siapapun yang selalu berusaha menjaga sholat berjamaahnya di masjid, ia telah mendaftarkan dirinya untuk mendapat naungan Allah swt dihari akhir nanti.

Lalu kalau sholat berjamaahnya tidak dimasjid, bagaimana?
 
Tentu ia bukan termasuk dari 7 golongan tersebut. Iya, ia mendapatkan fadhilah sholat berjemaah itu namun tidak termasuk golongan hati yang terpaut pada masjid yang dimaksud. Karena begitu redaksi haditsnya.

Syeikh Badruddin Al-‘Ainiy ketika menjelaskan tentang hadits diatas dalam kitabnya ‘umdatul-qori’, beliau menambahkan :

"dalam hadits ini terdapat keutamaan bagi siapa yang sering mendatangi masjid guna sholat berjamaah karena masjid adalah rumah Allah, dan rumah bagi setiap orang yang bertaqwa, dan siapa saja yang bertamu maka berhak untuk mendapat kehormatan dan pemuliaan dari sang tuan rumah. Lalu bagaimana jika yang menjadi tuan rumah itu Dia yang maha mulia?."

Wallahu A'lam

Sumber

Petunjuk Mencari Arah Kiblat

KOMPAS.com - Arah kiblat menjadi prasyarat menjalankan ibadah shalat. Di mana pun umat Islam menjalankan ritual keagamaan itu, mereka harus berkiblat ke Kabah di Mekkah. Penentuan arah kiblat tentu tak masalah bagi mereka yang berada di dekat Kabah. Bagaimana memastikannya jika berada jauh dari tempat suci itu?

Beberapa waktu lalu di internet muncul tulisan Usep Fathudin, mantan Staf Khusus Menteri Agama, yang mengungkap beragam arah kiblat masjid-masjid di Jakarta. Kesahihan kiblat suatu masjid, menurutnya, perlu dicapai sebelum masjid dibangun. Hal itu karena pergeseran 1 sentimeter saja bisa berarti 100 kilometer penyimpangan jaraknya.

Meskipun begitu, menurutnya, akurasi arah kiblat 100 persen memang tidak diwajibkan dalam shalat, seperti tersebut dalam Al Quran Surat Al Baqarah ayat 144, yang memerintahkan untuk shalat ke arah kiblat. ”Kata-kata ’ke arah’ ditafsirkan sebagai usaha maksimal mengarahkan shalat kita ke Kabah di Mekkah,” urainya.

Walaupun begitu, upaya untuk mendekati ketepatan arah ke kiblat dapat dilakukan dengan berbagai cara. Usep menyebutkan, penentuan arah kiblat Masjid Al Mukhlishun di Griya Depok Asri, Depok Tengah, yang berdiri tahun 2001, menggunakan suatu kompas kecil berbahasa Inggris, dengan tulisan Latin dan Arab.

Pada alat penunjuk arah itu tertulis bahwa untuk Jakarta dan sebagian besar kota di Indonesia, arah utara jarum kompas harus menunjuk angka 9 sebagai arah kiblat.

Kenyataannya, survei arah kiblat yang dilakukannya di berbagai masjid besar di Jakarta memperlihatkan, kompas yang digunakannya menunjuk arah yang berbeda-beda di tiap tempat ibadah itu, berkisar dari 7,5 hingga 9.

Penentuan arah kiblat yang dipakai umumnya mengacu pada arah utara geografis sebenarnya, yang memakai arah kompas atau jarum magnetik yang disebut ”pencari arah Kabah”. Arah jarum magnetik di kompas mengarah berdasarkan kutub magnetik Bumi di kutub utara.

Ternyata arah utara magnetik Bumi itu berbeda di tiap kota dari waktu ke waktu. Hal ini dipengaruhi oleh rotasi Bumi. Penelitian menunjukkan arah utara magnetik terus bergeser sekitar 4,8 kilometer per tahun. Pada tahun 2005 pergeserannya mencapai 800 kilometer dari kutub utara sebenarnya. Pada 2050 diperkirakan utara magnetik Bumi mendekati Siberia.

Qibla Locator

Penggunaan kompas sebagai penunjuk arah kiblat belakangan memang dianggap kurang akurat. Belakangan diperkenalkan peranti lunak Qibla Locator yang termuat dalam situs web http://www.qiblalocator.com.

Qibla Locator atau penunjuk arah kiblat antara lain dirancang oleh Ibn Mas’ud dengan menggunakan peranti lunak aplikasi Google Maps API v2, sejak tahun 2006. Pengembangan tampilan dan aplikasinya kemudian melibatkan Hamed Zarrabi Zadeh dari Universitas Waterloo di Ontario, Kanada.

Pada Qibla Locator versi Beta seri 0.8.7 itu dilengkapi dengan geocoding dari Yahoo, pengontrol arah pada citra peta, dan indikator tingkat pembesaran. Hingga September 2007 dihasilkan empat versi Beta dengan beberapa aplikasi tambahan, Geocoder, dan tampilan jarak.

Dengan Qibla Locator yang berbasis Google Earth ini dapat diketahui arah kiblat dari mana pun kita berada. Untuk mengetahuinya, di bagian atas situs itu ada kotak untuk memasukkan lokasi, alamat atau nama jalan, kode pos, dan negara atau garis lintang dan garis bujur.

Maka di sisi kanan gambar peta akan muncul besaran arah kiblat atau kabah dan jaraknya dari posisi lokasi yang kita masukkan. Peranti lunak ini, menurut Thomas Djamaluddin, Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) sangat membantu guna mengecek arah kiblat secara akurat. ”Ini bisa untuk koreksi massal masjid-masjid di Indonesia,” katanya.

Bayangan matahari

Thomas, pakar astronomi dan astrofisika, mengemukakan bahwa ada penentuan arah kiblat yang menggunakan bayangan Matahari. Sekitar tanggal 26-30 Mei pukul 16.18 WIB dan 13-17 Juli pukul 16.27 WIB Matahari tepat berada di atas kota Mekkah.

Pada saat itu Matahari yang tampak dari semua penjuru Bumi dapat dijadikan penunjuk lokasi Kabah. Begitu pula bayangan benda tegak pada waktu itu juga dapat menjadi menentu arah ke kiblat.

Selain itu untuk daerah yang tidak mengalami siang, sama dengan Mekkah, waktu yang digunakan adalah saat Matahari di atas titik yang diametral dengan Mekkah. Waktu yang dapat dijadikan patokan penunjuk kiblat untuk wilayah tersebut adalah Matahari pada tanggal 12 hingga 16 Januari pukul 04.30 WIB dan 27 November hingga 1 Desember pukul 04.09 WIB.

Cara ini menurutnya paling mudah untuk mengoreksi arah kiblat, termasuk untuk garis saf di dalam masjid. Begitu mudah sehingga orang awam pun dapat melakukannya.

Kisah Masjid Tua Di Jakarta

Oleh Alwi Shahab

Ketika VOC menaklukkan Jayakarta pada Mei 1619, Guberrnur Jenderal JP Coen menghancurkan keraton, termasuk membakar sebuah masjid yang diperkirakan letaknya saat ini tidak jauh dari Hotel Batavia, hotel bintang lima di Kota Intan, Jakarta Utara.
Masjid ini diyakini dibangun beberapa saat setelah Fatahillah berhasil mengusir armada Portugis dan menaklukkan Sunda Kelapa dari Kerajaan Hindu Pajajaran pada Juni 1527. Kalau berdasarkan tahun tersebut, ketika masjid ini dilenyapkan Belanda usianya sudah 82 tahun.

Mungkin saja masjid yang dihancurkan tentara bayaran VOC yang terdiri dari orang Eropa dan ronin dari Jepang itu merupakan masjid pertama di Jakarta. Meskipun demikian, ada catatan sejarah yang menyebutkan bahwa pada masa Kerajaan Pajajaran, di Sunda Kelapa sudah ada permukiman pedagang Muslim walau tak ada keterangan yang menyebut mengenai tempat ibadah mereka.

Bagaimana setelah Jayakarta ditaklukkan? Semua penduduknya meninggalkan kota dan mereka hijrah ke wilayah yang kini disebut Jatinegara Kaum di Jakarta Timur. Di tempat pengasingan ini, Pangeran Ahmad Jakarta mendirikan sebuah masjid yang diberi nama as-Shalafiah dan samapi kini masih berdiri kokoh setelah beberapa kali direnovasi hingga menjadi masjid jami.
Di dekatnya terdapat pemakaman, termasuk makam Pangeran Jayakarta. Jatinegara Kaum ialah sebuah perkampungan yang hingga kini sebagian masyarakatnya masih menggunakan bahasa Sunda. Mereka adalah keturunan penghuni Kota Jayakarta dan juga Banten.

Berita tertua tentang adanya sekolah Islam dan masjid berasal dari laporan seorang pendeta. Pada 18 Mei 1648, pendeta itu melaporkan dalam sidang Dewan Gereja bahwa di sebelah barat tembok Kota Batavia sudah terdapat moorsche temple, maksudnya masjid (Adolf Heyken SJ, Masjid-masjid Tua di Jakarta).

Masih dalam abad ke-17, terdapat Masjid al-Anshor di Jalan Pengukiran II, Kelurahan Pekojan, Jakarta Barat. Masjid ini dibangun pada 1648. Letaknya tidak jauh dari china town Glodok. Seperti masjid-msjid tua lainnya, masjid ini dahulunya adalah sebuah mushala yang di Betawi lebih dikenal dengan sebutan langgar. Masjid ini adalah masjid tertua di Jakarta yang masih dapat kita datangi.

Sebuah masjid tua lainnya berada di Kampung Bebek (Angke) yang dibangun oleh Sekretaris Kapiten Cina Souw Beng Kong yang bernama Gouw Tjai. Ini menunjukkan sejak abad ke-17 sudah ada warga keturunan Cina yang memeluk Islam. Sayangnya, masjid ini sudah tidak kita dapati lagi. Pada abad yang sama dibangun Masjid al-Alam di Cilincing dan sebuah masjid lainnya di Marunda dengan nama yang sama.

Pada abad ke-18 di Jalan Sawah Lio II/33, Kampung Jembatan Lima, kita masih dapati Masjid al-Mansyur yang merupakan masjid pertama yang dibangun pada abad ke-18, tepatnya tahun 1717. Dibangun oleh Abdul Muid, seorang keturunan penggawa dari Kerajaan Mataram.
Dalam masa perjuangan kemerdekaan, masjid ini dijadikan pusat mental rakyat Jakarta dalam perjuangan melawan penjajah. Tokoh Islam terkenal yang memimpin masjid ini pada masa revolusi (1945-1949) adalah KH Mohammad Mansyur. Dia memasang bendera merah putih di puncak tiang masjid hingga ditembaki serdadu NICA.

Pada abad ke-18 pula, ada pembangunan berbagai masjid, seperti Masjid Luar Batang yang dibangun pada 1736, Masjid Kampung Baru di Bandengan Selatan yang dibangun warga India pada 1748, Masjid An-Nawier di Pekojan (1760), dan Masjid Tambora (1761). Masih ada Masjid Krukut (1785), Masjid Kebon Jeruk (1786), dan Masjid al-Mukromah di Jalan Lodan di Ancol (1715). Masih ada belasan lagi masjid tua yang dibangun pada abad ke-19 dan ke-20 yang masih tegak berdiri di Jakarta. Sebagian telah berubah menjadi bangunan rumah ibadah modern.

Tidak diragukan lagi, masjid menduduki posisi sentral dalam Islam dan kehidupan kaum Muslim, tidak hanya dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam berbagai aspek kehidupan. Di masjid-masjid inilah kaum Muslim saling berinteraksi dengan penuh persaudaraan serta kasih-mengasihi.
Itulah yang dicontohkan Nabi Muhammad ketika beliau hijrah dari Makkah ke Madinah, yang pertama dilakukan adalah membangun masjid
 
Sumber : REPUBLIKA.CO.ID

Masjid Raya Al Akbar Sorong

Masjid Raya Al Akbar adalah sebuah masjid yang berada di kota Sorong Provinsi Papua Barat. Masjid ini terletak di tengah kota yang beralamat tepat di Jalan Ahmad Yani No 40 kota Sorong. Di komplek masjid ini juga terdapat ruang pertemuan yang bernama Al Akbar Convetion Center. Masjid ini merupakan masjid terbesar di Sorong dan selalu dipadati oleh jamaah Islam. Bangunan masjid ini terdiri dari dua lantai yang dominan bercat warna putih dan hijau. Bentuk kubah di masjid ini sangat khas karena berbentuk kubah yang berlekuk lima. Masjid ini mempunyai dua menara di samping kiri kanannya untuk menambah nuansa masjid pada umumnya.
Masjid Raya Al Akbar Sorong di Peta Satelit

Masjid Agung Palembang Atau Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I atau biasa disebut Masjid Agung Palembang adalah sebuah masjid paling besar di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Masjid Agung Palembang terletak pada lahan seluas ± 15.400 m2. Arah hadap masjid ke selatan (menghadap sungai Musi). Masjid dikelilingi pagar dan pada sisi barat, timur,dan selatan halaman terdapat pintu masuk ke halaman masjid. Luas halaman masjid ± 2.250 m2 dan dipergunakan untuk shalat pada hari Jum’at dan hari raya (shalat Ied). Masjid agung tersebut terdiri atas ruang utama, serambi,dan bangunan tambahan.

Ruang utama

Denah ruang utama berbentuk bujursangkar,berukuran 23 × 23 m.Lantai dilapisi karpet hijau.Ruangan dikelilingi dinding pada keempat sisinya. Pada ketiga dinding tersebut yaitu dinding sisi utara, timur, dan selatan masing-masing terdapat sembilan pintu terbagi dalam tiga kelompok. Tiap kelompok terdiri atas tiga pintu. Pintu utama terletak di tengah sedangkan yang dua lagi terletak di kiri-kanannya.Pintu utama di bagian tengah berukuran tinggi 4 m dan diapit oleh pintu berukuran tinggi 3,5 m. Pintu yang terdapat pada masjid tanpa daun pintu dan bagian atasnya berbentuk lengkungan berlapa lapis menyerupai pelipit. Ketiga pintu utama ini diapit lagi oleh ketiga pintu di kiri-kanannya denga tinggi 3 m dengan bentuk
lebih sederhana dari pintu tengah. Pada dinding barat terdapat empat buah jendela, masing-masing berukuran 3 × 1 m. Jendela terbagi atas dua bagian yaitu bagian atas dan bawah, terdiri dari dua daun jendela. Bagian atas daun jendelanya dari kaca, sedangkan bagian bawah dari kayu berukir serta dilengkapi dengan teralis kayu. Dalam ruang utama terdapat 16 belas tiang yang terdiri atas empat tiang soko guru (utan) dan 12 tiang penopang atap Tiang utama berbentuk segi delapan bagian bawah dilapis porseim setinggi satu meter. Di atas porselen terdapat hiasan tumpal polos berwama hijau tua. Tiang penopang bentuk dan hiasannya sama dengan tiang utama tetapi lebih kecil.

Mihrab

Mihrab yang dipergunakan sekarang merupakan mihrab baru dan terletak di sebelah kiri mihrab lama. Bentuknya lebih kecil dari yang lama dengan empat buah tiang bulat berwarna coklat tua dengan hiasan gelang-gelang emas di bagian atas dan bawah, serta su-lur-sulur dan daun-daunan berwarna keemasan. Dinding bagian belakang mihrab terdapat ukiran kaligrafi Muhammad dibuat berganda (Muhammad bertangkup).Semua hiasan dan kaligrafi berwarna emas. Pada puncak mihrab terdapat bentuk simbar. Di dalam mihrab yang lama terdapat lemari dan rak buku untuk menaruh Al-Quran dan buku-buku keagamaan lainnya. Luas ruangan 8,6 × 3,6 m dengan pintu di sisi utara dan bagian depannya terdapat tangga dengan enam anak tangga. Ruangan mihrab lama mempu-nyai atapnya terpisah dari atap masjid. Bentuknya limas berting-kat dua dengan ukiran bunga di setiap sudutnya. Pada puncak atapnya terdapat hiasan labu berganda.

Mimbar

Di sebelah utara mihrab terdapat mimbar dan mempunyai tangga di bagian depan dengan enam anak tangga dari batu. Pada tangga terdapat pipi tangga berhiaskan kotak-kotak dengan lubang kecil di tengahnya. Hiasan berwarna emas. Di bagiannya terdapat dua buah tiang persegi empat, berwarna coklat dengan hiasan bunga dan sulur. Bagian atas tiang berbentuk melengkung dan berhiaskan simbar yang distilir dengan bunga dan sulur-sulur dan diapit oleh dua buah bulatan. Pada mimbar atas terdapat pula tiang berbentuk segi empat yang menopang puncak mihrab dan bagian atas tiang berbentuk pelipit padma. Tiang kiri dan kanan bagian atasnya dihubungkan dengan lengkungan setengah lingkaran dan penuh dengan hiasan bunga berderet. Puncak mimbar merupakan sebuah tiang dari besi dengan dua buah bendera hijau bertuliskan huruf Arab. Pada dinding terdapat hiasan berupa lekukan lonjong dan deretan segi delapan dengan lubang ditengahnya serta membentuk bidang segi empat dengan hiasan garis-garis yang mempunyai bingkai.

Atap

Masjid Agung Palembang mempunyai atap tumpang bertingkat tiga dan yang teratas berbentuk limas dengan hiasan jural. Mustaka masjid berbentuk kuncup bunga (pengaruh Cina).

Ruang tambahan

Ruang I
Ruang berbentuk ‘U’ berjarak 6,5 m dari dinding utara dan selatan ruang utama, sedangkan dari dinding timur 9 m. Ruangan berukuran 36 × 32 m. Pada dinding timur terletak pintu masuk utama. Pada bagian tengah dinding terdapat tiga buah pintu. Pintu tengah berbentuk persegi panjang dan terdiri dari dua daun pintu dengan ukiran sulur-sulur dan bunga. Bagian atas daun pintu terdapat tulisan Arab yang menerangkan pembuatan dinding (1897). Di kiri-kanan pintu tengah terdapat pintu pengapit dengan hiasan wajik di bagian atas. Tinggi pintu ± 3 m dan pembatas antara pintu-pintu wsoixt adalah banga semu dengan hiasan pelipit. Selain ketiga pintu tersebut ada lagi sebuah pintu dengan dua daun pintu tanpa ukiran, berukuran sama seperti pintu lainnya. Jendela pada dinding tumur ada enam buah dengan dua daun jendela dan terbagi atas dua bagian yaitu atas dan bawah. Raglan atas dari kaca sedangkan bagian bawah dari kayu. Jendela tersebut dilengkapi teralis kayu beihiaskan bulatan-bulatan. Dinding utara dan selatan jumlah pintunya masing-masing dua buah dengan dua daun pintu. Beatuknya sama dengan pintu di dinding timur dan berhiaskan sulur-sulur. Sedangkan jendela ada enam buah pada masing-masing dinding dan sama dengan jendela dinding timur. Ruang tambahan pertama ini mempunyai atap tersendiri tidak bersatu dengan ruang utama. Bentuknya seperti rumah biasa berhiaskan jurai pada sisi atasnya dan pada ujung-ujung atap tersebut hiasannya berupa candi kecil dengan pelipit rata, padma, ratna, kumuda, dan puncaknya seperti kuncup bunga.

Ruang II

Ruang ini juga berbentuk ‘U’ seperti ruang tambahan I dan merupakan ruangan pertama ditemui saat memasuki masjid. Lantai dari ubin teraso dan dikelilingi dinding dengan pintu dan jendela. Pintu rang II ada sepuluh buah tanpa daun pintu hanya ditutup dengan teralis. Sembilan buah pintu bagian atasnya melengkung. Teralis terbagi dua bagian atas dan bawah. Teralis atas melengkung dengan hiasan tulisan Arab “Allah”, sedangkan bagian bawah berupa garis lurus berhiaskan silang (kali) sebanyak enam deret. Teralis dapat dibuka ke kiri-kanan. Pintu yang sebuah lagi berbentuk segi empat dengan teralis garis lurus dengan hiasan silang dan terletak di sudut barat laut. Jendela di ruang ini ada dua macam. Jendela pertama di sisi selatan dan timur berjumlah 10 buah. Bagian atas melengkung ditutup dengan teralis silang-silang dan berhiaskan sulur-sulur, kelopak bunga, dan segi delapan. Sedangkan bagian bawah terbuat dari semen. Jendela kedua sama dengan jendela pertama, hanya bagian bawahnya terbuat dari kayu berukir dengan hiasan bulatan dan terdapat di sisi utara. Dalam ruangan II terdapat banyak sekali tiang yang terdiri dari tiga macam tiang. Tiang I berbentuk bulat polos berwarna kuning gading berjumlah 32 buah. Dasar tiang berbentuk bujur sangkar dengan pelipit dan bagian atasnya juga berpelipit. Di atas pelipit terdapat bentuk bujur sangkar seperti dasar tapi lebih kecil dan tebal. Tiang II berjumlah 26 buah. Dasar (umpak) tiang berbentuk segi empat dan tingginya 80 cm dari porselin putih. Di atas umpak terdapat pelipit rata, pelipit setengah lingkaran, kemudian badan tiang membulat makin ke atas makin mengecil. Bagian atas terdapat hiasan motif kotak dengan pelipit setengah lingkaran. Tiang III bagian dasarnya bulat dengan garis tengah 75 cm dan tebalnya 13 cm. Jumlah tiang ada 34 buah. Badan tiang menempel dengan dasar, berbentuk bulat dengan tonjolan pada keempat sisinya. Pada bagian atas tiang terdapat hiasan menyerupai pelipit yang terdiri atas tiga lapis. Pelipit tengah bentuknya lebih menonjol dari yang dipinggir. Posisi pelipit tersebut melintang dan mengikuti bulatan tiang dan tonjolan segi empat pada keempat sisinya Keseluruhan tiang yang terdapat pada ruang II berderet dari barat-timur lalu membelok ke utara sepanjang sisi selatan dan akhirnya ke ujung timur ruangan. Fungsi tiang tersebut sebagai penyangga sekaligus merperindah dinding. Ruang II merupakan bangunan tingkat dua dan dihubungkan dengan tangga di sudut tenggara dan timur laut. Keduanya terbuat dari semen dan pegangannya dari kayu. Anak tangga dari ubin abu-abu. Di luar masjid terdapat tujuh buah tangga di ke empat sisi bangunan. Di sisi barat terdapat dua buah tangga, sebuah di utara dua buah masing­masing di sisi timur dan selatan. Tangga tanpa pegangan dan terdiri dari tujuh anak tangga. Lantai atas merupakan perkembangan bangunan karena bertambah jumlah jemaahnya. Fungsinya sebagai tempat shalat kaum wanita dan pengajian. Pintu ruangan berbentuk persegi panjang dengan bagian atas melengkung, sedangkan di atasnya meruncing. Pintu terdiri dari dua daun pintu yang terbuat dari kaca dengan pinggiran kayu. Jendela yang terdapat di ruang tersebut ada dua macam yaitu jendela yang mengapit pintu dengan dua daun jendela dengan hiasan empat kelopak bunga. Bentuknya persegi seperti pintu. Sedangkan jendela yang lain berhias garis horizontal dan vertikal dan kayu dan membagi kaca menjadi sembilan bidang. Pada dinding terdapat tiang semu dan di ruangan ada empat tiang yang terletak dekat tangga. Bentuk tiang bulat dan dasarnya juga berbentuk bulat tetapi lebih besar. Di luar lantai dalam terdapat selasar sehingga dapat mengelilingi bangunan atas. Atapnya berbentuk rata dan tecbula, terbuat dari semen.

Ruang III

Letak ruang III di sisi timur masjid dan merupakan bangunan baru (tahun 1970). Ruang mempunyai tiga buah pintu dan jendela tanpa daun jendela, hanya ditutup dengan teralis bertuliskan Allah dan Muhammad. Ruangan ini merupakan pintu (jalan) masuk melalui masjid yang hanya dibuka pada saat shalat Jum’at atau shalat Ied.

Ruang IV

Merupakan ruangan terbuka dengan teralis sebagai dindingnya, tetapi pada bagian atasnya terdapat dinding berhiaskan motif bujur sangkar berderet dan kelopak bunga di atas bujur sangkar tersebut. Dalam ruangan terdapat menara baru dengan pintu masuk menara di sisi timur ruangan ini juga.

Menara

Bagian lain sebagai penyerta masjid adalah menara. Menara yang terdapat di Masjid Agung Palembang ada dua buah yaitu menara lama dan baru. Menara lama sudah tidak berfungsi lagi karena telah banyak bagian yang rusak. Menara terdiri dari tiga tingkat dengan selasar di bagian luar. Pintu masuk berbentuk segi empat berdaun pintu dua dan bagian atasnya melengkung. Di atas pintu terdapat hiasan lengkung bertuliskan huruf Arab dua baris berwarna emas dan hijau. Di bawah lengkungan ada pelipit. Pintu untuk masuk ke selasar lebih kecil dari pintu bawah dan diapit oleh pilaster dengan pelipit rata dan pelipit miring. Untuk naik ke menara dipergunakan tangga dengan anak tangga sebanyak 80 buah dari besi, tetapi telah rusak. Pada tingkat tiga terdapat lubang angin di sisi timur dan di atasnya terdapat ruangan yang agak terbuka sehingga dapat melihat di sekitarnya. Menara baru terletak di tenggara masjid dengan tinggi ± 20 m terdiri dari lima tingkat. Bentuknya bulat langsing dan luarnya persegi dengan lubang angin di kedua sisinya. Pada setiap tingkat terdapat selasar dengan pagar kelilingi dari tembok berhiaskan lubang berbentuk wajik dan di bawahnya ada hiasan tumpal. Pintu menara terdapat di sisi tenggara dan untuk naik dipergunakan tangga dengan 130 anak tangga melingkar. Puncak menara berbentuk runcing dengan hiasan jurai.

Latar Sejarah

Masjid Agung Palembang atau lebih terkenal dengan nama Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin dibangun oleh Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo. (Sultan Mahmud Badaruddin I) pada tahun 1738. Beliau memerintah di Kesultanan Palembang pada tahun 1724-1758. Pembangunan masjid memakan waktu selama sepuluh tahun. Menara masjid yang terlihat sekarang merupakan menara baru dan didirikan pada tahun 1970 dan merupakan sumbangan dari Pertamina. Bangunan masjid mempunyai perpaduan gaya Eropa yang terlihat pada pintu, gaya Cina pada bagian ujung atap yang terjurai dengan hiasan simbar. Status pemilikan Masjid Agung Palembang dikelola oleh Yayasan Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin.

Masjid AGung Palembang Dalam Peta Satelit

Masjid Nurul Iman Atau Masjid Presiden Di Padang

Masjid Nurul Iman atau juga dikenal sebagai Masjid Presiden adalah masjid yang terletak di pertigaan Jalan Imam Bonjol dan Jalan Muhammad Thamrin, Kota Padang, Sumatera Barat. Masjid ini merupakan salah satu masjid terbesar di kota Padang.

Masjid Nurul Iman mulai dibangun pada tahun 1958. Ledakan bom hampir meluluhlantakkan masjid ini pada tahun 1976. Mengingat kondisi bangunan yang sudah tidak layak akibat ledakan bom tersebut, masjid ini mulai dibongkar untuk dibangun kembali pada tahun 2004. Dengan didukung APBD, pada tahun 2007 pembangunan kembali Masjid Nurul Iman dapat diselesaikan. Namun akibat gempa bumi di Sumatera Barat pada tahun 2009, Masjid Nurul Iman kembali mengalami kerusakan.

Saat ini, selain digunakan sebagai aktivitas ibadah umat Islam, masjid dua lantai ini juga digunakan sebagai kantor untuk sekretariat Badan Amil Zakat Daerah (Bazda) kota Padang.

Arsitektur

Masjid Nurul Iman memiliki satu kubah besar di bangunan utama dan menara yang terpisah dari bangunan utama. Masjid ini terdiri dari dua lantai dengan disangga 30 tiang. Enam belas tiang di antaranya adalah tiang penyangga utama yang terletak di tengah bangunan utama. Nuansa warna hijau mendominasi kubah dan menara masjid, dilengkapi dengan hiasan motif bintang segilima pada ornamen dinding dan pagar masjid. Keunikan dari masjid ini terletak pada jenjang menuju lantai dua yang dapat ditemukan di setiap sudut ruangan. Selain itu, lantai tempat jemaah melakukan ibadah salat juga dirancang dengan nuansa kayu yang lembut dirasakan di kaki jemaah.

Sejarah

Pembangungan Masjid Nurul Iman mulai dilakukan pada 26 September 1958, ketika jabatan Gubernur Sumatera Barat dijabat oleh Kaharudin Datuk Rangkayo Basa. Dibangun di atas lahan seluas 1,18 hektare, masjid ini direncanakan akan memiliki 2 lantai dengan luas masing-masing 2.674 m². Namun hingga tahun 1966, pembangunan masjid ini belum dapat diselesaikan. Pembangunan Masjid Nurul Iman mulai dilanjutkan setelah mendapat uluran tangan pemerintah.Saat itu, pembangunan masjid telah menghabiskan biaya sekitar Rp300 juta.

Pada 1976, masjid ini sudah mendekati tahap penyelesaian dan telah dapat difungsikan untuk salat Jumat. Namun dua tahun kemudian, masjid ini hampir diluluhlantakkan oleh ledakan bom. Pada 11 November 1976 pukul 22.20, ledakan bom merusak masjid ini. Menurut keterangan dari pihak keamanan disebutkan bahwa bom tersebut sepertinya diatur untuk meledak ketika pelaksanaan ibadah salat Jumat keesokan harinya, namun bom meledak lebih dini, sehingga tidak menimbulkan korban jiwa. Ledakan bom tersebut menyebabkan loteng masjid di lantai satu mengalami kerusakan parah. Sedangkan jendela kaca di beberapa bagian pecah. Meski sempat ditutup sementara untuk penyelidikan, namun menjelang waktu salat Jumat masjid ini kembali dibuka untuk umum. Hingga kini pihak kepolisian belum berhasil menangkap pelaku bom tersebut.

Pada masa jabatan Gubernur Sumatera Barat dijabat oleh Zainal Bakar, masjid ini menurut rencana akan dibongkar untuk dirombak total. Namun sampai masa jabatannya berakhir pada tahun 2005, proses pengerjaan pembongkaran masjid terkesan terbengkalai. Sehingga selain mengganggu proses peribadatan, juga menimbulkan kekecewaan dari berbagai kalangan. Kemudian pada masa peralihan tugas Gubernur Sumatera Barat ke tangan Gamawan Fauzi, bangunan masjid telah dibongkar sebagian. Dalam waktu yang cukup lama, Masjid Nurul Iman tidak dapat lagi digunakan. Pembagunan kembali masjid ini dapat diselesaikan pada tahun kedua pemerintahan Gamawan Fauzi, setelah sekitar Rp18,4 miliar dikucurkan dari APBD Sumatera Barat. Peresmiannya dilakukan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla pada 7 Juli 2007. Saat upacara peresmian tersebut, masjid ini belum sepenuhnya rampung, yaitu bangunan menara lama masih dalam proses pengerjaan.

Dua tahun setelah diresmikan, masjid ini kembali mengalami kerusakan akibat gempa bumi yang melanda Sumatera Barat pada 30 September 2009. Masjid ini merupakan satu dari 608 unit tempat ibadah di Sumatera Barat yang mengalami kerusakan, yaitu dinding dan sebagian lantai di lantai dua rusak parah. Namun struktur tahan gempa masjid ini tetap bekerja dengan baik.
Lokasi Masjid Nurul Iman Atau Masjid Presiden dalam Peta Satelit

Masjid Nasional Al-Akbar Atau Masjid Agung Surabaya

Masjid Nasional Al Akbar (atau biasa disebut Masjid Agung Surabaya) ialah masjid terbesar kedua di Indonesia yang berlokasi di Kota Surabaya, Jawa Timur setelah Masjid Istiqlal di Jakarta. Posisi masjid ini berada di samping Jalan Tol Surabaya-Porong. Ciri yang mudah dilihat adalah kubahnya yang besar didampingi 4 kubah kecil yang berwarna biru. Serta memiliki satu menara yang tingginya 99 meter.

Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya dibangun sejak tanggal 4 Agustus 1995, atas gagasan Wali Kota Surabaya saat itu, H. Soenarto Soemoprawiro. Pembangunan Masjid ini ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Wakil Presiden RI Try Sutrisno. Namun karena krisis moneter pembangunannya dihentikan sementara waktu. Tahun 1999, masjid ini dibangun lagi dan selesai tahun 2001. Pada 10 November 2000, Masjid ini diresmikan oleh Presiden RI KH. Abdurrahman Wahid.

Secara fisik, luas bangunan dan fasilitas penunjang MAS adalah 22.300 meter persegi, dengan rincian panjang 147 meter dan lebar 128 meter. Bentuk atap MAS terdiri dari 1 kubah besar yang didukung 4 kubah kecil berbentuk limasan serta 1 menara. Keunikan bentuk kubah MAS ini terletak pada bentuk kubah yang hampir menyerupai setengah telur dengan 1,5 layer yang memiliki tinggi sekitar 27 meter. Untuk menutup kubah, dipergunakan sebuah produk yang juga digunakan di beberapa masjid raya seperti Masjid Raya Selangor di Syah Alam (Malaysia). Ciri lain dari masjid raksasa ini adalah pintu masuk ke dalam ruangan masjid tinggi dan besar dan mihrabnya adalah mihrab masjid terbesar di Indonesia.

Konstruksi

Rancang bangun arsitektur MAS dikerjakan oleh tim dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya bersama konsultan ahli yang telah berpengalaman membangun masjid-masjid besar di Indonesia. Mengingat posisi lahan yang labil dengan tingkat kekerasan yang minim, maka pembuatan pondasi dilakukan dengan system pondasi dalam atau pakubumi. Tidak kurang dari 2000 tiang pancang bagi pondasi masjid ini.

Lantai dirancang dengan ketinggian 3 meter dari permukaan jalan sekitar lokasi. Namun dalam pelaksanaan selanjutnya mengalami perubahan, ruang urugan dijadikan basement, lantai diatas basement (lantai 1) disangga dengan tiang-tiang (sistem flooting floor). Pengerjaan lantai dibuat dengan sistem pengecoran ditempat dan beton precast, terdiri dari plat lantai empat persegi panjang berukuran 3 x 3 meter dan tebal 15 cm.

Untuk dudukan struktur atap disiapkan, balok beton (ringbalk) dengan sistem vierendeel yang menghubungkan kolom-kolom struktur pada ketinggian 20 m dari atas lantai dasar (lantai 1). Ringbalk ini membentang 30 m tanpa kolom, sehingga bidang lantai tidak terpisah oleh sekat maupun kolom, dengan demikian dijamin bahwa jamaah tidak saling terpisah oleh sekat maupun kolom pada waktu sholat.

Kubah Masjid

Rangka kubah dibuat dengan sistem space frame, menggunakan bahan besi baja dengan sistem chremona atau struktur segitiga yang disambung-sambung. Selanjutnya kubah dibentuk di atas rangka atap dengan bentangan utama berukuran 54 x 54 meter, tanpa ada tiang penyangga. Bobot kubah tersebut hampir mencapai 200 ton. Keunikan bentuk kubah ini ditunjang dengan bentuk kubah yang menyerupai setengah telur dengan 1,5 layer memiliki tinggi sekitar 27 meter. Kubah ini menumpu pada atap piramida terpancung dalam 2 layer setinggi kurang lebih 11 meter.

Penutup struktur rangka atap dan kubah terdiri dari tiga lapis yaitu Atap Kedap Air (AKA), ESP sebagai cover atap terluar, dan penutup plafon. AKA ini adalah dalam bentuk segmen-segmen yang menumpu pada konstruksi space frame yang ada dibawahnya. Sedangkan ESP adalah Enamel Sheet Panel merupakan plat baja yang dicoating atau diwarnai, kemudian dipanaskan hingga 800 derajat Celcius, selanjutnya plat dipotong-potong dengan ukuran tertentu dan berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan ukurannya yang pada akhirnya berfungsi sebagai cover penutup atap. ESP ini didesain khusus untuk atap Masjid Nasional Al Akbar Surabaya dengan kemampuan tahan panas dan hujan serta tahan karat, diharapkan akan mampu berfungsi sampai 50 tahun lebih. Kemudian penutup rangka bawah yang berfungsi sebagai plafon ditutup dengan bahan kedap suara, sehingga akustik pada bangunan ini didesain dengan sangat memadai. Kesemuanya elemen penutup rangka atap tersebut telah teradopsi dari Masjid Raya Selangor di Syah Alam, Malaysia.

Pintu Masjid dan Mimbar


Masjid ini memiliki 45 pintu dengan daun pintu (bukaan) ganda yang berarti dibutuhkan 90 daun pintu dengan ukuran masing-masing : lebar 1,5 m dan tinggi 4,5 m. Pintu terbuat dari kayu jati yang didatangkan khusus dari Perhutani dan dibuat oleh para pengrajin dari Surabaya. Kusen terbuat dari rangka besi dilapisi kayu yang dihubungkan ke engsel maupun slot yang telah diselaraskan dengan struktur dan estetika masjid. Karena berat daun pintu ini lebih dari 250 kg, maka engsel didesain dan dibuat secara khusus.



Untuk memenuhi kenyamanan, estetika serta keserasian keseluruhan bangunan masjid, maka marmer dari Lampung dipilih untuk pelapis dinding dan lantai ruang dalam masjid, sehingga dukungan dari lantai terasa sekali ruangan menjadi sejuk dan kusuk. Kaligrafi merupakan unsur penting dalam desain masjid ini, karena sentuhan kaligrafi inilah yang memberi sentuhan nuansa Islami. Bahan yang digunakan untuk kaligrafi tersebut terbuat dari kayu jati dengan finishing cat sistem ducco. Sedangkan perancangnya adalah seorang ahli kaligrafi nasional yaitu Bapak Faiz dari Bangil. Mimbar dibuat dengan ketinggian 3 meter untuk mendukung kemantapan khotbah. Agar tercipta suasana khas, mimbar diberi sentuhan etnis dengan hiasan ornamen Madura yang digarap para pengrajin dari Madura.

Menara Masjid Al Akbar Surabaya

Dalam rancangannya menara tadinya berjumlah 6 buah, namun karena pertimbangan-pertimbangan yang bersifat teknis maupun biaya, maka menara hanya dibuat satu. Untuk membangun menara masjid ini digunakan teknologi Slip Form dari Singapura yang memerlukan waktu sekitar 2 bulan dalam pengecorannya. Menara ini memiliki ketinggian 99 meter yang puncaknya dilengkapi dengan view tower pada ketinggian 68 meter yang dapat memuat sekitar 30 orang dan pencapainnya dengan menggunakan lift untuk melihat pemandangan kota Surabaya.

Aula Masjid

Aula dibangun dengan konsep kesatuan antara estetika lingkungan dan fungsi plaza sebagai lapangan ibadah, untuk ibadah tertentu seperti sholat Ied dan lain-lain. Luas plaza kurang lebih 520 m2, dengan bahan lantai paving stone, yang didesain khusus untuk Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, motif desain dibuat sesuai dengan ornamen arsitektur masjid, garis motif dibuat sejajar dengan garis shaf di halaman masjid.

Elemen arsitektur MAS juga didesain sedemikian rupa, untuk mencapai keindahan, kemewahan serta keanggunan. Antara lain elemen hiasan kaca patri (steined glass). Hiasan kaca patri yang digunakan masjid ini dibuat dengan sistem triple glazed unit. Yaitu pelapisan panel kaca patri atau panel bevel dengan kaca tempered yang menggunakan bahan dan mesin-mesin buatan Amerika. Triple glazed unit ini selain menghemat biaya, juga sangat baik untuk keperluan peredam suara bising.[wikipedia]

Lokasi Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya dalam Peta Satelit


Masjid Raya Bandung Jawa Barat

Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat, yang dulu dikenal dengan nama Masjid Agung Bandung adalah masjid yang berada di Kota Bandung, Jawa Barat. Status masjid ini adalah sebagai masjid provinsi bagi Jawa Barat. Masjid ini pertama dibangun tahun 1810, dan sejak didirikannya, Masjid Agung telah mengalami delapan kali perombakan pada abad ke-19, kemudian lima kali pada abad 20 sampai akhirnya direnovasi lagi pada tahun 2001 sampai sampai peresmian Masjid Raya Bandung 4 Juni 2003 yang diresmikan oleh Gubernur Jabar saat itu, H.R. Nuriana. Masjid baru ini, yang bercorak Arab, menggantikan Masjid Agung yang lama, yang bercorak khas Sunda.

Masjid Raya Bandung, seperti yang kita lihat sekarang, terdapat dua menara kembar di sisi kiri dan kanan masjid setinggi 81 meter yang selalu dibuka untuk umum setiap hari Sabtu dan Minggu. Atap masjid diganti dari atap joglo menjadi satu kubah besar pada atap tengah dan yang lebih kecil pada atap kiri-kanan masjid serta dinding masjid terbuat dari batu alam kualitas tinggi. Kini luas tanah keseluruhan masjid adalah 23.448 m² dengan luas bangunan 8.575 m² dan dapat menampung sekitar 13.000 jamaah. Selain itu, juga melakukan syuting Video Klip Pintar Ngaos oleh Putih Bau Bau.

Masjid Raya Bandung berada di Alun-alun Bandung dekat ruas Jalan Asia-Afrika, pusat Kota Bandung. Lokasinya yang berada di pusat kota membuatnya begitu mudah untuk ditemukan. Tak jauh dari masjid ini, di ruas jalan yang sama berdiri megah Gedung Merdeka dan Hotel Preanger, dua bangunan yang begitu lekat dengan sejarah Konferensi Asia-Afrika tahun 1955. Ruas jalan antara Hotel Savoy Homann dan Gedung Asia-Afrika ini menjadi saksi bisu perjalanan para pemimpin negara negara Asia Afrika yang berjalan kaki dari Hotel Homman tempat mereka menginap ke lokasi konfrensi di Gedung Asia Afrika termasuk untuk sholat di Masjid Agung Bandung dan sebaliknya.

Sejarah Masjid Raya Bandung Jawa Barat

Masjid Agung Bandung pada tahun 1929, dengan corak khas Sunda

Masjid Raya Bandung Jawa Barat sebelumnya bernama Masjid Agung didirikan pertama kali pada tahun 1812. Masjid Agung Bandung dibangun bersamaan dengan dipindahkannya pusat kota Bandung dari Krapyak, sekitar sepuluh kilometer selatan kota Bandung ke pusat kota sekarang. Masjid ini pada awalnya dibangun dengan bentuk bangunan panggung tradisional yang sederhana, bertiang kayu, berdinding anyaman bambu, beratap rumbia dan dilengkapi sebuah kolam besar sebagai tempat mengambil air wudhlu. Air kolam ini berfungsi juga sebagai sumber air untuk memadamkan kebakaran yang terjadi di daerah Alun-Alun Bandung pada tahun 1825.

Setahun setelah kebakaran, pada tahun 1826 dilakukan perombakkan terhadap bangunan masjid dengan mengganti dinding bilik bambu serta atapnya dengan bahan dari kayu. Perombakan dilakukan lagi tahun 1850 seiring pembangunan Jalan Groote Postweg (kini Jalan Asia Afrika). Masjid kecil tersebut mengalami perombakkan dan perluasan atas instruksi Bupati R.A Wiranatakusumah IV atap masjid diganti dengan genteng sedangkan didingnya diganti dengan tembok batu-bata.


Kemegahan Masjid Agung Bandung waktu itu sampai-sampai di-abadikan dalam lukisan pelukis Inggris bernama W Spreat pada tahun 1852. Dari lukisan tersebut, terlihat atap limas besar bersusun tiga tinggi menjulang dan mayarakat menyebutnya dengan sebutan bale nyungcung. Kemudian bangunan masjid kembali mengalami perubahan pada tahun 1875 dengan penambahan pondasi dan pagar tembok yang mengelilingi masjid.[2]

Seiring perkembangan jaman, masyarakat Bandung menjadikan masjid ini sebagai pusat kegiatan keagamaan yang melibatkan banyak umat seperti pengajian, perayaan Muludan, Rajaban atau peringatan hari besar Islam lain bahkan digunakan sebagai tempat dilangsungkan akad nikah. Sehingga pada tahun 1900 untuk melengkapinya sejumlah perubahan pun dilakukan seperti pembuatan mihrab dan pawestren (teras di samping kiri dan kanan).

Kemudian pada tahun 1930, perombakan kembali dilakukan dengan membangun pendopo sebagai teras masjid serta pembangunan dua buah menara pada kiri dan kanan bangunan dengan puncak menara yang berbentuk persis seperti bentuk atap masjid sehingga semakin mempercatik tampilan masjid. Konon bentuk seperti ini merupakan bentuk terakhir Masjid Agung Bandung dengan kekhasan atap berbentuk nyungcung.
Masjid Agung Bandung dan Alun-alun Bandung tahun 1955-1970

Menjelang konferensi Asia Afrika pada tahun 1955, Masjid Agung Bandung mengalamai perombakan besar-besaran. Atas rancangan Presiden RI pertama, Soekarno, Masjid Agung Bandung mengalami perubahan total diantaranya kubah dari sebelumnya berbentuk “nyungcung” menjadi kubah persegi empat bergaya timur tengah seperti bawang.

Selain itu menara di kiri dan kanan masjid serta pawestren berikut teras depan dibongkar sehingga ruangan masjid hanyalah sebuah ruangan besar dengan halaman masjid yang sangat sempit. Keberadaan Masjid Agung Bandung yang baru waktu itu digunakan untuk shalat para tamu peserta Konferensi Asia Afrika.

Kubah berbentuk bawang rancangan Sukarno hanya bertahan sekitar 15 tahun. Setelah mengalami kerusakan akibat tertiup angin kencang dan pernah diperbaiki pada tahun 1967, kemudian kubah bawang diganti dengan bentuk bukan bawang lagi pada tahun 1970.

Berdasarkan SK Gubernur Jawa Barat tahun 1973, Masjid Agung Bandung mengalami perubahan besar-besaran lagi. Lantai masjid semakin diperluas dan dibuat bertingkat. Terdapat ruang basement sebagai tempat wudlu, lantai dasar tempat shalat utama dan kantor DKM serta lantai atas difungsikan untuk mezanin yang berhubungan langsung dengan serambi luar. Di depan masjid dibangun menara baru dengan ornamen logam berbentuk bulat seperti bawang dan atap kubah masjid berbentuk Joglo.
Perombakan Terahir Tahun 2001

Perubahan total terjadi lagi pada tahun 2001 merupakan bagian dari rencana penataan ulang Alun-alun Bandung dalam perencanaan tersebut penataan Masjid Agung dan alun alun merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan tanpa mengurangi arti alun alun sebagai ruang terbuka umum.

Proses pembangunan Masjid Raya Bandung dimulai dengan peletakan batu pertama prose pembangunan kembali pada tanggal 25 Februari 2001. Keseluruhan proses pembangunannya memakan waktu selama 829 hari (2 tahun 99 hari) sejak peletakan batu pertama hingga diresmikan tanggal 4 Juni 2003 oleh Gubernur Jawa Barat H.R. Nuriana. Secar keseluruhan proses pembangunan dan penataan ulang kawasan alun alun dan masjid Agung Bandung dinyatakan selesai pada tanggal tanggal 13 Januari 2006. Bersamaan dengan pergantian nama dari Masjid Agung Bandung menjadi Masjid Raya Bandung Propinsi Jawa Barat serta menyandang predikat sebagai masjid propinsi, namun masyarakat Bandung kebanyakan masih menyebutnya sebagai Masjid Agung Bandung.
Menara dan Kubah Masjid Raya Bandung

Masjid Raya Bandung yang kini kita lihat merupakan hasil rancangan 4 orang perancang kondang dari Bandung masing masing adalah Ir. H. Keulman, Ir. H. Arie Atmadibrata, Ir. H. Nu’man dan Prof. Dr. Slamet Wirasonjaya. Rancangan awalnya akan tetap mempertahankan sebagian bangunan lama Masjid Agung Bandung termasuk jembatan hubung masjid dengan alun alun yang melintas di atas jalan alun alun barat dan dinding berbentuk sisik ikan di sisi depan masjid. Satu satunya perubahan pada bangunan lama adalah perubahan bentuk atap masjid dari bentuk atap limas diganti dengan kubah besar setengah bola berdiameter 30 meter sekaligus menjadi kubah utama.

Untuk mengurangi beban, kubah tersebut dibangun dengan konstruksi space frame yang kemudian ditutup dengan material metal yang dipanaskan dalam suhu sangat tinggi. Selain satu kubah utama Masjid Raya Bandung dilengkapi lagi dengan dua kubah yang ukurannya lebih kecil masing masing berdiameter 25 meter diletakkan diatas bangunan tambahan. Sama seperti kubah utama dua kubah tambahan ini menggunakan konstruksi space frame namun ditutup dengan material transfaran untuk memberi efek cahaya ke dalam masjid.

Bangunan tambahan didirikan di atas lahan yang sebelumnya merupakan ruas jalan alun alun barat di depan masjid. Bangunan tambahan ini dilengkapi dengan sepasang menara (rencananya setinggi 99 meter) namun kemudian dikurangi menjadi 81 meter saja, terkait dengan keselamatan penerbangan sebagaimana masukan dari pengelola Bandara Husein Sastranegara – Bandung. Saat ini, dua menara kembar yang mengapit bangunan utama masjid dapat dinaiki pengunjung. Di lantai paling atas, lantai 19, pengunjung dapat menikmati pemandangan 360 derajat kota Bandung

Sementara itu halaman depan masjid yang dirombak. Parkir kendaraan ditempatkan di basement sementara bagian atasnya adalah taman, sebuah area publik tempat masyarakat berkumpul. Ini adalah salah satu upaya pemkot mengembalikan nilai Alun-alun seperti dahulu kala. Ruang bawah tanah untuk tempat parkir itu juga semula direncanakan untuk menampung para pedagang jalanan (PKL).

Bagian dalam Masjid Raya Bandung

Bagian dalam masjid ini terdapat dua bagian, yaitu : Ruang dalam bagian depan yang cukup luas dan ruang sholat utama. Ruang Dalam Bagian Depan masjid ini digunakan sebagai aula untuk acara pengajian, pernikahan dan tentu saja untuk istirahat warga yang kebetulan singgah di situ. Ruang ini juga digunakan untuk sholat bagi mereka yang enggan untuk ke ruang sholat utama yang berada di ruang terpisah. Ruang Sholat Utama berada di ruang terpisah dari ruang dalam bagian depan. Di antara kedua ruang ini dihubungkan dengan jembatan yang di bawahnya terdapat ruang wudlu (selain ruang wudlu bagian luar). Ruang sholat utama ini memiliki ruang yang luas dan berlantai dua.

Interior bangunan tambahan ini dirancang dengan ornamen ukiran Islami dengan mengutamakan seni budaya Islami tatar sunda. Selain itu Masjid Raya Bandung dilengkapi dengan dua lantai basemen yang dibagian atasnya tetap dipertahankan sebagai ruang terbuka untuk publik. Bagian atap masjid diganti dari atap joglo menjadi satu kubah besar pada atap tengah dan kubah lebih kecil pada atap kiri-kanan masjid, dinding masjid terbuat dari batu alam kualitas tinggi.[wikipedia]
Lokasi Masjid Raya Bandung dalam Peta Satelit

Masjid Agung Jawa Tengah

Keberadaan bangunan masjid ini tak lepas dari Masjid Besar Kauman Semarang. Pembangunan Masjid Agung Jawa Tengah berawal dari kembalinya tanah banda (harta) wakaf milik Masjid Besar Kauman Semarang yang telah sekian lama tak tentu rimbanya. Raibnya banda wakaf Masjid Besar Kauman Semarang berawal dari proses tukar guling tanah wakaf Masjid Kauman seluas 119.127 ha yang dikelola oleh BKM (Badan Kesejahteraan Masjid) bentukan Bidang Urusan Agama Depag Jawa Tengah. Dengan alasan tanah itu tidak produktif, oleh BKM tanah itu di tukar guling dengan tanah seluas 250 ha di Demak lewat PT. Sambirejo. Kemudian berpindah tangan ke PT. Tensindo milik Tjipto Siswoyo.

Hasil perjuangan banyak pihak untuk mengembalikan banda wakaf Masjid Besar Kauman Semarang itu ahirnya berbuah manis setelah melalui perjuangan panjang. Masjid Agung Jawa Tengah sendiri dibangun di atas salah satu petak tanah banda wakaf Masjid Besar Kauman Semarang yang telah kembali tersebut.
Masjid Agung Jawa Tengah dengan payungnya yang terkembang


Pada tanggal 6 juni 2001 Gubernur Jawa Tengah membentuk Tim Koordinasi Pembangunan Masjid Agung Jawa Tengah untuk menangani masalah-masalah baik yang mendasar maupun teknis. Berkat niat yang luhur dan silaturahmi yang erat, dalam waktu kerja yang amat singkat keputusan-keputusan pokok sudah dapat ditentukan : status tanah, persetujuan pembiayaan dari APBD oleh DPRD Jawa Tengah, serta pemiilhan lahan tapak dan program ruang.

Kemudian pembangunan masjid tersebut dimulai pada hari Jumat, 6 September 2002 yang ditandai dengan pemasangan tiang pancang perdana yang dilakukan Menteri Agama Ri, Prof. Dr. H. Said Agil Husen al-Munawar, KH. MA Sahal Mahfudz dan Gubernur Jawa Tengah, H. Mardiyanto. Pemasangan tiang pancang pertama tersebut juga dihadiri oleh tujuh duta besar dari Negara-negara sahabat, yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Mesir, Palestina, dan Abu Dabi. Dengan demikian mata dan perhatian dunia internasional pun mendukung dibangunnya Masjid Agung Jawa Tengah tersebut.

Masjid Agung Jawa Tengah diresmikan pada tanggal 14 November 2006 oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudoyono. Masjid dengan luas areal tanah 10 Hektar dan luas bangunan induk untuk shalat 7.669 meter persegi secara keseluruhan pembangunan Masjid ini menelan biaya sebesar Rp 198.692.340.000.

Meskipun baru diresmikan pada tanggal 14 Nopember 2006, namun masjid ini telah difungsikan untuk ibadah jauh sebelum tanggal tersebut. Masjid megah ini telah digunakan ibadah shalat jum’at untuk pertama kalinya pada tanggal 19 Maret 2004 dengan Khatib Drs. H. M. Chabib Thoha, MA, (Kakanwil Depag Jawa Tengah)
Perpaduan dua arsitektural pada atap Masjid Agung Jawa Tengah
Arsitektur

Masjid Agung Jawa Tengah dirancang dalam gaya arsitektural campuran Jawa, Islam dan Romawi. Diarsiteki oleh Ir. H. Ahmad Fanani dari PT. Atelier Enam Jakarta yang memenangkan sayembara desain MAJT tahun 2001. Bangunan utama masjid beratap limas khas bangunan Jawa namun dibagian ujungnya dilengkapi dengan kubah besar berdiameter 20 meter ditambah lagi dengan 4 menara masing masing setinggi 62 meter ditiap penjuru atapnya sebagai bentuk bangunan masjid universal Islam lengkap dengan satu menara terpisah dari bangunan masjid setinggi 99 meter.

Gaya Romawi terlihat dari bangunan 25 pilar dipelataran masjid. Pilar pilar bergaya koloseum Athena di Romawi dihiasi kaligrafi kaligrafi yang indah, menyimbolkan 25 Nabi dan Rosul, di gerbang ditulis dua kalimat syahadat, pada bidang datar tertulis huruf Arab Melayu “Sucining Guno Gapuraning Gusti“.
Menara dan Pilar di serambi Masjid Agung Jawa Tengah

Masjid Agung Jawa Tengah ini, selain disiapkan sebagai tempat ibadah, juga dipersiapkan sebagai objek wisata religius. Untuk menunjang tujuan tersebut, Masjid Agung ini dilengkapi dengan wisma penginapan dengan kapasitas 23 kamar berbagai kelas, sehingga para peziarah yang ingin bermalam bisa memanfaatkan fasilitas.

Daya tarik lain dari masjid ini adalah Menara Al Husna atau Al Husna Tower yang tingginya 99 meter. Bagian dasar dari menara ini terdapat Studio Radio Dais (Dakwah Islam). Sedangkan di lantai 2 dan lantai 3 digunakan sebagai Museum Kebudayaan Islam, dan di lantai 18 terdapat Kafe Muslim yang dapat berputar 360 derajat. Lantai 19 untuk menara pandang, dilengkapi 5 teropong yang bisa melihat kota Semarang. Pada awal Ramadhan 1427 H lalu, teropong di masjid ini untuk pertama kalinya digunakan untuk melihat Rukyatul Hilal oleh Tim Rukyah Jawa Tengah dengan menggunakan teropong canggih dari Boscha
Fasilitas

Menara Asmaul Husna setinggi 99 meter di area Masjid Agung Jawa Tengah

Di dalam area Masjid Agung Jawa Tengah terdapat Menara Asma Al-Husna Setinggi 99 Meter terdiri dari : lantai 1 untuk Studio Radio DAIS Masjid Agung Jawa Tengah , lantai 2 untuk museum Perkembangan Islam Jawa Tengah, Lantai 18 rumah makan berputar, lantai 19 Gardu pandang kota Semarang dan lantai 19 Tempat rukyat al-hilal.

Area serambi Masjid Agung Jawa Tengah dilengkapi 6 payung raksasa otomatis seperti yang ada di Masjid Nabawi, Tinggi masing masing payung elektrik adalah 20 meter dengan diameter 14 meter. Payung elektrik dibuka setiap shalat Jumat, Idul Fitri dan Idul Adha dengan catatan kondisi angin tidak melebihi 200 knot, namun jika pengunjung ada yang ingin melihat proses mengembangnya payung tersebut bisa menghubungi pengurus masjid.

Masjid Agung Jawa Tengah  memiliki koleksi Al Quran raksasa berukuran 145 x 95 cm². Ditulis tangan oleh Drs. Khyatudin, dari Pondok Pesantren Al-Asyariyyah, Kalibeber, Mojotengah, Wonosobo. Lokasi berada di dalam ruang utama tempat shalat. Beduk raksasa berukuran panjang 310 cm, diameter 220 cm. Merupakan replika beduk Pendowo Purworejo. Dibuat oleh para santri pondok pesantren Alfalah, Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, asuhan KH Ahmad Sobri, menggunakan kulit lembu Australia.

Tongkat khatib Masjid Agung Jawa Tengah merupakan tongkat pemberian Sultan Hasanal Bolkiah dari Brunei Darusalam.
Lokasi Masjid Agung Jawa Tengah dalam Peta Satelit