Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

Oleh :H. Usman, SE, M.Si. (Rektor Universitas Islam Sumut.)




Masjid sebagai tempat ibadah memang memiliki kekuatan tersendiri dikalangan umat Islam, disebabkan masjid merupakan satu-satunya lembaga yang dianggap dapat mendekat diri kepada Allah S.w.t. Apresiasi ini dapat ditandai bagaimana takutnya sebahagian besar umat Islam kalau masjid itu harus berubah fungsi menjadi sarana keduniaan, bahkan dalam dataran tertentu saya melihat dalam konsep wakaf saja sebahagian umat Islam tetap "berkutat" bahwa harta wakaf itu tidak dapat kembangkan menjadi lebih baik, dan cenderung membiarkannya untuk rusak dengan sendirinya.


Demikian juga saya melihat kuatnya asumsi sebahagian umat Islam kalau masjid tidak boleh kembangkan menjadi lebih dari sebelumnya didasarkan pemahaman masjid itu sebagai merupakan sarana ibadah semata. Hal ini menurut saya apabila terus berkekalan dapat "memandulkan" fungsi masjid itu sendiri yang sebenarnya sangat layak untuk dikembangkan menjadi penggerak ekonomi berbasis keumatan. Tidak mengherankan kalau sebahagian umat Islam "bermalas-malas" untuk datang ke masjid disebabkan orientasi masjid hanya berarah kepada ibadah semata, yang sebenarnya tanpa ke masjid juga dapat menjalankan ibadah di rumah masing-masing.

Makanya untuk mencapai prestasi masjid sebagai basis ekonomi keumatan yang diimpikan itu harus dimulai dari perubahan paradigma tentang pengelolaan masjid. Karena tanpa perubahan paradigma itu sangat mustahil untuk mewujudkan kerja ke arah tersebut. Untuk itulah saya melihat sangat tepat sekali mengedepankan gagasan ini supaya pengembangan masjid dapat terujud secara nyata dalam kehidupan umat, bukan hanya berhenti dalam aspek pemikiran semata, melainkan harus "dibumikan" dengan cara merubah paradigma lama cara bermasjid kita, supaya dapat memuluskan proyek masjid sebagai penggerak ekonomi keumatan, makanya dalam tulisan berikut saya paparkan beberapa hal urgensinya paradigma baru cara bermasjid tersebut.

Sosialisasi Paradigma Baru Pengelolaan Masjid

Paradigma baru yang saya maksud merupakan upaya sungguh untuk merubah cara pandang terhadap pengelolaan masjid dengan melakukan pemberdayaan fungsinya secara maksimal. Pemberdayaan itu dimaksudkan tidak hanya menjadikan masjid sebagai sarana ibadah oriented, melainkan juga dikembangkan menurut kepentingan keumatan yang dilandaskan kepada pemikiran dasar bahwa masjid harus mampu memberikan penghidupan yang lebih layak kepada umat, bukan sebaliknya masjid harus dihidupi dari tangan jama’ah semata.

Karena itu sangat sulit memberikan "tonjokan" sosial, dan terkesan kurang produktif dari perspektif mengembangan kemanusiaan, disebabkan sangat terikat kepada persentasi infak yang diberikan jama’ahnya. Peran para nazir yang secara organik orang yang paling bertanggung jawab kepada proses pelaksanaan masjid, bahwa para nazir itu jangan hanya mampu mengurusi operasional shalat berjama’ah semata, atau hanya memikirkan bagaimana memperbesar dan pempercantik masjid, melainkan juga harus mempertimbangkan aspek lain yang lebih utama dikedepankan, yaitu bagaimana cara menciptakan masjid itu produktif, dan berdaya guna bagi kelangsungan kehidupan manusia secara luas itulah masjid yang sesungguhnya.Akan tetapi di lapangan saya melihat ada kesan kuat para nazir seakan berlomba-lomba untuk mengurusi persoalan bangunan atau sarana fisik masjid semata, dan mungkin sekali praktek ini muncul didasarkan asumsi pemahaman kalau bangunan masjid bagus, maka pahala membangunnya juga bagus.

Para nazir melakukan berbagai cara untuk mengumpulkan dana sebanyaknya demi pembangunan itu, dari yang mencari donatur, mengutip iuran per lingkuangan, sampai melakukan hal yang terkesan "jelek" dipandang mata dengan cara menggangu jalanan raya untuk meminta infak dari pengendara yang lewat. Seorang nazir yang cerdas menurut saya akan berupaya semaksimalnya mencari peluang-peluang yang dapat memajukan masjid dari aspek sosial kemasyarakatan tanpa harus menghilangkan makna utama dari masjid itu sendiri sebagai sarana ibadah. Untuk itu juga menurut saya minimal seorang nazir juga harus berjiwa entrepruenership. Karena sesungguhnya orang-orang yang berjiwa entrepruenership itulah yang dapat diharapkan mampu memajukan gerak langkah masjid sebagai gerak ekonomi keumatan, tanpa adanya jiwa entrepruenership paradigma pengelolaan masjid itu tidak akan pernah berubah menuju perbaikan dalam aspek pengembangan apa yang di dalam masjid itu.

Menurut saya setidaknya ada tiga langkah yang dapat dilakukan dalam merubah paradigma lama pengelolaan masjid menuju penciptaan masjid yang berbasis keumatan, yaitu:
Pertama. Masjid harus dipandang sebagai "benda bergerak", dalam artian masjid harus dijalankan berdasarkan kepentingan umat, makanya juga harus juga berorientasi kepada hal yang dapat menggerakkan ekonomi keumatan dengan menemukan lembaga usaha yang dapat memacu bangkitnya ekonomi, seperti mewujudkan koperasi masjid, penyewaan barang-barang untuk pesta, dan usaha lain yang seumpamanya dengan itu.

Kedua. Sosialiasi kepada para nazir tentang argumen keagaman yang mengarah kepada pengembangan fungsi masjid selain sebagai sarana ibadah murni juga harus menjadi sarana ibadah sosial, yang memang sebenarnya telah dilakukan Nabi dan sahabat pada dekade awal Islam yang direkam dalam lintasan sejarah. Sehingga tidak ada lagi kesan takut bagi umat Islam untuk mengembangkan fungsi masjid itu sebagai suatu yang mesti dilakukan, melainkan dengan mengembangkannya sama halnya telah memakmurkan masjid itu sendiri. Dalam hal ini tentunya diperlukan kerjasama semua pihak untuk memuluskannya terutama para tokoh agama, dan cendikiawan.

Ketiga. Harus terujud adanya masjid percontohan yang dapat dijadikan sebagai model untuk pengembangan masjid yang lainnya, walaupun sebenarnya di kota-kota tertentu sudah ada yang melakukannya. Akan tetapi bagi kita yang berdomisili di kota Medan sejauh pengetahuan saya juga sudah ada proyeksi Depertemen Agama tentang hal itu, tetapi lagi-lagi belum dapat terwujud secara nyata. Maka dalam hal mengujudkan masjid percontohan ini harus dilakukan masjid-masjid besar yang memang siap secara material lagi memiliki SDM yang dianggap mapan untuk melakukan hal tersebut.

Dari ketiga poin itu harus secara seimbang dilaksanakan, tanpa adanya keseimbangan tentu hanya akan membuat ketimpangan yang tidak akan pernah berhasil dalam mengujukkan proyeksi kerja. Karena tidak dipenuhinya semua itu tidak akan pernah memberikan hasil yang maksimal dalam upaya mengujudkan masjid yang benar mampu menjadi "mercusuar" peradaban yang ditandai dari baiknya aktifitas ekonomi umat, tanpa baiknya ekonomi tidak akan pernah memberikan perbaikan dalam sistem sosial kemasyarakatan. Dengan demikian yang saya maskud paradigma baru pengelolaan masjid, yaitu munculnya keinginan untuk mengembangkan peran masjid secara lebih baik supaya tidak berhenti menjadi sarana ibadah an sich, melainkan juga mampu sebagai mengembangkan aspek sosial yang memang tidak boleh berhenti dalam kehidupan. Bahkan menariknya kenapa pilihan pengembangan ibadah sosial itu harus masjid, disebabkan masjid itu memiliki dua dimensi, keakhiratan dan keduniaan yang mama peran itu diharapkan mampu menjadi satu dalam mengejar kebaikan akhirat dengan pengendalian keduniaan yang seimbang. Hal ini jugalah nampaknya isyarat Nabi bahwa kehidupan di dunia sangat menentukan kualitas di akhirat nantinya harus benar-benar ditangkap secara baik.

Tentang admin

Admin adalah orang-orang yang peduli terhadap kemaslahatan umat, terutama dalam menghadapi tantangan zaman berupa hujatan, fitnah, dan upaya-upaya lain yang mendeskriditkan dunia Islam. "Biodata Penulis".
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment