Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

 Oleh :H. Usman, SE, M.Si. (Rektor (Universitas Islam Sumut)

Sebagaimana tulisan saya sebelumnya tentang “paradigma baru pengelolaan masjid”, memang harus diakui bahwa peranan masjid memang tidak lagi dapat dinapikan terutama dalam upaya mendongkrak kehidupan sosial umat disebabkan masjid memang terbukti memiliki multi fungsi apabila dapat diperankan secara baik. Di antara salah satu bukti yang paling konkrit menuju masjid paripurna itu mampu menampung semua aspirasi keumatan sebagai landasan utama pengembangannya yang diharapkan menjadi satu kesatuan yang utuh untuk memainkan perannya sebagai sarana ibadah plus keduniaan.


Menurut saya salah satu bentuk nyata kearah tersebut perlunya membangun jaringan masjid-masjid yang setidaknya akan mampu mengkoordinasikan masjid-masjid secara sistematis demi tercapainya masjid yang benar-benar mampu menjadi simbol peradaban umat Islam, dan sekaligus sebagai jaringan pemersatu kesatuan umat yang dirangkum dalam satu ikatan organik yang memang bebas dari semua warna kemanusiaan, dan semua unsur berhak untuk terlibat di dalamnya. Karena sebenarnya masjid itu bukan milik perjama‘ah tertentu apalagi organisasi keagamaan, melainkan milik semua umat manusia secara keseluruhan di mana saja berada tanpa mengenal batas dan wilayah.

Untuk itulah gagasan ini perlu dikemukan sekaligus sebagai langkah utama tercapainya peran masjid yang benar-benar mumpuni dalam realitas kehidupan dengan terbentuknya satu kekuatan dalam menyongsong kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Gagasan jaringan masjid-masjid ini saya harapkan setidaknya akan menjadikan masjid itu tidak “liar” pengelolaannya dalam artian khusus masjid itu tidak hanya dimainkan berdasarkan kecenderungannya pengelolanya masing-masing. Dalam dataran praktis saya melihat ada saja ditemukan kesenjangan pengelolaan diantara tiap masjid, terutama masjid yang berada dipinggiran elitis dengan masjid yang ada dikalangan jama‘ah menengah ke bawah itu sangat terasa sekali perbedaannya baik sarana fisik hingga kenyamanan di dalamnya. Dalam tulisan selanjutnya akan dipaparkan bagaimana urgennya membuat jaringan masjid-masjid itu sebagai upaya menyeragaman arah pembangunan masjid itu, yang sekaligus langkah pencapaian kemakmuran kolektif yang seimbang. Menurut saya itulah semangat dari ajaran Islam yang tidak mengenal jerat-jerat status sosial dalam mewujudkan keadilan tanpa harus terperangkap dalam kelas-kelas yang hanya akan menghilangkan nilai kemanusiaan itu sendiri dalam interaksi sosial kemasyarakatan disebabkan status sosial itu hanya akan menimbulkan ketimpangan sosial dan rawan melahirkan diskriminatif yang jelas bertentangan dengan semangat keislaman itu sendiri.

Jaringan Masjid: Perwujudan “Badan Kontak”
Bentuk konkrit dari jaringan masjid itu, yaitu masjid-masjid yang ada harus memiliki masjid sentral yang akan memantau semua perkembangan masjid yang ada. Umpamanya di kota Medan menurut catatan Depertemen Agama tahun 2004 terdiri atas 712 buah masjid kecil-besar. Dari jumlah masjid itu harus ada satu masjid yang dianggap repsentatif sebagai “badang kontak” yang dapat mengontrol semua aktifitas dari masjid yang ada di bawahnya, termasuk tentang keadaan sarana fisik, dan lingkungan sekitarnya, dan peluang-peluang apa saja yang dapat memajukan masjid itu dari aspek badan usaha.Secara lebih spesifik masjid menurut saya yang termasuk kategori “raya”, “agung”, dan “jamik” harus mengkoordinir masjid-masjid yang ada di lingkungan sekitarnya, baik perkecamatan atau perlingkungan, dan juga seterusnya masjid yang ada di kecamatan atau lingkungan akan menjaring masjid yang ada di bawahnya, dan seterusnya.Pengkoornisasian itu dimaksudkan supaya tidak ditemukan lagi masjid-masjid yang berdiri sendiri atas kepentingan organisasi tertentu yang menjalankan programnya secara sendiri pula sehingga tidak dikenal lagi istilah “masjid Muhammadiyah”, “masjid Al-Washliyah”, “masjid pejabat anu / ani”, dan lainnya.

Diantara kecenderungan yang tidak seimbang dari pengelolaan masjid yang berdiri sendiri lebih cenderung aktifitas kejama‘ahannya hanya akan mengedepankan orang-orang yang terlibat di organisasi tersebut, sebagaimana yang lazim kita saksikan “masjid Muhammadiyah” atau “masjid Al-Washliyah” hanya akan memberi peluang kepada para ustaz / dai yang memang benar-benar dianggap satu ide dengan organisasi itu dan orang-orang yang dianggap di laur itu tidak mendapat kesempatan untuk berpartisifasi di masjid tersebut walaupun kadang orang itu lebih mumpuni dalam bidang keagamaan tertentu menjadi terhalang untuk mengembangkan kemampuannya. Padahal sesungguhnya masjid itu milik semua umat Islam yang seharusnya semua umat berhak untuk berpartisifasi di dalamnya terutama yang dapat membawa perubahan dari segala bentuk sistem pengelolaan yang lama menjadi lebih bersifat dinamis yang siap dengan segala pembaruan kalau memang dimungkin. Di sinilah salah satu letak urgensi adanya jaringan masjid-masjid itu, setidaknya diharapkan dengan adanya “badan kontak” masjid itu akan mampu menghilangkan sekat-sekat individu atau perorangan dalam pengelolaan masjid sehingga akan muncul masjid yang benar-benar masjid dalam artian sesungguhnya yang dapat mengayomi semua aspirasi jama‘ahnya tanpa terkecuali.

Menurut pengamatan saya ada satu kasus masjid yang menarik diangkat di sini, dan mungkin saja puluhan masjid yang lain juga mengalami hal sama, yaitu masjid yang didirikan di atas tanah sengketa yang pada akhirnya memaksa masjid itu untuk dibongkar dari tempat berdirinya, disebabkan pengurus masjid itu hanya terdiri dari masyarakat biasa terpaksalah masjid itu dibiarkan untuk di bongkar. Kasus ini memang cukup memprihatinkan disebabkan keterbatasan segala sesuatunya untuk mempertahankan hak akhirnya masyarakat setempat itu harus merelakan masjidnya diambil oleh pihak lain yang tidak lebih hanya untuk memenuhi keinginan pihak yang berkepentingan itu semata. Kasus itu mungkin tidak akan pernah terjadi apabila terbangunnya jaringan masjid-masjid itu disebabkan setiap masjid yang ada akan di koordinir secara baik oleh masjid yang lebih besar dari padanya masjid yang di bawahnya, dan tentunya kalau seandainya itu terjadi lagi setelah adanya jaringan masjid-masjid tentu pihak yang di atas masjid yang bersengketa itu akan memberikan bantuan hukum yang memadai untuk mempertahankan hak masyarakat itu terhadap masjidnya.

Selain itu ada lagi hal yang menarik dari jaringan masjid-masjid itu bahwa ada di antara masjid yang memiliki bangunan mewah, dan sekaligus memiliki bahan bangun yang melimpah ruah, yang memang saat itu tidak dibutuhkan untuk pembangunan masjid tersebut, sedangkan di lain pihak ada juga masjid lainnya yang sangat “miskin” dengan sarana pendukung itu untuk memperbaiki sarana fisiknya yang telah rusak, dan dari aspek finansial sangat kesulitan. Selain terkesan merendahkan kinerja umat sebagai “tukang pinta” juga ada kesan lain untuk mencari keuntungan pribadi di dalamnya proyek pembangunan masjid itu, dan sejatinya menurut saya Islam sebagai ajaran yang tinggi selalu mengajar “tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah” itulah hendaknya menjadi spirit utama pada para pengelola dalam pengembangan masjid.

Dalam tahapan lebih lanjut jaringan masjid-masjid juga harus mampu menggalang dana keumatan dari badan usaha yang diciptakan sendiri, atau juga kalau memungkin dana yang diperoleh dari jumlah tabungan setiap jum‘atnya di setiap masjid itu disisihkan. Dapat kita bayangkan kalau jumlah masjid sebanyak 712 buah saja itu dapat dapat menyisihkan Rp50.000/minggunya, dan setiap bulannya Rp200.000 dana yang terkumpul dari setiap masjidnya, maka dana sebesar Rp142.400.000 akan terkumpul secara baik. Bahkan kalau sampai 1 tahun bagaimana?... saya rasa itu sangat efektif sekali sebagai kas masjid-masjid, dan ini merupakan diantara kekuatan jaringan masjid-masjid yang dilandasi kejama‘ahan yang saya maksudkan akan lebih baik dari pengelolaan masjid yang bersifat organisasi atau individual tertentu. Dengan demikian jaringan masjid-masjid yang saya maksud merupakan olah kerja kejama‘ahan dengan melibatkan keseluruhan masjid-masjid yang ada untuk bekerja sama dan sama-sama bekerja dalam meujudkan masjid yang benar-benar berdaya guna dalam mengembangkan kejama‘ahan sebagai kekuatan utamanya.

Sumber : Waspada Online

Tentang admin

Admin adalah orang-orang yang peduli terhadap kemaslahatan umat, terutama dalam menghadapi tantangan zaman berupa hujatan, fitnah, dan upaya-upaya lain yang mendeskriditkan dunia Islam. "Biodata Penulis".
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment