Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

Proposal Musholla At Takwa, Cibeber Cianjur

SURAT PERMOHONAN BANTUAN

MUSHOLA ATTAQWA

Kp. Pasir Kupa RT. 07/06Desa Cibaregbeg Kec.CibeberKab. Cianjur

I. PENDAHULUAN

Diiringi dengan bismillah dibarengi besertatawakal dan ikhtiar kepada-Nya, kami pengurus Mushola Attaqwa Kp. Pasir Kupa Rt. 07/06Desa Cibaregbeg Kecamatan Cibeber Kabupaten Cianjur bermaksud membangun Mushola Attaqwa, mengingat Mushola tersebut sudah tidak memadai untuk sarana Peribadatan.

II. LATAR BELAKANG

1. Mushola Attaqwa sudah tidak memadai untuk sarana beribadah,

2. Dan Mushola tersebut sudah tidak memadai untuk pendidikan agama dikarenakan  banyak anak-anak yang mengaji.

III. MAKSUD DAN TUJUAN

1. Untuk lebih meningkatkan kenyamanan masyarakat dalam beribadah,

2. Untuk menunjang sarana pendidikan keagamaan yang lebih memadai.

IV. PENUTUP

Demikian proposal permohonan bantuan ini kami sampaikan.Besar harapan kami agar permohonan ini dapat dikabulkan.

Donasi bisa disalurkan melalui :
NOMOR REKENING

4077 01 02 1764 53 3

BANK BRI a/n. DEDIN S.

Konfirmasi Donasi
0858 6268 7222/ 0852 9405 1960

  Cibaregbeg, 23 Agustus 2016

Pengurus Mushola Attaqwa

 Ketua RT. 07/06 Panita Pembangunan


 H. AZIZ THOLIB DEDIN S.


Mengetahui :

SekretarisDesa Cibaregbeg



SUBUH BASRAH

NIP. 197811162010011012

Masjid Al Amin Glodok Jakarta

Masjid Al-Amien berdiri tanggal 20 Oktober 1985 diprakarsai oleh H. Moechtar dan Mohd. Nazib. Semula, lokasi Masjid Al-Amien terletak di Komplek Pertokoan Glodok Plaza Blok H No. 32, Jakarta Barat. Saat itu komplek Glodok Plaza belum selesai dibangun semuanya. Ditempat inilah satu-satunya tempat ibadah bagi umat Islam sekaligus tempat ibadah PERTAMA di wilayah Komplek Pertokoan Glodok Plaza sampai dengan tahun 2000, sebelum akhirnya dipindahkan oleh Bank Bukopin ke Komplek Pertokoan Glodok Plaza Blok A No. 2 sampai dengan sekarang.
Sebagai satu-satunya masjid di lingkungan komunitas China (Tionghoa), Masjid Al-Amien telah menjadi tempat kegiatan ibadah kaum muslimin yang sangat dibutuhkan. Hal ini ditandai dengan semakin terus berlimpahnya jama’ah saat melaksanakan sholat fardhu. Sedangkan untuk sholat Jum’at, lapangan parkir di sekitar masjid terpaksa digunakan untuk menampung jama’ah yang membludak, dan parkir ditiadakan selama pelaksanaan Sholat Jum’at berlangsung.
Status Masjid Al-Amien
Perihal Gedung :
Gedung milik Bank Bukopin dan dialokasikan sepenuhnya untuk tempat kegiatan ibadah kaum muslimin (Masjid Al-Amien) disekitar Komplek Pertokoan Glodok Plaza.
Perihal Pengelola :
Pengelola : Bpk. Kolonel (Purnawirawan) Sofyan Zein berdasarkan Berita Acara Serah Terima PT. Bank Bukopin tertanggal 01 Desember 2000 dan oleh karenanya adalah selaku penanggung jawab dan pemegang hak otoritas pengelolaan gedung.
Perihal Pengurus :
Ketua DKM Al-Amien : Drs. Sayonara Siregar, berdasarkan SK No. 01/SK/DKM-Al Amien/2016 tertanggal 03 Rab. Akhir 1437 H/ 13 Januari 2016

Visi & Misi

Visi
Menjadikan Masjid Sebagai Pusat Peradaban dan Spritualisme Islam
Misi
Menghadirkan Islam melalui dakwah kultural
Program Kerja
1. Bidang Ibadah
a. Melaksanakan Kegiatan Sholat Fardhu
b. Melaksanakan Sholat Jum’at
c. Melaksanakan Kegiatan Ramadhan
 Ta’jil (Penyediaan Makanan Untuk Berbuka Puasa)  Melaksanakan Shalat Tarawih  Kultum Ramadhan
 Pengumpulan & Penyaluran ZIS
d. Melaksanakan Sholat ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha
2. Bidang Pendidikan
a. Pendidikan TPA/PAUD
b. Pengajian Dhuha Kaum Ibu
c. Kajian Khusus adalah “Kajian Islam Dalam Perspektif Ilmu”.
Kajian ini bisa bernama: Kajian Intensif, Kupas Tuntas, Bedah Buku, dan lain-lain. Materi Kajian meliputi : “Fiqh Ibadah”, “Fiqh Sosial” atau “Fiqh Kontemporer” Waktu Pelaksanaan : Mingguan, Bulanan atau Bertepatan Dengan PHBI (Peringatan Hari Besar Islam) - berdasarkan situasional dan atau momentum
3. Bidang Sosial Kemasyarakatan
a. Bakti Sosial
b. Pelayanan Sosial
c. lain-Lain
Kegiatan Jum’at
1. Jadwal Khatib Jum’at
2. Materi Khutbah Jum’at

RENOVASI
1. Urgensi Renovasi
Sejak ditempati tahun 2001 s/d Februari 2016, Masjid Al-Amien, ternyata belum sekalipun melakukan renovasi, sehingga kondisi saat ini cenderung tidak terawat dan kurang nyaman. Hal ini terlihat jelas dari kondisi atap lantai 4 yang bocor, rembesan air terlihat dari dak beton atas disertai dengan papan penyangga atap yang termakan rayap. Sedangkan lantai keramik telah rusak dan pecah-pecah.
Pada posisi lantai 3 dan lantai 2, plafon dan lantai keramik telah terlepas, dan sebagian lagi sudah pecah. Pandangan ini tertutup (tidak terlihat), karena adanya karpet lantai yang terpasang. Keseluruhan bangunan (mulai Lt 1 s/d Lt 4), luar dan dalam belum pernah di cat ulang, sehingga masjid terlihat tidak terawat dan terkesan kurang layak.

Membangun masjid adalah pekerjaan pertama yang Rasulullah SAW lakukan ketika sampai di Madinah. Masjid adalah sarana utama untuk pemberdayaan

masyarakat Islam. Masjid pada masa Rasulullah SAW dan generasi Islam pertama dijadikan sebagai pusat kegiatan dakwah, pengembangan keilmuan, serta pembangunan dan pemberdayaan masyarakat dalam arti seluas-luasnya. Bermula peradaban modern berawal dari masjid.
Oleh karena itu, DKM Al-Amien Periode 2016-2018, bertekad, bersama kaum muslimin dan jama’ah Masjid Al-Amien, akan melakukan RENOVASI TOTAL (BERTAHAP), guna menjadikan Masjid Al-Amien sebagai :
1. Sentra kegiatan ibadah kaum muslimin yang layak, bersih, sehat dan nyaman di lingkungan Komplek Pertokoan Glodok Plaza, Jl. Pinangsia-Jakarta Barat, sehingga kaum muslimin dapat melaksanakan kegiatan ibadah dengan tenang, aman dan khusyu’.
2. Media untuk mewujudkan masyarakat Islam (muslim) yang berkemajuan, berpikir dinamis, berjiwa toleren dan berlaku santun sekaligus dapat mencerminkan wajah Islam yang ramah, peduli, menghargai perbedaan, mencintai perdamaian dan mengutamakan kemashlahatan dalam arti seluas-luasnya – atau yang secara umum disebut Islam yang rahmatan lil’alamiin.
Karena itu, esensi renovasi Masjid Al-Amien tidak sekedar perubahan fisik bangunan yang lebih baik, akan tetapi juga bermakna penegasan visi dan misi Masjid Al-Amien.










Kabar Terbaru Terkait Larangan Pembangunan Masjid Wamena

Terkait berita mengenai pelarangan pembangunan masjid di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, berikut ada kabar terbaru yang menggembirakan.
Alhamdulillah, setelah dilakukan pertemuan dengan Forkompinda (Forum Komunikasi Pimpinan Daerah) Provinsi Papua di Markas Polda Papua pada Kamis, 3 Maret 2016, dihasilkan kesepakatan sebagai berikut: 
1. PGGJ (Persekutuan Gereja-gereja Jayawijaya) menyerahkan forum pengambilan keputusan kepada Bupati Jayawijaya, Jhon Wempi Wetipo.
2. Bupati Jayawijaya memutuskan pembangunan Masjid Baiturahman Wamena, Jayawijaya tetap di lanjutkan dengan revisi luas bangunan sesuai IMB.
3. Karena PGGJ telah menyerahkan pengambilan keputusan pada bupati, maka selain hal IMB di atas tercabut dengan sendirinya.

Keterangan foto: Bupati Jayawijaya Wempi Wetipo, Wakil Bupati Richard Banua, Majelis Ulama Indonesia Jayawijaya, para pendeta PGGJ bergandengan tangan. Sepakat menjaga Papua tanah damai.

Profil Masjid Al Falah, Tanah Rendah Tanah Abang

MASJID AL FALAH awalnya adalah merupakan sebuah Langgar yang sangat sederhana, yang di bangun oleh Keluarga Bapak H. Saimin ‘Rahimahullah’ untuk tempat shalat warga sekitar, yang didirikan sekitar tahun 1917. Kemudian, sekitar tahun 1965 Langgar tersebut diwakafkan lalu dibangun menjadi sebuah Masjid. Pada zaman Orde Lama tersebut Masjid Al Falah adalah merupakan salah satu Masjid yang aktif dalam pergerakan dakwah dan politik, berbagai aktifis organisasi Pemuda Islam pernah menjadikan Masjid Al Falah sebagai markas pergerakan untuk melawan Gerakan 30 S PKI


Beberapa Gerakan organisasi yang pernah Aktif di Masjid Al Falah adalah Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiah, HMI,PII serta Masyumi. Setelah H. Saimin wafat, Kepengurusan Masjid Al Falah dipegang Oleh menantunya yang bernama H. Moch. Basri. Pada zaman beliaupun kegiatan – kegiatan kepemudaan tetap aktif dan sekitar  tahun 1975 dibentuklah organisasi remaja masjid yang bernama RISMALAH (Remaja Islam Masjid Al Falah) yang anggotanya tidak hanya dari lingkungan Jati Baru dan Tanah Rendah tetapi banyak juga Anggota RISMALAH berasal dariberbagai wilayah di DKI Jakarta.Sekitar tahun 1990, kembali Masjid Al Falah berganti kepengurusan karena wafatnya Bapak H. Moch. Basri ‘Rahimahullah’ lalu berikutnya di gantikan oleh Bapak H. Usman Djunaedi.

Pada periode Kepengurusan Bapak H. Usman Djunaedi Tahun 1992 Masjid Al Falah telah mengurus legalitas status tanah dan memiliki Sertifikat Wakaf dari BPN dengan nomor 09.01.06.03.1.00379 dengan luas tanah 92 m2. Pada periode beliau masjid Al Falah mengalami renovasi dengan meninggikan atap dan memasang plafon di pelataran samping Masjid Al Falah. Periode selanjutnya pada tahun 1999 kembali terjadi pergantian kepengurusan dikarenakan wafatnya Bapak H. Usman Djunaedi ‘Rahimahullah’ , berikutnya Kepengurusan dipimpin oleh Bapak H. Sukirman sejak tahun 1999 s/d tahun 2013. Pada periode beliau terjadi dua kali Renovasi Masjid, disebabkan jumlah jamaah yang semakin banyak. Maka dengan meminta izin kepada Pemerintah Kelurahan setempat dan Instansi terkait lainnya, maka masjid Al Falah memanfaatkan bantaran kali untuk dijadikan tempat wudhu dan selasar teras Masjid untuk ruang shalat. Selain itu dibuatkan juga canopi di luar Masjid untuk melindungi jamaah dari panas dan hujan ketika pelaksanaan Shalat Jum’at dan Shalat


Selanjutnya pada periode sekarang kepengurusan Masjid Al Falah di pegang oleh para pemuda Masjid yang diketuai oleh Saudara Yusuf Maulana, dikarenakan kepengurusan yang lama banyak yang sudah sepuh dan sakit – sakitan. Melihat perkembangan wilayah Jati Baru dan sekitarnya yang semakin padat, karena wilayah yang dulunya pemukiman warga kini sebagian berubah menjadi pasar yang cukup ramai. Jamaah Masjid pun membludak dan tidak tertampung ketika Shalat Fardhu lima waktu, terlebih lagi ketika Shalat Jum’at.

Insya Allah pada periode sekarang, kegiatan keislaman di Masjid Al Falah makin diintensifkan.Berbagai kegiatan rutin yang ada di Masjid Al Falah antara lain :

1.    Shalat Fardhu berjamaah
2.    Pengajian Tafsir dan Tahsin Al Qur’an setiap Selasa malam Rabu ( peserta utama pemuda
3.    Pengajian Tahsin dan Kajian Umum setiap Ahad malam Senin ( peserta utama kaum ibu )
4.    Pengajian Kitab Al Wajiz yang Insya Allah setiap Sabtu pekan pertama dan pekan ketiga
5.    Kajian Bulanan tematik ( peserta untuk umum )
6.    Bakti Sosial (Pelatihan Ruqyah / Pengobatan Gratis, Santunan Yatim dan Dhuafa )
7.    Buka Puasa bersama di Bulan Ramadhan
8.    Penggalangan Zakat Infaq Shadaqah
9.    Pemotongan hewan qurban dan pendistribusiannya
10.  Kepanitiaan Bersama penyelenggaraan Shalat Ied dengan Masjid dan Mushalah sekitar
11.  Pembentukan kembali TPQ Al Falah, dll.

Pada masa datang, Insya Allah kegiatan dakwah keislaman di Masjid Al Falah akan di kembangkan lagi menuju Pemberdayaan Ummat dan Masyarakat sekitar, sehingga Ukhuwah Islamiyah akan semakin terkait, terjaga, serta lebih terasa lagi. Semoga Allah Subhanahu Wata’aala memberikan jalan kemudahan dalamurusan dakwah ini, sehingga segala niat ibadah kita dapat terlaksana dengan khusyu’.
dan kaum bapak )

Kondisi Masjid Al Falah Sekarang

 Masjid Al Falah kini kondisinya sangat memprihatinkan, setelah renovasi 15 tahun terakhir, sudah banyak bagian masjid yang rusak parah. Mulai dari dinding/tembok yang retak-retak, keramik banyak yang copot dan pecah, kayu atap dan plafon yang lapuk sangat mengkhawatirkan, serta keadaan tempat wudhu yang sempit dan tidak mempunyai toilet.

Padahal di saat bersamaaan jumlah jamaah semakin membludak pada setiap waktu shalat, terlebih lagi jika shalat Jum’at. Diyakini bahwa hal tersebut merupakan dampak dari perubahan wilayah Jati baru dari pemukiman padat berganti menjadi pasar yang ramai, karena letak wilayahnya sangat strategis hanya 100 m dari Stasiun dan 500 m dari Pasar Tanah Abang Blok A, B, E, F, dan G

Melihat kondisi tersebut, kami selaku DKM Masjid Al Falah berusaha meminimalisasi kerusakan dengan memperbaiki dan menambah beberapa fasilitas untuk kenyamanan jamaah. Mulai dari perbaikan instalasi air, perbaikan Sound System, perbaikan plafon serta talang air. Akan tetapi, semakin diperbaikisemakin banyak terlihat bagian yang rusak. Akhirnya kami memutuskan untuk melakukan renovasi besar-besaran guna memberikan pelayanan yang terbaik bagi jamaah dan masyarakat,serta menjaga keselamatan para jamaah yang sedang beribadah.

Renovasi Besar Besaran
Akhirnya, pada tanggal 16 Mei 2015 melalui Rapat Pengurus DKM  Masjid Al Falah beserta para jamaah sepakat untuk membentuk Panitia Renovasi Masjid Al Falah. Dalam rapat tersebut terpilihlah  Bapak Syarifullah sebagai Ketua Panitia Renovasi Masjid Al Falah.

 Donasi dapat disampaikan kepada panitia renovasi Masjid Al Falah dengan alamat sebagai berikut:
 Alamat : Jl. Tanah rendah sebrang 1 No.65 ( Jati Baru 1) RT.002 RW.003
                 Kel , Kampung Bali , Kecamatan Tanah Abang
          Jakarta Pusat 10250
E-mail : renovasimasjidalfalah65@gmail.com

Bank BCA , Cabang Tanah Abang Bukit
No Rekening : 369 1141 908  a.n. Dadang Maulana
(Bendahara Panitia Renovasi Masjid Al Falah)

Bank BRI Syariah , Cabang Cikini Gold Center
No Rekening :  101 769 2651 a.n. Yusuf. Maulana
(Wakil Ketua Panitia Masjid Al Falah)

Contact Person :
 1. Syarifullah         ( 0812-8105-6678 )
 2. Yusuf Maulana     ( 0821-1111-9595 )
 3. Chaidirsyah         ( 0878-7541-1676 )
 4. Dadang Maulana     ( 0818-0725-5535 )

LIHAT PROPOSAL LENGKAP
KLIK GAMBAR DIBAWAH

a

Masjid Baitur rahim Pesing

Masjid Baitur Rahim yang beralamat jl.Kampung bali pesing No.22 Rt.01/03 Wijaya Kusuma, yang tepatnya disebelah barat Stasiun Pesing, berada di daerah yang dulunya dikenal sebagai Pasar Ayam hingga sampai sekarang wilayah tersebut dinamai pasar ayam. 

Masjid Baitur rahim sebelumnya adalah sebuah Musholla yang didirikan oleh Pak Mukmin di tanah beliau dan musholla tersebut bernama Nurul Mukmin, tetapi musholla tersebut pernah tidak digunakan untuk beribadat hingga pernah beralih fungsi menjadi tempat parkir sepeda hingga beberapa tahun, kemudian datang Ust Toto Bari dan juga Ust Arifin (Pengurus Yayasa Ihsan Nur Rijalul Masajid) yang kembali menghidupkan dengan kegiatan majlis taklim. Sebagaimana penuturan Ust Cokro yang merupakan salah satu pengurus Masjid Baitur Rahim. 
Dan berdasarkan penuturan beliau ada pak Abdurrahim yang pernah bernadzar akan membangun sebuah masjid jika tanah miliknya laku dijual. Dan seiringnya waktu tanah dari pak Abdurrahim ada yang membeli dengan nilai 2 Milyar, dan kemudian beliau menyumbangkan 200 juta untuk pembangunan Masjid, untuk mengenang jasa dari pak Abdur rahim, Masjid tersebut dinamai Masjid Baitur Rahim. Selain digunakan untuk pelaksanaan sholat rawatib, Masjid Baitur Rahim juga ada kegiatan pengajian anak anak yang dilaksanakan ba’da sholat Maghrib dan pengajian ibu ibu yang dilaksanakan pada malam selasa yang kedua kegiatan tersebut dibimbing oleh Ust Cokro dan juga pengajian gabungan antar beberapa masjid dan musholla yang dilaksanakn 2 minggu sekali , pada malam minggu plus Arisan yang dikoordinir Ust Arifin

Profil Masjid Ar Ridho, Jelambar Jakarta Barat

Masjid Jami’ Ar-Ridho berlokasi di jalan Jelambar Utama raya no 42 Rt 002/08, Kelurahan Jelambar Jakarta Barat, yang awalnya tahun 1969-1970-an berupa bangunan mushollah yang berdiri diatas tanah perkavlingan jelambar dengan ukuran 18m X 20m. Sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan pembangunan pada tahun 1972 atas saran dan kesepakatan tokoh tokoh masyarakat di sekitarnya dibangun dan ditetapkan menjadi Masjid, sebagai sarana beribadah dan kegiatan belajar ilmu agama serta syiar agama Islam. Dengan pembatasan ruang, ruang utama bagian barat sebagai sarana ibadah sholat dan pengajian serta ruang belakang/bagian timur digunakan sarana pendidikan agama bagi anak anak di sekitar masjid bersifat diniyah.
Pada tahun 1982-1984 atas kesepakatan pengurus dan jama’ah serta masyarakat, dilaksanakan pemugaran/perluasan ruang utama masjid lantai bawah sampai belakang. Adapun ruang sarana belajar untuk dibangunka dilantai 2 bagian belakang dengan bentuk permanen, selanjutnya diimbangi pembangunan teras masjid bagian depan serta menara dengan bantuan cor beton. Dengan adanya bantuan presiden tahun 1985 sebesar 10 juta rupiah, ruang utama Masjid yang digunakan sarana ibadah direnovasi total dengan bangunan beton berikut kubah masjid permanen.
Bagi sarana pendidikan berupa madrasah Ibdaiyah yang menempati lantai 2 bagian timur dari bangunan masjid, berkembang pesat sesuai dengan arahan program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa, yang kemudian pada musyawarah bersama tahun 1998 pengurus Jami’ Ar-Ridho Bpk MGS H.Idrus Ali (selaku ketua Masjid) dengan ketua Yayasan amal kebajikan Arif Rahman (YAKA) Bpk Drs H.M Muniarto sepakat menyerahkan pengembangan sarana pendidikan dengan menempati lahan eks sekolah SD Inpres yang berlokasi Jl Jelambar Madya Utara RT 001/08 Kelurahan Jelambar. Dan pada tahun 2006 Madrasah Ibditaiyah (MI) Ar-Ridho direlokasi ke lokasi tersebut, dan berjalan sampai saat ini.
Setelah MI direlokasi ke tempat baru yang tentunya diawali dengan perbaikan perbaikan gedung sebelumnya yang saat itu dalam kondisi yang rusak, pada tahun 2006 pengurus masjid Jami’Ar-Ridho melaksanakan renovasi masjid secara total dengan bentuk bangunan saat ini, dengan didasari bantuan dari Dinas Bintal dan Kesos Prov DKI Jakarta sebesar Rp 100.000.000,-(Seratus Juta rupiah) serta sumbangan dari para donator, pelaksanaan pembangunan masjid Jami” Ar-Ridho berjalan maksimal sesuai dengan rencana.
Adapun aktifitas kegiatan masjid Jami’ Ar-Ridho  disamping sebagai sarana kegiatan peribadatan sholat juga menyelenggarakan majlis ta’lim kaum bapak dan kaum ibu serta remaja dan kegiata hari besar Islam. Demikian sekilas Profil Jami’ Ar-Ridho, Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala mencurahkan rahmat, inayah dan ridho-Nya.[Pengurus Ar-Ridho]
PETA MASJID (+ perbesar layar peta)

Masjid Agung Al Buruj Di Pulau Buru

Menyebut nama Pulau Buru akan membuat ingatan melayang pada salah satu peristiwa bersejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia. Pulau yang termasuk dalam gugusan Kepulauan Maluku tersebut dahulu terkenal sebagai tempat pengasingan ribuan tahanan politik.


Pulau Buru, yang menjadi kabupaten setelah proses pemekaran pada tahun 1999, kini keluar dari citranya yang penuh misteri cenderung kelam. Pulau penghasil minyak kayu putih tersebut telah berbenah dan menjelma sebagai pulau eksotik yang banyak dituju oleh wisatawan, baik lokal maupun internasional.
Salah satu hal nyata dari pembenahan tersebut adalah dibangunnya sebuah masjid megah nan indah yang diberi nama Masjid Agung Al-Buruuj. Nama ini diambil dari surat ke-85 Al-Quran yang berarti gugusan bintang dan dipilih karena penyebutannya hampir sama dengan Kabupaten Buru.
masjid al buruj depanArea masjid yang luas dan bangunan yang berukuran besar membuat Masjid Agung Al-Buruuj terlihat sangat megah. Kubah besar yang dilapisi keramik biru dengan aksen hias diagonal saling melintang berwarna kuning tampak sangat menyita perhatian. Selain kubah, gerbang besar di halaman masjid yang mengingatkan pada model gerbang Eropa Klasik juga terkesan megah.
Memasuki gerbang, pengunjung akan disambut taman yang cukup luas dengan dua kolam. Kolam pertama berbentuk persegi panjang dengan jejeran lampu taman di tengahnya. Kolam kedua terletak di bagian samping, berbentuk bulat dengan aksen pola bintang segi delapan di tengah. Kedua kolam tersebut jika dilihat pada sudut tertentu akan memancarkan refleksi bangunan masjid yang menciptakan nuansa keindahan tersendiri.
Setelah melalui taman, tampak selasar segi empat yang mengelilingi pekarangan masjid. Pola selasar ini mirip dengan yang ada di Masjid Agung Jawa Tengah dan Masjid Kubah Emas Dian Al-Mahri. Pekarangan tersebut dapat menampung hingga sekitar enam ribu jamaah. Pada saat pelaksanaan ibadah shalat Idul Fitri dan Idul Adha, pekarangan ini disesaki oleh jamaah.
masjid al buruj depanMelangkah ke bagian dalam, akan tampak ruang utama ibadah yang terasa lega. Pemandangan yang cukup unik di ruangan ini adalah adanya empat tiang yang terbuat dari plat kuningan dan besi stainless bermotif ukiran geometris dan bintang. Di dalam tiang terdapat lampu hias hijau dan kuning yang jika dinyalakan akan’menjadi aksen hias yang sangat indah.
Bagian atap plafon kubah utama dikelilingi oleh kaligrafi bertuliskan 99
Asma’ul Husna atau nama-nama baik Allah Swt. Seluruh kaligrafi di masjid tersebut dibuat oleh seorang kaligrafer yang merupakan juara satu lomba kaligrafi tingkat nasional.
Selain untuk kegiatan ibadah shalat berjamaah lima waktu, Masjid Agung Al-Buruuj juga disemarakkan dengan aneka aktivitas kerohanian seperti peringatan hari besar Islam, tabligh akbar, dan sebagainya. Masjid dilengkapi fasilitas sekretariat, baik untuk yayasan internal masjid maupun organisasi keagamaan di sana.[duniamasjid]

Video Membedah Buku Pelajar Jakarta Berkarakter

Buku berjudul Program Pelajar Jakarta Berkarakter menuai kontroversi dari masyarakat menyusul adanya tulisan yang menyudutkan agama Islam.

Dalam buku tersebut penulis mengatakan bahwa agama hanya buah pada keputusasaan jiwa yang membawa manusia pada penderitaan hidup yang menjadi penyebab terjadinya peperangan.

Tak sekedar itu penulis juga menyebut bahwa fenomena alam sekedar hasil makanisme natural terlepas dari campur tangan tuhan. Dalam hal ini penulis mengutip pernyataan dari ilmuan barat tentang ketetapan alam.

Dalam sebuah dialog interaktif di salah tv nasional dan juga diunggah di youtube Sabtu (5/9), KH Ali Mustafa Yakub berang dengan diterbitkannya buku tersebut.

“Sekilas saya baca ada yang baik, tetapi melihat yang lain itu sangat buruk karena membawa pada atheisme. Didalam buku itu disebutkan tuhan adalah hasil ilusi manusia akibat ketertekanan jiwa. Ini biasanya disampaikan oleh orang-orang komunis” ujarnya.

Ketika barang itu buruk tidak dikatakan buruk maka seolah akan menjadi baik ini yang menjadi persoalan.

KH Ali Mustafa juga berpesan kepada masyarakat bahwa, “Jangan membaca buku ini sebelum direvisi”

Sementara itu Samsul Maarif selaku pembina Yayasan Al Kahfi terlihat tidak memahami dan terkesan menutupi kekurangannya dengan mengalihkan bahan diskusi.

Ia juga mengatakan buku ini bukan kontroversi karena media hanya mengambil sepotong-potong.

Bahkan Samsul juga tidak mengetahui dihalaman berapa atas argumentasinya malah mengatakan bahwa itu merupakan kasalahan taruh (layout).

Namun Samsul Maarif dalam diskusi tersebut juga menyatakan penyesalan dan mengakui bahwa buku tersebut perlu adanya penyempurnaan.

Buku yang diterbitkan oleh Yayasan Al Kahfi dan Dinas Pendidikan DKI itu sendiri berisi tentang pendidikan karakter dan pendidikan mental yang digunakan oleh trainer (pengajar) kepada siswa pelajar.

Sementara itu Ibnu Hamad selaku pengamat pendidikan yang hadir dalam dialog itu menjelaskan buku ini mengandung beberapa kesalahan diantaranya masalah komunikasi dan subtansinya yang perlu dibenarkan.

“Implikasinya buku ini kalau tidak direvisi kedepan akan menjadi persoalan terus. Harusnya Dinas Pendidikan DKI lebih teliti dalam menerbitkan sebuah buku.”
a

Masjid Teungku Andjong

Sejarah mencatat, agama Islam masuk ke wilayah Aceh antara lain melalui pedagang-pedagang Arab. Sambil berniaga mereka mengem¬bangkan agama Islam yang ternyata diterima oleh penduduk setempat. Bahkan di kemudian hari, perkembangan Islam di daerah ini tercatat paling cepat berkembang. Ini tentu saja tidak terlepas dari sikap para pedagang yang arif lagi bijaksana.
Tersebutlah seorang Raja Aceh yang cukup terkenal dengan nama Sultan Alaidin Mahmud Syah. Ia hidup di abad ke-12 Hijriah (abad 18 M). Oleh masyarakat Banda Aceh, ia dikenal sebagai raja yang arif dan berpengetahuan tinggi terutama dalam hal-hal yang menyangkut hukum Islam.
Kedatangan ulama ke suatu daerah ibarat seberkas sinar yang menyinari sekelilingnya. Sehingga, yang redup akan menjadi cerah, yang gelap akan menjadi benderang, bahkan akan menjadi tuntunan bagi masyarakat dalam mengatur tata hidup untuk mencapai kesejahteraan lahir batin, baik dunia maupun akhirat.
Sebelum Islam datang ke Tanah Air ini, kebudayaan daerah se¬tempat telah berabad-abad lamanya dipengaruhi oleh budaya Hindu dan Budha. Tetapi, dengan masuknya ulama ke suatu daerah, satu per satu daerah itu mengalami peleburan kepercayaan dan keyakinan baru, yaitu agama Islam.
Begitu pula kondisi agama di Kelurahan Peulanggahan, Banda Aceh, belum sempurna sebagaimana hukum dan akidah yang hakiki. Namun, setelah Peulanggahan kedatangan Syekh Abubakar bin Husin Bafaqih yang datang dari Arab Saudi (Hadhramaut) masyarakatnya mulai mengubah sikap negatif ke sikap positif, dinamis, dan agamis.
Hal itu dapat terjadi karena tidak saja pendatang tersebut lebih pandai, tetapi dia juga bijaksana, terbuka dalam memimpin dan mau memahami sifat-sifat pengikutnya, ditambah lagi dia mau bersedia mengorbankan harta, tenaga, pikiran, bahkan dia sendiri yang langsung menjadi gurunya.
Dia bukan saja sebagai ulama yang zuhud, tetapi ia juga seorang ulama modern. Dalam mengembangkan ajaran Islam, dialah yang menyediakan sarananya. Rumahnya yang terbuat dari pelepah daun, dijadikan asrama untuk bermalam para muridnya dalam memperdalam agama Islam. Kian hari rumahnya kian sempit dan akhirnya dia tidak sanggup menampungnya.

Mendirikan Masjid

Melihat perkembangan yang cukup menggembirakan itu maka Syekh Abubakar pun tergerak hatinya untuk membangun masjid. Masjid tersebut bukan saja digunakan untuk tempat melakukan shalat rawatib (lima waktu), tetapi juga digunakan untuk bermusyawarah yang langsung dipimpinnya.
Karena itu, wajar jika kemudian pengikutnya amat menyayangi dan hormat kepadanya. Begitu hormatnya masyarakat Peulanggahan kepada Syekh Abubakar, sampai-sampai dia tidak dipanggil berdasar¬kan namanya, tetapi dengan panggilan “Teungku Andjong” yang berarti ‘disanjung’ atau ‘dimuliakan’. Ini sudah menjadi tradisi masyarakat Aceh jika menemui orang mulia atau terhormat langsung tidak lagi dipanggil namanya. Seperti Teungku Haji Saman, yang akhirnya lebih dikenal dengan nama Teungku Cik Di Tiro.
Dalam catatan sejarah, Syekh Abubakar, yang meninggal tahun 1782 M, adalah seorang ulama besar yang banyak sekali jasanya dalam mengembangkan agama Islam di wilayah Banda Aceh, khususnya di daerah Peulanggahan. Bahkan, menurut cerita orang-orang Aceh, banyak peninggalan Syekh Abubakar yang masih dapat dimanfaatkan oleh masyarakat muslim Aceh hingga sekarang. Peninggalannya antara lain sebuah rumah besar dan sebuah Masjid “Teungku Andjong” yang terletak di Peulanggahan, Banda Aceh. Bahkan, ada pula peninggalan berupa tanah waqaf seperti yang terdapat di kelurahan Merduati, Lampaseh, dan Kabupaten Pidie.
Menurut catatan Departemen Agama, semua sarana fisik yang dibina Teungku Andjong mempunyai memberi semangat juang yang tangguh. Di zaman mempertahankan kemerdekaan, Masjid Teungku Andjong dijadikan markas oleh laskar pejuang kemerdekaan Indonesia sebagai markas pertahanan dalam menghadapi penjajah Belanda.
Teungku Andjong, di samping sebagai seorang ulama, juga dikenal sebagai seorang arsitek. Karenanya, masjid dan rumahnya pun bergaya Timur Tengah, sesuai dengan daerah asalnya. Karena begitu terkesannya masyarakat Peulanggahan dengan kearifan Syekh Abubakar bin Husin Bafaqih, ia pun diberi predikat ‘Teungku Andjong”. Masyarakat Peulanggahan juga memandang begitu berperannya Syekh Abubakar dalam penyebaran agama Islam maka sebutan yang diberikan masya-rakat Aceh kepadanya kemudian diabadikan untuk menamai sebuah masjid yang berhasil ia dirikan.[Duniamasjid]