Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

LIMA SUMBER KELALAIAN

 

LIMA SUMBER KELALAIAN

Oleh: Drs. H. Ahmad Yani

Ketua Departemen Dakwah PP DMI, Ketua LPPD Khairu Ummah, Trainer Dai & Manajemen Masjid, Penulis 51 Judul Buku. HP/WA 0812-9021-953

اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Jamaah Sidang Jumat Rahimakumullah.

Setiap manusia dicipta oleh Allah swt dengan maksud yang mulia, yakni untuk mengabdi kepada-Nya. Namun, godaan dan tantangan hidup membuat banyak orang menyimpang dari jalan pengabdian, bahkan menjadi durhaka kepada Allah swt. Akibatnya martabat sebagai manusia jatuh sangat rendah, bahkan lebih rendah dari binatang ternak sekalipun, Allah swt berfirman:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai (QS Al A’raf [7]:179).

Secara harfiyah al ghaflu adalah sesuatu yang kosong, karenanya orang yang lalai adalah orang yang tidak mengharapkan kebaikan dari apa yang dilakukannya dan tidak takut keburukannya. Dalam istilah lain, lalai adalah ilha’ yang maksudnya adalah kesibukan yang memalingkan sesuatu yang diinginkan dan berpindah kepada yang diinginkan hawa nafsu. Karenanya menjadi penting bagi kita untuk mengetahui mengapa manusia sampai lalai. Kalau kita telusuri di dalam Al Quran, paling tidak sebabnya ada lima. Pertama, bermegah-megahan, ini membuat manusia tidak puas lalu terus memperbanyak harta dengan cara yang haram, bahkan mengambil hak orang lain, Allah swt berfirman:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ. حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ. كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ. ثُمَّ كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ. كَلا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ . لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ. ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ.ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainulyaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (QS At Takatsur [102]:1-8).

At Takatsur berasal dari kata katsrah yang artinya banyak, ini menunjukkan adanya dua pihak  atau lebih yang saling bersaing dan masing-masing merasa memiliki paling banyak dengan maksud berbangga-bangga hingga mengabaikan yang lebih penting. Bermegahan membuat manusia tidak puas lalu terus memperbanyak harta hingga menggunakan cara yang haram sekalipun, ini amat berbahaya, apalagi manusia semakin tidak menyadari hingga datang kematian dan menjadi penyesalan yang amat dalam dalam kehidupan akhirat.

Diantara contoh orang yang demikian adalah Qarun yang diazab Allah swt dengan diamblaskan diri dan hartanya ke dalam bumi. Peristiwa yang diabadikan Allah swt di dalam Al Quran ini seharusnya menjadi pelajaran bagi manusia agar tidak bersikap demikian.

Kaum Muslimin Yang Berbahagia.

Kedua yang menjadi sumber kelalaian adalah harta dan anak. Harta dan anak boleh dimiliki oleh manusia, namun jangan sampai kita menjadi lalai karenanya, Allah swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS Al Munafikun [63]:9).

Lalai dalam kaitan dengan harta berarti terlalu mencurahkan potensi berpikir hingga tidak memikirkan hal-hal yang lebih penting, lalu berusaha memperolehnya meskipun mengabaikan kewajiban yang lain, bahkan menghalalkan secara cara dan selanjutnya terlalu asyik menikmati harta sehingga tidak melaksanakan kewajiban yang berkaitan dengan harta seperti zakat, infak dan sedekah. Karenanya, pertanggungjawaban soal harta di akhirat bukan hanya memperolehnya halal atau tidak, sekalipun sudah halal, tetap akan dimintai pertanggungjawaban untuk apa harta itu dipergunakan.

Adapun lalai dalam kaitan anak adalah terlalu asyik bercengkrama dengan mereka sampai lupa mendidik dan mempersiapkannya untuk masa depan yang lebih baik, apalagi sampai membiarkan anak melakukan yang tidak benar, mencintainya secara berlebihan sehingga tidak mau menghukumnya ketika bersalah pada saat anak sebenarnya sudah pantas menerima hukuman atas kesalahannya, apalagi bila membiarkan saja atas kesalahan yang dilakukan hanya karena orang tua mencintainya.

Sumber kelalaian yang ketiga adalah perdagangan atau jual beli, ini merupakan sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Karenanya hal itu memang harus dilakukan oleh siapa saja agar kebutuhan hidup bisa dipenuhi. Namun, seringkali membuat manusia jadi lalai. Para pedagang lalai dengan berbohong, mengurangi takaran dan timbangan hingga menutupi cacatnya suatu barang demi mendapatkan keuntungan yang banyak. Para pembeli juga bisa lalai dengan membohongi pedagang agar memperoleh harga yang murah. Dari sisi waktu, keduanya bisa lalai hingga mengabaikan waktu beribadah secara khusus seperti shalat berjamaah, shalat Jumat dan sebagainya, bahkan perhatian kepada keluarga dan bermasyarakat.

Disamping itu, sesudah keuntungan didapat, para pedagang bisa lalai dengan tidak mau zakat, infak dan sedekah, mereka terus mengembangkan perdagangannya hingga memiliki banyak toko dan cabang usaha. Sedangkan para pembeli juga asyik membeli banyak barang, bahkan yang tidak dibutuhkannya hingga terabaikan kewajiban yang lain berkaitan dengan uang yang dimilikinya, juga kewajiban zakat, infak dan sedekahnya. Karena itu, hubungan dengan Allah swt yang dilambangkan dengan shalat dan hubungan dengan sesama manusia yang dilambangkan dengan zakat tidak sampai terabaikan. Kelalaian ini tidak akan terjadi selama manusia masih memiliki rasa takut dengan kesengsaraan dan penderitaan hari akhirat, Allah swt berfirman:

رِجَالٌ لَا تُلْهِيْهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيْهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ

Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang (QS An Nur [24]:37).

Maasyiral Muslimin Rahimakumullah.

Keempat, yang merupakan sumber kelalaian adalah angan-angan kosong. Angan-angan kosong adalah menginginkan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan, misalnya meminta ditunda kematian hingga sudah berada di neraka ingin kembali ke dunia dan menjadi muslim. Allah swt berfirman:

رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ. ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الأمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

Orang-orang yang kafir itu sering kali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka). (QS Al Hijr [15]:2-3).

Berangan-angan kosong seperti itu membuat manusia suka bersenang-senang hingga mengabaikan prinsip-prinsip kebenaran yang datang dari Allah swt dan Rasul-Nya. Akibatnya, hidup yang dijalani tidak memiliki makna dan berakhir begitu saja. Karena itu, iman bukan sekadar pernyataan kosong yang penuh angan-angan untuk meraih surga, tapi harus dibuktikan dengan sikap dan amal islami, Rasulullah saw bersabda:

لَيْسَ الْاِيْمَانُ بِالتَّمَنِّى وَلَكِنَّ مَا وَقَرَّ فِى الْقَلْبِ وَصَدَّقَهُ الْعَمَلِ

Sesungguhnya iman bukanlah angan-angan dan pengakuan semata, akan tetapi ia adalah dengan keyakinan di dalam hati dan dibuktikannya dengan amalan-amalan.” [Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dan Al-Baihaqi)

Kelima yang merupakan sumber kelalaian adalah meremehkan wahyu. Salah satu fungsi Al Quran adalah petunjuk bagi manusia. Karenanya, setiap manusia harus memperhatikan dengan penuh kesungguhan. Komitmen kita kepada Al Quran membuat kehidupan kita menjadi terarah dan bermakna. Namun, orang-orang kafir tidak mau menunjukkan kesungguhan memperhatikan Al Quran, meskipun mereka mendengarnya, mereka justeru bermain-main sebagaimana umumnya kanak-kanak atau justeru mereka mengolok-olok ayat yang turun sehingga mereka menjadi lalai dalam kehidupan ini, Allah swt berfirman:

مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ ذِكْرٍ مِنْ رَبِّهِمْ مُحْدَثٍ إِلَّا اسْتَمَعُوهُ وَهُمْ يَلْعَبُونَ. لَاهِيَةً قُلُوبُهُمْ وَأَسَرُّوا النَّجْوَى الَّذِينَ ظَلَمُوا هَلْ هَذَا إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ أَفَتَأْتُونَ السِّحْرَ وَأَنْتُمْ تُبْصِرُونَ

Tidak datang kepada mereka suatu ayat Al Qur'an pun yang baru (diturunkan) dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main, (lagi) hati mereka dalam keadaan lalai. Dan mereka yang zalim itu merahasiakan pembicaraan mereka: "Orang ini tidak lain hanyalah seorang manusia (jua) seperti kamu, maka apakah kamu menerima sihir itu, padahal kamu menyaksikannya?" (QS Al Anbiya [21]:2-3).

       Demikian khutbah kita yang singkat hari ini, semoga bermanfaat bagi kita bersama, amin.

بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِى وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

MANAJEMEN ANAK-ANAK DI MASJID

 

PETUNJUK TEKNIS MANAJEMEN MASJID

Judul              : Petunjuk Teknis Manajemen Masjid

Penulis          : Drs. H. Ahmad Yani

Tebal              : 272 Halaman

Ukuran           : 15,5 x 17,5 cm

Harga             : Rp 50.000+ongkir

Penerbit         : Khairu Ummah (HP/WA 0812-9021-953)

Meskipun sudah 7 judul buku tentang masjid yang saya tulis dan sudah diterbitkan, tetap saja ada sisi-sisi yang harus dipertajam dan dikembangkan. Mengurus masjid memang membutuhkan ilmu, pengalaman, ketrampilan dan kreativitas, sesuai dengan perkembangan zaman dan kondisi masyarakat yang menjadi jamaahnya.

Dalam berbagai ceramah, seminar dan pelatihan, muncul masalah-masalah yang perlu ditulis lagi, begitu juga dari masalah yang disampaikan banyak orang melalui obrolan langsung atau melalui WA.

Buku ini diberi judul Petunjuk Teknis Manajemen Masjid karena memang isinya bimbingan teknis yang sangat praktis dan mudah dipahami, mulai dari manajemen membangun, menentukan kepengurusan, uraian kerja pengurus, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah tangga Masjid, Manajemen Shalat Berjamaah hingga Manajemen Keuangan, Manajemen Komunikasi dan Informasi serta dilengkapi dengan Catatan Ringan Seputar Masjid.

Aspek-aspek penting yang diuraiankan membuat buku ini sangat penting bagi umat Islam, apalagi pengurus masjid dan para aktivis pemakmur masjid. Buku ini ditulis secara sederhana, praktis, mudah dipahami sehingga diharapkan mudah dilaksanakan, namun tetap memerlukan kesungguhan. 33 artikel masjid yang terangkum dalam buku ini memberikan bekalan berarti untuk terwujudnya masjid yang makmur. Berikut daftar isinya untuk kita ketahui:

 1.        Manajemen Membangun Masjid

2.         Kedudukan Pengurus Masjid

3.         Profil Pengurus Masjid

4.         Pemilihan Pengurus Masjid

5.         Struktur Pengurus Masjid

6.         Uraian Kerja Struktur Pengurus Masjid

7.         Rapat Pengurus

8.         Anggaran Dasar Masjid

9.         Anggaran Rumah tangga Masjid

10.       Manajemen Shalat Berjamaah

11.       Manajemen Imam

12.       Manajemen Muazzin

13.       Manajemen Khatib

14.       Manajemen Ibadah Jumat

15.       Manajemen Shalat Tarawih dan Witir

16.       Manajemen Shalat Idul Fitri dan Idul Adha

17.       Manajemen Shalat Gerhana

18.       Manajemen Shalat Istisqa

19.       Manajemen Penyembelihan Hewan Qurban

20.       Manajemen Mengurus Jenazah

21.       Manajemen Anak-Anak

22.       Manajemen Majelis Taklim

23.       Manajemen Remaja Masjid

24.       Manajemen Perpustakaan

25.       Manajemen PHBI

26.       Manajemen Kursus dan Pelatihan

27.       Manajemen Aktivitas Ramadhan

28        Manajemen Keuangan

29.       Manajemen Komunikasi dan Informasi

30.       Manajemen Perlengkapan Masjid

31.       Manajemen Pemeliharaan Masjid

32.       Manajemen Pendataan Jamaah Masjid

33.       Catatan Ringan Seputar Masjid

            Diantara contoh artikel dalam buku ini adalah tentang manajemen anak-anak, apalagi banyak sekali keluhan bahkan kebingungan pengurus masjid dalam mengendalikan jamaah anak-anak.

MANAJEMEN ANAK-ANAK

Seharusnya kita bergembira bila anak-anak datang ke masjid untuk ikut beribadah. Karena merekabelum tahu, tugas kita memberi tahu, karena mereka belum ngerti, tugas kita memberi pengertian. Meskipun mereka agak mengganggu, jangan sampai hilang kegembiraan kita atas kehadiran mereka, apalagi sampai berubah menjadi marah, padahal salah satu sifat orang taqwa adalah menahan amarah.

Terkait dengan manajemen menghadapi anak-anak, beberapa hal harus mendapat perhatian untuk dilaksanakan:

1.    Siapkan petugas (tim) khusus untuk pendampingan anak-anak. Tim ini pandai berkomunikasi dengan baik kepada anak-anak dan tidak emosional. Tim ini bagus juga menggunakan seragam khusus.

2.  Sambut kedatangan mereka dengan gembira, kalau perlu ucapkan selamat datang, bukan ucapan yang menakutkan.

3.  Dialog dan pendampingan bagaimana baiknya berada di masjid. Bimbing adab berada di masjid, termasuk latihan membaca amin saat imam mengakhiri bacaan Al Fatihah.

4.  Siapkan fasilitas khusus seperti toilet, tempat bermain dan belajar.

5.  Selenggarakan program khusus seperti pengajian, perpustakaan, cerita, lomba, dll.

6.  Memposisikan diri seperti ayah dan kakak saat mereka datang ke masjid tanpa keluarga.

7.  Memberikan makanan dan minuman yang halal dan bergizi.

8.  Memberikan hadiah dan penghargaan kepada anak yang rajin, tertib dan berprestasi.

9.  Prinsipnya, jadikan masjid tempat yang menyenangkan dan memberi kesan positif yang mendalam serta membekas hingga mereka dewasa dan tua.

10.   Bukan zamannya lagi, anak tidak mau lagi ke masjid karena trauma diperlakukan tidak baik oleh pengurus dan jamaah dewasa atau tua. Inilah yang dimaksud dengan masjid ramah anak.

KHUTBAH YANG DIGEMARI

 


Khutbah Yang Digemari

Oleh: Ahmad Yani

Judul              : Materi Khutbah Jumat Setahun

Penulis          : Drs. H. Ahmad Yani

Tebal              : 370 Halaman

Ukuran           : 13 x 21 Cm

Penerbit         : Al Qalam GIP & Khairu Ummah (WA 0812-9021-953)

Khutbah Jumat adalah forum dakwah yang sangat strategis, selain berlangsung rutin dengan jamaah yang banyak, pengurus masjid juga tidak harus melakukan mobilisasi jamaah karena mereka sudah datang dengan sendirinya. Karena itu, salah satu daya dukung yang harus dipersiapkan dengan baik adalah materi khutbah.

Prinsip penyampaian materi khutbah adalah singkat, padat dan sistematis. Masalah-masalah yang berkembang pada masyarakat menjadi ilustrasi pembahasan. Meskipun demikian, dalam setahun ada momentum yang memang harus dibahas dalam khutbah seperti tahun batu, maulid, isra miraj, Ramadhan, Idul Fitri, haji dan qurban. Semua tema yang terkait dengan masalah itu dibahas dalam buku ini. Karenanya, buku ini adalah buku khutbah yang digemari oleh para khatib sehingga sudah 14 kali cetak ulang sejak tahun 1996 yang diterbitkan Khairu Ummah. 

Untuk lebih jelas, berikut daftar isinya:

  1. Langkah Di Tahun Baru
  2. Urgensi Aqidah Islam
  3. Mempertahankan Iman
  4. Karakteristik Muslim Sejati
  5. Selamat Datang Ramadhan
  6. Perbaikan Diri Melalui Ibadah Ramadhan
  7. Hakikat Bulan Ramadhan
  8. Puasa Membentuk Masyarakat Islami
  9. Hidup Bersama Al Quran
  10. Idul Fitri Yang Islami
  11. Kendala-Kendala Ukhuwah Islamiyah
  12. Hidup Sesudah Mati
  13. Komitmen Orang Mukmin
  14. Hubungan Dengan Allah
  15. Madrasah haji
  16. Profil Generasi Ibrahim
  17. Berkorban Di Jalan Dakwah
  18. Prinsip-Prinsip Beramal Shaleh
  19. Iman, Hijrah dan Jihad
  20. Pelajaran Dari Hijrah
  21. Kebangkitan Peradaban Islami
  22. Makna Ujian Bagi Seorang Muslim
  23. Urgensi Taqwa
  24. Petunjuk Meningkatkan Taqwa
  25. Keingkaran Manusia Kepada Allah
  26. Cinta Kepada Allah dan Rasul-Nya
  27. Istiqamah dan Jalan Mencapainya
  28. Waktu Dalam Kehidupan Muslim
  29. Konsekuensi Syahadat Rasul
  30. Tugas Rasulullah saw
  31. Karakteristik Umat Nabi Muhammad saw
  32. Pahala Yang Selalu Mengalir
  33. Profil Umat Pilihan
  34. Urgensi Zikrullah
  35. Komitmen Kepada Islam
  36. Keistimewaan Muslim Sejati
  37. Zikrul Maut
  38. Kewajiban Mendidik Anak
  39. Krisis Moral dan Upaya Mengatasinya
  40. Mewujudkan Generasi Berkualitas Islami
  41. Berjihad di Jalan Allah
  42. Macam-Macam Jihad
  43. Qalbun Salim I (Memenuhi Kebutuhan Hati)
  44. Qalbun Salim II (Ciri Hati Yang Tidak Sehat)
  45. Memperkokoh Iman I
  46. Memperkokoh Iman II
  47. Urgensi Masjid Bagi Kaum Muslimin
  48. Krisis Masjid dan Upaya Menyelematkannya
  49. Al Aqsha dan Umat Islam
  50. Pelajaran Dari Isra Miraj
  51. Konsekuensi Shalat Dalam Kehidupan Muslim
  52. Al Muhasabah

Lampiran Contoh Khutbah Kedua

Lampiran Doa-Doa Dari Al Quran 

PELURU TAMBAHAN

 

PELURU TAMBAHAN

Oleh: Ahmad Yani

 Judul             : 2 Poin Dalam 52 Khutbah Jumat

Penulis          :  Drs. H. Ahmad Yani

Tebal              : 374 Halaman

Ukuran           : 14 x 21 Cm

Harga             : Rp 125.000 + ongkir

Penerbit         : Khairu Ummah (WA 0812-9021-953)

            Tahun 2020 diawali dengan bermacam musibah di negeri kita, bahkan hampir di seluruh dunia. Di negeri kita ada banjir dan longsor, dan yang besar dampaknya setelah itu adalah wabah Corona atau Covid-19. Dampaknya bukan hanya banyak yang sakit dan meninggal dunia, ekonomi yang anjlok, tapi juga pendidikan, renggangnya hubungan sosial,  hingga peribadatan dan dakwah. Masyarakat dianjurkan untuk berada di rumah saja.

            Bagi penulis, saat DRS (Di Rumah Saja) harus tetap produktif. Alhamdulillah, dalam waktu satu bulan, buku ini berhasil disusun. Para dai dari berbagai daerah memang banyak yang menanyakan tentang buku khutbah yang baru. Meskipun lima judul buku khutbah sudah diterbitkan, tetap saja ada banyak yang berharap ada lagi buku khutbah. Saya suka mengatakan: “Bisa khutbah dan Ceramah itu seperti pistol, tapi menguasai materi yang banyak dan bervariasi adalah pelurunya.” Buku ini merupakan “peluru” tambahan untuk para dai.

            Dua Poin Dalam 52 Khutbah Jumat menjadi judul buku ini karena memang setiap pembahasan khutbah mengulas dua poin saja, baik dari Al Quran, Hadits maupun pendapat sahabat Nabi Muhammasd saw. Pembahasan seperti ini membuat materi khutbah menjadi ringkas, padat, sistematis, mudah dipahami dan mudah pula disampaikan lagi. Daftar isinya antara lain:

1.         Dua Musyawarah Yang Berat

2.         Dua Doa Untuk Suami Isteri

3.         Dua Pusaka Nabi saw

4.         Dua Pakaian

5.         Dua Suasana Hidup

6.         Dua Hakikat Hijrah

7.         Dua Tolak Ukur Kecerdasan 1

8.         Dua Tolak Ukur Kecerdasan 2

9.         Dua Keuntungan Rutin Beramal Shaleh

10.       Dua Tujuan Syariat

11.       Dua Jalan Terburuk

12.       Dua Hal Yang Tidak Senangi

13.       Dua Kendala Berkorban

14.       Dua Pilihan Terhadap Pecandu

15.       Dua Aspek Pembuktian Iman

16.       Dua Bukti Pengabdian

17.       Dua Keharusan Orang Taqwa

18.       Dua Larangan

19.       Dua Keutamaan Taubat

20.       Dua Tuntutan Iman

21.       Dua Pengkhianatan

22.       Dua Perdagangan Yang Menjauhkan Neraka

23.       Dua Penegasan

24.       Dua Peringatan

25.       Dua Perintah

26.       Dua Penolong

27.       Dua Ridha Yang Harus Diraih

28.       Dua Pertanggungjawaban Harta

29.       Dua Hikmah Zakat

30.       Dua Keburukan Orang Kikir

31.       Dua Bentuk Ujian Hidup

32.       Dua Hal Yang Jangan Berlebihan

33.       Dua Bentuk Kekufuran

34.       Dua Waspada Pada Usia Tua

35.       Dua Hal Yang Harus Dihindari

36.       Dua Siksa Yang Disegerakan

37.       Dua Akibat Tidak Beriman

38.       Dua Hal Yang Paling Zalim

39.       Dua Keuntungan Iman dan Amal Shaleh

40.       Dua Kedekatan Allah swt

41.       Dua Orang Yang Didekati Allah swt

42.       Dua Jaminan Surga (ok)

43.       Dua Amal Yang Paling Baik

44.       Dua Konsekuensi Dunia

45.       Dua Orang Yang Dikagumi

46.       Dua Akibat Mendustakan Ayat

47.       Dua Tolak Ukur Ukhuwah Islamiyah

48.       Dua Kunci Keberuntungan

49.       Dua Keuntungan Istiqamah

50.       Dua Sifat Yang Amat Buruk

51.       Dua Fitnah Yang Harus Diwaspadai

52.       Dua Posisi Al Quran

Contoh Muqaddimah Khutbah Pertama

Contoh Penutup Khutbah Pertama

Contoh Khutbah Kedua

Berikut ini Contoh Dari Salah Satu Khutbah Dalam Buku Ini

DUA SUASANA HIDUP

Sidang Jumat Rahimakumullah.

Setiap orang pasti ingin perjalanan hidupnya berlangsung menyenangkan. Jasmani yang sehat, jiwa yang tenang, memperoleh sesuatu yang dibutuhkan dengan mudah dan rizki yang cukup, merupakan diantara yang Allah swt sebenarnya telah menyediakannya sebagaimana firman-Nya:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ ذَلُولا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan (QS Al Mulk [67]:15)

            Dalam kehidupan yang silih berganti dari generasi ke generasi, ada dua suasana yang selalu terjadi. Pertama, suasana yang menyenangkan. Bumi tempat manusia bertempat tinggal dan berpijak diciptakan oleh Allah swt untuk kemudahan bagi manusia. Karena itu, Sayyid Quthb dalam tafsirnya menyatakan: bumi ini mudah untuk manusia bertempat tinggal, berjalan, mempergunakan tanahnya, airnya, udaranya, simpanannya, kekuatannya dan rizkinya. Selanjutnya beliau menyatakan: Bumi yang mudah bagi manusia untuk berjalan dengan kaki dan dengan kendaraan di atasnya, serta dengan kapal yang membelah lautan. Bumi yang mudah untuk ditanami, dipetik dan dipanen hasilnya. Mudah untuk hidup di atasnya dengan udaranya, airnya dan tanahnya yang baik untuk tanaman dan tetumbuhan.”

Oleh karena itu, semestinya kita menjadi orang yang pandai bersyukur kepada Allah swt yang telah mengkaruniakannya, sehingga Allah swt akan menambahnya sebagaimana firman-Nya:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS Ibrahim [14]:7).

            Bersyukur kepada Allah swt akan membawa keberuntungan, bila seseorang tidak pandai bersyukur maka hal itu akan merugikan dirinya sendiri, sedangkan Allah swt tidak pernah merasa rugi bila ada manusia yang tidak bersykur kepada-Nya, karenanya Luqman menasihati anaknya sebagaimana firman-Nya:

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (QS Luqman [31]:12).

Kaum Muslimin Rahimakumullah.

Kedua, suasana hidup di muka bumi yang semula tenang dan menyenangkan, ternyata bisa saja secara tiba-tiba menjadi begitu kacau, menakutkan dan mengakibatkan trauma yang sangat dalam serta penderitaan yang berkepanjangan. Semua itu karena kemurkaan Allah swt disebabkan manusia tidak pandai bersyukur bahkan menyombongkan diri, seolah-olah semua kehebatan yang dicapai dalam hidup ini semata-mata karena kehebatan mereka. Untuk memberi pelajaran yang sangat berharga, Allah swt membuat mereka menjadi manusia-manusia yang tidak berdaya, sehebat apapun mereka dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sudah dicapainya selama ini.

Pelajaran dari Allah swt melalui berbagai kejadian yang menakutkan semestinya membuat manusia harus melepaskan egoisme atau kesombongan, baik kesombongan sebagai pribadi, keluarga, kelompok maupun bangsa, Allah swt berfirman:

أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ قَرْنٍ مَكَّنَّاهُمْ فِي الأرْضِ مَا لَمْ نُمَكِّنْ لَكُمْ وَأَرْسَلْنَا السَّمَاءَ عَلَيْهِمْ مِدْرَارًا وَجَعَلْنَا الأنْهَارَ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمْ فَأَهْلَكْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَأَنْشَأْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ قَرْنًا آخَرِينَ

Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain (QS Al An’am [6]:6).

Sejarah menunjukkan bagaimana kehidupan menjadi tidak menyenangkan seperti pada masa Nabi Nuh dengan banjir besar hingga ke puncak gunung dan menenggelamkan orang-orang yang durhaka kepada Allah swt. Fir’aun yang hebat kekuasaannya juga harus tenggelam di tengah lautan karena kesombongan dengan sebab kekuasaan yang dimiliki, begitu pula dengan Qarun yang amblas diri dan hartanya ke dalam bumi karena kesombongan dengan sebab kekayaan yang dimilikinya. Karena itu hingga kini di berbagai belahan bumi ini, Allah swt tunjukkan sebagian kecil bahkan sangat kecil dari kekuasaan-Nya yang Maha Besar dan itu sudah cukup untuk membuat manusia yang kuat menjadi tidak berdaya sehingga seharusnya manusia mengambil pelajaran bahwa kesombongan memang harus dibuang dari sikap hidup sebagai manusia yang terbukti amat lemah.

Berbagai macam teguran, peringatan, musibah dan azab ditimpakan Allah swt kepada manusia hingga kini. Ada gempa bumi, tsunami, banjir bandang, tanah longsor, banjir, angin kencang, badai hingga wabah penyakit yang melanda dunia.

            Kekacauan yang menyebabkan kesedihan yang mendalam terus berlangsung, gempa bumi dengan goncangan yang kuat bisa terjadi dimana-mana. Dahsyatnya berbagai peristiwa yang menghilangkan kebahagiaan dan ketenangan dalam kehidupan di muka bumi ini tidak hanya hari ini dan kemarin, tapi sejarah mencatat bahwa hal itu telah terjadi berkali-kali pada masa lalu. Karena itu, Allah swt berfirman:

أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ. أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ

Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?, atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku?. Dan sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan rasul-rasul-Nya). Maka alangkah hebatnya kemurkaan-Ku (QS Al Mulk [67]:16-18).

Setelah kita ingat kembali betapa Maha Kuasa Allah swt dan betapa lemah diri kita, maka tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali harus tunduk kepada Allah swt dengan segala ketentuan-Nya. Inilah memang konsekuensi sebagai manusia yang telah beriman kepada-Nya. Saatnya kita bertaubat atas segala dosa, perbaiki kehidupan kita sebagaimana yang diinginkan oleh Allah swt, lalu perbanyak amal shaleh sebagai bekal kembali kepada-Nya.

Demikian khutbah kita yang singkat hari ini, semoga bermanfaat bagi kita bersama, amin.